Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 02

Memuat...

Setahun sudah lewat. Dalam waktu senggangnya Tio Hoan sering bergurau dengan para dayang negeri Kim dan akhirnya ia jatuh cinta pada dayang tercantik yang bernama Lok Giok. Atas ijin permaisuri Bourtai Fijen mereka menempuh penghidupan baru sebagai suami isteri.

Tak lama kemudian Lok Giok berbadan dua. Tio Hoan menggunakan kesempatan ini untuk memohon kepada pangeran Tuli agar ia diperkenankan pergi menyelidiki pula putri Wanyen Hong yang hilang di Giok-bun-koan bersama beberapa kawannya. Pangeran Tuli yang dapat merasakan hati penasaran dari orang itu, telah meluluskan permohonannya. Setengah tahun lamanya Tio Hoan pergi menyelidiki.

Akhirnya ia kembali keistana dan diam memberitahukan isterinya bahwa dia berhasil mendapatkan jejak dimana sang puteri berada.

Beberapa bulan kemudian Lok Giok melahirkan seorang putera. Tapi baru saja sang bayi Tio Peng berusia satu bulan, Tio Hoan pergi kembali ke Giok-bun-koan. Ketika ia hendak berangkat, ditinggalkannya sebuah kantong wasiat kepada isterinya dan memesan bila ia tidak kembali, maka Lok Giok harus menunggu sampai puteranya berusia tujuhbelas tahun dan kantong wasiet itu harus diberikan kerpada puteranya. Lok Giok dapat menangkap arti kata2 suaminya itu yang mengandung maksud tertentu, maka ia mulai mencucurkan airmata.

Setahun telah lewat. Dua tahun. Tiga tahun! ...... Tio Hoan tidak kabar ceritanya.

Pangeran Tuli terpaksa melaporkannya kepada Jenghis Khan. Dan Tuli pun tidak mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Tapi Lok Giok pada satu malam dengan diam2 keluar dari istana dan bersama dengan seorang pengikutnya pergi menuju Giok-bun-koan.

Lok Giok hampir menjadi pingsan tatkala didalam goa Tung-hong ia menemukan mayat suaminya yang sudah koyak2 dan busuk. Dengan hati hancur-luluh ia menangis ter-sedu2. Akhirnya ia mengambil pedang Ang-liong-kiam yang menggeletak ditanah, lalu menyuruh pengikutnya berdiam disitu menjaga mayat suaminya. Sedangkan ia sendiri pulang kembali ke Holim untuk memanggil Tuli agar pangeran itu tahu bahwa Tio Hoan bukan melarikan diri dari negeri Monggol.

Tetapi ketika Lok Giok kembali digoa Tung-hong bersama Tuli, mayat suaminya sudah hilang lenyap, sedang gantinya menggeletak mayat pengikutnya yang setia .......

---oo0dw0oo---

Akisah diceritakan setahun kemudian pangeran Tuli menikah dan Lok Giok bertugas sebagai inang pengasuh anaknya.

Mengingat kebaikan Lok Giok maka Tuli mengangkat pula Tio Peng sebagai anak-angkatnya dan menganugerahkan nama Monggol : Gokhiol. Tuli mendatangkan guru2 silat kelas wahid untuk mendidik anak2nya. Pendeta Lhama dari Ceng-cong Pay, akhli2 anggar dari Eropa dan akhli gulat dari bangsanya sendiri, Yalut Sang! Dibawah bimbingan para guru istimewa dari berbagai cabang persilatan ini, Gokhiol pun mendapat kesempatan bagus guna melatih dirinya ber-sama2 kelima putera dari Tuli yang bernama Mangu, Moko, Pato, Kubilay, Hulagu dan Kaidu.

Tapi Gokhiol paling akrab bergaul dengan Pato dan Hulagu. Pada tahun 1227 Tarikh Masehi Jenghis Khan binasa selagi bertempur melawan negeri Song. Jenazahnya dimakamkan dipadang pasir Go-bie yang merupakan juga tempat kelahirannya.

Ogotai, putera kedua dari permaisuri Bourtai Fijen naik diatas takhta keradiaan sebagai Ka Khan. Sedangkan Tuli kini mengepalai Angkatan Perang Monggolia, sebagai tempat kelahirannya. Hari berganti hari, siang berlalu pergi. Sang waktu lewat dengan cepatnya.

Ketika Gokhiol berusia genap tujuhbelas tahun, pada suatu malam ibunya telah memanggilnya datang dikamarnya. Tampak airmata ibunya berlinang-linang tatkala inemberikan sebuah kantong kulit kepada sang putera. Gokhiol adalah searang anak yang cerdik. Sambil berlutut ia buru2 menyambut kantong kulit tersebut seraya berkata : "Ibu, barang pusaka ini tentulah peninggalan dari ayah. Anak seringkali menanyakan tentang hat musuh-besar ayah. tapi ibu selalu berkata atplabila anak sudah berumur tujuhbelas tahun barulah ibu mau menceritakannya. Hari ini anakmu sudah mencapai usia itu, tentunya ibu menginginkan agar aku pergi mencari musuh-besar ayah".

"Anakku sayang, dengarkanlah kata ibumu dengan baik2", ujar Lok Giok dengan airmata yang ber-linang2.

"rahasia yang tersimpan selama tujuhbelas tabun akan kuterangkan hari ini kepadamu. Anakku, sebenarnya kau adalah keturunan dari kaisar Song, keturunan bangsa Han.

Mendiang ayahmu bernama Tio Hoan..." Belum ibunya berkata habis atau Gokhiol telah memotongnya : "Ibu, hal ini telah lama kuketahui. Yang menceritakan kepadaku adalah para kong-kong yang melayani ibu". "Kalau kau telah mengetahuinya, baiklah", kata Lok Giok seraya membangkitkan anaknya, "para kong-kong telah datang bersama ibu tatkala mengiring sang puteri radia Kim kenegeri Monggol. Yang penting untukmu ialah mencari siapa pembunuh ayahmu dan merupakan kewajibanmu untuk pergi mencarinya. Benar, kantong wasiat ini adalah peninggalan mendiang ayahmu. Ketika ia hendak pergi, ayahmu telah mempunya firasat bahwa ia akan jatuh ketangan musuh. Maka ia telah terlebih dahulu memesan kepadaku apabila kau telah berusia tujuhbelas tahun, barulah kau boleh menerima kantong wasiat ini.

Periksalah isinya dan dengan itu kau mungkin akan dapat mencari jejak musuh-besar tersebut.

Gokhiol menjura tiga kali kepada ibunya dan menerima kantong kulit itu.

Kantong kulit yang selama tujuhbelas tahun tak pernah dibuka terjahit rapat dengan tali urat sapi.

Gokhiol nienuruti perintah ibunya. Setelah kembali kedalam kamarnya ia membuka kantong kulit itu dengan sebilah pisau. Didalam kantong itu terdapat sepotong kulit kelinci berwarna putih. Tampak dengan jelas huruf2 yang tertulis dengan bakaran besi panas mensiratkan kata2 yang berbunyi sebagai berikut : "Tio Peng, puteraku yang tercinta. Ketika aku meninggalkan kau, usiamu belum ada sebulan, tapi apabila kau telah dapat membaca surat ini, maka usiamu sudah tujuh belas tahun. Aku telah mendoakan kepada Thian yang luhur agar pada suatu hari kau akhirnya dapat membaca suratku ini. Kau adalah keturunan Kaisar Song, yang nasibnya kurang beruntung dan dilahirkan didaerah salju. Maka aku telah menetapkan namamu Tio Peng.

Bila dikemudian hari kau mendapat kesempatan untuk kembali ke Tiong-goan, gunakanlah nama tersebut!" Gokhiol terharu hatinya, hingga airmatanya turun. Tapi ia membaca terus.

"Surat ini telah kutinggalkan kepadamu tatkala aku hendak berangkat ke Giok-bun-koan guna mencari tahu jejak sang putri Wanyen Hong dari negeri Kim. Anakku yang tercinta, aku akan menceritakan suatu rahasia kepadamu. Atas ketekadan hatiku, ketika pertama kali mencarinya, digoa Tung-hong aku menemukan jejak bahwa sang puteri telah diculik oleh seorang yang kepandaiannya lebih tinggi dari padaku. Dan lagi hati orang itu sangat kejam. Perasaanku mencurigai beberapa orang dari tokoh Bu-lim, tapi aku tak dapat mengetahui dengan pasti siapa gerangan orang itu. Lagi pula aku masih percaya bahwa puteri WanYen Hong belum mati, sehingga aku menjadi lebih bersemangat. Namun kepergianku kali ini tentunya telah dapat diendus oleh orang itu. Maka dengan demikian kemungkinan bahaya yang besar akan menimpa diri ayahmu, tak dapat dielakkan lagi.

Putraku, apabila kau membuka surat ini, mungkin aku sudah tinggal tulang-belulangnya saja menggeletak didalam kuburan, tapi dalam alam baka aku akan senantiasa mendoa agar pada suatu ketika kau dapat menemukan musuh-besarku dan dapat mengetahui pula dimana gerangan sang putri kini berada.

Selain itu masih ada satu tanda bukti yang telah kutinggalkan kepadamu - yaitu sebutir kumala merah. Bila musuhku melihatnya, pasti dia akan segera mengenali bahwa kau adalah keturunan dariku : demikian pula sama halnya dengan sang, puteri serta juga rekan2-ku. Hanya, tentunya kau akan, bertanya siapa gerangan musuh-besarku itu, bukan" Sayang sekali aku belum dapat memberitahukan kepadamu, karena akupun belum dapat memberi kepastian. Ketika pertama kali aku pergi ke Giok-bun-koan untuk mencari sang putri, aku telah mengajak seorang pengawal istana yang telah lanjut usianya bernama Tiang Jun dan seorang ksatrya yang kuikut sertakan dari negara Song sebagai pengawal bernama Giok Liong. Aku telah menitahkan mereka untuk tinggal disekitar Giok-bun-koan guna mendengar kabar-kabar berita. Tiang Jun tinggal disebuah lembah dipingggir sungai Su-lek-Ho, suatu tempat yang sangat sepi dan jarang sekali dldatangi orang. Apabila ia masih hidup, kau dapat mengikuti petunjuk yang tertera didalam peta. Pasti kau akan dapat suatu jalan untuk mencari musuh-besarku.

Ibumu yang sangat cerdik dan bijaksana adalah orarag dari negeri Kim. Ketika puteri Wanyen Hong masih diistana, ibumu selalu diangap sebagai saudarinya sendiri. Tio Peng, ingatlah! Kau harus menunjukkan kebaktianmu sebagai seorang putera terhadap orang-tuanya untuk meneruskan usahaku yang belum selesai ini. Aku harap kau berhasil membunuh musuhku dibawah tanganmu sendiri! Selamat berjuang puteraku.

Ayahmu : Tio Hoan. Gokhiol membaca surat itu dengan airmata bercucuran.

Perlahan-lahan kantong kulit dibukanya dan benar saja didalamnya terdapat sebuah ikat pinggang dengan sebuah kumala merah. Ketika ia periksa lebih lanjut, kiranya dibelakang ikat pinggang tersebut tergores sebuah peta sederhana lengkap dengan petunjuk2nya. Demikian juga letak goa2 di Tung-hong serta lembah2 dan sungai2nya.

Surat wasiat serta ikat pinggang batu kumala merah itu disimpannya kembali dengan hati2 kedalam kantong kulit tadi yang merupakan sebuah tempat ransum yang lazimnya dipakai oleh orang2 Monggol.

Gokhiol yang berkedudukan sebagai seorang pangeran, andaikata ia minta ijin untuk pergi mencari musuh, ayahnya-angkatnya Tuli takkan mengijinkanya. Demikian pula dengan kedua saudara angkatnya Pato dan Hulagu pasti mereka takkan melepaskannya pergi. Gokhiol berpikir kalau demikian halnya, ia terpaksa meninggalkan Monggolia dengan diam2 dan kelak setelah ia dapat membalas dendam, barulah ia akan kembali untuk mohon maaf kepada ayah-angkatnya.

Sedari masih kecil, Gokhiol dididik dalam suasana hidup Monggol, maka tidak heran apabila daerah kejam mempengaruhi dirinya yang berkemauan keras dan tekad.

Post a Comment