Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 26

Memuat...

Dengan cepatnya dua bulan telah lewat, sedangkan Gokhiol masih menjelajahi tanah pegunungan Hwa-San dan gunung Bu-Tong San. Disamping menikmati pemandangan yang indah, ia mmperhatikan tiap orang dijumpai, adakah diantara mereka yang... mengenakan gelas emas putih pada leherrnya.

Setelah sekian lamanya belum berhasil menemukan Dewa Kera Terbang, lambat laun ia menjadi ragu2.

Pikirnya dengan cara begini, sampai kapan ia dapat menuntut ilmu" Pada suatu hari Gokhiol melewati jalanan yang disebut Kian Kok Canto, karena dipinggir jalan itu terdapat jurang yang sangat curam, sedang disebelahnya lagi merupakan tebing gunung yang tinggi tegak menjulang keangkasa.

Jalan Kian Kok Canto itu sangat sempit sekali dan hanya dapat dilewati dua orang saja.

Tiba2 terdengar olehnya suara tok-tok-tok berulang kali, yang datangnya dari kejauhan, maikin lama makin keras, Nadanya bagaikan seorang pedagang bakmi mengetok tabung bambunya, tok ... tok... tok ...

Gokhiol mengawasi jalan dimukanya yang sangat berliku2 itu, tapi tak terlihat olehnya satu bayangan mahluk pun. Sesaat kemudian terdengar pula suara tadi, kini semakin keras! Suara itu terdengar dari atas tebing! Gokhiol mendongak keatas, maka tampak olehnia sebuah bayangan orang! Pemuda kita terperanjat tidak terkira. Tampak orang itu berjalan seperti terbang pada tebing gunung! Dandanannya sebagai seorang imam aliran agama Too-kauw. Topinya kerucut yang pinggirannya bersayap bagaikan bentuk pyramid dan warna pakaiannya hijau mengkeredep.

Perawakatnya kurus dan yang lebih ganjil ialah bentuk mukanya, yang berjenggot kambing sedang diatas nya melintir dua garis kumis panjang yang bergulai kebawah sampai lima enam dim. Dahinya bulat bagaikan ditempel obat koyo.

Kedua kaki imam itu bagaikan melekat pada dinding tebing dan ketika berjalan tak ubah bagaikag seekor kera saja rupanya. Ditangannya ia memegang sebuah tongkat dari kayu yang panjangnya kira2 satu kaki. Alat itu sebentar-bentar dipukulkannya menotok dinding tebing gunung, sehinga menerbitkan suara tok-tok-tok. Adapun bekas dinding yang kena diketok itu meninggalkan lubang sebesar mangkok nasi dalamnya, dan itulah yang membuat si imam bergerak maju.

Pemuda kita membelalak matanya. Dalam sekejap mata saja imam itu lewat diatas kepalanya, dan lenyap dari pemandangannya! "Too-su ini benar2 berkepandaian tinggi," pikir pemuda penuh kagum, "sayang karena bergerak demikian cepat bagaikan terbang, sehingga aku tak dapat menegurnya untuk menanyakan kepadanya apakah ia bukannya Wan Hwi To-tiang." Tapi diluar dugaannya, tengah ia masih melamun, suara tok-tak-tok terdengar pula dari sebelah belakang! Buru2 ia menengok kebelakang dan nampak olehnya bahwa imam, itu telah muncul pula pada dinding tebing guuung yang tegak lurus itu. Baru saja suara itu terdengar.. beberapa kali atau imam itu sudah berada dekat diatas kepalanya! Bukan kepalang. terkejut hati pemuda kita, sudah jelas orang itu tadi berjalan kearah depan, tapi kini bagaimana ia begitu cepatnya sudah bisa kembali, bahkan dari belakangnya?" "Harap To-tiang berhenti sebentar!" teriak Gokhiol.

"Aku ingin bertanya tentang seseorang." Tapi baru sadia ia berteriak atau imam itu sudah jauh berlalu dari situ! Batu2 jatuh kejalan Canto dan lobang2 bekas totokan tertinggal bagaikan gumpalan bundar: Gokhiol sudah tidak melihat bayangan imam to-su lagi, maka ia mengoceh sendirian : "Apakah imam to-su itu akan kembali pula" Apabila ia sekali lagi lewat disini, aku akan memanggilnya saja dengan nama Wan Hwi Sian! Aku ingin tahu bagaimsna reaksinya nanti!" Tiba2 terdengar olehnya suara orang berkata dari belakangnya : "Aku sudah kembali! Apakah kau belum tahu?" Gokhiol berdiri terpaku saking terkejutnya. Perlahan-lahan ia membalikkan badannya dan tampak olehnya imam itu sudah berdiri dilbelakangnya! Pemuda kita terlongo-Iongo mengawasi orang aneh itu.

Pada saat itulah si imam melihat gelang emas putih dileher Gokhiol, dan ... berubahlah airmukanya! "Anak muda, siapa namamu" Apakah kau telah disuruh situa bangka Im Hian Hong untuk datang kemari?" Kini pemuda kita yakin bahwa imam yang luar biasa itu, adalah pasti tidak lain daripada Wan Hwi Sian Totiang.

Buru2 ia menjura amat girangnya.

"Tidaklah salah terkaan, To-tiang. Tee-cu bernama Gokhiol yang telah disuruh oleh Im Hian Hong Cianpwee untuk mencari jejak perjalanan To-tiang yang ribuan lie jauhnya. Bahwa hari ini teecu beruntung sekali teIah dapat bertemu dengan To-tiang." Wan Hwi Sian memandang pemuda kita dari atas sampai bawah. "Im Hian Hong ini ada2 saja. Mengapa ia memaksa kepadaku untuk menerima kau sebagai murid?" Buru2 Gokhiol menyahut. "To-tiang, dengarlah penuturan teecu ini. Teecu mempunyai beban kewajiban untuk menuntut balas sakit hati mendiang ayah. Karena kepandaian teecu masih rendah sekali, maka teecu bersama ini mohon belas kasihan To-tiang. Jika sampai juga permohonan teecu ditolak, maka teecupun tak ada muka lagi untuk kembali pulang" "Hm," jawab Wan Hwi Sian dengan suara dihidung, "selama ini aku tak mempunyai niat untuk menerima murid. Jika kau tidak ada muka untuk pulang, baiklah kau mati saja disini!" Gokhiol berpikir, mengapa baru sekali saja bertemu siimam telah menyuruh ia mati saja" Tentu ia ingin tahu apakah aku akan mentaati perkataannya. Maka ia berkata : "Bila To-tiang lebih suka teecu mati daripada menjadi murid, baiklah sekarang juga teecu akan membunuh diri dihadapan To-tiang!" Mengadu untung, Gokhiol menerjunkan dirinya kedalam jurang yang dalam! Angin mendesir ditelinganya ketika tubuhnya jatuh pesat kebawah. Pemuda kita memejamkan kedua matanya menantikan saat ajalnya! Tak lama tiba2 terasa gelang dilehernya ada yang membetot. Tubuhnya berhenti jatuh kebawah, sedangkan telinganya tak mendengar desiran angin pula. Beberapa saat kemudian kakinya merasa menginjak tanah pula! "Anak yang baik. Aku takkan membiarkan kau mati!", demikian suara Wan Hwi Sian sayup2 terdengar ditelinganya. Dan ketika Gokhiol membuka kedua matanya, Wan Hwi Sian berdiri disisinya. Ketika ia mengawasi keadaan disekitarnya, ternyata mereka sudah berada dibawah jurang! Pemuda kita melihat ditangan sitosu ada gelang emas putih yang tadmya terikat diIehernya.

Pemuda kita meraba lehernya. Benar saja! Gelangnya sudah pindah ketangan orang! Gelang itupun masih utuh kelihatannya, tidak cacad sedikitpun.

Teringatlah Gokhiol akan perkataan Im Hian Hong Kiesu yang mengatakan, apabila gelang masih tetap utuh setelah dibuka oleh Wan Hwi Sian dari lehernya, maka tasu itu akan menerimanya sebagai muridnya! Segera pemuda kita menjatuhkan diri berlutut dihadapan siimam seraya menyoja sebanyak tiga kali.

Wan Hwi Sian tersenyum simpul : "Tunggu dulu! Jika ingin menjadi muridku, terlebih dahulu kau harus memenuhi ketiga syarat yang aku ajukan ini. Dan syarat2 ini tidak semudah seperti yang akan kau duga dan lagi aku sangat menyangsikannya apabila kau dapat menyanggupinya." Gokhiol lantas menyahut. "Apapun juga yang suhu ajukan, meskipun sukar umpama kata harus memindahkan gunung sekalipun, tak akan teecu menolaknya! Maka silahkan suhu menitahkannya." Kumis Dewa Kera Terbang yang panjang ber-gerak2 keatas, tanda puas akan jawaban itu.

"Benar2kah kau berani terjun kedalam air yang mendidih apabila aku menitahkan kepadamu" Kau tidak takut?" "Bagus! Bagus sekali semangatmu. Dengarlah baik2 sekarang. Aku hendak mengajarkan suatu ilmu yang tiada bandingannya dibawah langit ini. Dan kau harus melatihnya dengan rajin mengikuti cara2nya dengan sungguh2. Pasti selama dua tahun lamanya kau akan menjadi pendekar yang menggetarkan dunia Kang-ouw." Wan Hwi Sian berhenti sejenak sambil mengawasi sipemuda dengan dalam, lalu dilanjutkannya : "Namun demikian, sebelum kita mulai kau terlebih dahulu harus menjalankan tiga syarat.

Syarat pertama, kau harus menghilangkan seluruh kepandaianmu yang kau miliki dan mulai belajar pula dari pertama dengan dasar2nya...." Belum selesai Wan Hwi Sian berbicara, Gokhiol sudah mendahuluinya : "Ilmu yang teecu miliki tak akan menjadi soal untuk dilenyapkan sampai ke-akar2nya. Sekarang yang syarat yang ke dua" Karena keyakinan sipemuda, mau tak mau Wan Hwi Sian mengerutkan alis matanya.

"Ah kau terburu nafsu! sedangkan perkataanku belum selesai. Sebab setelah seluruh kepandaianmu lenyap, maka kau akan merasakan penderitaan yang sangat hebat! Hampir seperti orang yang dalam keadaan mati, mendapatkan hidup kembali. Apakah kau berani?" "Teecu tidak tahut," yawab Gokhiol sambil menggertakkan giginya. Wan Hwi Sian mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Baiklah, yang kedua ialah kau harus mentaati segala perintahku! Apa saja yang kuminta, kau harus melaksanakannya tanpa memberi alasan! Bila kau berani melanggar dan membangkang, maka hukumannya keras sekali. Dan apabila terjadi, kau tak boleh mengeluh ataupun menyalahkan aku. Baiklah hal ini kau renungkan dulu baik2, setelah masak kau pikirkan, barulah kau berikan keputusanmu kepadaku!" Tatkala itu hati Gokhiol sudah percaya penuh terhadap Wan Hwi Sian dan memujanya setinggi langit! Iapun beranggapan sebagai seorang murid terhadap suhunya, maka sudah menjadi kewajibannya mentaati segala peraturan apa saja yang diberikan.

Terdengar pula Dewa Kera Terbang berkata : "Umpama kata saja aku menyuruh kau membunuh seseorang, tak perduli siapa gerangan orang itu, kau harus memenuhinya! Mengertikan apa yang kumaksud?" Gokhiol berfikir dalam hatinya : "Baiklah aku menyetujuinya terlebih dahulu, kelak baru akan kupikirkan dengan tenang." Maka iapun menjawab : "Yah!, teecu takkan ber-pikir2 Iagi Walaupun suhu menyuruh teecu matipun, aku takkan menolaknya. Apa lagi yang harus dibicarakan?" Wan Hwi Sian tersenyum. "Baiklah," sekarang syarat yang ketiga. Dalam masa dua tahun ini, kecuali aku sendiri kau tak boleh bertemu dengan lain orang." "Itupun memang sudah seharusnya," jawab Gokhiol dengan serentak.

"Baiklah," Wan Hwi Sian berkata, "sekarang kau adalah muridku. Marilah ikut aku pulang." Wan Hwi Sian mengambil jalan diantara bukit2 yang tinggi, sedangkan Gokhiol mengikutnya dari belakang.

Mereka berjalan sampai jauh malam.

Dari kejauhan yang kelihatan hanya puncak gunung yang keputih2an diselubungi salju dan tebing2 gunung yang terjal. Tak lama kemudian sampailah mereka pada puncak gunung dan tampak dibawah puncak itu sebuah sungai es yang mengalir sepanjang ribuan lie, bergemerlapan disinari Rembulan. Lapisan es yang membeku diatas aliran air rupanya tidak melumer sepanjang tahun. Sungguh suatu pemandangan alam yang menakjubkan! Wan Hwi Sian memecahkan kesunyian dan katanya : "Tempat kediamanku terletak diujung sungai es itu. Kita masih harus menempuh jalan selama dua jam, barulah sampai disana." "Apa halangannya untuk berjalan. Janganlah suhu menghiraukan untuk berjalan selama dua jam lagi. Sehari lagipun teecu akan menuruti suhu," ujar Gokhiol.

Tapi baru saja ia selesai berkata atau ia menjadi heran.

Sebab dihadapannya jalanan terputus, yang terbentang dibawah adalah sebuah jurang! "Suhu, kita sudah berada dipuncak gunung, sedangkan didepan kita tidak ada jalan lagi." Sambil menuding kebawah Wan Hwi Sian berseru : "Terjunlah kebawah!" Berbareng itu ditariklah tangan Gokhiol oleh Dawa Kera Terbang dan ber-sama2 mereka terjun kedalam jurang yang curam! Tampak dua titik bayangan terapung! diangkasa me-layang2 kebawah, dan tatkala kaki mereka hampir menyentuh tanah, Wan Hwi Sian mengayunkan tubuhnya bersama tubuh sipemuda mengikuti aliran sungai es! Bagaikan anak panah terlepas dari busurnya kedua orang itu melesat diatas permukaan sungai yang telah menjadi es.

Terdengar ditelinga pemuda kita deru angin yang keras dan tahu2 dirasakannya tubuhnya tertumbuk pada sebuah dinding tebing. Tapi buru2 Wan Hwi Sian menariknya dengan sebat, dan mereka menikung kesamping dengan pesatnya. Bukan kepalang rasa terkejutnya Gokhiol! Peluh dingin mengucur diseluruh badannya.

Sungai es mengkilap bagaikan cermin, memanjang dan licin sekali. Sebab itu sekali orang meluncur diatasnya, maka sukar sekali untuk berhenti. Entah berapa Iama merela "terbang" diatas es, melewati tikungan2 yang tajam.

Post a Comment