Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 01

Memuat...

KETEGANGAN menyelinap diatas udara padang rumput yang luas dan sunyi. Sang Batara Surya sudah mendoyong diufuk barat yang berwarna kuning kemerah2an. Se-konyong2 dari sebuah lembah, muncul seorang penunggang kuda. Dia melarikan kudanya dengan cepat kearah tenggara. Kearah Giok-bun-koan, daerah perbatasan antara negeri Monggolia dan Tiong-goan.

Penunggang kuda itu ternyata se-orang pemuda yang romannya gagah-perkasa, cakap bagaikan batara. Umurnya kira2 baru tujuhbelas tahun. Dia mengenakan tudung bambu lebar dan dandannya seperti seorang ksatria Monggol. Dipinggangnya menggantung sebilah pedang, pedang pusaka kelihatannya. Dan diatas punggungnya menggemblok sebuah busur lengkap dengan kantong anak panahnya.

Panah! Senjata itu merupakan alat-tempur yang lazim dipakai bangsa Monggol, tetapi jarang sekali ada yang menggunakan pedang, kecuali golok, parang atau tombak, Hanyalah ksatriya, kaum bangsawanlah yang biasa membawa pedang. Ksatriya muda itu membungkukan diri agar dapat lebih lekas menerjang angin. Tubuhnya tinggi-besar dan kedua belah tangannya berotot kuat. Matanya bersinar kehitaman, kulitnya halus dan putih - hingga dia lebih menyerupai ...

seorang bangsa Han! Nampaknya ksatriya muda itu habis melakukan perjalanan jarak jauh, karena mendadak ia menarik les kudanya dengan keras. la menoleh kebelakang, se-olah" sedang memeriksa sesuatu. Pada saat itu juga ia menjerit tertahan.

Nampaklah lima penunggang kuda berpakaian merah berlari mendatang kearahnya, menyusul! Mereka adalah perwira2 Jendral Tuli, Panglima tertinggi Angkatan Perang Monggol! Debu mengepul tinggi diudara.

Kuda sipemuda meringkik keras. Segera ia menjepit kempungan binatang itu. Lalu mengaburkan kudanya pula dengan cepat. Segera menyusul derapan kaki kuda memecahkan kesepian alam.

Kejar mengejar terjadi dipadang rumput itu. Mendadak terdengar suara desingan anak panah yang melesat diatas kepala sipemuda. Tanda peringatan supaya ia segera menghentikan kudanya. Pemuda itu tidak menghiraukan. la hanya melirik dengan pandangan dingin. la menggeprak kudanya agar kabur lebih cepat. Namun, walaupun kuda tunggangannya itu kuda kelas wahid, tapi karena sudah kehabisan tenaga, tak dapat binatang itu berlari dengan lebih pesat.

Kelima pengejar itu makin dekat, makin dekat.

Terdengar salah seorang berseru : "Lekas berhenti, Gokhiol! Jendral Tuli memerintahkan supaya kau kembali keistana!" Pemuda itu membalikkan tubuhnya. "Kalian tak usah membujuk. Sampaikan kepada Jendral Tuli, bahwa aku - Gokhiol tidak akan menginjakkan kaki dilantai istana sebelum menghirup darah orang yang telah membunuh ayahku!" Sekejap saja dua perwira sudah mendekati kuda sipemuda. "Pangeran. Gokhiol! Saudaramu pangeran Pato dan Hulagu sangat merindukan kau. Apakah kau tidak kasihan keipada mereka" Pato sedang mengejarmu dibelakang".

Sipemuda yang sadar bahwa dirinya tak dapat lolos lagi, menjadi beringas wajahnya. Dengan gerakan seperti kilat dia mencabut pedangnya dan menuding kebelakang.

"Kamu jangan bikin darahku naik! Enyahlah dari sini!" Perwira2 Monggol itu sebenarnya takut kepada sipemuda itu, yang bukan lain dari pangeran Gokhiol, anak angkat Jendral Tuli. Tapi mereka mendapat perintah untuk membawa kembali pangeran yang kabur dasi istana itu.

Perintah lisan dari Jendral Tuli! Itu harus dilaksanakan tanpa perkecualian! Serempak mereka mengangkat tombak dan menyerang! Terpaksa Gokhiol menahan lari kudanya. Dengan wajah penuh kegusaran ia memutarkan pedangnya yang lantas mengeluarkan sinar merah berkilau2an. Sinarnya pedang pusaka! Angin men-deru2 dengan hebatnya dan ujung pedang ber-gulung2 seperti naga merah bermain disamudera. Perwira2 Monggol itu menjadi pucat. Mereka tahu sang pangeran tinggi ilmu pedangnya dan mereka sudah mendengar tentang keampuhan pedang pusaka Angliongkiam atau Pedang-naga-merah! Lima tombak melawan satu pedang. Pertempuran diatas kuda itu seru, hebat dan mengerikan. Kuda2 meringkik serta ber-lompat2an.

Akhirnya Gokhiol menjadi tak sabar lagi. la perhebat serangannya dan dengan tiga sampokan geledek dia memapas kutung kelima tombak itu.

"Huh ! Pulanglah, kamu sekalian. Jika kamu masih bandel, nanti kepalamu yang jatuh menggelinding dari leher !" mengejek sipangeran.

Kelima perwira Monggol itu menjadi gusar bukan kepalang. "Pangeran Gokhiol! Kau berani menentang perintah PangIima! Awas, lihatlah panah!" Serempak pula perwira2 itu menjangkau busur. Tentara Monggol tersohor sebagai jago2-panah yang jarang tandingannya. Bidikan mereka selalu jitu, yang berarti . . .

maut! Gokhiol berubah wajahnya. Begitu terdengar terlepasnya tali gendawa, ia segera memutarkan pedang pusaka untuk melindungi dirinya.

Sinar merah berkilauan pula diudara dan ampat anak panah terpapas kutung. Tapi sebatang anak panah ambles ditubuh kudanya, hingga binatang itu meringkik keras kesakitan dan berlompat-lompatan bagaikan gila.

Gokhiol jatuh terpental! Namun karena ginkangnya lumayan juga, maka ia dapat hinggap dengan selamat diatas tanah." Kelima perwira Monggol tanpa ayal lompat turun dari dari kuda dan menubruk Gokhiol untuk membekuknya.

Mereka adalah jago2-gulat kelas satu dan mengira dengan mudah saja dapat menangkap sipemuda. Sambil membentang tangan mereka mengurung.

Mata Gokhiol menjadi merah. Darahnya mendidih karena kuda kesayangannya telah tewas. la berdiri tegak bagaikan harimau.

Perwira2 Monggol menjadi jeri. Dari sinar matasipemuda yang tajam melebihi pisau, mereka melihat ...

nafsu untuk membunuh! Tanpa sadar mereka mundur.

Terlambat! Seraya berteriak mengguntur. Gokhiol sudah maju menangkap perwira yang paling dimuka. Cepat sekali gerakannya! Tangannya mencengkeram leher baju mangsanya dan tangan-kanannya sudah terangkat naik untuk menghancurkan kepala perwira itu dengan pukulan geledeknya.

Gokhiol! Jangan kau berani bunuh seorang ksatriya Monggol!" tiba2 seorang perwira berteriak memperingatkan sipemuda.

Gokhiol tersadar. Jika ia sampai membunuh ksatriya Monggol itu, niscaya dirinya akan celaka - biarpun ia anak-angkat Panglima perang. Tata-tertib dalam ketentaraan Monggol sangatlah keras, tak boleh dilanggar.

Melihat Gokhiol tertegun, empat perwira lainnya segera mempergunakan kesempatan itu. Mereka menerjang berbarengan. Namun pemuda kita bukan sembarang orang. Dalam segebrak saja ia sudah dapat membuat lawan2nya itu terpelanting kesana-kemari. Percuma ia menjadi murid kesayangan jago-gulat istana Yalut Sang.

"Tidurlah, bocah2ku" ujar Gokhiol kepada perwira2 itu yang telah rebah ditanah dengan pingsan. "Maaf, aku perlu pinjam salah satu kudamu".

la memilih kuda yang terbaik, lalu lompat keatasnya.

Suara tertawanya terdengar diudara tatkala binatang tunggangannya me-ringkik2 untuk kemudian kabur kedepan seperti setan ...

Siapakah gerangan sebenarnya sipangeran yang dipanggil Gokhiol itu" Mengapa dia kini meninggalkan istana"

---oo0dw0oo---

Siapakah gerangan sebenarnya sipangeran yang dipanggil Gokhiol itu" Mengapa dia kini meninggalkan istana" UNTUK mengetahuinya marilah kita balik kembali keduapuluh tahun yang lampau, pada masa kejayaan kaisar Jenghis Khan yang daerah kekuasaannya hampir meliputi separuh dunia : Tatkala negara Kim jatuh ditangannya, raja Kim yang bernama Wanyen Ping mengirimkan puterinya ke Monggolia sebagai utusan persahabatan. Tapi ketika sampai di Giok-bun-koan, sang puteri Wanyen Hong yang cantik-jelita tiba2 menghilang. Rombongan yang terdiri dari duabelas dayang2, enam pengasuh dan enam Taykiam (pelayan kebiri) serta seratus ksatriya istana Kim-ie-wie menjadi gempar.

Mereka mencari ubek2an disekitar daerah perbatasan Giok-bun-koan, namun usaha mereka sia2 belaka. Sang puteri se-olah2 lenyap kedalam bumi! Para ksatrya istana itu semuanya adalah orang2 pandai kelas satu dari negeri Kim. Satu diantaranya yang bernama Tio Hoan malahan adalah sanak-keluarga bangsawan negara Song yang dijadikan orang utusan.

Bagaimana ia bisa menjabat sebagai pengawal istana dinegeri Kim" Kiranya setelah Gak Hwie wafat, ketika itu pemerintah Song mengadakan kompromi dengan negeri Kim dan mengangkat seorang pangeran sebagai utusan negara istimewa. Tio Hoan adalah keponakan kaisar Song Ko Cong, sejak masih kecil ia belajar ilmu silat di Boe-tong Pay. Pihak Kim memang, sudah mengagumi kepandaiannya, maka telah meminta ia untuk menjadi orang utusan. Sesampainya Tio Hoan di Yan-king ibu-kota negeri Kim, raja Kim sangat menyayanginya dan telah mengangkat ia menjadi To-wie dan kemudian menganugerahkan padanya pangkat pengawal istana kelas satu.

Jenghis Khan yang mengira dirinya dipermainkan, menjadi murka. Ia menitahkan untuk menangkap seluruh rombongan itu! Pasukan Kim-ie-wie adalah pasukan istimewa, terdiri dari ksatrya" yang berkepandaian tinggi dan luhur martabatnya. Mereka menjunjung tinggi kehormatan negaranya dan membela diri mati2an.

Pertempuran berlangsung dengan dahsyatnya. Pedang dan tombak saling beradu diudara dan suara jeritan yang terluka sebentar2 terdengaf. Masing2" pihak bertempur dengan semangat yang ber-kobar2, sama2 berani dan sama2 gagah-perkasa. Seharian suntuk mereka bertanding, dan darah sudah membanjir dipermukaan bumi.

Menjelang senja, sisa2 pasukan Kim-ie-wie terpaksa mengundurkan diri. Mereka mundur teratur untuk pulang kembali kenegeri Kim.

Namun Tio Hoan dan beberapa ksatrya lain yang melindungi pengiring2 sang puteri... tertawan. Dengan nekad mereka terus melawan, Tio Hoan menerjang dengan pedang pusaka Ang-liong-kiam. Tapi akhirnya mereka tak berdaya ...

Para rombongan pengiring diangkut keistana kota-raja Holim untuk dipekerjakan sebagai peiayan permaisuri Bourtai Fijen. Permaisuri. ini sangat halus perangainya, maka ketika pengiring2 memohon agar Tio Hoan dan kawan2-nya diberikan ampun, Bourtai Fijen membujuk suaminya Jenghis Khan. Tio Hoan diberi ampun dan ditugaskan mendidik pangeran Tuli dalam kepandaian surat dan silat. Mereka berdua kemudian menjadi Akrab satu sama lain.

---oo0dw0oo---

Post a Comment