Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 06

Memuat...

Gokhiol memandang ketempat pedang yang tertancap ditebing batu. Tersiraplah darahnya! Ternyata pedang pusaka itupun sudah hilang! "Celaka, pedangku telah dicuri oieh laki2 yang berpakaian hitam itu !" Gokhiol tidak mendengar Pato memberi jawaban. la menoleh. Pangeran itu kiranya jatuh pingsan kehabisan tenaga. Buru2 pemuda kita mengangkatnya.

"Pato, adikku." ujarnya dengan wajah cemas. "Apakah kau terluka ?" Dengan napas ter-putus2 Pato menjawab : "Aku ... aku sangat haus. Ambilkanlah aku air......" Gokhiol dengan hati legah mengambil tempat penyimpan air dari pinggangnya dan di tuangkannya beberapa teguk kemulut adiknya. Lambat laun Pato pulih kembali tenaganya. la berkata kepada Gokhiol : "Gie-ko, maafkan aku tadi telah berlaku tidak sopan terhadapmu.

Sebetulnya Ama (ibu Gokhiol) telah memesan kepadaku untuk memberitahukan kepadamu agar kau memakai itu batu kumala merah pada badanmu. Aku tahu kau takkan mau kembali, maka aku telah menyuruh pengiring2ku untuk menantikan dimulut lembah. Seharusnya aku tidak men-coba2 kekerasan hatimu yang telah bertekad bulat untuk menuntut balas atas pembunuh ayahmu. Dan lebih disayangkan lagi, karena kesalahanku kini pedang pusaka Ang-liong-kiam telah dibawa kabur orang. Aku benar2 merasa menyesal sekali !" Kini Gokhiol baru tahu bahwa Pato telah disuruh ibunya untuk menyampaikan pesanan. Hatinya menjadi sangat terharu. la memeluk adiknya.

"Pato, adikku. Tadi aku telah salah sangka, sungguh aku harus merasa malu sekali." "Gie-ko, sayang ayahku melarang aku meninggalkan Holim, kalau tidak niscaya aku akan turut denganmu untuk mencari kembali pedang pusakamu itu. Dengan jalan demikian, baru hatiku enak." Tampak airmuka Pato menunjukkan perasaan yang menyesal sekali. "Gie-ko, apakah kau dapat melihat orang berpakaian hitam tadi dari golongan mana" Melihat kepandaiannya tadi, dia membuat aku se-olah2 seperti dua orang yang berlainan. Sungguh suatu kepandaian yang tak dapat dicari keduanya. Kini ternyata pedang pusakamu jatuh ditangannya..." Gokhiol terharu mendengar kata2 adiknya.

"Kau jangan bersedih hati. Aku meninggalkan Monggolia kali ini sebenarnya dengan maksud untuk bertemu dengan orang2 pandai dan juga untuk memperdalam pengetahuanku. Mengingat selama sepuluh tahun yang telah lewat, kita meskipun telah mendapat bimbingan dari para ahli2 tempur, namun kita masih bagaikan katak dalam sumur. Gadis tadi, mungkin juga dia Hek Sia Mo-lie dari Kota Hitam seperti yang dilukiskan guru Yalut Sang. Sayang dia memakai tutup muka, hingga kita tak dapat melihat dengan tegas bagaimana roman mukanya." "Kejadian malam ini benar2 luar biasa." ujar Pato. Dua pembokong tadi berasal dari See-hek dan maksudnya adalah untuk membunuh kau. Tapi Hek Sia Mo-lie itu apakah permusuhannya dengan kita" Kelihatannya ia tadi sungguh2 hendak mengambil jiwaku. Kalau bukannya orang laki2 berbaju hitam menolong aku dengan mempergunakan ilmu Thwan-to Khi-kang atau ilmu Mengirim tenaga-melalui-udara yang telah sempurna itu, niscaya malam ini kita berdua akan binasa." Mendengar perkataan itu, Gokhiol teringat sesuatu.

"Aku masih mendengar tadi kau menyebut Im Hian Hong Kie-su, mungkin dia orangnya?" "Entahlah. Tapi hatiku tak tenteram." Mereka masih bercakap beberapa lama. "Budi yang telah kau berikan kepadaku, takkan dapat kulupakan. Jagalah ibuku baik2 dan hiburkan hatinya selama aku pergi Tapi kini kau harus lekas2 meninggalkan tempat ini. Baiklah akan kuhantarkan kau sampai dimulut lembah ini," ujar Gokhiol.

Tiba2 terdengar - derapan kaki kuda yang riuh sekali.

Suara sepasukan tentera berkuda yang mendatang kejurusan mereka. Cepat2 Gokhiol dan Pato memanjat tebing dan benar saja apa yang dilihat mereka adalah sepasukan tentara berkuda Monggol dengan membawa obor berkobar-kobar." Suramlah wajah Pato. "Pasukan pengawalku telah datang. Sebaiknya kau lekas2 meninggalkan tempat ini, jangan sampai diketahui oleh mereka. Dengan duaratus pengawal aku dapat pulang kembali ke Holim dengan aman. Harap kau jangan kuatir, Gie-ko. Dan akupun akan mendoakan agar kau berhasil mendapatkan musuh-besarmu serta membunuhnya. Huharap pula agar kau lekas2 kembali ke Holim." Kedua saudara itu saling rangkul dan dengan air mata berlinang mereka saling berpisahan.

"Semoga Dewi2 kita selalu mendampingi dirimu," bisik Pato dengan suara parau. Kemudian ia berlalu ...

---oo0dw0oo---

GOKHIOL berdiri diatas tebing mengawasi adiknya pergi dengan perasaan pilu. la merasa sunyi.

Tiba2 terdengar dibelakangnya suara orang ter-batuk2 kecil. Disusul dengan bisikan yang lirih : "Oh, Siauw-cu-jin.

Aku telah menantikan kau selama terjuhbelas tahun lamanya. Tak disangka kau akhirnya datang juga." Gokhiol membalik dengan terperanjat. Kini pedangnya sudah tak ada lagi, sedangkan anak panahnya sudah habis.

Begaikan kilat ia menyabut pisau belatinya. Ia bersiap untuk bertempur! Matanya menyapu dengan tajam. Seorang kakek yang telah berambut putih muncul pada jarak kira2 lima tombak, ia mengenakan pakaian bangsa Han yang sudah koyak2. Ditangannya tergengam tongkat dari bambu.

la mengawasi Gokhiol dengan mata yang berseri-seri.

Lo-cian-pwee, kau siapa" Kenapa membahasakan aku dengan Siauw-cu-jin?" tanya Gokhiol dengan heran.

Tiba2 kakek itu berlutut seraya mengucapkan syukur kepada Tuhan. "Terima kasih atas berkah Tuhan yang maha-pengasih.

Malam ini aku dapat bertemu dengan Siauw-cu-jin yang gagah-perkasa seperti juga dengan mendiang ayahnya. Oh, Cu-jin. Kalau saja kau dapat menyaksikan dialam baka, maka hatimu tentu akan puas." Gokhiol makin tercengang. Buru2 ia mengangkat siorang tua itu dan berkata. "Maaf, lo-cian-pwee. Kau salah sangka.

Aku bukan Siauw-cu-jinmu. Bangunlah." Sikakek mengangkat kepalanya.

"Siauw-cu-jin, bukankah kau Tio Peng putera dari Tio Hoan" Aku telah mengikuti mendiang ayahmu dari negara Song kenegeri Kim, kemudian ikut mengawal puteri Wanyen Hong ke Monggolia yang diutuskan sebagai duta perdamaian. Tapi malang sekali puteri mendadak menghilang. Ayahmu telah berusaha untuk mencarinya dan celaka baginya ia telah dibunuh dalam menunaikan tugasnya oleh musuh yang tak dikenal." Gokhiol menahan napasnya.

"Pada hari itu Cu-jin telah menyuruh aku tinggal ditepi sungai Su-lek Ho untuk mencari berita tentang sang puteri.

Selama tujuhbelas tahun aku berdiam disini. Pada sepuluh tahun yang lampau. Cu-be Lok Giok telah memberi kabar bahwa kau telah diangkat anak oleh Jendral Tuli. Ayahmu telah memberi kau nama Tio Peng dan kau adalah keturunan dari pangeran negara Song. Siauw-cu-jin, kau jangan melupakan asal leluhurmu bangsa Han! Setiap hari aku menghitung-waktu mengharapkan kedatanganmu di Ban-Coa-Kok. Syukur sekali akhirnya aku dapat bertemu dengan kau, Siauw-cu-jin. Matipun kini aku rela rasanya." Bangsa Monggol biasanya banyak pantangannya, begitu juga dengan Gokhiol yang dibesarkan dikalangan istana, sedikit banyak masih terpengaruh sifat2 tahayul. Begitu mendengar siorang tua menyebut kata "mati," buru2 ia mencegahnya : "Lo-cian-pwee, mengapa kau mengucapkan kata2 yang demikian" Aku benar adaiah Tio Peng, putera dari Tio Hoan. Kukira kau adalah kakek Tiang Jun pengikut mendiang ayah. Kali ini ibu telah menyuruh aku datang berkunjung kepadamu, untuk bertanya siapakah pembunuh dari ayah." Sikakek segera merangkul pemuda kita.

"Syukur kau telah terhindar dai bahaya maut. Tapi disini bukan tempat yang baik untuk kita bicara, marilah ikut aku!" Gokhiol mengikuti orang tua itu meninggalkan lembah yang letaknya ber-lingkar2 itu. Dibawah sinar bintang2 yang berkerlipan, tampak wajah sikakek yang putih tanpa jenggot dan kumis. la adalah seorang ... Tay-kam atau pelayan kebiri! Ditengah jalan Gokhiol masih betanya : "Lo-cian-pwee, katanya ketika ayah sedang mencari sang putri Wanyen Hong, ada seorang ksatrya yang bernama Giok Liong.

Apakah ia sekarang masih hidup?" "Mungkin Siauw-cu-jin belum mengetahui," sahut sikakek. "Sewaktu Cu-jin datang kegoa Tung-hong untuk mencari jejak sang putri, tak lama kemudian orang2 dari See-hek telah terpukul mundur oleh tentara Monggol. Tapi disepanjang jalan mereka masih sempat membakar serta merampok penduduk desa. Aku dan Giok Liong pada waktu itu tertawan oleh mereka, tapi untung aku kemudian dapat meloloskan diri. Sedangkan bagaimana dengan nasib Giok Liong, aku tak mengetahuinya lagi," kata sikakek sambil menghela napas.

Mereka terus berjalan kaki menyusuri tepi sungai dan akhirnya sampailah mereka disebuah gubuk yang dikelilingi dataran tinggi pegunungan.

Sikakek mempersilahkan Gokhiol untuk masuk kedalam gubuknya dan setelah mengunci pintu dengan rapat, dinyalakannya sebuah lampu pelita sebagai penerangain.

Lalu ia menuju kepojokan kamar dan menggeser sebuah periuk yang terbuat dari tanah liat. Diambilnya keluar suatu benda dari dalamnya.

"Cu-jin berkata bahwa kelak kau akan datang mencari aku dan memesan agar supaya aku menyampaikan benda ini . . ." Gokhiol menyambut pemberian sikakek yang ternyata adalah sebuah sepatu kulit berselongsong panjang.

Walaupun sudah gepeng, tapi selongsongnya masih utuh.

"Apakah sepatu ini peninggalan ayahku?" tanya pemuda kita dengan parau.

"Memang itulah barang ayahmu," sikakek membenarkan, "ketika pertama kali Cu-jin pergi kegoa Tung-hong, ia telah menitahkan kepadaku untuk menanti di tempat pegunungan ini. Dua hari kemudian ia telah kembali pula dan wajahnya nampak tegang sekali. la menceritakan kepadaku bahwa sang putri ... masih hidup! Malam hari itu juga ia pergi pula dengan ter-gesa2. Dan esoknya menjelang fajar ia kembali dalam keadaan badan berlumuran darah. Kiranya tangan ayahmu terluka oleh tikaman pedang musuh! Aku masih menanyakan apakah ia telah bertemu dengan sang musuh, tapi Cu-jin tidak memberikan jawaban." Gokhiol mendengarkan cerita Tay-kam itu dengan kesima. Sikakek meneruskan pula : "Pada hari itu juga Cujin kembali ke Holim dan sebelumnya memesan kepadaku untuk menunggu ditempat ini. Juga ditinggalkannya sepatu ini dan memesan wanti2 agar menyimpannya dengan baik2.

Post a Comment