Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 07

Memuat...

Tapi apa mau dikata Cujin kembali untuk kedua kalinya, aku dan Giok Liong tertawan oleh orang" See-hek. Dan mengenaskan sekali Cu-jin kemudian terbunuh oleh musuh.

Sepatu ini telah kusimpan dengan baik' dan beruntung sekali ia tak hilang. Kukira benda ini penting sekali dan berhuhungan dengan hilangniya putri Wanyen Hong. Tapi aku yang tolol tak dapat mengetahui makna dari sepatu ini.

Gokhiol memeluk sepatu tersebut bagaikan ia memeluk ayahnya. Tiba2 ia rasakan ada sesuatu yang tersembunyi didalam sepatu itu. Buru2 ia membuka jahitannya dengan sabilah pisau. la berseru tertahan! Betul saja dan dalam selongsong sepatu itu tersimpan sebuah bungkusan kecil dari sobekan kain baju.

Ketika Gokhiol membuka bungkusan kain tersebut, dinginlah sekujur tubuhnya. Ternyata isinya adalah sebuah telunjuk tangan manusia yang telah kering! Melihat bentuk tulangnya yang kasar, dapat dipastikan bahwa telunjuk itu adalah kepunyaan seorang laki2 dan samar2 masih membekas darah yang telah kering, menandakan terpapasnya oleh sebuah benda yang tajam seperti pisau.

Tiang Jun yang juga melihatnya turut terkejut. Segera ia terangi dengan pelitanya.

"Siauw-cu-jin, kain itu masih ada tanda bekas darahnya!" ujarnya dengan suara gemetar.

Gokhiol membentangkan kain itu dibawah cahaya pelita carikan kain itu. Huruf2nya agak suram tapi samar2 masih dapat dibaca : Delapan diatas goa ketigabelas, kekanan enambelas tiga dim dibawah lengan.

Gokhiol berdebar hatinya. Dibacanya huruf2 itu dengan seksama, tapi ia tak dapat menangkap artinya.

"Siauw-cu-jin, aku kira huruf2 itu merupakan tutisan rahasia. Ayahmu rupanya telah menemukan sedikit keterangan, tapi karena dalam keadaan luka ia kuatir takkan dapat melanjutkan pemeriksaannya, maka ia telah menulisnya dalam sobekan kain ini dengan darah dari lukanya." "Akupun sependapat denganmu," jawab Gokhiol, "tapi ini telunjuk tangan siapa ?" Sikakek berdiam. Selang beberapa waktu, barulah ia berkata : "Siauw-cu-jin, besok akan kucarikan dua ekor kuda untuk kita pergi berdua kegoa Tung-hong, yang letaknya kira2 duaratus lie dari sini. Kita dapat menempuhnya dalam waktu satu hari satu malam." "Maaf, tak dapat," sahut Gokhiol, "aku harus mencari dulu pedang pusakaku, yang telah terampas tadi." Sekonyong-konyong terdengar suara berkeresekan diluar gubuk. Gokhiol cepat2 meniup padam api pelita seraya menarik badan sikakek kepinggir dinding. Baru saja sikakek menyingkir atau mendadak saja ... pintu gubuk terbuka! Mendadak sebuah sinar yang mengkeredep menyambar ketempat dimana sebelumnya sikakek berdiri.

Gokhiol mencabut pisau belatinya dan dengan berani berlari keluar. Dalam keadaan yang gelap nampak sesosok bayangan orang berkelebat menghilang dikelam malam.

Tiang Jun tergesa-gesa menyusul keluar untuk mencegah Gokhiol mengajar.

"Siauw-cu-jin, jangan kau kejar! Kau harus bersikap tenang dan berpikiran dingin." Gokhiol masuk kedalam gubuk kembali dan disuluhinya pula ruang gubuk untuk memeriksa apa yang telah dilemparkan orang itu. Nampak olehnya sebuah benda logam menancap diatas tanah. Setelah Gokhiol mencabutnya untuk diperiksa, ternyata benda logam itu berbentuk bulat, dipinggirnya terdiri dari sembilan buah gerigi yang tajam. la tak mengetahui benda apakah itu" "Lo-cian-pwee, aku telah tinggalkan kudaku dimulut lembah. Aku ingin menjemputnya serta mencari laki2 berbaju hitam tadi yang telah mencuri pedangku. Setelah dapat kurebut kembali maka aku akan kembali kesini untuk menemukan kau." Tiang Jun hanya dapat memberikan restunya, ia mengawasi Gokhiol pergi meninggalkan dirinya...

---oo0dw0oo---

PADA siang hari sampailah Gokhiol pada daerah dataran rendah. Dipinggiran jalan berderetan kedai2. la menghampiri salah sebuah tenda dan lompat turun dari kudanya. Kedai itu adalah milik orang suku Hui.

la memesan makanan dan acuh tak acuh menanyakan jalan kejurusan goa Tung-hong.

"Ada dua jalan yang dapat saudara tempuh untuk pergi ke Tung-hong." kata sipemilik kedai dengan ramah, "satu diantaranya melalui padang pasir dan dusun Ang-Liu-Cun yang merupakan jalan terdekat, sedangkan yang satunya lagi ialah melalui ladang garam yang memakan waktu lebih lama. Tapi lebih baik kau mengambil jalan yang melalui ladang garam walaupun memakan tempo satu hari lebih lama untuk sampai di Tung-hong," "Kenapa ?" tanya Gokhiol dengan heran.

Sipemilik kedai menjadi tegang air mukanya.

"Saudara, jangan kau mengambil jalan yang melalui Ang-Liu-Cun itu. Beberapa waktu akhir2 ini para petualang yang lewat dipadang pasir itu semuanya mati terbunuh.

Binasa secara mengerikan dibawah tangan Heh Sia Mo-lie dari Kota Hitam!" Begitu mendengar namanya Wanita Iblis, Gokhiol menjadi tersirap darahnya.

"Benarkah Hek Sia Mo-lie tinggal di Ang-Liu-Cun tanyanya. "Tiap orang yang datang kesini semuanya mengetahuinya, demikian juga dengan para ksatrya Mongol. Seorangpun dari mereka tak berani melintasi padang pasir itu dengan seorang diri. Aku nasehatkan kepadamu untuk jangan mengambil jalanan itu." Gokhiol hanya tertawa dingin.

"Justru aku datang kesini untuk menemukan Wanita lblis itu! Aku ingin sekali mengetahui apakah benar ia seekor iblis atau hanya seorang manusia biasa yang berdarah dan berdaging." "Saudara jangan bicara keras," sipemilik kedai berkata dengan gelisah, walaupun letak Ang-Liu-Cun jauh dari sini, tapi Hek Sia Mo-lie dapat mengetahuinya. "Menurui cerita para tamu yang berkunjung disini, dia seringkali muncul disebuah hutan ditengah-tengah padang pasir. Disitu udara luar biasa dinginnya, dulu kabarnya sinar matahari pun tak dapat memanaskan hawa di hutan itu. Katanya pernah seorang raja See-hek mendirikan sebuah kota yang kini dinamakan Kota Hitam. Kemudian karena timbulnya peperangan, maka kota ini musnah dan bangunan2 rumahnya telah terpendam kedalam tanah. Kini kota itu telah dilupakan orang, tapi oleh Hek Sia Molie telah digunakan untuk tempat sarangnya." Selesai bersantap, Gokhiol melihat matahari telah menyondong kebarat. Dengan tenang ia membayar uang makanannya untuk kemudian menyemplak kudanya dan di kaburkan kearah ... jalan kepadang pasir! Kearah bahaya maut.

Sipemilik kedai menjadi kaget. Buru2 ia keluar dan berteriak mencegah sipemuda. Tapi sudah terlambat. Kuda Gokhiol sudah jauh larinya ...

Sepanjang perjalanan berdiri gundukan2 pasir. Sete!ah hari menjelang magrib, barulah nampak dataran tawah yang berpohon lebat dan rumput2 yang hijau tebal. Tak jauh sebuah sungai kecil mengalirkan airnya dengan deras melalui sela2 bukit batu. Air yang jernih kebiru-biruan itu tertampung pada sebuah danau kecil.

Disekeliling tepi danau mata Gokhiol melihat kelompok pohon Liu yang ditiup angin, melambai-lambai bagaikan gadis2 sedang me-nari2 dengan riangnya. Air danau berombak kecil bagaikan ingin menyertainya, seirama dengan tiupan angin sepoi2. Diseberang danau diantara bukit2 yang ber-jejer2 asap mengepul pelan2 keatas. Disana terdapat sebuah rumah penduduk desa. Dimuka tumah itu terdapat pelataran rumput yang hiyau membentang ketepi danau.

Tak disangka oleh Gokhiol bahwa di-tengah2 padang pasir yang kering gersang terdapat suatu tempat yang nyaman dan indah permai pemandangannya.

"Alangkah indahnya tempat ini. Nyaman dan jauh dari segala keramaian" Gokhiol berkata dalam hatinya, "kini hari sudah mulai gelap, kemarin aku sudah semalman tak dapat meramkan mata. Betul aku dapat meneruskan perjalanan, tapi kudaku sudah letih sekali. Baiklah aku bermalam saja dirumah itu." Begitu berpikir, pemuda kita pun lompat dari kudanya yang dituntunnya ketepi danau untuk dibiarkan binatang itu minum serta makan rumput. Sedangkan ia sendiripun membungkuk untuk menceguk air melepaskan dahaganya.

Setelah minum, ia merasa tenggorokannla nyaman sekali dan badannya menjadi segar bugar. Lalu dituntunnya pula kudanya menyusuri danau.

Sesampainya dihalaman rumah, tiba2 pintunya terbentang dan dari dalam mencul keluar seorang gadis gemuk berusia kira enambelas tahun. Gadis itu berwajah ke-tolol2an, sepasang matanya besar dan bundar. Diatas jidatnya terdapat sebuah tai lalat. Bibirnya tebal, sedangkan pipinya merah karena dipoles Yan-cie yang terlalu medok.

Rambutnya dijalin menjadi dua buah kepang pendek.

Ditelinganya tergantung dua buah anting2 terbuat dari perak yang bentuknya amat lebar. Ia berjalan dengan lenggak-lenggok yang di-buat2.

Gadis itu mengenakan baju merah-tua, sedangkan celananya berwarna hijau rumput. la tidak memakai sandal, ditangannya ia mencekal sebatang bambu. Melihat wajai serta tingkah-laku orang, mau tak mau Gokhiol tertawa geli.

Pikir Gokhiol: gadis ini rupanya seorang pelayan. Coba kutanya kepadanya siapa gerangan majikannya" la mengikat kudanya pada sebatang pohon.

"Maaf, nona. Aku ingin tanya siapakah majikanmu Yang tinggal dirumah ini" Dapatkah kau mengantar aku untuk bertemu serta berkenaIan dengannya?" Melihat orang menghampirinya, sigadis mendongakkan kepalanya. Dengan sepasang matanya yang besar ia mengawasi pemuda kita. Airmukanya yang menunjukkan ketololan kini berubah sungguh2.

"Hei, kau anak-muda ini datang darimana?" sahutnya gusar. "Mengapa bukannya memberitahukan namamu lebih dahulu kepadaku, sebelum kau berlaku tidak sopan dengan lantas menanyakan nama majikanku" Apakah kau tidak tahu adat"!" Batang bambu yang sedang dipegang disembunyikan gadis itu kebelakangnya dan dengan mata yang disipitkan ia mengawasi pemuda dari atas sampai kekaki.

Dipandang demikian rupa, Gokhiol menjadi likat, tapi mengingat gadis itu orang tolol ia mengangkat pundaknya.

la berpikir sebaiknya ia menyebutkan nama Han-nya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment