Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 09

Memuat...

Apakah kau ingin mengembalikan pedangku?" "Bocah, kau kemari dulu! Nanti baru akan kukembalikan pedangmu" orang itu berkata sambil tertawa.

Gokhiol mengawasi kertempat orang berdiri, jarak antara ia dengan orang itu ada kira2 sepuluh tombak dan sebuah jurang yang sangat dalam memisahkan mereka.

Jika ia terjatuh, niscaya tubuhnya akan hancur-luluh.

Ia jeri juga. Orang tua itu mengejek pula dengan suara dingin.

Gokhiol mendongkol sekali. Tapi ia sangsi ia sangsi akan kemampuannya untuk meloncati jurang maut itu.

"Ha-ha-ha! nyalimu seperti tikus. Kau takut, bukan?" Sekonyong-konyong orang itu mengibaskan lengan bayunya, yang disusul dengan berkesiurnya angin yang menyambar kearah Gokhiol. pemuda kita merasakan dirinya tak dapat berdiri tegak pula, maka bila ia terus mempertahankan diri, mau tak mau akhirnya ia akan jatuh ia akan jatuh kedalam jurang.

Ia mengkretakkan giginya dan dengan tipu Burung Walet-terbang melewati-jurang, ia mengayunkan kakinya.

Dengan kedua tangan terbentang lebar, Gokhiol mengambil keputusan nekad untuk melompati jurang yang terbentang dihadapannya. Begitu badannya melompat atau tiba2 dirasakannya badannya terapung tinggi melayang keudara.

Terdengar suara angin men-deru2 bagaikan guntur dan dalam waktu tak berapa lama ia sampai didepan jurang.

Laki berbaju hitam berseri-seri wajahnya.

"Bagus, bagus sekali! Bocah, keberanianmu boleh juga! Mari duduklah disebelahku, aku ingin bicara denganmu." Gokhiol tahu bahwa sibaju hitam secara diam2 telah menggunakan kepandaiannya untuk membantu dirinya melewati jurang yang curam agar tiba ditempatnya.

"Lo-cian-pwee, terima-kasih atas bantuanmu. Bukankah kau juga yang kemarin malam menbantu adikku melawan Hek Sia Mo-lie?" Laki2 berbaju hitam itu tidak menjawab, sebaliknya ia mengulurkan tangannya kearah sebuah batu besar yang berdiri dihadapannya. Suara menggeletar terdengar diudara dan pada saat itu juga batu raksasa itu bergeser. Nampaklah dibawahnya... sebuah lobang! Tatkala Gokhiol melongok, ia melihat pedang Ang-liong-kiam menggeletak didalamnya. Ia merasa gembira dan ingin mengambilnya, tapi sibaju hitam mencegahnya.

Suara menggelegar terdengar tatkala Im Hian Hong Kie-su mengerahkan seluruh tenaga-dalamnya untuk mendorong batu raksasa. Ternyata pedang pusaka Ang-liong-kiam tergeletak dibawahnya ...

"Bocah yang baik." katanya dengan suara lembut, "dewasa ini sebaiknya kau jangan mempergunakan dulu pedang mustika ini. Percayalah kepadaku, dalam waktu setelah tiga tahun pasti kau akan menemukan musuh besarmu yang sedang kau cari sekarang ini. Dan pada waktu itu kau sudah dapat mempergunakan pedangmu dengan mahir sekali hingga tak mampu orang merebutnya." Gokhiol memikir perkataan itu benar juga.

"Tapi sejak hari ini, kau harus mencari seorang guru yang paling kosen dikolong langit untuk mendapat kepandaian yang tinggi, agar kau dapat menuntut balas.

Dengan belajar tekun dan dengan kemauan yang keras, niscaya kelak kau akan berhasil mencapai cita2mu itu !" Gokhiol berdiri terpaku. Sibaju hitam se-olah2 telah mengetahui dengan jelas akan riwayat hidupnya! Selang beberapa saat, barulah ia dapat berkata: "Lo-cian-pwee, bagaimana kau dapat mengetahui bahwa aku sedang hendak menuntut balas" Dan kau belum memberi tahu namamu yang mulia kepadaku." Sibaju hitam iersenyum.

"Aku berdiam dipuncak yang sangat berbahaya sekali, maka orang2 menamakan aku Im Hian Hong Kie-su atau Penghuni dari Puncak Gunung Maut. Kau adalah putera Tio Hoan, bukan" Tapi sayang dalam usiamu sekarang, kepandaianmu masih rendah. Apabila kau ingin menuntut balas, maka kau akan gagal. Kemarin malam bila bukannya kebetulan aku berada disitu, niscaya kau sudah binasa ditangan Wanita Iblis itu." Gokhiol tersipu-sipu menjura.

"Oh, kiranya Lo-cian-pwee adalah Im Hian Hong Kiesu"! Tapi mengapa kebanyakan orang menganggap kau sebagai momok yang sangat kejam dan sering membunuh orang" Aku sungguh tak habis mengerti, setelah melihat rupa dan tindakanmu terhadap diriku." "Bocah yang baik," sibaju hitam menyahut. "Pada duapuluh tahun yang lampau tiada seorangpun yang tak kena! padaku, karena aku hidup malang melintang didalam dunia Kang-ouw sebagai pembela keadilan. Aku meaggempur yang kuat dan menolong yang lemah.

Semakin kejam orang itu, semakin kejam pula aku mengganyangnya. Aku berpendirian bahwa kaum bathil yang selalu mementingkan dirinya sendiri harus kubasmi habis2-an. Sebab itulah orang2 sampai menyebut puncak gunung dimana aku tinggal dengan nama Puncak Maut!" Im Hian Hong Kie-su menarik napas panjang, lalu sambungnya pula. "Sebenarnya akupun tergolong dengan kaum bu-lim yang lurus, yang dapat membedakan mana yang benar dan mana yang keliru. Waktu diadakan pemilihan Bu-lim Cin-cun, karena sifatku yang ingin berkuasa, aku telah merobohkan tujuh orang Ciang-bun-jin dari tujuh perguruan besar. Sebagai akibatnya aku telah menanamkan bibit permusuhan kepada murid2nya. Dan seyak itu pula aku telah mengasingkan diri, karena sangat menyesal sekali.Tapi apa gunanya seperti pepatah mengatakan :Tobat selalu datang terlambat. Sampai kini setelah duapuluh tahun mereka masih belum melupakan diriku, mereka telah meyakinkan kepandaian yang hebat2 untuk menuntut balas terhadap diriku.Dengan berbagai tipu-muslihat mereka mencoba membunuh diriku, tatkala aku muncul keluar dari pertapaanku. Tapi aku selalu dapat menyelamatkan diri." Gokhiol asyik sekali mendengar cerita orang.

"Ayahmu Tio Hoan adalah seorang murid dari Bu-tong Pay" sibaju hitam melanjutkan, "dahulu ayahmu pernah menolong aku dan akupun tak melupakan budinya itu.

Kernarin di Lembah ular melingkar, dengan mempergunakan ilmu mendengar menembus udara, aku telah dapat mencuri dengar percakapanmu dengan Tat-cu Pato. Disitulah aku dapat mengetahui asal usulmu dan aku telah mendengar pula kamu me-nyebut2 namaku. Tak di sangka2 pada ketika itu Hek Sia Mo Lie muncul. Aku melihat dia bertarung dengan Tat-cu Pato, lalu diam2 membantu kamu berdua. Karena kuatir pedangmu jatuh ketangannya, maka aku sengaja telah menbawa lari." Gokhiol kini baru mengerti "Tapi aku tidak bermusuhan dengan Hek Sie Mo-lie, mengapa dia ingin mencelakai aku dan adikku Pato?" "Entahlah. Aku sendiripun tak dapat menerkanya, tapi memang dia acap kali membunuh orang." Mendengar sampai disitu, hilanglah perasaan curiga Gokhiol terhadap si baju hitam.

"Lo-cian-pwee, berikanlah aku petunjuk2 bagaimana rupa dan siapakah sebenarnya pembunuh ayahku serta kini dimana ia berada," ujar Gokhiol sambil berlutut dengan air mata berlinang-linang.

"Bocah, bangunlah! Kau masih muda, tentunya belum banyak mengetahui tentang keadaan Kang-ouw. Bukan aku tidak mau membantu kau untuk mencari musuhmu, tapi aku sendiripun sedang dikejar oleh musuhku. Mereka adalah jago2, kelas satu dan kepandaiannya tinggi sekali.

Maka apabila kau turut dengan aku, jiwamu sendiripun pasti akan ikut terancam. Hanya sayang sekali dengan kepandaian yang kau miliki sekarang ini, sukar sekali untuk melawan musuhmu, kecuali kalau dapat meyakinkan semacam kepandaian tunggal!" kata sibaju hitarn sambil menepuk-nepuk pundak Gokhiol.

Namun pemuda kita mempunyai pikiran yang berlainan, tadi ia telah menyaksikan sendiri kepandaian Im Hian Hong Kie-su yang dapat menghisap tenaga kuda. Baiklah akan kuminta untuk diajarkan kepandaiannya, jika dapat kupelajari kepandaiannya dengan baik, maka ia usah lagi aku mencari guru lain. Maka tanpa ayal ia memohon kepada lm Hian Hong Kie-su agar suka menerima dirinya sebagai murid.

"Bocah yang baik," berkata Im Hian Hong Kie-su dengan sungguh2," Kepandaianku masih kurang tinggi untuk mendidik kau agar dapat menandingi musuh-besarmu. Dan lagipula aku sedang menghadapi musuh2ku, maka takkan leluasa untuk rnenerima kau sebagai seorang murid. Tapi akan kuperkenalkan kau dengan seorang luar biasa yang kepandaiannya tebih tinggi beberapa kali lipat daripadaku. Jika ia mau menerima kau sebagai murid, kuyakin dalam waktu tidak lebih dari tiga tahun kau akan menjadi seorang pendekar yang berkepandaian tinggi.

Seteiah itu barulah kau dapat menuntut balas, hanya .., kau harus meluluskan dulu satu permintaanku..." Belum sampai orang menghabiskan perkataannya,.

Gokhiol sudah memotong. "Lo-cian-pwee, siapa gerangan orang luar biasa itu dan dimanakah dia sekarang " Kau minta aku meluluskan satu permintaan darimu, apakah itu " Apa saja pun yang kau suruh, tidak nanti akan kutolak." "Itu semua adalah untuk kebaikanmu sendiri," jawab Im Hian Hong Kie-su. "Pedangmu kau harus simpan dulu disini sampai kau kuat mendorong batu besar ini dengan telapak tanganmu. Baru pada waktu itu kau boleh datang untuk mengambilnya! Bila kau setuju, maka aku akan berikan kau semacam tanda pengenal untuk dapat menemui orang luar biasa itu. Tapi apakah orang itu mau atau tidak menerima kau sebagai muridnya, itulah terserah pada peruntunganmu sendiri" Gokhiol menyetujui permintaan orang itu, selanjutnya ia menanyakan nama dari orang luar biasa itu. Tapi Im Hian Hong Kie-su tidak menjawab. Tiba2 diulurkannya telapak-tangannya dan mendorong. Pelan2 batu raksasa bergeser kembali menutupi lobang dimana pedang Gokhiol tersimpan. Gokhiol melihat tenaga yang dipakai sibaju hitam sedikitnya ada limaribu kati untuk dapat menggeser batu raksasa itu. Diam2 hatinya merasa tunduk terhadap Si penunggu Puncak Gunung Maut.

lm Hian Hong Kie-su membalikkan badannya kehadapan Gokhiol seraya membuka leher bajunya. Sambil menunjukkan sebuah rantai gelang emas putih yang menggantung dilehernya, ia berkata : "Coba kau patahkan gelang ini!" Gokhiol mengawas gelang yang terbuat dari emas putih itu, dilihatnya ada ukiran huruf2 yang sangat indah. la mencekal dengan kedua belah tangannya dan dengan gentakan yang keras gelang itu ditariknya. Tapi gelang itu hanya merenggang sedikit, tak menjadi patah.

Post a Comment