Halo!

Sepasang Pendekar Daerah Perbatasan Chapter 16

Memuat...

Tampak wajah sigadis yang berbentuk biji semangka.

Sepasang matanya yang jeli menyorotkan sinar kegusaran yang tak terhingga, karena rahasia dirinya terbuka. Pipinya rnenjadi kemerah2an karena rasa malunya.

Gokhiol dapat melihat dengan jelas bahwa gadis itu bukan lain dari Hay Yan! Gadis yang menjadi lamunannya siang dan malam. la merasa kaget tercampur girang.

Pikirnya, betapa pandainya gadis itu dapat menyamar sebagai Wie Mo Yauw-lie. Tapi mengapa dulu Im Hian Hong Kie-su memanggilnya dengan nama Hek Sia Mo-lie" Gadis itu sudah tak dapat menahan pula amarahnya.

"Iblis! Kau sungguh tak tahu malu. Berani benar kau menghina aku !" "Benar tidak salah, kau memang adalah anakku!" jawab Im Hian Hong Kie-su seraya tertawa dengan panjang.

Begitu sibaju hitam tertawa atau pedang sigadis sudah menusuk dengan hebat sekali. Segera ditangkis oleh Im Hian Hong Kie-su untuk kemudian balas membuka serangan dengan pedang baja lemasnya.

"Siluman kecil, aku siorang tua tak akan membunuhmu.

Aku ingin membawa kau pergi dari sini untuk turut aku pulang. Kelak apabila aku sudah mati, maka rohku ada yang menjagakannya," ujar sibaju hitam seraya setindak demi setindak mendekati Hay Yan. "Letakkanlah pedangmu secara baik2. Jangan kau coba melawan aku, ayahmu sendiri!" Demikian sambil berkata, Im Hian Hong Kie-su mengusap2 pedang lemasnya yang seketika itu juga mengeluar sinar hijau. Kemudian ia melanjutkan dengan suara mengejek : "Pedang ini mengandung racun yang hebat sekali, sedikit tersentuh saja kau akan jatuh pingsan.

Namun janganlah takut. Aku hanya ingin membawamu saja meninggalkan tempat ini!" Dengan mengambil kesempatan orang sedang berbicara dan tak siaga, Hay Yan mencelat keatas pendopo. Sesaat kemudian tangannya telah mencekal pedang lain.

"Iblis! Malam ini aku akan mengambil jiwamu!" Menyusul mana pedangnya di-goyang2kan. Ketika itu Im Hian Hong Kie-su sedang menghampirinya, maka pedang Hay Yan menyapu muka lawannya dan kembali kedua pedang saling melekat. Sinar putih, dan lelatu api berpercikan, tercampur dengan segumpalan asap putih yang mengepul! Pada detik yang menyusul sinar hijau dari pedang sibaju hitam lenyap! Pedang sibaju hitam bagaikan bambu saja, terpapas hancur menjadi kepingan! Im Hian Hong Kie-su berteriak penuh kegusaran untuk melompat pergi seraya menbentak : "Anak keparat! Setahun lagi aku akan kembali!" Menyusul mana sibaju hitam melesat kepintu yang tertutup.

Hay Yan menuding dengan pedangnya dan sinar putih keluar dari ujung Sinarnya, menyambar kepunggung sibaju hitam. Seketika itu juga bajunya terbakar! Buru2 Im Hian Hong Kie-su merebahkan dirinya sambil ber-guling2 diatas tanah. Tapi tak urung yuga sebagian bajunya hangus kena api. Dengan perasaan malu dia berdiri pula sambil berseru : "Siluman kecil. Kepandaianmu hebat sekali! Kini kau jangan menyalahkan aku berlaku kejam!" Sejenak terdengar suara desiran dua kali dan tahu2 dari kegelapan menyambar senjata gelap. Hay Yan lekas2 putarkan pedangnya melindungi dirinya.

Trang! Senjata gelap tersampok jatuh keatas tanah, sedangkan yang satunya lagi menancap diatas tiang pendopo. Sesaat kemudian sibaju hitam berlari kearah pintu yang berbentuk bundar itu, yang tertutup rapat. Pintu roboh dengan suara menggelegar dan dia dapat menerobos keluar! Gokhiol merasa kagum sekali. Meskipun pintu terbuat dari besi, tapi sibaju hitam sanggup menghancurkannya. Itu hebat sekali! Demikian pula Hay Yan termanggu-manggu melihat kejadian tersebut. "Iblis itu benar2 lihay. Sebelum meninggalkan tempat ini ia telah menunjukkan kepandaiannya yang bernama ilmu Bouw Pek Kang atau ilmu Memecah Dinding. Kepandaian semacam itu jarang sekali terdapat dikolong langit ini," gumamnya sendirian. "Apabila aku tidak memiliki pedang Mo-hwee-kiam (Pedang Api Iblis) ini, niscaya aku tak mampu menandingi Lok-Mo-Ciangnya itu." la termenung sebentar, kemudian ia memeriksa ruangan pendopo.

"Sebelumnya suhu telah meramalkan, bahwa Iblis itu akan datang menyatroni. Malam ini aku telah lalai dan tidak menutup pintu kamar. Beruntung sekali bencana besar yang hendak menimpah tersingkir berkat pertolongan pedang Mo-hwee-kiam." Gadis itu menekan dinding dan tak lama terdengar suara bergerincingan.

Gokhiol yang tengah bersembunyi dan mendengar seara itu, menjadi kaget bukan kepalang. Kiranya ruangan pendopo itu dapat ber-putar2! Tatkala ia memperhatikannya lagi, ternyata keadaan ruangan mendadak berubah sama sekali. Dihadapan ruang pendopo kini berdiri sebuah tembok batu besar.

"Celaka!" Gokhiol berseru, "sekarang bagaimana aku dapat meloloskan diri?" Menyusul terdengar suara merdu yang nyaring.

"Penjahat kecil! Apa kau masih juga mau keluar dari persembunyianmu" Apa kau ingin sampai nona mudamu menurunkan tangan?" Berbareng Hay Yan mengayunkan tangannya kearah tirai yang lantas tersingkap terbuka! Gokhiol tak dapat rnenyembunyikan dirinya lagi. Sigadis muda itu menunjukkan paras yang muram, sedangkan sepasang matanya memandang dingin bagaikan es.

Pemuda kita melompat kedepan.

"Nona Hay Yan, maafkan atas perbuatanku yang lancang ini. Aku tak sengaja telah masuk ketempatmu yang terlarang," pemuda kita berhenti sebentar untuk menenangkan hatinya, "sebenarnya aku sama sekali tak mempunyai minat untuk mengintai atau mencari tahu rahasia orang lain." Dengan suara tawar keluar dari hidung, Hay Yan berkata ...... "Tadi waktu aku hendak mengambil pedangku diatas pendopo, aku telah melihat kau bersembunyi dibalik tirai.

Benar besar nyalimu! Apakah kau belum mengetahui Kota Hitam ini" Sejak dahulu kala, apabila ada orang luar yang berani masuk kedalamnya, janganlah mengharap bahwa ia akan dapat keluar lagi dengan hidup!" Sikap gadis itu dingin, lain sekali daripada waktu sipemuda pertama kali menjumpairnya diperkampungan Keluarga Hay. Kini mereka bagaikan dua orang yang saling tak mengenal, malahan bermusuhan! "Tidaklah salah apabila ada pepatah yang mengatakan : Hati wanita sukar diterka. Apakah kini aku harus berdiam saja untuk menerima kematian?" demikian sipemuda berpikir dalam hatinya, lalu ia berkata : "Siocia, kau adalah juga seorang manusia terdiri dari darah dan daging. Apakah dalam hatimu tidak mempunyai rasa peri-kemanusiaan sama sekali" Lagipula aku kemari bukan dengan merencanakannya terlebih dahulu. Dan jika pintu tertutup, aku juga tak nanti menyeruduk masuk kedalam kamar ini." Hay Yan tertawa dengan dingin.

"Adapun aku telah menjamu kau didesa Hay-Kee-Chun ialah se-mata2 untuk mengetahui apakah kau ada hubungannya dengan Iblis itu. Sebab dilembah Ban-Coa-Kok, mengapa kau telah ditolongnya?" Sigadis mengawasi Gokhiol dengan sorotan mata yang tajam. "Malam ini kau telah datang bersama-sama dengan dia, maka.. . aku harus bunuh kau!" "Omong kosong!" bentak Gokhiol dengan sengitnya, "apakah hubunganku dengan sibaju hitam itu?" Sambil mengangkat pedangnya per-lahan2 Hay Yan berkata pula dengan suara yang mengejek : "Aku tak perduli hubungan apakah yang ada antara kau dengan Iblis itu. Yang penting adalah bahwa kau telah masuk kemari dan itu berarti kau tak boleh dibiarkan hidup lebih lama lagi !" Gokhiol menjadi beringas saking gusarnya. Dengan gerakan kilat dicabutnya pisau belati yang tersisip dipinggangnya. "Baiklah! Bila kau ingin juga menyerang aku, biarlah aku beri kesempatan, agar kau mati tidak dengan penasaran," Hay Yan berseru. Gokhiol tak ragu-ragu pula, ia membuka serangannya.

Dengan sebelah telapak tangannya ia memukul dan dengan pedangnya pun menikam sigadis! Hay Yan menangkis! Pedangnya menempel pada pisau belati. Maksudnya ialah dengan menyalurkan tenaga dalamnya melalui pedangnya, ia ingin memapas kutung senjata Gokhiol. Tapi apamau Gokhiol dari permulaan mempunyai siasat yang lain. Pangkal pedangnya ia tekan kebawah, sedangkan tubuhnya maju kedepan. Cepat bagaikan kilat tangannya menyambar! Itulah suatu gaya istimewa dari ilmu gulat Monggolia.

Apabila orang tak ber-hati2, niscaya takkan luput dari tipu tersebut, yang diwariskan oleh Yalut Sang! Demikianlah pinggang sigadis yang langsing kena dipeluk oleh pemuda kita yang lantas mengangkatnya keatas. Kini sicantik tak berdaya lagi.

Tapi sckejap mata saja keadaan berubah! Pundak sipemuda mendadak dicengkeram oleh Hay Yan. Gelombang panas menyerang kedalam tubuh Gokhiol yang segera mengangkat tangannya ...... untuk menikam! Tapi tenaganya sudah lenyap! Hay Yan melepaskan dirinya dari pelukan Gokhiol, kemudian menyampok pisau belati yang lantas terpental diudara.

"Penjahat licik ! Hampir saja aku kena terpedaya oleh akal bulusmu." Hati Gokhiol memukul keras.

Hay Yan dengan mata berapi-api menudingkan pedangnya. Gokhiol tersenyum dan mengerlingkan matanya.

"Aku puas mati ditanganmu, manis," ujarnya menggoda.

Pedang sigadis menggores baju kulit yang dikenakan oleh pemuda kita, maka terlihatlah didalamnya ikat pinggang kulit ular. Sigadis melihat kancing ikat pinggang yang terbuat dari batu kumala berwarna merah, menjadi merasa heran. Pedangnya yang tinggal menikam saja pada tubuh sipemuda, terhenti ditengah udara.

Post a Comment