"Ah, dahulu lain lagi. Aku terlempar ke sana bukan atas kehendakku, dan aku setengah pingsan ketika terbawa pusaran, agaknya memang Tuhan tidak menghendaki aku mati di waktu itu. Kalau sekarang aku harus terjun ke sana, hiiiiiih.... ngeri sekali, aku tidak berani."
Kwi Hong cemberut.
"Kalau kau tidak berani, aku berani! Pedang Siang-mo-kiam itu terlalu penting untuk dibiarkan di tempat itu. Terlalu berharga untuk dicari dengan taruhan nyawa. Kalau bisa kudapatkan dan kuperlihatkan kepada Paman, tentu dia akan girang sekali karena Paman pernah bilang bahwa kalau sepasang pedang iblis itu sampai muncul di dunia dalam tangan orang-orang sesat, sukar untuk ditundukkan dan di dunia pasti akan kacau balau dan kejahatan merajalela. Nah, kau tahu betapa besarnya arti kedua pedang itu, dan betapa pentingnya untuk didapatkan kembali."
Mereka mulai melakukan perjalanan dan Kwi Hong yang menjadi penunjuk jalan sampai mereka tiba di tepi Sungai Huang-ho. Akan tetapi malam sudah ti-ba ketika mereka sampai di tepi sungai.
"Kita bermalam di tepi sungai ini, besok baru kita melanjutkan,"
Kata gadis itu.
Bun Beng lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun. Tepi sungai itu sunyi senyap, akan tetapi menyenangkan sekali bagi Bun Beng. Tempatnya bersih, tanahnya tertutup rumput hijau seperti permadani, pohon-pohon dan bunga-bunga mendatangkan bau yang sedap dan segar, dan bulan hampir bulat muncul tak lama kemudian, membuat tempat itu menjadi indah, romantis, dan menyenangkan. Tentu saja ia tidak sadar bahwa yang membuat keadaan menjadi demikian indah adalah hadirnya Kwi Hong karena kalau tidak ada gadis itu di sana, belum tentu tempat sunyi ini akan tampak seindah malam itu! Mereka duduk menghadapi api unggun. Enak dan nyaman, hangat. Bun Beng duduk melamun, merasa betapa selama hidupnya, baru sekarang inilah ia mengalami kebahagiaan, merasa betapa senangnya hidup!
"Eh, Bun Beng, kenapa melamun saja kau?"
Bun Beng terkejut dan sadar dari lamunanpya yang mengangkatnya ke angkasa. Ia memandang dan tidak dapat menjawab karena sepasang mata yang terkena sinar api unggun itu kelihatan begitu indah dan tajam berkilau.
"Apa perutmu tidak lapar?"
Gadis itu bertanya ketika melihat pemuda itu hanya melongo. Mendengar ini, kontan perut Bun Beng berbunyi, seolah-olah menjawab pertanyaan itu. Dengan gugup ia menekan perut dengan tangannya sambil memaki dalam hati kepada perutnya yang tak tahu malu. Memang ia merasa lapar sekali. Apalagi hawa begitu nyaman, pemandangan begitu indah, membuat perut yang kosong terasa sekali.
"Heiii! Bagaimana?"
Gadis itu kembali bertanya, menahan geli hatinya karena telinganya yang berpendengaran tajam dapat menangkap perut yang berkokok tadi.
"He? Apa?"
Bun Beng bertanya gugup, masih merasa malu oleh perutnya.
"Lapar tidak?"
"Lapar sekali, Kwi Hong tapi.... makan apa....?"
"Betapa bodohnya! Ikan berkeliaran di dalam sungai masih bertanya makan apa?"
Bun Beng teringat dan meloncat bangun.
"Tepat sekali! Mengapa aku begitu bodoh dan pelupa? Ikan-ikan yang mengeroyokku siang tadi! Aku harus membalas dendam, setidaknya kutangkap seekor, kupanggang sampai matang dan kita ganyang dagingnya!"
Setelah berkata demikian, ia lari ke pinggir sungai dan langsung meloncat ke sungai.
"Byurrrr!"
Air muncrat tinggi dan Kwi Hong terbelalak, kemudian tertawa terpingkal-pingkal dan menggeleng-geleng kepala.
"Sungguh orang aneh,"
Gumamnya sambil berdiri di pinggir sungai menonton Bun Beng yang menyelam hendak menangkap ikan begitu saja dengan kedua tangan, lengkap dengan pakaiannya, bahkan sepatunya tidak dicopot! Akan tetapi ia kagum ketika tak lama kemudian Bun Beng sudah muncul lagi, memondong seekor ikan yang besarnya sebantal dan melemparkan ikan itu ke darat! Ikan itu menggelepar-gelepar di darat dan Bun Beng sudah berenang ke pinggir lalu mendarat pula, tersenyum lebar, pakaiannya basah kuyup, air menetes-netes dari seluruh pakaiannya, rambutnya pun basah kuyup dan kuncirnya melibat leher.
"Aihh, ikan besar ini mana bisa kita menghabiskannya? Dan bagaimana pula membersihkan isi perutnya, kau lah yang melakukannya itu, nanti aku yang memanggangnya."
"Jangan khawatir, Kwi Hong. Kalau tidak ada pisau, batu karang pun cukup tajam dan runcing."
Dengan gembira Bun Beng lalu mencari batu karang yang keras, menghampiri ikan. Sekali pukul dengan batu pecahlah kepala ikan itu dan ia segera membelah perut ikan dengan batu yang tajam, membuang isi perutnya ke sungai dan membersihkan kulit ikan yang tak bersisik itu dengan gosokan batu karang. Kwi Hong sudah menyediakan sebuah ranting, menusuk ikan besar itu dari mulut sampai menembus ekor, kemudian memanggangnya di atas api unggun sambil menanti Bun Beng mencuci tangannya ke air sungai. Setelah pemuda itu duduk dekat api, dia mencela.
"Kau ini aneh sekali, mengapa menangkap ikan begitu saja dengan memakai pakaian lengkap? Lihat, pakaian dan sepatumu basah kuyup, tentu dingin sekali. Sebaiknya kau buka dan peras pakaianmu, panggang dekat api biar kering."
Muka Bun Beng tiba-tiba berubah merah. Bagaimana dia bisa menanggalkan pakaian di depan gadis itu?
"Biarlah, diperas begini pun bisa, dan kalau aku duduk dekat api, sebentar juga kering."
Ia memeras rambut dan pakaiannya, melepas sepatunya dan menggeser duduknya dekat api. Beberapa kali Kwi Hong melirik kepadanya dengan pandang mata penuh rasa heran. Pemuda ini aneh sekali. Kadang-kadang pendiam dan canggung, akan tetapi gerak-geriknya amat menarik hatinya. Bau sedap daging ikan dipanggang menusuk hidung, langsung merangsang selera mulut dan menambah lapar perut. Setelah matang, kedua orang itu lalu menyerbu daging ikan yang terasa sedap dan gurih sekali. Hanya separuh termakan oleh mereka. Terpaksa sisanya mereka buang lagi ke sungai.
"Sayang air sungai begitu kotor, bagaimana bisa minum?"
Kwi Hong bertanya sambil mencuci tangannya yang penuh minyak ikan, juga mengusap bibirnya dengan air sungai, kemudian menggosoknya dengan saputangan.
"Aku akan mencari buah!"
Berkata demikian, Bun Beng meloncat dan lari pergi, mencari-cari pohon yang ada buahnya. Sampai jauh ia meninggalkan tepi sungai itu dan untung bahwa bulan bersinar terang sehingga akhirnya setelah payah mencari-cari, ia datang lagi membawa beberapa butir buah yang sudah masak. Kemudian, keduanya duduk menghadapi api unggun yang menjadi makin besar setelah ditambah daun kering dan kayu oleh Kwi Hong. Hawa yang hangat, perut yang kenyang, membuat gadis itu merasa mengantuk dan ia menguap di belakang telapak tangannya.
"Ahhh, aku ingin tidur. Kau berjagalah dulu, Bun Beng sambil mengeringkan pakaianmu. Nanti aku giliran menjaga dan kau tidur. Di tempat seperti ini, apalagi baru saja kita bertemu dengan siucai sinting dan gurunya, tidak boleh kita berdua tidur semua tanpa ada yang menjaga."
"Baik, kau tidurlah, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan aku akan menjagamu."
Kwi Hong mundur agak menjauhi api unggun, kemudian merebahkan dirinya, miring menghadapkan mukanya ke api unggun dan memejamkan kedua mata-nya. Bun Beng kini berani menatap wajah itu sepuas hatinya. Entah mengapa dia sendiri tidak mengerti, menyaksikan wajah yang kemerahan, dengan rambut yang agak mawut dan sebagian terurai menutup pipi dan dahi, melihat bulu mata yang menjadi panjang dan tebal membentuk bayang-bayang di pipi,
Hidung yang mancung dan cupingnya bergerak sedikit ketika bernapas dalam-dalam, bibir yang merah dan mengkilap terkena minyak daging ikan, ia merasa terharu sekali. Ia membandingkan wajah ini dengan wajah Ang Siok Bi, puteri Ketua Bu-tong-pai yang pernah menarik hatinya. Keduanya sama cantik dan memiliki daya tarik masing-masing. Akan tetapi, melihat Kwi Hong tertidur tak jauh di depannya, ia harus mengaku bahwa Kwi Hong lebih cantik jelita. Teringat-lah ia betapa dalam keadaan menghadapi maut, hanya tiga wajah orang yang terbayang olehnya. Wajah Kwi Hong, wajah Siok Bi dan wajah Milana! Akan tetapi, ketika itu ia membayangkan wajah Kwi Hong dan Milana di waktu mereka masih kecil. Betapa jauh perbedaannya setelah ia bertemu dengan Kwi Hong sekarang, demikian cantik dan menarik!
Tiba-tiba Bun Beng mengutuk diri sendiri di dalam batinnya. Mengapa ia membayangkan wajah wanita-wanita cantik? Celaka, inikah yang membuat ayahnya dahulu memperkosa ibunya? Ia bergidik ketika merasa betapa ada hasrat di hatinya untuk memeluk tubuh wanita yang berbaring di depannya itu, ingin mencium pipi itu, bibir itu! Keparat! Ingin ia menghantam kepalanya sendiri, menghancurkan kepala yang berisi pikiran busuk itu. Apakah ia mewarisi watak ayahnya? Tidak! Ayahnya telah disebut datuk kaum sesat, tentu merupakan seorang yang sesat kelakuannya. Buktinya sampai memperkosa ibunya! Dia tidak akan melakukan hal seperti itu! Biarpun dia tertarik akan wanita-wanita cantik, dia akan memerangi perasaannya sendiri dan mencegah agar jangan sampai ia melakukan perbuatan terkutuk!
Ia harus memilih seorang di antara mereka, bukan untuk diperkosa, bukan untuk dipermainkan, melainkan untuk dijadikan isteri! Kwi Hong ini! Ah, betapa akan bahagia hatinya kalau ia dapat memperisteri Kwi Hong. Kwi Hong mengeluh perlahan dan menghela napas panjang, agaknya mimpi. Keluhan lirih dan helaan napas itu membuat dara itu tampak makin menarik sehingga Bun Beng terpaksa membuang muka, tidak kuat memandang lebih jauh karena jantungnya sudah berdenyut keras. Memang tidak terlalu dapat disalahkan kalau Bun Beng diamuk nafsu berahi dan cinta. Usianya sudah cukup dewasa, sudah dua puluh dua tahun lebih. Dalam usia sebanyak itu, tentu saja timbul perasaan ini dan masih mengagumkan bahwa dia dapat menahan diri kalau diingat bahwa sejak kecil dia tidak pernah menerima pendidikan tentang susila, tidak pernah menerima pendidikan ayah bunda sendiri.
Untung bahwa ia digembleng oleh hwesio-hwesio Siauw-lim-pai sehingga batinnya cukup kuat, biarpun darahnya, darah ayahnya yang panas membuat ia condong untuk melakukan perbuatan menyeleweng. Namun, justeru nama buruk ayahnya membuat ia berkeras hati untuk menebus semua kesalahan ayahnya dengan perbuatan baik, bukan menambah kotor nama ayahnya dengan perbuatan seperti yang pernah dilakukan ayahnya. Betapa bahagianya kalau ia dapat menjadi suami Kwi Hong, pikirnya lagi setelah hatinya tenang dan dia berani lagi memandang wajah Kwi Hong. Gadis itu kini telah rebah terlentang sehingga nampak tonjolan dadanya yang turun naik kalau bernapas lembut.
Bibir itu setengah terbuka, seperti tersenyum menantang! Betapa cantik jelitanya, betapa gagah perkasanya. Tadi telah dia saksikan sendiri betapa lihai gadis ini. Dia sendiri meragukan apakah dia akan mampu melawan Kwi Hong. Betapa tidak gagah perkasa dan lihai kalau diingat bahwa dara ini adalah keponakan dan murid Pendekar Super Sakti! Tiba-tiba Bun Beng tertegun dan mengerutkan alisnya. Keponakan Pendekar Siluman! Aihhh, dia telah melamun terlalu jauh. Bagaimana mungkin dia dapat menjadi suami keponakan Majikan Pulau Es? Mentertawakan! Dia, seorang anak yatim-piatu, bahkan disebut anak haram, putera mendiang datuk kaum sesat yang disebut Setan Botak, mana mungkin berjodoh dengan keponakan Majikan Pulau Es yang berkedudukan tinggi?
"Aihhhh, pikiran yang bukan-bukan,"
Ia menarik napas panjang, berusaha mengusir keinginan hati yang tak mungkin terpenuhi itu. Ia memaksa diri untuk mengalihkan keinginan hatinya. Bagaimana kalau Milana? Lebih tak masuk di akal! Tanpa disengaja, ia telah menyaksikan peristiwa hebat yang mungkin menjadi rahasia Pendekar Siluman, Milana adalah puteri Pendekar Siluman itu! Puterinya dari seorang ibu yang amat cantik dan amat sakti! Lebih tidak mungkin lagi. Baik Kwi Hong, apalagi Milana, tidak mungkin menjadi jodohnya. Kedudukan mereka terlalu tinggi baginya, seperti merindukan bintang-bintang di langit saja! Tinggal seorang lagi, Ang Siok Bi! Dia itulah yang tidak begitu tinggi kedudukannya, akan tetapi hal ini kalau dibandingkan dengan Kwi Hong atau Milana, kalau dibandingkan dengan dia, bahkan Siok Bi masih terlalu tinggi untuknya. Puteri Ketua Bu-tong-pai! Aihh, dia mimpi di siang hari! Tidak ada harapan seujung rambut pun!
"Dasar manusia tak tahu diri engkau!"
Bun Beng berbisik dan menjambak kuncirnya, merasa terpukul dan rendah. Ia merenung memandang api unggun, diam-diam mengeluh dan menyalahkan ayah bundanya yang telah tiada.
"Sudahlah, aku manusia yang tiada harganya. Akan tetapi akan kubuktikan kepada mereka semua, kepada dunia kang-ouw bahwa biarpun ayahku seorang manusia sejahat-jahat dan serendah-rendahnya, aku tidaklah serendah itu. Aku akan membuktikan bahwa aku mampu melakukan hal-hal yang layak dilakukan seorang pendekar besar!"
Pikiran ini sedikitnya menghibur hatinya yang perih. Terhiburlah dia bahwa kini dia akan menyerahkan sebuah di antara Siang-mo-kiam kepada murid dan keponakan Majikan Pulau Es. Sepasang pedang itu diperebutkan oleh orang sedunia kang-ouw, bahkan Pendekar Siluman sendiri mencari-cari tanpa hasil. Kini dia yang berhasil menemukannya dan menyerahkan sebuah di antaranya kepada murid dan keponakan Majikan Pulau Es, bukankah hal ini sudah merupakan jasa yang besar? Dan dia akan melangkah lebih jauh lagi. Dia akan melakukan hal-hal yang besar, biarpun saat itu dia belum tahu apa gerangan hal-hal yang besar itu.
Bun Beng menambahkan kayu kering sehingga api unggun membesar. Pakaiannya sudah kering dan ia merasa tubuhnya hangat. Malam telah amat larut, akan tetapi dia tidak mau membangunkan Kwi Hong. Biarlah dia yang berjaga sampai pagi. Tidak tega dia mengganggu gadis itu yang tidur dengan nyenyaknya. Ia bersandar pada batang pohon, kadang-kadang menambah kayu pada api unggun, menjaga agar api itu tidak padam. Pada keesokan harinya ketika terdengar kokok ayam hutan dan kegelapan malam mulai terusir oleh sinar matahari pagi yang kemerahan, Kwi Hong bangun dari tidurnya. Ia mengusap kedua matanya dan begitu membuka mata melihat bahwa malam telah berganti pagi, melihat pula Bun Beng masih duduk bersandar pohon dekat api unggun, ia meloncat bangun dan membentak.
"Bun Beng, kau terlalu sekali!"
Bun Beng tersenyum, dia tidak merasa aneh lagi menyaksikan sikap gadis yang begitu mudah berubah seperti angin ini, tiba-tiba saja marah, kemudian marahnya berganti sikap ramah. Benar-benar seorang gadis yang penuh semangat berapi-api,
"Maaf, Kwi Hong, apakah salahku?"
"Masih bertanya apa salahnya lagi! Enak-enak duduk semalam suntuk, membiarkan orang tertidur sampai pagi. Mengapa tidak kau bangunkan aku agar aku berganti melakukan penjagaan?"
"Aah, tidak mengapa, Kwi Hong. Aku tidak mengantuk dan kau.... tidurmu enak benar, tidak tega aku membangunkanmu."