Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 94

Memuat...

Kakek itu masih terpingkal-pingkal bahkan saking geli hatinya, air matanya bercucuran di atas pipinya yang kuning.

"Namaku Ngo Bouw Ek, di dunia kang-ouw aku dijuluki Kwi-bun Lo-mo akan tetapi aku baru beberapa tahun merantau. Dalam perantauanku yang pertama, kebetulan sekali aku bertemu dengan Kang-thouw-kwi Gak Liat Ayahmu, kami bertanding dan aku membuat dia payah sampai terkencing-kencing! Ha-ha, dia datuk kaum sesat, mengaku kalah dan dia mengangkat aku sebagai kakak angkat! Lalu dia menceritakan bahwa yang membuat dia sering kali tak dapat tidur adalah perbuatannya atas diri Bhok Kim murid Siauw-lim-pai. Dia mendengar kabar bahwa wanita itu melahirkan seorang putera sebagai akibat perbuatannya yang memperkosa wanita itu. Dia berpesan agar aku kelak mengambil anaknya itu sebagai anak angkat. Ha-ha-ha, biarpun hasil perkosaan, namun Gak Liat amat sayang kepada anaknya karena memang dia tidak pernah punya keturunan. Demikianlah, ketika mendengar berita dia tewas bersama Ibumu, aku lalu menyuruh anak buahku untuk merampasmu, akan tetapi...."

"Anak buahmu keok semua oleh Pendekar Siluman! Sudahlah, aku tidak perlu mendengar lebih lanjut. Eh, apakah Locianpwe ini Majikan Pulau Neraka?"

Kakek itu mengangguk.

"Aku memang Ketua Pulau Neraka.... eh, maksudku, bekas ketua."

Bun Beng tidak ingin tahu lebih banyak tentang pulau itu, maka ia lalu melorot terus sambil berkata,

"Sudahlah. Aku sudah mengaku namaku, sekarang aku akan turun."

"Wah, mana bisa? Kalau kau turun kemudian kau memutuskan tali layang-layang dari bawah, bukankah aku yang cia-lat?"

Bun Beng berhenti dan memandang ke atas, alisnya terangkat.

"Apakah Locianpwe tidak percaya kepadaku? Aku bukanlah orang yang curang seperti Locianpwe!"

"Heh-heh-heh, siapa tahu? Engkau anak Setan Botak dan dalam hal kelicikan, kecurangan dan segala macam sifat busuk ini, di dunia tidak ada yang menyamai dia, siapa tahu sifat liciknya menurun kepadamu. Tunggu, aku pun akan turun!"

Bun Beng tidak peduli dan melanjutkan usahanya merosot turun melalui tali layang-layang, akan tetapi tiba-tiba kakek itu berteriak.

"Wah, celaka tiga belas! Taufan datang....!"

Teriakan itu dikeluarkan dengan suara keras dan penuh rasa kaget, membuat Bun Beng menengok. Dari jauh tampak awan hitam datang cepat sekali dan tak lama kemudian, layang-layang itu meliuk ke kiri dengan kekuatan yang hebat.

"Lekas kita turun, Locianpwe!"

"Tidak bisa, terlambat! Lekas kau naik ke sini kalau mau selamat!"

Bun Beng tidak mau menurut dan hendak merosot terus, akan tetapi tiba-tiba tali layang-layang itu menegang dan bergetar hebat sehingga hampir saja ia tidak kuat bertahan memeganginya karena telapak tangannya terasa nyeri bukan main. Maklumlah ia bahwa kakek itu tidak membohong, maka kini dia mulai merayap naik melalui tali layang-layang.

"Cepat pegang tanganku!"

Kakek itu berkata, napasnya agak terengah karena dia yang kini mengulurkan tangan untuk membantu Bun Beng naik, harus mengendalikan layang-layang yang menjadi liar itu dengan sebelah tangan saja. Bun Beng memegang tangan itu dan dia ditarik naik.

"Berdiri di sini, dan pegang tali-temali di atasmu dengan tangan, hati-hati jangan banyak bergerak dan jangan terlalu erat. Turut dan contoh saja aku!"

Kakek itu tidak dapat bicara banyak karena kini angin taufan telah mengamuk hebat, membuat layang-layang itu menjadi seperti seekor kuda binal dan tidak dapat dikendalikan lagi.

Layang-layang itu kadang-kadang naik makin tinggi, tinggi sekali sampai melengkung seperti akan membalik dari arah angin, kemudian terdorong kembali ke belakang dan talinya menegang, meliuk ke kiri sampai seperti tak pernah berakhir, kemudian terdorong ke kanan dan ada kalanya menukik ke bawah secara mengerikan karena kecepatannya luar biasa. Suara angin bercuitan menulikan telinga, dan tali layang-layang itu juga mengeluarkan bunyi berdering-dering seperti sehelai tali yang-kim ditabuh, suaranya kadang-kadang rendah sesuai dengan tinggi rendahnya getaran yang disebabkan oleh tarikan layang-layang yang terbawa angin taufan. Kakek itu memaki-maki Bun Beng.

"Sialan! Bodoh seperti kerbau engkau! Begini lho! Tekan kaki kanan ke depan, cepat. Bantu aku dong! Bagaimana sih? Setan cilik tolol kau! Dengar baik-baik, jangan sampai layang-layang terus menukik, dan jangan sekali-kali menentang arah angin langsung. Bisa celaka kita! Pindahkan tenaga ke kaki kiri, kaki kanan lepas, tangan kanan menarik tali di atas, cepat! Nah, sekarang kaki kanan yang menekan, tangan kiri menarik. Hayo, seperti bermain layar, akan tetapi jauh lebih sukar, seratus kali lebih sukar!"

Payah juga Bun Beng mengikuti gerakan dan perintah kakek itu. Tenaga yang dipergunakan untuk melawan kekuatan angin ini merupakan tenaga seluruhnya, itu pun hampir tidak ada artinya terhadap kekuatan angin yang maha dahsyat itu. Kini kakek itu memerintahkan agar tenaga dirobah-robah, bagaimana mungkin begitu mudah? Hampir beberapa detik harus dirobah lagi. Bun Beng merasa seluruh tubuhnya ngilu dan sakit-sakit, kedua kakinya menggigil dan kedua tangannya gemetar, hampir tak kuat memegang tali-temali layang-layang lebih lama lagi.

"Tolol! Jangan berhenti! Aku sendiri mana kuat mengemudikan layang-layang ini? Kalau tidak ada engkau di sini, tentu aku dapat, akan tetapi ditambah beratmu, benar-benar repot!"

Sementara itu, angin bertiup makin keras, kini malah disertai kilat menyambar-nyambar, halilintar bermain-main di atas dan kanan-kiri mereka. Cuaca menjadi gelap, bahkan kini percikan air-air halus yang amat kuat sehingga seperti berubah menjadi laksaan jarum-jarum kecil menerjang mereka.

"Celaka.... celaka....!"

Kakek itu makin repot dan jelas bahwa dia ketakutan. Bun Beng yang biasanya senang menghadapi maut, menyaksikan sikap kakek itu ketularan rasa takut. Memang keadaan amat mengerikan, dibawa oleh layang-layang dan dipermainkan angin taufan, halilintar dan hujan seperti itu!

"Dengar baik-baik kalau kau tidak ingin mati turut perintahku dan pelajari agar jangan sampai gagal. Taufan ini berbahaya sekali, untuk turun sekarang tidak mungkin. Satu-satunya jalan hanya mengemudikan layang-layang ini sebaik mungkin agar tidak sampai menukik turun atau talinya putus."

Kakek itu sukar sekali bicara dengan jelas karena kencangnya angin meniup terbang suaranya. Terpaksa ia lalu merangkul Bun Beng dan berteriak.

"Rangkul aku dan dekatkan telingamu pada mulutku!"

Setelah Bun Beng melakukan perintah ini, Kwi-bun Lo-mo lalu membisikkan pelajaran sedikit demi sedikit caranya menggerakkan tenaga pada kaki dan tangan, mengatur bobot, memindah-mindahkan tenaga dalam untuk mengimbangi serangan angin yang amat dahsyat. Bun Beng mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian sekalian mempraktekkan pelajaran itu mencontoh gerakan kakek aneh dan membantunya mengemudikan layang-layang.

Dia sama sekali tidak tahu bahwa dalam keadaan berbahaya itu dia telah menerima pelajaran ilmu rahasia yang amat hebat, yaitu Ilmu Hoan-sin-kang (Memindahkan Tenaga Sakti) yang tidak hanya dapat dipergunakan untuk mengemudikan layang-layang melawan serangan angin taufan yang maha dahsyat, akan tetapi juga merupakan ilmu yang dapat dipergunakan untuk menghadapi lawan berat yang memiliki sin-kang amat kuat! Ilmu ini merupakan ilmu tingkat tinggi yang dimiliki Ketua atau Majikan Pulau Neraka, dan selain Si Ketua sendiri, hanya kakek inilah orang ke dua yang memilikinya, maka dia berani main-main dengan maut di tempat berbahaya itu, yaitu bermain dan mengemudikan layang-layang. Mati-matian kedua orang itu bertempur dengan angin taufan, bersama-sama mengemudikan layang-layang yang mereka paksa untuk menuruti kehendak mereka, melawan kehendak angin.

Sampai setengah hari lamanya angin taufan mengamuk dan selama setengah hari itu merupakan latihan yang amat hebat bagi Bun Beng, latihan terberat yang pernah ia alami selama hidupnya, akan tetapi karena keadaan yang memaksa, demi menolong nyawa, dalam waktu sependek itu dia telah berhasil memetik inti dari ilmu ini! Menjelang senja, barulah angin taufan itu mereda, hujan pun berhenti. Dengan pakaian basah kuyup, kedua orang itu terengah-engah berdiri di atas tali dan berpegang pada tali layang-layang yang juga basah semua dan luntur gambarnya. Mereka kehabisan tenaga dan kini hanya mengandalkan kaki tangan yang sudah gemetar karena penat, tubuh menggigil kedinginan dan kehabisan tenaga. Akan tetapi kakek itu menyeringai tersenyum lebar memandang Bun Beng.

"Engkau hebat, orang muda. Ha-ha-ha, tidak percuma engkau menjadi putera Gak Liat, heh-heh-heh!"

Melihat betapa kakek itu bicara sebenarnya, tidak mengolok-olok dan memaki-maki lagi, Bun Beng berkata sungguh-sungguh.

"Locianpwe yang hebat dan aku kagum sekali. Sebetulnya, macam apakah mendiang Ayah itu?"

"Gak Liat? Ya begitulah, seorang manusia seperti aku dan engkau ini,"

Post a Comment