Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 93

Memuat...

Biarpun dimaki-maki, Bun Beng yang maklum bahwa keselamatan mereka berdua tergantung dengan keahlian kakek itu, tidak menjadi marah dan bertanya.

"Habis bagaimana, Kakek yang baik?"

"Wah-wah, kau mulai menjilat-jilat, ya? Heiii, bukankah aku pernah melihat tampangmu?"

Bun Beng menjadi bengong. Setelah kini layang-layang itu tidak menukik ke bawah, dia mendapat kesempatan untuk memandang wajah kakek itu penuh perhatian dan.... teringatlah ia bersama Milana ditolong oleh kakek muka kuning yang aneh. Kiranya inilah orangnya! Tak salah lagi. Biarpun kini kelihatan lebih tua dan memakai sepatu pula, tidak bertelanjang kaki macam dulu, namun sikap aneh kakek itu malah bertambah dan sikap inilah yang mengingatkan dia. Akan tetapi dia pun teringat betapa dalam pertemuan-pertemuan pertama itu dia telah mengakali kakek ini untuk dapat melarikan diri bersama Milana, maka ia menganggap bahwa tidaklah cerdik untuk mengakuinya.

"Aku tidak pernah berjumpa dengan Locianpwe."

"Ahhh, bohong! Aku pernah melihat mukamu, hemm.... kalau saja engkau sudah tua dan kepalamu botak.... heiii, kau mau ke mana?"

Bun Beng tidak mau melayani kakek gila itu lebih lama lagi. Dia melihat ke bawah dan maklum bahwa kalau dia merosot turun melalui tali layang-layang itu, dia akan dapat sampai ke bumi dan dapat membebaskan diri. Maka kini dia mulai melorot turun sambil berkata,

"Locianpwe, aku mau turun, tidak kerasan di sini!"

"Eh, eh, enak saja! Mana bisa?"

Kakek itu tertawa bergelak dan tiba-tiba layang-layang itu menukik ke kiri, kemudian membuat gerakan melingkar sehingga tali itu pun menggantung dan ikut pula berputar.

"Wuuuttt!"

"Aihhh....!"

Bun Beng cepat mengelak dengan memindahkan tangan, bergantung pada tali agar jangan sampai terkena patukan layang-layang yang menyambar ke arah tubuhnya! Serangan aneh layang-layang itu luput, akan tetapi Bun Beng maklum bahwa dengan kepandaiannya yang dahsyat, tentu kakek itu akhirnya akan dapat memaksa ia meloncat turun dan akan hancurlah tubuhnya. Ia lalu menggerak-gerakkan tubuhnya, menarik-narik tali layang-layang itu sehingga kembali layang-layang itu menjadi kacau balau gerakannya.

"Eh.... Ohh.... setan cilik! Jangan kacau layanganku!"

Kakek itu terkejut dan memaki-maki. Bun Beng tersenyum.

"Kalau Locianpwe tetap menyerangku, aku pun akan tetap menarik-narik tali layangan sampai putus, biar kita berdua mampus!"

"Eh, jangan, eh.... nanti dulu. Kalau talinya putus, aku bagaimana?"

"Masa bodoh. Aku akan jatuh dan mati seketika, tidak menderita. Akan tetapi Locianpwe akan terbawa terbang layang-layang putus, mungkin dibawa ke neraka!"

"Hahh-ho kalau neraka memang tempatku. Akan tetapi jangan.... biarlah kita berjanji, aku tidak akan menyerangmu akan tetapi kau jangan menarik-narik talinya."

"Aku berjanji tak akan menarik-narik talinya, akan tetapi Locianpwe jangan menghalangi aku turun."

"Wah, perjanjian kentut! Mana bisa begitu? Aku tidak menyerangmu dan kau tidak menarik-narik tali, itu sudah satu lawan satu. Kalau ditambah lagi kau kubiarkan turun berarti kau minta dua memberi satu. Mana adil?"

"Kalau aku tidak boleh turun, apa artinya perjanjian ini? Locianpwe mau menang sendiri saja. Aku hendak turun, Locianpwe menghalang, maka aku menarik tali. Kalau Locianpwe tidak melayani aku turun, aku tidak akan menarik talinya, itu baru adil namanya."

"Wah, monyet cilik. Engkau benar pokrol bambu kering busuk! Ha-ha-ha, nah, kau turunlah, hendak kulihat bagaimana!"

Tiba-tiba angin bertiup keras sekali membuat layang-layang itu terbang miring ke kiri.

"Wuuuutttt....!"

"Aihhh, celaka. Jangan erat-erat memegang talinya, longgar-longgar saja, kau mengganggu kendaliku!"

Kakek itu memindahkan berat tubuhnya dan meloncat ke pinggir kanan layang-layang itu.

"Siuuuttt....!"

Kini layang-layang miring ke kanan dengan cepatnya sehingga tubuh Bun Beng terbawa melayang ke kiri kemudian ke kanan, membuat kepalanya pening dan jantungnya berdebar penuh kengerian.

"Aku mau turun, Locianpwe. Akan tetapi Locianpwe harus bersumpah tidak akan menyerangku!"

Di dalam hatinya, pemuda ini masih curiga kepada kakek yang ia tahu amat cerdik dan curang itu.

"Apa? Bersumpah?"

Kakek itu tertawa-tawa dan kini layang-layang kembali telah lurus dan tenang.

"Boleh saja. Sudah sepuluh kali aku bersumpah dan lima puluh kali melanggarnya, kini ditambah satu kali sumpah untuk dilanggar lima kali, tidak mengapalah!"

"Wah, sumpah seperti itu apa harganya?"

Bun Beng mendongkol sekali dan maklum bahwa sumpah kakek ini tidak boleh dipercaya. Diam-diam ia merasa geli juga. Kakek ini curang ataukah jujur? Mengapa kebiasaan melanggar sumpah dia katakan secara terus terang macam itu? Tidak curang tidak jujur, melainkan gila agaknya!

"Kalau begitu, biar kutarik putus tali ini!"

Katanya dan mulai menarik-narik lagi.

"Eit-eit-eiitt....! Jangan! Biarlah, tanpa sumpah-sumpahan. Kau boleh turun tanpa kuhalangi, akan tetapi kau harus memberitahukan namamu."

Bun Beng berpikir. Kabarnya ayahnya seorang datuk kaum sesat. Orang-orang Pulau Neraka tentulah bukan golongan bersih, maka apa salahnya kalau dia mengaku? Sesama kaum tentulah tidak ada pertentangan.

"Baiklah, Locianpwe. Aku bernama Gak Bun Beng...."

"Astaga! Engkau bocah yang dulu kucari-cari? Bocah yang ditinggalkan Ibumu di kuil tua di lembah Sungai Fen-ho? Ha-ha-ha, engkau putera Gak Liat Si Botak! Pantas saja aku seperti pernah melihat macammu, kiranya anak Si Gak Liat, Si Setan Botak. Ha-ha-ha-heh-heh-heh!"

Kakek itu tertawa terpingkal-pingkal, tangan kanan memegangi tali layang-layang, tangan kiri menekan-nekan perutnya. Mengkal sekali rasa hati Bun Beng menyaksikan lagak kakek itu.

"Kakek gila, engkau terlalu menghina orang! Siapa sih engkau yang begini sombong? Dan apa hubunganmu dengan Ayah Bundaku?"

"Ha-ha-heh-heh-heh!"

Post a Comment