"Nah, kau kalah, muridku."
Kwi Hong menerima pedangnya, menyarungkan pedang dan menjawab,
"Bu-tek Siauw jin, ketahuilah aku adalah murid Pamanku sendiri, Pendekar Super Sakti dari Pulau Es. Maka engkau tentu maklum bahwa aku tidak mungkin dapat menjadi muridmu."
"Apa kau kira aku tidak tahu? Kau anggap aku ini anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Aku ingin menurunkan ilmu kepadamu, tentang kau menjadi murid atau tidak, peduli amat! Kau tahu mengapa aku ingin menurunkan ilmu-ilmuku kepadamu?"
Kwi Hong makin heran dan kini dia memandang kakek yang sakti itu.
"Aku tidak tahu." "Karena Suhengku Si Mayat Hidup yang bau busuk itu sudah melanggar sumpah!"
"Bagaimana? Aku tidak mengerti."
"Kami bertiga, Suheng Cui beng Koai-ong, aku dan Sute Kwi bun Lo mo Ngo Bouw Ek yang sudah bersumpah tidak akan menerima murid. Akan tetapi baru-baru ini Suheng mengambil murid bocah anak ketua boneka Pulau Neraka itu sebagai murid. Bocah itu pandai sekali, apalagi kini memegang Lam mo kiam, tentu tidak ada yang melawannya. Kebetulan engkau bertemu dengan aku, engkau memegang Li mo kiam, engkau nakal dan cocok dengan aku, dan dasar ilmumu tidak kalah oleh murid Suheng. Nah, kalau aku menurunkan ilmu kepadamu, kelak engkaulah yang akan mengha-dapi murid Suheng itu. Dia sudah melanggar sumpah, biar aku yang mengingatkannya mengalahkan muridnya oleh muridku!"
"Tanpa kau beri pelajaran ilmu pun aku tidak takut menghadapi bocah som-bong itu!"
"Hemm, dia belum tentu sombong, akan tetapi engkau sudah pasti sombong sekali! Engkau murid Pendekar Siluman, akan tetapi setelah dia menerima ilmu-ilmu dari Suheng, apa kau kira akan mampu menandinginya? Pedangmu itu tidak ada artinya karena dia pun mempunyai pedang yang sama ampuhnya."
"Pedang curian!"
"Curian atau bukan, bagaimana kau akan mampu merampasnya kalau kau tidak mampu menandingi ilmunya?"
"Siauw jin.... ehh.... wah, namamu benar benar aneh, bikin orang tidak enak saja memanggilnya dengan menyingkat!"
"Heh heh heh! Mengapa tidak enak memanggil aku Siauw jin (Manusia Hina)? Sudah terlalu halus kalau aku disebut Siauw jin, ha, ha!"
"Bu tek Siauw jin, aku sudah kalah berjanji dan aku harus memenuhi taruhan kita, aku suka mempelajari ilmu yang akan kau berikan kepadaku, biarpun untuk itu aku harus dikubur hidup-hidup. Akan tetapi, bagaimana engkau bisa tahu bahwa aku akan suka kau pergunakan untuk mengalahkan murid Suhengmu?"
"Kwi Hong, namamu Giam Kwi Hong, bukan? Engkau keponakan Suma Han, engkau puteri perwira gila she Giam di kota raja, engkau pernah diculik oleh adik angkat Suma Han yang menjadi ketua boneka di Pulau Neraka. Semua itu aku tahu.... heh heh, apa yang aku tidak tahu? Aku tahu bahwa Sepasang Pedang Iblis itu tadinya ditemukan oleh seorang bocah laki laki, entah siapa aku tidak kenal. Li mo kiam diberikan kepadamu dan Lam mo kiam dirampas oleh murid Suheng maka engkau akan merampas kembali pedang itu memusuhinya. Engkau harus menemani aku dikubur hidup-hidup selama seminggu. Jangan kau pandang remeh latihan ini. Latihan sin kang yang luar biasa. Engkau akan mengenal apa yang disebut Tenaga Inti Bumi! Setelah berlatih samadhi dan sin-kang di dalam tanah, nanti kuberikan ilmu-ilmuku yang paling istimewa, tiada keduanya di dunia, termasuk ilmu baruku tadi, yang kau katakan tidak sopan."
"Ilmu tendangan jangkerik?"
"Benar! Siapa tahu, dalam keadaan roboh dan terdesak, terancam malapetaka, engkau dapat menggunakan jurus itu. Dengan seluruh tubuh tertekan pada bumi, meminjam tenaga inti bumi, engkau akan dapat mengalahkan lawan yang jauh lebih kuat, dalam keadaan tak terduga duga seperti yang dilakukan jangkerik kecil tadi. Jurus ini selain dapat menyelamatkan nyawamu dari ancaman maut, juga dapat merobohkan lawan yang jauh lebih kuat. Apakah kau masih menganggapnya ilmu tidak sopan?"
Kwi Hong mengangguk.
"Aku akan mempelajari semua ilmu yang kau berikan."
"Bagus, sekarang kau carilah sebuah peti mati untukmu. Peti mati besi ini punyaku, dan terlalu kecil untuk tubuhmu yang gede."
"Mencari peti mati? Ke mana?"
"Wah, bodohnya. Ratusan peti mati berada di depan hidung, masih tanya harus cari ke mana? Selamanya tak mempunyai murid, sekali dapat murid, bodohnya bukan main. Di dalam kuburan-kuburan itu bukankah terisi peti peti mati?"
Kwi Hong terbelalak ngeri.
"Apa? Bongkar peti mati di kuburan? Wah, kan ada isinya!"
"Isinya hanya rangka yang sudah lapuk. Petinya masih baik. Itulah lucunya. Betapapun kokoh kuat petinya, mayatnya toh akan membusuk dan rusak. Membuang uang sia sia hanya untuk pamer saja, akan tetapi menguntungkan untukmu. Petinya yang masih baik dapat kau pergunakan!"
Kwi Hong menggeleng geleng kepala.
"Aku tidak bisa, Kek. Tidak mungkin aku sampai hati membongkar kuburan dan merampas peti dari sebuah kerangka manusia!"
"Uuhhh! Sudah bodoh penakut lagi! Apanya yang dipilih?"
Kakek itu bersuit tiga kali memanggil anak buahnya. Mun-cullah mereka berbondong-bondong dari tempat mereka duduk menanti.
"Hayo cepat carikan sebuah peti dari kuburan tertua."
Bu tek Siauw jin memerintah.
"Aihhh.... Ji tocu (Majikan Pulau ke Dua), hamba sekalian telah membawakan sebuah peti untuk To cu,"
Kata tokoh Pulau Neraka yang gendut pendek berkepala gundul. Orang ini adalah Kong To Tek, seorang tokoh Pulau Neraka yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi, bahkan memiliki ilmu mengeluarkan pukulan beracun diikuti semburan asap dari mulutnya yang amat berbahaya.
"Cerewet kau! Peti untukku sudah ada, akan tetapi untuk muridku ini belum ada! Lihat baik baik, dia ini adalah muridku yang akan mengalahkan murid Twa suheng, tahu? Namanya Kwi.... eh, lupa lagi. Siapa namamu tadi?"
"Kwi Hong, Giam Kwi Hong,"
Kata gadis itu dengan hati geli menyaksikan tingkah gurunya yang sinting.
"Oya, dia Giam Kwi Hong, murid tunggalku, Hayo cepat, carikan peti mati yang paling baik!"
Kwi Hong memandang dengan hati penuh kengerian betapa orang-orang itu membongkari kuburan dan akhirnya mendapatkan sebuah peti mati kuno yang benar-benar amat kokoh kuat dan ukiran-ukirannya masih lengkap. Peti mati itu dibuka, kerangka manusianya dikeluarkan lalu peti mati kosong itu digotong dekat Kwi Hong yang memandang dengan jantung berdebar penuh rasa ngeri. Dia harus tidur di situ? Bekas tempat mayat?
"Gali sebuah lubang besar untuk dua peti ini, cepat!"
Kakek itu kembali memberi perintah dan belasan orang Pulau Neraka itu cepat melakukan perintah Bu-tek Siauw-jin. Karena mereka itu rata-rata lihai dan memiliki tenaga besar, sebentar saja sebuah lubang yang lebarnya dua meter dan dalamnya juga dua meter telah tergali terbuka menganga dan menantang dalam pandang mata Kwi Hong.
"Lekas kau masuk ke dalam petimu!"
Kwi Hong menggelengkan kepalanya.
"Eh, apa kau takut?"
Melihat semua mata para penghuni Pulau Neraka itu memandang kepadanya, mendengar pertanyaan kakek sinting itu Kwi Hong cepat menjawab,
"Siapa bilang aku takut? Aku hanya merasa jijik, peti mati itu kotor!"
Tentu saja sebetulnya bukan karena kotor dan jijik, melainkan karena takut dan ngeri!
"Eh, siapa bilang kotor? Orang yang yang sudah mati jauh lebih bersih dari pada orang yang masih hidup! Hayo cepat masuk, atau engkau hendak membantah perintah Gurumu dan tidak mememenuhi janji?"
Kwi Hong merasa terdesak. Kalau dia tetap menolak, selain berarti dia tidak membayar kekalahan taruhan, dan dianggap takut oleh orang-orang Pulau Neraka, juga kalau kakek itu menggunakan kekerasan, mana dia mampu mencegahnya?
"Kalau sudah di dalam peti, bagaimana engkau bisa melatihku?"
Dia mencoba menggunakan alasan menolak.
"Bodoh! Biarpun di dalam peti, apa kau kira aku tidak bisa memberi petunjuk? Hayo cepat, mereka ini sudah menanti untuk mengubur kita."
Dengan jantung berdebar penuh takut dan tegang, terpaksa Kwi Hong memasuki peti mati itu. Bu-tek Siauw-jin menggunakan tangannya memukul tengah-tengah tutup peti mati yang tebal.
"Brakkk!"
Papan tebal itu bobol dan berlobang ditembus telapak tangannya, kemudian dipasanglah sebatang bambu panjang yang sudah dilubangi.
"Pejamkan matamu agar jangan kemasukan debu!"
Kata kakek itu sambil mengangkat tutup peti mati dan menutupkannya. Dunia lenyap bagi Kwi Hong. Ketika ia mengintai dari balik bulu matanya, yang tampak hanya hitam pekat!
Ia merasa betapa peti mati di mana ia berbaring terlentang itu bergerak, kemudian turun ke bawah. Dia sudah diturunkan ke dalam lubang! Memang kakek itu sendiri yang menurunkannya dan kini batang bambu itu menjadi lubang hawa yang lebih tinggi daripada lubang tanah itu, dua jengkal lebih tinggi. Bu-tek Siauw-jin memasuki petinya yang kecil, menutupkan petinya dari dalam dan peti itu dapat bergerak sendiri, meloncat ke dalam lubang, persis di samping peti mati Kwi Hong! Anak buahnya yang sudah tahu akan kewajiban mereka, cepat menguruk lubang itu dengan tanah galian sampai dua buah peti itu tertutup sama sekali dan tempat itu berubah menjadi segunduk tanah di mana tersembul keluar sebatang bambu kecil yang panjangnya sejengkal dari gundukan tanah. Itulah bambu yang menjadi lubang angin atau lubang hawa, penyambung hidup Kwi Hong!