Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 153

Memuat...

"Kau harus menang! Si Kecil harus menang! Jangan biarkan Si Besar sombong dan mengira bahwa Si Besar yang kuat!"

Dia bersungut sungut, mengomel marah marah tidak karuan.

"Kau harus dijantur biar besar hatimu!"

Kakek itu mencabut sehelai rambut yang panjang, akan tetapi begitu dipandangnya, rambut putih itu dibuangnya.

"Ah, rambut putih tidak baik untuk menjantur jangkerik, hatinya menjadi tidak berani bertempur. Heh, gadis besar! Rambutmu banyak, berikan sehelai kepadaku!"

Biarpun Kwi Hong merasa mendongkol bukan main, namun dia mulai tertarik untuk menyaksikan bagaimana caranya kakek itu dapat memaksa jangkerik kecil maju dan mengalahkan jangkerik besar. Biarpun bibirnya sendiri tak kalah runcingnya dengan bibir Si Kakek karena dia pun cemberut, dicabutnya juga sehelai rambut dan ditiupnya rambut itu ke arah kakek yang menerimanya sambil menjepit rambut dengan kedua jari tangan.

Diam diam Kwi Hong kagum dan kaget. Sudah begitu tua, akan tetapi pandang matanya masih luar biasa tajamnya, sehingga dapat menangkap dengan jepitan jari tangan sehelai rambut yang melayang. Kini kakek itu tidak bersungut sungut lagi, malah wajahnya berseru penuh harapan ketika dia menggunakan rambut untuk menjantur jangkerik kecil merah itu pada selakang kakinya. Kwi Hong memandang dengan heran dan ngeri. Jangkerik itu dijantur diputar putar seperti gasing kemudian dibiarkan berputar kembali pada rambut dan dimanterai oleh kakek aneh. Entah diberi mantera atau diapakan, buktinya kakek itu mulutnya berkemak kemik dekat dengan tubuh jangkerik yang berputaran. Setelah gerakan berputar itu terhenti, berhenti pula mulut yang berkemak kemik, akan tetapi tiba-tiba kakek itu meludah kecil tiga kali.

"Cuh! Cuh! Cuh!"

Ludah ludah kecil menyerempet ke arah tubuh jangkerik merah.

"Awas kau kalau kalah lagi!"

Kakek itu berkata.

"Harus kuberi tambahan semangat!"

Ia lalu bangkit berdiri, menjengking dan menaruh jangkerik yang masih tergantung di bawah rambut itu depan pantatnya,

"Busssshh!"

Kakek itu melepas kentut yang tepat menghembus ke arah jangkerik merah.

"Ihhh....!"

Kwi Hong mendengus dan melangkah mundur menjauhi kakek jorok (kotor) itu sambil memijit hidung. Kentut yang tidak berbunyi biasanya amat jahat baunya!

Akan tetapi karena dia tertarik sekali, ingin melihat apakah "gemblengan"

Yang diberikan kakek itu pada jangkerik merah benar benar manjur, Kwi Hong tidak pergi dan masih berdiri menonton. Kembali kakek itu membalikkan telapak tangan kiri, dipergunakan sebagai panggung pertandingan antara kedua ekor jangkerik itu. Jangkerik merah sudah dilepas dari rambut yang menjanturnya, ditaruh di atas telapak tangan kiri kakek itu. Jangkerik itu diam saja, agaknya nanar dan melihat bintang menari nari! Sepatutnya begitulah setelah mengalami gemblengan hebat tadi, kalau tidak nanar oleh janturan tentu mabok oleh bau kentut. Akan tetapi agaknya hal ini membuat si Jangkerik timbul kemarahannya, buktinya ketika kakek itu memainkan kili kili di depan mulutnya, jangkrik ini membuka mulut lebar lebar dan menyerang kili kili, sayapnya berkembang dan mengerik sumbang!

"Ha ha ha heh heh, bagus! Sekarang kau harus menang!"

Kakek itu berkata lalu mengambil jangkerik hitam dan menaruh di atas telapak tangannya pula. Dengan kili kilinya, kakek itu terus mengili jangkerik merah yang makin ganas dan bergerak maju menghampiri jangkerik hitam yang sama sekali tidak dikili, dibiarkan saja oleh kakek itu.

"Wah, kau licik! Kenapa jangkerik hitamnya tidak dikili?"

Kwi Hong tidak dapat menahan kemendongkolan hatinya. Dia tahu bahwa karena tubuhnya kecil pendek, kakek itu berpihak kepada jangkerik kecil dan berlaku curang.

"Eh, kalau kau berpihak kepada Si Hitam, boleh kau kili dia!"

Kakek itu membentak marah. Akan tetapi karena Kwi Hong belum pernah mengadu jangkerik, gadis ini berjebi dan tidak menjawab, hanya memandang saja. Biarpun tidak diganggu kili kili, mendengar lawan mengerik, Si Hitam itu cepat membalik dan juga mengerik, menantang dengan keriknya yang nyaring sehingga mengalahkan bunyi kerik Si Kecil yang sumbang. Hampir Kwi Hong bersorak bangga, akan tetapi dia menahan diri, takut kalau kalau kakek sinting itu marah lagi.

Setelah kedua jangkerik itu berhadapan dan siap, kakek aneh itu kembali melepaskan kili kilinya dari mulut Si Kecil, mencabutnya ke atas sehingga kembali dua ekor jangkerik itu saling terkam dan saling gigit. Si Kecil itu kini benar benar lebih nekat cara berkelahinya, dan agaknya gemblengan kakek tadi ada gunanya pula karena dia lebih berani, tidak mudah menyerah seperti dalam pertandingan pertama. Akan tetapi, betapapun nekatnya, karena memang kalah kuat, dia didorong terus ke pinggir dan akhirnya terjengkang ke bawah. Kalah lagi. Kwi Hong cepat melangkah mundur dan tepat seperti dugaannya, kakek itu marah marah lagi. Batu bong-pai kuno itu mengalami nasib sial! Digempur berapa kali sampai pecah pecah dan remuk remuk, debu beterbangan ke atas.

"Sialan! Pengecut! Penakut! Kau membikin malu saja! Tidak bisa, kau tidak boleh kalah, harus menang. Harus kataku, tahu? Kalau perlu aku akan menggemblengmu selama hidupku sampai kau menang!"

Kembali dia menaruh jangkerik hitam di dalam lubang dan mulailah ia melakukan "penggemblengan"

Ke dua terhadap jangkerik kecil merah. Cara menggemblengnya makin gila, membuat Kwi Hong mendekap mulutnya menahan ketawa. Benar benar kakek sinting, pikirnya, akan tetapi karena Kwi Hong juga mempunyai dasar watak gembira, binal dan nakal, dia ingin sekali menyaksikan jangkerik gemblengan kakek itu benar benar akan dapat menang satu kali saja. Kalau kalah terus, dia mempunyai alasan untuk mentertawakan kakek sinting yang tadi sudah berani menggaplok pinggulnya sampai dua kali. Kalau nanti kakek itu marah, dia akan melawan dengan pe-dangnya.

Kakek itu benar benar seperti sinting saking penasaran melihat jagonya kalah terus. Tepat seperti dugaan Kwi Hong, karena merasa bahwa dia adalah seorang yang mempunyai perawakan tidak normal, terlalu kecil pendek bagi ukuran pria, maka tentu saja kakek itu selalu berpihak kepada apa saja yang ukurannya lebih kecil! Demikian pula dalam adu jangkerik ini. Dia akan penasaran terus kalau Si Kecil belum memang, karena dia melihat seolah-olah Si Kecil itu adalah dia sendiri. Kini dia membe-nam benamkan Si Kecil Merah itu ke dalam.... air kencingnya sendiri. Tanpa mempedulikan Kwi Hong kakek itu merosotkan celananya begitu saja sehingga Kwi Hong tersipu sipu membuang muka, lalu dia melepas air kencing ke arah jangkerik merah yang ia masukkan ke dalam sebuah lubang besar di atas tanah.

Tentu saja payah jangkerik merah kecil itu berenang di lautan kencing, sedangkan Kwi Hong yang berdiri dalam jarak sepuluh langkah saja masih mencium bau sengak seperti cuka lama, apalagi jangkerik yang kini dibenamkan ke dalam air kencing! Akan tetapi kakek itu tidak peduli. Setelah mengikatkan kembali celananya dan membenam benamkan jangkerik jagoannya sampai setengah kelenger, barulah ia menghentikan gemblengannya, membiarkan jagonya siuman di bawah sinar matahari, kemudian mulailah dia mengadu lagi dua ekor jangkerik itu. Anehnya, ketika jangkerik itu digoda kili kili, dia mengamuk, menggigit asal kena saja, akan tetapi tidak lagi mau mengerik. Dia betul-betul sudah puyeng sekarang, sudah nekat dan menyerang ke depan dengan ngawur akan tetapi pantang mundur!

"Bagus, kau kini tidak mengenal takut lagi!"

Kwi Hong lupa akan bau air kencing yang biarpun sudah dihisap tanah masih meninggalkan bau lumayan, karena dia tertarik maka dia mendekat lagi, bahkan kini dia duduk di sebelah kiri kakek itu, menonton penuh perhatian. Dua ekor jangkerik sudah berkelahi lagi di atas telapak tangan kakek itu. Akan tetapi jangkerik kecil itu mundur terus!

"Kalau sekali ini kalah, kugencet dengan batu kepalamu!"

Kakek itu mengomel dan Kwi Hong menaruh kasihan kepada jangkerik kecil merah itu.

"Kek, tahan pantatnya dengan kili-kili. Dia masih terus melawan, belum kalah, jangan keburu dia jatuh ke bawah!"

Post a Comment