Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 106

Memuat...

"Aihhh.... masih bisa marah? Jelas miring otaknya! Hemmm, mengapa nasibku selalu harus bertemu dengan orang yang jatuh ke laut? Sungguh aneh jaman sekarang ini banyak orang terapung-apung di laut."

Kini Bun Beng membuka matanya dan kebetulan dara itu pun memandangnya.

Memang Bun Beng boleh dimaafkan kalau tadi menyangka wanita ini dewi laut atau bidadari karena memang dia seorang dara yang luar biasa cantiknya. Tubuhnya tinggi ramping dengan bentuk tubuh yang hebat, wajahnya begitu jelita seperti gambar, kulitnya putih halus seperti salju, gerak-geriknya ketika berdiri di geladak begitu lemah gemulai seperti batang pohon liu tertiup angin, pakaiannya indah sekali sesuai dengan orangnya, rambutnya yang hitam panjang dan halus itu digelung tinggi di atas kepalanya, dihias dengan hiasan rambut terbuat dari mutiara. Seorang dara yang.... bukan main. Akan tetapi, begitu dua pasang mata itu saling pandang, hampir berbareng keduanya berseru,

"Nona Milana....!"

"Engkau.... Gak-twako.... aih, pantas aku seperti mengenalmu, kiranya engkau Gak Bun Beng! Aduh, bagaimana engkau sampai menjadi begini, Gak-twako?"

Bun Beng menarik napas panjang, lalu menggunakan kedua lengannya untuk bangkit duduk. Ia menyeringai kesakitan dan dengan sikap lemah lembut Milana membantunya duduk di atas geladak. Sejenak mereka saling pandang. Milana dengan penuh rasa kasihan. Bun Beng dengan penuh rasa kagum dan juga tidak enak hati karena ia berjumpa dengan dara yang sejak kecil berwatak halus ini da-lam keadaan seperti itu. Dara itu kini telah dewasa, bagaikan setangkai bunga sedang mekar semerbak. Bukan main! Seorang dara tujuh belas tahun yang seperti dewi kahyangan! Debar jantung Bun Beng mengatasi segala rasa nyeri dan pemuda ini cepat mengalihkan pandang matanya, menunduk dan menghela napas panjang.

"Panjang sekali ceritanya, Nona. Akan tetapi yang jelas.... aku dilukai oleh seorang kakek India bernama Maharya dan muridnya, Tan-siucai yang gila...."

"Ohhh? Mereka yang dulu membunuh Kakek Nayakavhira itu? Yang mencuri Pedang Hok-mo-kiam?"

"Benar, Nona Milana, engkau masih ingat itu semua? Ingat akan pengalaman kita bertahun-tahun yang lalu itu....?"

"Tentu saja aku ingat. Pengalaman hebat kita dengan kakek muka kuning, kemudian sampai kita berpisah kembali, selamanya tak dapat kulupa. Aihh, Gak-twako, kenapa mereka melukaimu seperti ini? Ini namanya sengaja menyiksa, mengapa kau tidak dibunuhnya akan tetapi disiksa seperti ini?"

"Gara-gara Sepasang Pedang Iblis...."

Jawabnya dan kembali ia merintih dan menyeringai karena dadanya terasa sakit sekali.

"Sepasang Pedang Iblis?"

Milana berseru kaget sekali.

"Benar dan aauuggghh...."

Bun Beng tak dapat bertahan lagi. Pengerahan tenaga tadi ketika melawan dua orang itu membuat dadanya sakit sekali dan ia roboh pingsan! Ketika Bun Beng siuman kembali, ia berada di atas kuda, di belakangnya duduk Milana. Rasa nyeri menguak ke seluruh tubuhnya, akan tetapi tidak dapat mengatasi debar jantungnya ketika ia merasa betapa tubuhnya setengah ditahan dan dipeluk oleh Milana. Bukan main! Di atas segala rasa nyeri, terasa olehnya kehangatan dan kelunakan tubuh dara itu, membuatnya cepat memejamkan mata kembali dan ingin pingsan terus! Akan tetapi dara itu agaknya telah dapat mengerti bahwa dia telah siuman. Didorongnya tubuh Bun Beng ke depan.

"Bagaimana, Gak-twako? Apakah kau kuat menunggang kuda bersamaku? Harap kau pertahankan, engkau harus mendapat perawatan yang baik. Agaknya Ibu akan dapat menolongmu...."

Gadis itu bicara halus dan penuh iba. Bun Beng memaksa tubuhnya untuk duduk tegak di atas kuda yang berjalan perlahan.

"Aihhh.... aku menyusahkan engkau saja, Nona. Ibumu seorang sakti, akan tetapi aku merasa sangsi apakah Beliau akan dapat menyembuhkan aku. Menurut kata kakek India itu, dalam waktu empat puluh hari aku akan mati sekerat demi sekerat. Melihat rasanya tubuhku, dia agaknya tidak membohong. Darahku telah keracunan, tidak ada yang akan dapat menyembuhkanku. Aahh, semua salahku sendiri, terlalu menurutkan kata hati tanpa mempertimbangkan dan tanpa menyadari bahwa kepandaianku masih amat rendah. Aku berani mengacau Thian-liong-pang.... itulah mula-mula segala malapetaka yang menimpa diriku...."

"Apa? Kau mengacau Thian-liong-pang?"

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Milana mendengar ini. Thian-liong-pang adalah tempat tinggalnya karena ibunya adalah Ketua Thian-liong-pang. Akan tetapi hal ini harus dipegang rahasia, dan dia tidak dapat menceritakannya kepada siapapun juga.

"Mengapa kau memusuhi Thian-liong-pang?"

"Perkumpulan iblis busuk itu! Jahat sekali! Mereka menangkap tokoh-tokoh kang-ouw untuk dicuri ilmu mereka. Hemm, dan Ketuanya amat ganas, ke-jam, licik dan sakti. Kiranya hanya Ayahmu, Pendekar Super Sakti To-cu Pulau Es saja yang akan dapat membasmi Thian-liong-pang....!"

"Gak-twako, orang tidak perlu mencampuri urusan orang lain kalau belum diketahuinya betul keadaannya. Apakah engkau sudah mengenal Ketua Thian-liong-pang sehingga dia kau maki ganas, kejam, licik dan sakti? Kurasa, orang seperti engkau sekalipun akan dapat salah sangka, maka sebaiknyalah kalau kau tidak mencampuri urusan orang-orang lain, terutama Thian-liong-pang atau Pulau Neraka. Mereka amat berpengaruh dan lihai, tidak ada perkumpulan lain atau seorang gagah pun berani lancang menentang mereka."

Bun Beng mengerutkan alisnya. Mengapa puteri Pendekar Super Sakti, yang tentu memiliki ilmu yang tinggi seperti tadi dia saksikan sendiri ketika menolongnya dengan kail, mengeluarkan ucapan begitu jerih terhadap Thian-liong-pang dan Pulau Neraka? Dia merasa penasaran melihat sikap Milana seperti ketakutan.

"Nona, kalau engkau takut terhadap Thian-liong-pang dan Pulau Neraka, mengapa kau menolongku? Lebih baik kalau kau tinggalkan aku di sini saja!"

Milana tersenyum sabar mendengar ucapan itu dan melihat betapa Bun Beng bergerak hendak turun dari kuda yang tentu merupakan hal yang sukar bagi pemuda itu karena kakinya lumpuh dan tenaganya habis.

"Gak-twako, engkau benar-benar seorang yang amat tinggi hati! Aku menolongmu dengan hati tulus ikhlas dan kosong tanpa pamrih, hanya berdasarkan perasaan iba yang akan kulakukan terhadap siapapun juga yang membutuhkan pertolongan seperti engkau. Mengapa harus kudasarkan kepada perasaan takut atau tidak? Twako, apakah engkau menganggap aku seorang pengecut dan penakut yang akan membiarkan orang terluka parah seperti engkau begitu saja tanpa berusaha mengobati dan menolongmu?"

Ucapan itu dikeluarkan dengan suara yang halus, sama sekali tidak mengandung kemarahan atau penyesalan sehingga diam-diam Bun Beng merasa terkejut dan teringatlah ia betapa ucapannya tadi kasar dan menyakitkan hati. Maka ia cepat berkata,

"Maafkan aku, Nona. Bukan sekali-kali aku bermaksud bahwa Nona seorang penakut, hanya.... aku telah dianggap musuh oleh Thian-liong-pang, bahkan kaum Pulau Neraka agaknya juga memusuhiku. Oleh karena itu, betapa hatiku akan merasa berdosa dan menyesal kalau engkau akan dimusuhi mereka pula karena engkau telah menolongku! Aku tidak ingin kau terseret dalam bahaya besar. Biarlah aku saja yang menjadi korban keganasan mereka, jangan sampai engkau terancam pula oleh bahaya."

Milana tersenyum.

"Jangan khawatir, Twako. Aku dapat menjaga diri, dan aku tidak akan membiarkan engkau dalam keadaan seperti ini terganggu oleh siapapun juga. Kurasa engkau belum mengenal betul Thian-liong-pang. Menurut pendapatku, Thian-liong-pang, kumaksudkan ketuanya, tidaklah begitu jahat seperti yang kau duga. Perbuatannya yang aneh seperti menculik tokoh-tokoh kang-ouw itu tentu ada latar belakangnya."

"Aku sudah tahu! Dia menculik mereka untuk diberi minum racun sehingga dalam keadaan mabok dan tidak ingat apa-apa mereka mau saja diadu agar mereka mengeluarkan jurus-jurus simpanan dan dapat dicuri oleh Ketua itu! Dan engkau keliru kalau menganggap Thian-liong-pang tidak jahat! Anak buahnya adalah iblis-iblis yang kejam, yang suka membunuh orang tanpa berkejap mata."

"Kurasa tidak demikian, Twako. Kalau anak buah Thian-liong-pang ada yang menyeleweng, hal itu tentu di luar pengetahuan Sang Ketua, karena tentu yang menyeleweng akan dihukum. Adapun Ketua itu sendiri, andaikata sampai membunuh orang, tentu ada sebab-sebabnya yang memaksanya. Aku tidak percaya bahwa dia jahat seperti iblis. Hanya engkaulah yang belum mengenalnya betul."

"Heii, kau seperti membelanya!"

Bun Beng berkata penasaraan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment