Sekonyong-konyong dari kanan kiri ditubuh Li Hong-gi memancarlah dua sinar terang setinggi satu kaki, kedua sinar itu berwarna merah putih sangat menyolok mata.
Terdengar sibaju hijau itu berseru tertahan, sekali berkelebat tubuhnya menubruk kearah samping tubuh Li Hong-gi serta merta diulurkan tangannya hendak mencomot benda bersinar itu, tapi secepat itu tampak tubuhnya terhuyung mundur pula seakan terintang sesuatu tenaga gaib.
Kini orang itu sudah menanggalkan kedoknya, dengan hati-hati ia menunduk dan memeriksa.
Waktu berdiri lagi dan berpaling Thian-ih melihat orang menunjuk rasa heran dan kejut, sejenak kemudian tampak ia memindahkan senjatanya ditangan kiri lalu tangan kanan diulur hendak menghantam kearah jenazah Li Hong-gi...........
Sedetik sebelum tangan sibaju hijau diturunkan mendadak terdengar suara bentakan dingin dibelakangnya: "Tahan!" Waktu ia berpaling dengan kaget dilihatnya dibelakangnya telah berdiri satu orang, maka tegurnya dengan gusar: "Keparat dari mana kau" Aku belum mengenal kau?" Thian-ih berseru lantang: "Cayhe Ho-pak Thio Thian-ih, siapakah tuan yang mulia?" Sibaju hijau tertawa gelak-gelak, kedua gelangnya dikiblatkan lalu katanya: "0, ternyata adalah Thio-jichengcu, masa kau belum pernah dengar tentang kedua senjata gelangku ini" Aku yang rendah Mo-san Lok Sian......" Tergetar hati Thian-ih, Lok Sian ini adalah salah satu dari Mo-san-sam-kui yang kenamaan, mereka terdiri dari Pek-bian-kui (setan muka putih) Ho Han dan Hek-bian kui (setan muka hitam) Ci Kiu.
Mo-san-sam-kui (tiga setan dan Mo-san) adalah tokoh-tokoh lihay dari aliran hitam yang kenamaan di Kangouw.
Dulu Thio Thian-ki pernah bercerita tentang pribadi ketiga saudara angkat ini, terutama senjata-senjata mereka yang berbentuk aneh itu paling gampang dikenali, mereka bukan saja licik dan ganas, kepandaian Ginkang dan Lwe-kangnya juga setingkat lebih tinggi dari golongan hitam lainnya.
Sungguh tidak nyana bahwa salah satu dari ketiga setan kenamaan itu ternyata juga ikut berkomplot dalam usaha mencuri benda mestika dalam kuburan ini.
Terdengar Lok Sian berkata lagi dingin: "Ji-chengcu.
apa kau juga bermaksud mengincar kedua mutiara mestika itu?" Sahut Thian-ih: "Lok-heng, aku tidak tahu tentang hal-ihwal mutiara mestika apa segala......." Lok Sian mengakak kegilaan, suaranya bergema mendebarkan hati, ujarnya: "Ji-chengcu, dengan ucapanmu itu agaknya kau sangat memandang rendah kita Mo-san-sam-kui.
Kalau kau sendiri juga ingin memiliki benda mestika itu mengapa main sungkan dan pura-pura tidak tahu, hahaha, kalau kau berkata tidak tahu lantas apa maksudmu menyelundup kedalam sini?" Melihat sikap orang yang congkak dan takabur, timbullah amarah Thian-ih, jengeknya dingin: "Kudengar ada komplotan penjahat yang hendak mencuri......" "Lantas kau ingin mencampuri urusan ini!" Lok Sian menukas perkataan Thian-ih, "Bukankah begitu maksudmu " Ji-chengcu, kau baru saja lulus dari perguruan masih berbau bawang, mungkin belum tahu seluk-beluk peraturan dunia persilatan.
Mo-san-sam-kui sudah bertekad untuk mengambil kedua mutiara mestika dipinggir tubuh bocah perempuan itu, Ho Han dan Ci Kiu kedua saudaraku itu sebentar akan tiba, silakan kau minggir dan jangan mengganggu Setelah dekat baru Thian-ih melihat tegas, ternyata peti mati Li Hong-gi terbuat dari batu kaca yang tebal, bening dan tembus cahaya, harganya tentu tidak ternilai.
Kedua mutiara merah putih mencorongkan sinarnya yang kemilau menyinari seluruh tubuh Li Hong-gi, sehingga wajahnya tampak semakin jelita bagai hidup dan tidur nyenyak.
Bu-ing-kui sisetan tanpa bayangan Lok Sian mendadak berkata di belakangnya: "Ji-chengcu silakan kau minggir kesamping......" Tiba-tiba Thian-ih memutar tubuh, sahutnya marah : "Lok-heng, apa yang hendak kau lakukan?" Lok Sian berkata tawar: "Aku ingin ambil kedua butir mutiara itu, meskipun batu kaca ini tak ternilai harganya, kita bersaudara tidak mampu memboyongnya keluar terpaksa dihancurkan saja...." habis berkata ia himpun tenaga, bersiap lancarkan pukulannya.
Bergolak darah Thian-ih saking menahan amarah, bulat tekadnya untuk menentang maksud jahat manusia tamak ini, bentaknya: "Orang she Lok, memandang muka engkoh-ku maka kunasehati kau supaya hapus saja niat tamakmu itu, lekaslah tinggalkan tempat ini.
Ketahuilah perbuatanmu ini merupakan perbuatan tercela dan nista dalam kalangan Kangouw, kalau perbuatan kalian ini sampai tersiar apakah tidak memburukkan nama baik Mo-san-sam-kui.....?" "Kentut !" hardik Lok Sian tidak kalah gusarnya.
"Bagaimana juga Mo-san-sam-kui harus memperoleh kedua mestika itu.
Sekarang juga kubunuh kau, coba siapa lagi yang dapat mengetahui?" sembari berkata tangan kanan segera didorong kedepan menggunakan jurus Liok-ting-kay-loh (Liok Ting membuka jalan), dada Thian-ih diincar dengan sebuah pukulan.
Sejak berhadapan Thian-ih sudah bersiaga, begitu serangan musuh mendatang dengan jurus Tui-san-seng-te (mendorong gunung menjadi datar) sebelah tangannya juga diangkat untuk menangkis, "blang" kedua tenaga pukulan saling beradu di tengah udara menimbulkan goncangan yang hebat, dua-duanya tersurut mundur selangkah, naga-naganya tenaga dalam mereka seimbang alias sama kuat.
Lok Sian berjingkrak semakin gusar, kedua senjatanya dipersiapkan terus menubruk maju seraya memutar gelangnya dengan gencar dan aneh.
Thian-ih insaf bahwa ilmu gelang belibis musuh sangat lihay, maka segera ia juga melolos pedang untuk menghadapi serangan musuh.
Tidak nyana bahwa ilmu gelang belibis ini memang teramat aneh dan menakjubkan, dalam gebrak pertama itu tahu-tahu pedang panjang Thian-ih kena terjepit dan tergencet kencang oleh senjata musuh, seketika susah dicabut lolos, saking besar tenaga yang terkerahkan untuk membetot akhirnya pedang panjang sendiri malah yang patah menjadi dua, bertepatan dengan itu sepasang gelang Lok Sian juga telah menindih dan mengepruk tiba.
Dalam keadaan yang gawat itu Thian-ih masih dapat unjuk ketrampilannya, tiba-tiba ia membalik sembari membungkukkan badan sehingga tubuhnya melejit mengapung di tengah udara, berbareng kedua kakinya bergerak menjejak ke belakang bergantian.
Tindakannya ini dinamakan Siang-kiong-dat-tui, satu diantara pelajaran tunggal dari Kiam-bun-it-ho yang lihay.
Karena terdesak baru Thian-ih dipaksa melancarkan tipunya ini, keruan perbawanya bukan main hebatnya.
Sudah tentu Bu-ing-kui Lok Sian tidak mengira bakal menghadapi kepandaian yang aneh bin ajaib ini, meski secepat mungkin ia berusaha mengelakkan diri juga sudah terlambat, dengan telak kedua kaki Thian-ih menendang di dadanya, seketika setan bayangan menjerit seram, darah segar menyembur dari mulutnya, tubuhpun segera roboh tak berkutik lagi, jiwanya seketika melayang menghadap Giam-lo-ong.
Meskipun akhirnya dapat membunuh musuh, tak urung hati Thian-ih juga berdetak keras, badannya basah oleh keringat dingin, sungguh sesal dan gegetun pula akan kebodohan dan kurangnya pengalaman dalam menghadapi musuh-musuh licik ini, untung pelajaran gurunya digdaya dan mandraguna, kalau tidak mungkin jiwa sendiri yang sudah melayang jadi setan gentayangan.
Setan tanpa bayangan kini betul-betul sudah menjadi setan gentayangan tulen.
Li Hong-gi masih rebah dalam peti batu kaca dengan tenangnya, kedua matanya terpejamkan, mulutnya menyungging senyum manis, semakin dipandang semakin mempesonakan.
Semakin gelap kedua mutiara itu semakin memancarkan sinarnya yang terang dan cemerlang.
Setelah termangu sekian lamanya Thian-ih maju mendekat dan memeriksa cara bagaimana harus membuka peti batu kaca ini, akhirnya di sebelah samping diketemukan sebuah lobang kunci, agaknya disinilah letak kunci rahasia pembuka peti batu kaca ini.
Sekonyong-konyong tergerak hati Thian-ih, bukankah lobang kunci ini sebesar kunci yang ditemukan dalam pengejaran Ciu Hou tempo hari " Mengapa tidak dicoba saja" Demikian pikirnya.
Baru saja tangannya merogoh kantong, tiba-tiba terdengar diluar kuburan suara gaduh dibalik pintu, agaknya seseorang tengah berusaha membongkar dan membandrek kunci.
Lekas-lekas Thian-ih menyeret tubuh Lok Sian untuk disembunyikan lalu dibersihkan pula noda-noda darah, setelah semuanya beres ia kembali sembunyi di tempatnya tadi.
Suara gedobrakan menerjang pintu semakin keras dan gencar, saking tegang Thian-ih memegang tumbung besi di belakangnya dan tanpa sengaja ia memutarnya dan tahu-tahu tumbung besi ditangan kiri itu terlepas, seketika terdengar percakapan dari luar: "Ai, Lo-ho, kunci ini begini kencang, coba kau kerjakan." Kiranya kedua tumbung besi itu tembus keluar kuburan, dari lobang tumbung besi ini dapat melihat keadaan diluar dengan jelas.
Terlihat oleh Thian-ih dua orang yang membekal senjata aneh tengah berusaha membuka pintu rahasia kuburan itu.
Dari penerangan yang mereka bawa Thian-ih dapat melihat tegas wajah mereka putih dan hitam.
Batinnya, tentu merekalah yang dijuluki Pek-bian-kui dan Hek-bian-kui dari Mo-san-sam-kui itu.
Tak lama kemudian terdengar Hek-bian-kui Ci Kiu berjingkrak girang: "Lo-ho, kunci sudah dapat kubuka." Thian-ih terperanjat, bahwa kepandaian Mo-san-sam-kui ini sangat tinggi tidak perlu disangsikan lagi, kalau mereka menerjang masuk dan mempergoki dirinya tanpa membekal senjata, berbahayalah jiwanya.
Dalam keadaan yang mendesak ini terpaksa dijemputnya kedua gelang belibis Lok Sian itu untuk membela diri sekadarnya.
"Blang" pintu batu yang tebal dan besar itu tiba-tiba menjeplak dan terbuka lebar oleh pukulan kegirangan gabungan Ho Han dan Ci Kiu.
Terdengar teriakan mereka yang memanggil-manggil: "Lo-lok, Lok-hiante, eh..............." Sekian lama mereka memanggil-manggil tanpa penyahutan semestinya, keruan kaget dan heran kedua orang ini, serta merta timbullah kewaspadaan mereka untuk tidak secara sembrono menerjang masuk ke dalam kuburan, hanya obor di tangan mereka digoyang-goyangkan ke kanan kiri.