Tempo hari sebelum Li-siocia dikuburkan, dia sudah tinggal pergi maka tidak diketahuinya dimanakah letak kuburan gadis rupawan itu, maka dengan sogokan uang ia mencari tahu dari mulut seorang kacung restoran, ternyata bahwa kuburan Li-siocia terletak disebelah utara kota Ki-lam, sedemikian besar dan megahnya kuburan itu berbentuk seperti kamar tidur Li-siocia sendiri semasa masih hidup!
Malah kacung itu bercerita panjang lebar tentang terjadinya suatu keanehan dalam kuburan itu, katanya meskipun telah wafat beberapa bulan, tapi jenazah Li Hong-gi sedemikian lama masih utuh seperti sediakala.
Ditambahkan bahwa setiap bulan pada tanggal muda pasti keluarga Li-tihu menyambangi kuburan megah itu utk memeriksa keadaan.
Setelah mendengar cerita ini Thian-ih jadi berpikir, entah benda mestika apakah yang sedemikian hebat dan besar kasiatnya sehingga jenazah Li Hong-gi masih tetap utuh seperti masih hidup.
Hari itu secara iseng-iseng Thian-ih keluar kota dan menuju ke kuburan yang dihebohkan itu.
Memang kuburan ini sedemikian besar mewah dan kokoh kuat terbuat dari batu yang diuruk tanah.
Thian-ih berputar ke sekelilingnya memeriksa tiada tampak sesuatu yang mencurigakan, pintu rahasia masih tertutup rapat dan terkunci dari luar, agaknya belum ada orang yang pernah menyentuhnya.
Naga-naganya para kawanan penjahat yang tamak akan harta benda itu masih belum datang dan turun tangan.
Lewat beberapa hari pagi-pagi benar pelayan penginapan memberi tahu kepada Thian-ih bahwa hari keseratus wafatnya Li Hong-gi akan diperingati di kuburan megah itu secara besar-besaran.
Maka cepat-cepat Thian-ih bersiap berganti pakaian mengenakan jubah panjang warna putih mulus, pedang disoreng dipinggang balik jubahnya, tangannya membekal sebuah kipas lempit sambil berlenggang berlagak sebagai pelajar dia ikuti arus manusia yang menuju ke pintu utara untuk melihat keramaian.
Tiba di pekuburan suasana disini begitu ramai, selayang pandang hanya kepala manusia melulu, sedemikian banyak manusia berjubel-jubel sampai susah untuk mendesak maju ke depan, diam-diam Thian-ih meneliti, dilihatnya banyak diantara mereka itu yang harus dicurigai.
Tidak lama kemudian tampak sebarisan tentara bersenjata lengkap mendatangi membuka jalan, di belakang barisan ini beriring pula puluhan tandu yang besar-besar berhenti diluar pekuburan, tampak Li-tihu sendiri yang memimpin upacara sembahyangan ini, kala itu pintu rahasia kuburan sudah dibuka maka pelan-pelan Li-tihu serta keluarga dan handai-taulannya masuk kedalam, mereka terdiri dari kaum wanita dan beberapa orang laki-laki, diantaranya tampak seorang pemuda yang gagah, maka Thian-ih menduga pasti pemuda itulah yang bernama Nyo Hway-giok calon suami Li Hong-gi.
Tubuhnya tinggi tegap beralis hitam gombyok, Thay-yang-hiat di pelipisnya menonjol keluar dan langkahnya ringan, selayang pandang dapatlah diketahui bahwa pemuda lembah lembut ini juga dari aliran persilatan.
Kaum perempuan berjalan agak pelan sampai sekian lama mereka masih berjubel diluar pintu kuburan, sekonyong-konyong angin menghembus agak keras, tahu-tahu dua bayangan berkelebat cepat saling susul dan enteng sekali mencampurkan diri dalam barisan yang memasuki kuburan itu.
Para penjaga merasa pandangan serasa kabur, disangkanya melihat burung terbang melintas didepan mata.
Di luar tahunya bahwa di kelompok keluarga Li-tihu itu telah bertambah dua orang gelap yang menyelundup masuk ke dalam.
Salah seorang dari bayangan tadi bukan lain adalah Thian-ih sendiri, perbuatannya ini hanyalah menelat perbuatan bayangan yang terdahulu, karena dianggapnya kalau orang itu berani menyelundup kedalam secara diam-diam tentu mengandung maksud yang tidak baik, maka tanpa kepalang tanggung ia juga melesat memasuki kuburan besar itu.
Ginkang Thian-ih sebetulnya tidak kalah tinggi dari bayangan tadi, namun begitu melangkah masuk ke dalam kuburan lantas dia kehilangan jejak orang itu, hal ini malah memperingatkan Thian-ih sendiri, sedikit bergerak dia pun menyelinap dan sembunyi.
Dari tempat sembunyinya Thian-ih meneliti keadaan bangunan kuburan ini, bukan saja luas tapi juga megah dan mewah benar-benar seperti kamar tidur mendiang Li Hong-gi sendiri.
Ditengah ruang besar sebelah dalam adalah letak peti mati Li Hong-gi yang berbentuk aneh dan istimewa, karena bentuk itu tak ubahnya seperti sebuah pembaringan yang dihias begitu indah, terlihat Li Hong-gi rebah diatas pembaringan itu, tubuhnya terbungkus kain sutera yang tersulam indah, dari kejauhan tampak wajahnya memutih bagai batu giok seakan-akan bidadari yg tengah tidur nyenyak.
Berpuluh keluarga Li-tihu itu berdiri di sekitar peti mati sambil menggerung sesenggukan.
Sebagai orang gelap Thian-ih tidak berani banyak bergerak, tak lupa pula ia mencari letak sembunyi orang yang menyelundup masuk tadi.
Diempat penjuru ruang tergantung empat pelita yang bersinar terang, hawa disini terasa sejuk nyaman, entah dimana letak pintu angin yang berhubungan dengan luar, hiasan atau pajangan dalam kuburan inipun sangat berkelebihan tidak kalah indah dari ruang penganten anak raja, hanya dindingnya saja yang terlalu banyak variasi dengan lekak-lekuk jadi banyak tempat yang gelap cocok untuk sembunyi orang, maka tidak mudah bagi Thian-ih mencari jejak orang itu tanpa dirinya sendiri juga bergerak dari tempat sembunyinya.
Tempat dimana ia sembunyi adalah pojokan dinding yang lekuk kedalam tertutup di belakang kain gordijn lagi, dinding di belakangnya terasa dingin karena terbuat dari batu-batu gunung, tanpa sengaja teraba oleh Thian-ih dua tumbung besi, ia menjadi heran untuk apakah kedua tumbung besi Sementara itu keluarga Li-tihu masih bertangisan dengan sedihnya.
Hanya Nyo Hway-giok saja yang masih berdiri tenang sambil menunduk, namun saban-saban ia juga membesut air mata yang tak tertahankan lagi.
Betapa orang takkan sedih ditinggal pergi calon isterinya.
Tak lama kemudian setelah semua orang selesai sembahyang, beruntun mereka mengundurkan diri keluar kuburan.
Agaknya Nyo Hway-giok berat berpisah dengan calon istrinya itu, maka sambil mengusap air mata ia berkata pada Li-tihu: "Gak-hu (mertua), siausay (menantu) hidup tak dapat berdampingan dengan adik Hong-gi, biarlah aku tetap berdiam disini untuk mendampingi adik Hong-gi selama-lamanya !" Sudah tentu Li-tihu tidak setuju, para kerabat perempuan juga ikut membujuk, suasana menjadi ribut, terdengarlah Nyo Hway-giok mengeluh panjang : "Kala hidup aku tak dapat berdampingan dengan Hong-gi masa kalian masih tidak mengijinkan kita mati dalam satu liang, dia kan sudah menjadi istriku............sampaikan saja kepada ayahku bahwa Hway-giok telah mangkat mengikuti isterinya......" Watak Nyo Hway-giok ini ternyata berperasaan halus dan lemah hati, dalam keadaan yg tidak terkendali lagi ia menangis tergerung-gerung sambil sesambatan.
Maka tidak kepalang tanggung lagi Li-tihu perintahkan beberapa prajurit untuk menyeretnya keluar dengan kekerasan.
Nyo Hway-giok meronta-ronta minta dilepaskan sambil menoleh dengan pandang berat berpisah.
Thian-ih jadi heran, apakah ini permainan sandiwara atau main pura-pura.
Kalau dinilai dari ilmu silatnya, hanya beberapa prajurit biasa saja mana mampu membuat dirinya tak berkutik dan mandah saja diseret keluar, apakah maksud perbuatannya ini" Setelah semua orang keluar, pintu kuburan yang tebal dan berat itu ditutup lalu digembok dan dikunci dari luar, lantas keadaan dalam kuburan menjadi hening lengang.
Sinar pelita kelap-kelip memancarkan sinarnya yang redup, tampak wajah nan ayu jelita dalam peti mati itu sedemikian mempesonakan seakan terasa dalam dunia khayal belaka.
Dengan sabar Thian-ih menanti dan menanti, ditunggunya penjahat yang sembunyi dalam kuburan itu keluar supaya secara gampang dirinya membereskannya.
Sebenarnya sang waktu berjalan dengan cepat, namun bagi Thian-ih terasa sangat lambat sekali, keadaan yang sunyi lengang itu sungguh membosankan dan membuat Thian-ih semakin curiga dan waspada, mungkinkah orang itu sudah mengeloyor keluar pula, mengapa sekian lama ini dia masih belum keluar" Teringat akan keluar Thian-ih bercekat dalam hati, pintu kuburan sedemikian tebal dan berat terkunci lagi dari luar, cara bagaimana nanti dirinya harus keluar.
Tunggu punya tunggu akhirnya terdengar juga suara keresekan yang lirih dalam keheningan yang lelap itu.
Tahu Thian-ih bahwa penjahat itu mulai bergerak dan bertindak, terpaksa Thian-ih harus memusatkan perhatiannya terhadap orang dalam kuburan ini, entah nanti bakal dapat keluar atau tidak sudah tak terpikirkan lagi olehnya.
Dari kegelapan pojok depan sana berkelebat bayangan seorang yang mengenakan pakaian sepan warna hijau dan berkedok, perawakan orang itu kurus kecil, kedua tangannya menghunus sepasang senjata yang berbentuk aneh, senjata itu dinamakan Wan-yan-to-hun-siang-hoan (sepasang gelang belibis pencabut nyawa).
Sibaju hijau ini menyapu pandang keempat penjuru lalu merunduk hati-hati memeriksa keadaan sekitarnya.
Cepat-cepat Thian-ih mepet dinding sambil tahan napas, terasa angin berkesiur sibaju hijau lewat didepannya, untung benar jejaknya tidak sampai konangan.
Tidak lama kemudian sinar pelita semakin redup dan guram, mungkin sudah kehabisan minyak.