Thian-ih semakin gopoh dan gusar, tanyanya lagi: "Kim-heng, bagaimana kalau kupanggul pulang?" "Tidak......
tidak perlu......Ji-chengcu......apa kau tidak dengar......suara itu.....suara itu......" Thian-ih pasang kuping, lapat-lapat terdengar suara deburan air terjun dari kejauhan sana, suara itu bergema dan mendengung bagai derap langkah berlaksa kuda yang berpacu keras.
Kata Thian-ih: "Kim-heng, itu kan suara air terjun !" Kim Khe-sian tertawa getir sambil menggeleng, katanya lemah: "Bukan......itulah derap berlaksa kuda yang berlari kencang......lima belas tahun yang lalu......anak istriku......semua mati dibawah tapak kaki berlaksa kuda itu........selanjutnya......lantas aku mengasingkan diri menjadi pendeta......segala apa tiada yang kutakuti.....hanya suara derap langkah yang gemuruh itulah yang paling menusuk sanubariku......" Thian-ih menjadi gegetun, serunya: "Kim-heng, kuat dan tabahkan hatimu, hanya suara saja mengapa harus ditakuti ......marilah kita berangkat, biar kudukung kau......" Kim Khe-sian menggeleng kepala, sahutnya: "Tidak bisa......Ji-chengcu......Kim-k"am-gin-I .....keparat itu benar-benar jahat......dia tahu......tahu penyakit.......hatiku." Thian-ih hendak menyeretnya bangun dan meninggalkan tempat itu supaya tidak mendengar lagi suara yang menakutkan itu.
Tapi mendadak Kim Khe-sian bangun berduduk sendiri, seolah-olah semangatnya sudah pulih kembali, namun sepasang matanya terbelalak besar memancarkan sinar yang sangat aneh, sambil berduduk ia menggumam: "Lha itu mereka......anak dan istriku ......haha......kalian jangan takut, ada aku disini......ada aku disini......jangan takut dan jangan heran terhadap beribu atau berlaksa tentara berkuda.
Betapa tinggi kepandaian Kim Khe-sian ini masa tak mampu melindungi anak istri sendiri" Hehehe....
sungguh menggelikan!
Biar kubrantas para kurcaci dan iblis-iblis laknat seperti kalian "n" !" Habis berkata mendadak Kim Khe-sian menggerung keras terus melompat bangun dan menerjang keluar pintu sana.
Sisi kiri dari puncak gunung dimana mereka berada itu adalah jurang yang sangat curam, gema air terjun itu justru terdengar dari bawah jurang itu.
Begitulah sambil memutar tongkatnya secepat kitiran Kim Khe-sian menerjang kearah sana seperti harimau kelaparan.
Sudah tentu Thian-ih tidak tinggal diam, dengan kencang ia memburu sambil berteriak: "Kim-heng......Kim-heng....lekas berhenti ......
lekas.....
disana jurang......" Agaknya Kim Khe-sian tidak mendengar teriakan Thian-ih ini, dalam kegelapan malam tampak dia masih berlari kencang sambil mengobat-abitkan tongkatnya, begitu tiba dipinggir jurang terus tubuhnya melambung tinggi sambil mengayun tongkatnya......Waktu Thian-ih memburu tiba dipinggir jurang, disini sudah kosong melompong, bayangan Kim Khe-sian sudah tidak terlihat lagi.
Sedemikian dalam dan gelap gulita jurang itu, hanya terdengar gema air terjun yang gemuruh serta buih air yang memutih tertimpa sinar reflek yang kemilau.
Thian-ih termangu dipinggir jurang, hatinya sedih dan mendelu, kegusaran membuat hatinya pepat dan hilanglah segaia harapan.
Untung kesadaran masih menyinari benaknya, teringat olehnya akan tugas dan tanggung jawabnya yang berat, perlahan-lahan ia memutar tubuh terus tinggalkan tempat itu......
Sang surya mulai muncul dari peraduannya, alam jagat sudah terang tanah.
Thian-ih segan dan berat untuk berpaling lagi, sepagi itu seorang diri ia terus melanjutkan perjalanan mengejar jejak pembunuh durjana yang kejam itu.
Satu jam kemudian setelah menyusuri jalan pegunungan yang berliku-liku sampailah ia dibawah sebuah tebing yg datar, dimana terbentang sebuah jalan raya yg harus ditempuhnya menuju ke An-se, begitulah tanpa mengenal lelah Thian-ih terus melanjutkan pengejarannya.
Beberapa li kemudian, tiba-tiba terlihat olehnya debu mengepul tinggi dikejauhan depan sana, terlihat puluhan kuda tengah dipacu kencang menuju kearah dirinya, penunggangnya berpakaian ketat seragam, dipimpin oleh seorang busu (guru silat) yang berusia 30-an, wajahnya cakap garang, tangannya membekal sebuah tombak putih berkilat menyilaukan mata.
Jauh-jauh Thian-ih sudah mengenal orang yang tengah mendatangi ini, dia bukan lain adalah sitombak perak Tio Kong yang tenaganya sangat diandalkan oleh Ciu Hou untuk menyembunyikan diri.
Tapi agaknya sipanglima tombak perak tidak kenal Thian-ih lagi karena tubuhnya yang kotor, sebab perjalanan yang jauh ini ditimpah hujan dan dijemur matahari membuat sipemuda yang ganteng ini berubah rupa berganti ujut.
Terpaksa Thian-ih berteriak menghentikan mereka: "Tio-heng, harap berhenti sebentar!
Aku Thio Thian-ih adanya." Tio Kong dan rombongannya yang keburu lewat jauh cepat-cepat menghentikan kudanya dan putar balik, begitu saling berhadapan hampir bersamaan keduanya saling bertanya: "Ketemu Ciu Hou tidak?" Tersipu-sipu Tio Kong menambahkan: "Begitu mendengar kabar segera kupimpin anak buahku untuk menyambutnya, sepanjang perjalanan ini belum kutemukan jejaknya!" Thian-ih juga menutur pengalamannya singkat saja, mendengar Kim Khe-sian bunuh diri terjun kedalam jurang, Tio Kong terkejut dan gusar, katanya: "Sudah terang Ciu-heng lewat jalan ini, kukira saat ini dia masih berada disekitar sini, lekas berpencar dan carilah ke segala pelosok !" serentak semua orang berpencar ke segala penjuru untuk mencari jejak Ciu Hou.
Tak lama kemudian seorang anak buah Tiong Kong datang memberi lapor sambil menyerahkan seperangkap pakaian dan sebuah kunci.
Pakaian itu terang milik Ciu Hou, keruan bercekat hati Thian-ih, firasat jelek membuat hatinya tak tenang, mungkin juga Ciu Hou sudah menemui ajalnya, maka diperintahkan pula untuk mencari jenazahnya.
Matahari sudah doyong kearah barat namun mereka masih bertangan hampa, selain pakaian dan kunci itu tiada benda lain lagi yang diketemukan.
Ribuan li sudah ditempuh oleh Thian-ih untuk mengejar sipembunuh dan berusaha menyelamatkan Ciu Hou, sudah menghamburkan waktu melelahkan badan akhirnya yang dicari dan diuberi menghilang tanpa jejak seakan-akan telah ditelan kedalam bumi.
Memang tidak memalukan nama sipanglima tombak perak Tio Kong sangat diagungkan sebagai tokoh silat yang setia kawan dan berbudi luhur dan bajik, sekian hari lamanya mereka masih belum patah semangat untuk mencari dan mencari terus, jurang yang dalam serta lembah dan hutan lebat sudah dijelajahi semua, Ciu Hou tetap menghilang secara aneh, setelah semua sia-sia dan putus harapan akhirnya Thian-ih ambil perpisahan, kini seorang diri ia kembali pula menempuh perjalanan yang sudah diselusurinya waktu datang.
Musim panas didaerah barat ini memang luar biasa, badai angin menderu dan hawa juga sangat panas menyesakkan pernapasan, sebaliknya Thian-ih menempuh perjalanan dengan hati yang membeku sedingin es.
Teringat olehnya betapa besar harapannya waktu mengejar Ciu Hou semakin dekat, siapa duga setelah ribuan li kemudian, yang diperoleh hanya kehampaan saja.
Sampai bayangan sibaju perak saja juga tidak dilihatnya.
Waktu sampai dikota Cui-cwan dan melintas didepan Cui-sian-si, teringat olehnya betapa gagah perkasa pribadi Kim Khe-sian, namun hanya semalam saja jiwanya telah direnggut elmaut bersama beberapa murid-muridnya tanpa tempat kubur yang layak, pilu dan duka nestapa mericuh hatinya.
Malu rasanya untuk mampir atau menginjakkan kakinya lagi ke tempat suci itu, maka secara diam-diam ia mengeloyor lewat kembali menuju kearah timur.
Hari itu juga Thian-ih tiba dikota Buwi.
Diatas kuda ia berpikir, para Tongcu dari Kam-liang-pay itu ternyata adalah tokoh-tokoh pengecut yang hina dina, rasanya mereka harus diberi hajaran untuk melampiaskan rasa dongkolku ini.
Maka dalam malam yang gelap itu dengan mengenakan pakaian ringkas hitam secara diam-diam Thian-ih mendatangi markas besar Kam-liang-pay.
Agaknya kedatangan Thian-ih ini sangat kebetulan sebab ketujuh tokoh Kam-liang-pay itu tengah mengadakan perundingan dan sedang merancang suatu tindakan jual beli tanpa modal (merampok).
Mendengar rencana mereka yang keji dan kotor, diam-diam Thian-ih merasa gusar dan girang pula, gusar karena perbuatan yang bakal mereka laksanakan itu sangat terkutuk dan hina dina, girang karena dapat mengetahui rencana busuk mereka sehingga sebelumnya dirinya dapat berjaga dan menggagalkan rencana mereka secara sembunyi.
Ternyatalah bahwa mereka tengah merencanakan untuk membongkar sebuah kuburan orang untuk mencuri barang mestika yg ikut terpendam dalam kuburan itu.
Kebetulan kuburan yang hendak mereka bongkar itu bukan lain adalah kuburan Li Hong-gi, gadis rupawan putri Li-tayjin atau Tihu dan Ki-lam-hu itu.
Sebenarnya Thian-ih hendak turun kebawah berhadapan secara langsung dan membujuk mereka secara halus untuk membatalkan rencana yang terkutuk dan rendah itu, namun setelah dipikirkan lebih mendalam rasanya manusia rendah tamak harta benda takkan mudah diberi pengertian dan diinsafkan, bukan mustahil dari malu mereka naik pitam setelah rencana busuk mereka diketahui orang dan dirinyalah yang menjadi kambing hitamnya, kalau ini benar-benar terjadi bukankah dirinya bakal celaka, dan mati konyol" Apa pula dari pembicaraan mereka itu kelihatan bahwa mereka juga hendak buru-buru bekerja dalam satu dua hari ini.
Karena bukan mustahil kalau terpendamnya dua mutiara mestika dalam kuburan Li Hong-gi itu juga telah didengar oleh gembong-gembong penjahat lainnya, pasti banyak pula yang bakal mengincar.
Setelah mengetahui rencana rahasia tokoh-tokoh Kam-liang-pay itu secara jelas, Thian-ih tinggal pergi pula secara diam-diam, malam itu juga ia melanjutkan perjalanan ke timur, bagaimana juga dia harus setindak lebih dulu sampai di Ki lam untuk mengatur segala sesuatu dalam menggagalkan rencana busuk yang memalukan itu.
Diam-diam Thian-ih bertekad untuk melindungi kuburan gadis jelita itu dengan sekuat tenaganya, tak peduli apapun yang bakal terjadi.
Waktu lewat Thian-cui didengarnya pula bahwa Liong-gwa-hou-tiang siang-siang sudah meninggalkan rumah melakukan perjalanan jauh kearah timur beserta anak muridnya.
Thian-ih tahu kemana tujuan mereka maka diam-diam hatinya menjadi gugup, kudanya dipacu secepat terbang, dua hari kemudian tersusullah rombongan Li Ti yang berjumlah besar itu serta membawa perbekalan yang serba komplit.
Tanpa menimbulkan keributan dan kecurigaan orang Thian-ih sedikit memutar jalan dan terus mendahului menuju ke Ki-lam.
Tepat pada pertengahan bulan enam Thian-ih tiba di Ki-lam-hu dengan selamat.