20 li kemudian Kim Khe-sian larikan kudanya paling depan, cuaca sudah semakin petang, tiba-tiba didepan sana menghadang seorang hwesio cilik ditengah jalan, nyata itulah salah seorang murid Kim Khe-sian yang diutus untuk membuntuti jejak Ciu Hou.
Setelah memberi hormat dia melaporkan: "Ciu Susiok menempuh jalan kecil ini, dua orang kita telah menguntitnya terus." dari pertanyaan Thian-ih selanjutnya diketahui bahwa Ciu Hou baru lewat kira-kira empat jam yang lalu, lekas-lekas Thian-ih bersama Kim Khe-sian keprak kudanya mengejar dengan kencang.
Tak lama kemudian jalan pegunungan yang harus dilewati semakin jelek, lari kuda harus diperlambat.
Sekilas terlihat oleh Thian-ih sebatang pohon dipinggir jalan yang terpapas kulitnya samar-samar terlihat ada sebaris tulisannya.
Thian-ih berlaku cermat, disangkanya itu tanda-rahasia yang ditinggalkan oleh Ciu Hou siapa tahu, maka cepat ia panggil Kim Khe-sian terus mendekati pohon besar itu.
Karena hari sudah petang terpaksa salah seorang murid Kim Khe-sian menyumat obor, maka terlihatlah tulisan itu berbunyi: "Ciu Hou seorang kejam dan telengas, dia harus mampus disini dan saat ini juga.
Para sahabat dari Bulim yang ingin turut campur dalam urusan ini sukalah berpikir dulu sebelum bertindak.
Lebih baik kembalilah sampai disini saja.
Tertanda Kim-kiam-gin-i-khek, tertanggal sekian.
Kim Khe-sian gusar, tangannya sudah diayun hendak menggempur batang pohon itu, untung Thian-ih keburu mencegah sambil memperingatkan bukan mustahil batang pohon itu telah dilumuri racun berbisa.
Tapi Kim Khe-sian tak kuat lagi menahan amarahnya, tongkatnya diayun memukul batang pohon itu sampai patah dan roboh.
Begitulah dilain saat mereka sudah melanjutkan lagi pengejaran kearah barat, karena cuaca sangat gelap, Kim Khe-sian menyuruh kedua muridnya menyalakan obor.
Setelah melewati sebuah tikungan kira-kira sudah tiba disamping gunung, samar-samar terlihat oleh mereka sebuah kelenteng dikejauhan sana.
"Mari kita periksa kesana," demikian ajak Kim Khe-sian, segera dua muridnya yang membawa obor membuka jalan.
Setelah dekat terlihatlah pintu kelenteng itu tertutup rapat, dasar berangasan dan tak kuat menahan sabar tanpa banyak kata lagi segera Kim Khe-sian melangkah maju terus menendang daun pintu dengan kerasnya, kontan pintu yang kokoh kuat dan besar itu terpentang lebar dan bersamaan dengan itu terdengar suara gedebukan dari jatuhnya dua benda berat dibalik pintu sebelah dalam sana.
Keruan Kim Khe-sian beramai terkejut dan bersiaga, serentak mereka menghunus senjata serta melangkah masuk dengan hati-hati.
Waktu melihat apa yang telah terjadi seketika mereka berdiri melongo dan terheran-heran.
Ternyata dikanan kiri belakang pintu tergeletak dua sosok tubuh manusia, yang mereka kenali adalah murid-murid Kim Khe-sian yang diutus menguntit jejak Ciu Hou itu.
Waktu diperiksa ternyata tubuh mereka sudah kaku dingin, agaknya sudah sekian lama jiwanya melayang, adalah yang paling menggemaskan bahwa jenazah yang sudah kaku dingin itu ternyata dibuat ganjel pintu, waktu daun pintu ditendang Kim Khe-sian kedua mayat itu terpental jatuh gedebukan.
Keruan bukan kepalang pedih dan pilu rasa hati Kim Khe-sian, tanpa sadar diulurkan tangan sambil hendak mengangkat jenazah muridnya, tapi lagi-lagi Thian-ih mencegah memperingatkan akan racun yang jahat itu.
Sekonyong-konyong salah seorang murid Kim Khe-sian itu berteriak kejut sambil menunjuk sebuah guci arak diatas meja sembahyang, dibawah guci terselip secarik kertas yang penuh tulisan malah belum kering lagi.
Waktu dibaca tulisan itu berbunyi: "Pada malam yang kelam ini berkunjunglah pendeta pemabukan, tiada hidangan lain untuk melayani tamu agung, kudengar tuan seorang mulia ribuan cangkir takkan mabuk, silakan minum arak dalam guci ini, coba bisa mabuk atau tidak" Tertanda sibaju perak berpedang emas.
Perlahan-lahan Kim Khe-sian mencukil tutup guci, dibawah penerangan sinar obor terlihat arak dalam guci itu berwarna kehijau-hijauan, agaknya arak ini sangat keras baunya sampai menyerang hidung, tapi siapa yang berani minum arak beracun ini.
Sekian lama mereka memeriksa keadaan segala pelosok dalam kelenteng itu tanpa menemukan sesuatu yang mencurigakan, Kim Khe-sian menenggak araknya lalu berkata kepada Thian-ih, "Dilihat dari tulisan yang belum kering ini, kukira bangsat itu belum pergi jauh, mari kita kejar !" Thian-ih setuju, diam-diam hatinya memuji dan kagum.
Memang bukan nama kosong akan ketenaran nama besar Kim Khe-sian sebagai seorang laki-laki sejati, sekarang hasratnya lebih besar lagi untuk membekuk sipenjahat beracun itu, padahal ia tahu bahwa bahaya elmaut senantiasa mengancam jiwanya, namun dia pantang mundur dan terus mengejar musuh jahat itu.
Sebelum berangkat dipandangnya jenazah kedua muridnya dengan rasa perih dan duka.....
Begitulah dilain saat mereka sudah beranjak, diperjalanan ditengah pegunungan yang dikelilingi hutan lebat, belum jauh mereka berjalan sekonyong-konyong dua batang anak panah melesat keluar dari balik hutan sebelah samping sana, maka dilain kejap terdengarlah lolong kesakitan dari kedua murid Kim Khe-sian itu dan terus terjungkal dari atas kuda.
Thian-ih dan Kim Khe-sian melonjak kaget, tersipu-sipu mereka putar balik dan memburu kedalam hutan mencari jejak musuh, namun mereka kembali dengan tangan hampa.
Kim Khe-sian mengumpat caci menantang pembokong itu tanpa ada reaksi apa-apa.
Tiba-tiba Kim Khe-sian melompat keluar dan berjalan sempoyongan seperti orang mabuk menghampiri kearah jenazah muridnya, kali ini Thian-ih tidak keburu merintangi, diam-diam ia mengeluh dalam hati.
Tampak Kim Khe-sian menenggak araknya lagi terus menyumat obor yang padam itu.
Sekonyong-konyong sebatang anak panah melesat dari balik hutan sana langsung mengarah dadanya, tidak berkelit atau menyampok jatuh senjata rahasia ini Kim Khe-sian malah membusungkan dada, maka terdengarlah suara "tring" anak panah itu malah terpental jatuh sendiri tanpa melukai seujung rambutpun.
Keruan kejut dan heran Thian-ih bukan main.
Maka terdengar Kim Khe-sian menggerung keras terus melesat kearah datangnya anak panah sambil memutar tongkat besinya.
Thian-ih juga tidak ketinggalan mengejar dibelakangnya, terdengar Kim Khe-sian mengupat caci: "Bangsat anjing rendah!
Lekas menggelinding keluar, plintat-plintut terhitung orang gagah apa itu !" Dengan jurus Sian-hong-sau-yap (angin lesus menyapu daun) tongkatnya menyapu dengan dahsyatnya sehingga dahan pohon berjatuhan.
Dalam hutan sangat gelap dan sunyi, yang terdengar hanya gema makian Kim Khe-sian, sekian lama mereka ubek-ubekan tanpa menemukan jejak sipembokong itu, malah diketemukan pula tulisan diatas pohon yang berbunyi: "Ilmu weduk Kim Khe-sian memang harus dipuji, kutunggu kedatangan kalian dirumah batu diatas gunung, jangan lupa datanglah selekasnya.
Terlanda Kim-kiam-gin-i-khek.'' Keberanian dan ketabahan Kim Khe-sian memang tiada taranya, tanpa hiraukan mayat kedua muridnya lagi, dia terus berlari-lari pesat menuju ke puncak.
Memang di puncak tertinggi ini tegak sebuah rumah batu, dari kejauhan samar-samar terlihat sorot pelita yang menyorot keluar, keadaan disini sunyi lengang tanpa ada gerakan apa-apa.
Agaknya Kim Khe-sian terlalu mengandalkan Ilmu weduknya, tanpa gentar sedikitpun ia terus menerjang masuk.
Kuatir akan keselamatan orang Thian-ih juga membuntuti terus dibelakangnya dengan ketat.
Rumah batu ini hanya terdiri satu kotak ruang dengan peralatan rumah tangga yang sederhana, dimana hanya terdapat pembaringan batu, pelita dan jerami kering tanpa terlihat jejak manusia.
Dengan marahnya Kim Khe-sian menggeledah dan mengubrak-abrik semua pelosok ruang kecil itu.
Saking gemes dan dongkol akhirnya Thian-ih juga pentang bacot turut memaki: "Kim-kiam-gin-i-khek, lekas menggelinding keluar terima kematian!" Suaranya mendengung keras sampai menggetarkan rumah batu itu, mendadak dari atas tiang blandar jatuh sebuah kranjang kecil, didalam kranjang itu terlihat secarik kertas yang penuh tulisan pula.
Lekas-lekas Thian-ih memungut dan dibacanya: "Aku ke belakang gunung untuk membereskan Ciu Hou dulu.
Kiranya Lwekang Kim Khe-sian juga hanya kepalang tanggung, tak perlu aku turun tangan lagi, malam ini juga kau akan menemui ajalmu dalam rumah batu itu........" Thian-ih terkejut sambil menoleh, benar juga dilihatnya wajah Kim Khe sian pucat pias, kedua matanya redup badan gemetar dan napasnya juga memburu........
Tersipu-sipu Thian-ih maju menegur: "Kim-heng, kau kenapa?" Kata Kim Khe-sian lemah: "Ji-chengcu, cepatlah kau pergi menolong Ciu Hou, jalan dibelakang gunung ini dapat menembus langsung ke An-Se.
Kau harus dapat mengejar Ciu Hou dan menolongnya".kau"..kau lekas berangkat......" Sudah tentu Thian-ih tidak mau, tanyanya sambil memayang tubuh orang terus direbahkan diatas tanah: "Kim-heng, kau ......kau......kan tidak terkena racun, dimana kau merasa tidak enak badan?" Kim Khe-sian menjawab tergagap: "Aku.......aku tidak kena racun, tapi keracunan......di......
dalam hati......Kim-kiam-gin-i ini......dia sungguh lihay......" Thian-ih menyapu pandang kesekelilingnya, hanya pelita dalam rumah yang masih menyala terang, tapi tubuh Kim Khe-sian yang besar tromok itu semakin lemah dan terkulai.