Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 13

Memuat...

Sungguh sesal Thian-ih bukan main karena telah melukai So Tiong tadi siang.

Bahkan menurut cerita So Hoan tadi bahwa So Tiong adalah seorang bajik dan budiman, sejak kecil sudah tahu menyayang dan melindungi adiknya.

Inilah suatu pambek seorang jantan yang harus dipuji.

Tapi dirinya membalas kebaikan orang dengan sebuah tusukan pedang dipundaknya.

Saking gegetun ia termangu dan menggumam: "Siapakah orang itu" Untuk apa dia menghasut diriku?" "Aku juga belum jelas," tiba-tiba So Hoan menimbrung.

"Tapi berani kupastikan bahwa orang itu ada sangkut-pautnya dengan engkohmu.

Kematian Hek-san-siang-ing dan Kiau-si Hengte adalah perbuatannya atau kaki tangannya.

Hanya aku masih heran mengapa ia tumplekkan dosa-dosa ini ke pihak So-keh-pang kita" Apa mungkin ia bermusuhan dengan kita?" Agaknya kedua muda-mudi ini sudah mulai ada kata sepakat untuk menyelami persoalan itu bersama.

Maka tak segan-segan lagi Thian-ih tuturkan kejadian di ruang layon tempo hari dimana engkohnya pernah muncul mengambil pedang dan menggertak dirinya terus menghilang lagi entah kemana.

Tapi waktu peti mati diperiksa terang dan gamblang bahwa engkohnya memang sudah mati dan masih berbaring dengan tenang.

Lalu diceritakan pula pertemuannya dengan orang bernama To Yung itu, cara bagaimana orang memberi petunjuk pada dirinya untuk menuntut balas serta memberi advis supaya dirinya mempersunting adik musuhnya yaitu So Hoan sebagai istri.........

Bercerita sampai disitu Thian-ih merandek sejenak, melihat So Hoan tidak mengunjuk sesuatu reaksi akan ceritanya itu baru ia lanjutkan kisah perjalanannya.

Dimana dalam gardu itu telah tersedia air minum dengan tiga buah cawan, padahal mereka berempat.

Semua ini merupakan persoalan yang tak terpecahkan oleh otak Thian-ih.

Dengan cermat So Hoan ikuti cerita orang, sejenak ia berpikir lalu katanya: "Hal ini aku belum berani mengambil kesimpulan yang pasti dan menyeluruh.

Tapi yang terang orang misterius itu tak mengandung maksud jahat terhadap kau.

Malah berani kukatakan bukan saja tidak akan mencelakai kau mungkin juga melindungi keselamatanmu seumpama kau menghadapi bahaya.

Dari tiga cawan dalam gardu itu dapatlah dipastikan, sebagai orang yang berkepentingan dalam perjalanan itu tentu kau berlaku sungkan dan menyilahkan mereka minum lebih dulu, begitu mereka keracunan maka selamatlah jiwamu.

Besar dugaanku pada waktu mana pasti orang itu sembunyi disekitar gardu itu, seumpama secara ceroboh kau menggayung air hendak mendahului minum, pastilah dia akan menyambitkan senjata rahasia untuk menolong jiwamu.........Tentang pujiannya terhadapku dan tentang hubungan kita itu, kukira.........itu hanya maksud baiknya saja........." sebagai seorang gadis remaja ia malu memperbincangkan persoalan jodoh.

Sampai detik itu mereka masih tenggelam dalam pertanyaan yang belum terpecahkan, siapakah orang misterius itu" Dan apa maksud tujuannya" Yang jelas harapan dan tujuan orang itu sudah terkabul, bukankah saat mana So Hoan dan Thian-ih sudah rujuk dan sudah ada persesuaian hati, begitu wajar dan simpatik mereka bercakap-cakap seumpama kawan Angin malam menghembus dingin, karena jubahnya sudah dibuang So Hoan merasa kedinginan, cepat-cepat Thian-"h melepas jubahnya lalu didekapkan kebahu orang sambil katanya: "Sudah larut malam, mari kita pulang besok kita lanjutkan penyelidikan ini." So Hoan mengiakan sambil bangkit berdiri, mereka beriring melangkah keluar.

Waktu tiba dilamping gunung, tampak sekelompok orang tengah naik keatas sambil membawa obor.

Kiranya So Tiong menjadi kuatir melihat adiknya belum kembali sampai tengah malam itu, maka ia mengutus anak buahnya untuk mencari.

Begitu bertemu ditengah jalan legalah hati orang-orang itu.

Begitu sampai dan berhadapan dengan engkohnya So Hoan segera bercerita dengan muka berseri kepada engkohnya, bahwa kesalah pahaman ini sudah dibikin terang.

Sementara itu, Thian-ih juga maju mengunjuk salam hormatnya, begitu melihat balut dipundak So Tiong masih merembes darah, hatinya menjadi tak enak, cepat-cepat ia minta maaf dan nyatakan penyesalannya dengan kikuk dan risi.

So Tiong benar-benar seorang bijaksana yang berhati lapang, katanya tertawa riang: "Tidak apa, tidak apa, luka kecil ini tak menjadi soal.

Kami juga tidak bisa salahkan Ji-chengcu, semisal aku sendiri kalau mendengar hasutan manis itu juga akan percaya penuh.

Maka untuk selanjutnya Ji-chengcu marilah kita bekerja sama memecahkan persoalan rumit ini.

Tadi siang pihak kita telah berlaku kasar dan kurang hormat terhadap kau, harap kau suka memaafkan dan jangan ditaruh dalam hati." Secara jujur polos dan rendah hati So Tiong melayani tamunya, hal ini semakin membuat Thian-ih tidak enak.

Dalam percakapan itu So Tiong memberitahukan bahwa jenazah Kiau Sim telah dimasukkan dalam peti dan semua telah diatur beres.

Sekalian ia bertanya tentang kisah pengejaran jejak musuh diatas gunung tadi.

Secara ringkas So Hoan menuturkan bahwa jejak musuh telah menghilang dan susah dicari lagi, tapi kemungkinan besar masih sembunyi di puncak sana, tentang pengalamannya bersama Thian-ih didalam gedung bobrok itu tidak ia ceritakan.

Menginsyafi pentingnya persoalan ini, segera So Tiong perintahkan puluhan anak buahnya naik gunung untuk memeriksa dan berjaga supaya pelarian itu tidak sempat meloloskan diri, supaya besok pagi lebih mudah untuk serempak menggeledahnya.

Karena malam sudah larut So Tiong silakan Thian-ih untuk beristirahat.

Hari kedua, luka So Tiong masih belum sembuh hingga tidak leluasa untuk bergerak, terpaksa Thian-ih bersama So Hoan serta puluhan anak buah So-keh-pang yang naik ke atas gunung.

Menurut laporan anak buah yang berjaga semalam suntuk diatas itu mengatakan bahwa mereka tidak melihat atau menemukan orang atau bayangan yang meninggalkan tempat itu.

Besar harapan mereka untuk dapat menemukan jejak si pembokong gelap itu diatas gunung.

Sesampai di puncak anak buah So-keh-pang disebar keempat penjuru berjaga rapat disekeliling gedung bobrok itu.

Sementara itu, Thian-ih bersama So Hoan serta lima orang anak buahnya menggeledah seluruh pelosok gedung besar itu tanpa membawa hasil yang memuaskan.

"Mungkin orang itu telah meninggalkan gedung ini," demikian ujar So Hoan lesu.

Tapi Thian-ih belum patah semangat, sedemikian luas alam pegunungan ini, bukan mustahil orang itu sembunyi di belakang gedung dalam rimba sana.

Tapi So Hoan menerangkan bahwa belakang gedung sana adalah tebing yang curam, jangan kata manusia binatang atau burung juga susah terbang keatas sana.

Kalau So Hoan bersikap keras akan pendapatnya bahwa tak mungkin orang itu sembunyi kesana, namun Thian-ih membujuk untuk sekedar melihat-lihat saja.

Akhirnya mereka tiba dibawah tebing tinggi itu.

Segera So Hoan berseru heran dan menemukan apa-apa yang mencurigakan, katanya berbisik: "Memang diatas tebing agaknya ada orang!" Tebing curam dan tinggi ini ternyata ditumbuhi pohon-pohon jalar yang lebat.

Memang tebing ini sedemikian tinggi, agaknya binatang sebangsa kera dan burung saja yang dapat mencapai puncaknya sana.

Adalah yang mengherankan di kaki tebing terdapat bekas-bekas tapak kaki manusia, ini membuat Thian-ih dan So Hoan heran dan curiga, terpaksa mereka juga harus manjat atau merambat keatas, kelima orang anak buahnya disuruh menunggu dibawah.

Begitulah setelah sekian lama mereka bersusah payah merambat keatas sampai kedua tangan terasa pedas dan berdarah terkena duri mereka tiba diatas puncak yang merupakan sebidang tanah datar yang tak begitu luas.

Pelan-pelan dan hati-hati mereka beranjak maju kedepan, setelah membelok dan melewati segundukan tanah tinggi yang lebat penuh pepohonan, langkah mereka menjadi semakin perlahan-lahan dan waspada.

Agaknya daerah hutan sekitar sini belum pernah diinjak kaki manusia.

Diatas pohon banyak sekali kera-kera, besar kecil yang berjingkrak-jingkrak sambil cecowetan melihat manusia asing.

Berjalan maju lagi berapa langkah, mendadak So Hoan menarik lengan Thian-ih dan berkata lirih: "Berhenti dulu !

Coba lihat apakah itu?" Thian-ih memandang kearah yang ditunjuk, seketika ia berjingkrak kaget.

Dilihatnya ditengah-tengah diantara tiga pohon besar tergantung jala yang terbuat dari akar pohon tengah bergoyang-goyang, dalam jala itu rebah seorang yang sangat aneh, rambutnya sangat panjang dan terurai awut-awutan, tubuhnya dibungkus kulit binatang dan dedaonan seperti manusia liar.

Agaknya orang aneh ini tengah istirahat diatas ayunan itu, kepalanya dikerumuni beberapa ekor kera yg tengah mencari kutu diatas kepalanya, malah ada pula yang tengah menggerogoti buah-buahan untuk dijejalkan kemulut orang aneh itu.

Kera adalah binatang cerdik dan paling perasa, begitu Thian-ih dan So Hoan maju mendekat kera-kera itu menjadi ribut terus berloncatan keatas pohon.

Gerak-gerik orang aneh itu sangat lamban, begitu kera-kera itu ribut dan berlarian perlahan-lahan ia bangun berduduk dan berpaling, begitu melihat orang asing dihadapannya kedua matanya terbelalak liar terheran-heran.

Mendadak orang aneh ini bersuit panjang suara terdengar sedih memilukan, tahu-tahu tangannya diulur untuk mencengkeram kearah So Hoan.

Keruan So Hoan berjingkat kaget dan belum sempat ia mencabut keluar pedangnya, Thian-ih keburu mencegah: "Jangan!

Biar aku layani dia !" Thian-ih maju dua langkah, kedua kepelan tangan diacungkan kedepan satu memakai cengkraman tangan sedang tangan yang lain menjojoh perut orang aneh itu.

Agaknya si orang aneh merasa terancam bahaya, tiba-tiba tubuhnya berkelebat miring terus sedikit membungkuk kedepan sambil merangkap kedua tangan didepan dada, inilah jurus yang dinamakan Tong-cu-pai-hud (anak kecil menyembah sang Budha).

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment