Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 09

Memuat...

Belum jauh mereka berlalu mendadak terdengar suara ringkik kuda yang agak ganjil.

Thian-ih terkejut dan segera memburu maju.

Masih sempat terlihat olehnya Kiau Keng terjungkal dari atas kudanya terkena sebatang anak panah.

Dilain kejap Kiau Sim memutar kencang senjatanya melesat keatas batu gunung mencari jejak musuh yang telah membokong dengan anak panah tadi.

Lekas-lekas Thian-ih memburu tiba didekat Kiau Keng yang terkapar ditanah, sebatang anak panah menancap dalam diatas pundaknya, darah yang mengalir keluar berwarna hitam, terang panah itu beracun.

Keruan Thian-ih kelabakan, cepat ia keluarkan obat berusaha menolong, anak panah itu menancap sangat dalam, setelah susah payah baru dapat dicabut keluar.

Namun Kiau Keng sudah tak ingat diri, napasnya kempas kempis badan mulai kaku.

Tak lama kemudian Kiau Sim kembali tanpa hasil, gusar dan duka mengaduk hatinya.

Saat mana cuaca sudah mulai petang, kuatir musuh datang membokong lagi, mereka menjaga bergantian.

Sementara itu Kiau Sim tengah bekerja keras mengorek dan memotong daging disekitar luka dipundak Kiau Keng untuk mencegah hawa racun menjalar.

Tapi agaknya usahanya sia-sia belaka, karena racun sudah meresap kedalam tulang dan mengalir mengikuti aliran darah terus menerjang jantung.

Badan Kiau Keng semakin hitam, keadaan ini seperti kematian Hek-san-siang-ing yang telah mendahului menghadap Giam-lo-ong.

Selang tak berapa lama napas Kiau Keng mulai sesak, tubuhnya kejang dan dingin.

Thian-ih berdua hanya mendelong saja tanpa dapat berbuat banyak.

Tatkala itu sang malam telah mendatang, keadaan dalam lembah pegunungan sangat gelap menakutkan, angin malam menghembus keras menderu-deru.

Thian-ih berdua tak berani gegabah, sampai tengah malam mereka masih bersitegang leher, akhirnya Kiau Keng menghembuskan napas juga.

Kiau Sim jatuh pingsan mengantar keberangkatan arwah engkohnya.

Anak panah yang menancap dipundak Kiau Keng mirip benar dengan panah yang menancap ditiang gardu tempo hari, diatas batang panah itu terukir seekor kelabang terbang pertanda julukan So Tiong.

Tak lama kemudian selesai mereka mengubur Kiau Keng, haripun terang tanah, Thian-ih berdua melanjutkan perjalanan.

Waktu berangkat mereka berempat, kini tinggal berdua saja, didepan masih banyak rintangan yang diatur So Tiong untuk menjebak dan mencelakai jiwa mereka.

Setiap tindak mereka maju semakin tertekan perasaan hatinya, was-was dan takut.

Pada tengah hari itu baru mereka sampai di ambang pintu besar markas besar So-keh-pang yang tertutup rapat, sedemikian indah dan megahnya bangunan So-keh-pang ini dikelilingi pagar tembok yang tinggi, diluar tembok dilingkari pula sungai yang lebar dan dalam, jembatan gantung terkerek tinggi, naga-naganya mereka sudah bersiap menanti kedatangan Kalau menurut adat Kiau Sim yang berangasan ingin segera ia menyerbu masuk.

Tapi Thian-ih mencegah katanya: "Kita belum tahu seluk beluk mereka, lebih baik kita bertindak secara hormat bertandang." Tiba di ujung jembatan gantung Thian-ih dan Kiau Sim hentikan kudanya, segera Kiau Sim berteriak memperkenalkan diri dan minta bertemu dengan pihak tuan rumah.

Tidak berapa lama pintu besar perlahan-lahan dibuka, jembatan gantung juga diturunkan.

Disusul pasukan berkuda yang dipimpin dua muda mudi berjalan keluar.

Pakaian mereka mewah menyolok, dari gerak gerik mereka dapat diketahui bahwa mereka tidak membekal senjata.

Begitu angkat senjata Kiau Sim hendak menerjang maju, untung Thian-ih keburu mencegah serta bujuknya: "Sim-heng, jangan berlaku sembrono dan kurang adat.

Kita sudah berhadapan masa kuatir mereka bisa terbang kelangit" Berlaku hati-hati dan bertindak melihat gelagat, sebelum terang duduk perkaranya janganlah turun tangan." Sementara itu, So Tiong dan So Hoan sudah mendatangi.

Waktu ditegasi ternyata So Tiong adalah seorang pemuda yang gagah berusia 20-an, setelah dekat segera ia angkat tangan memberi salam dan katanya berseri: "Ji-chengcu dan Kiau-toako datang dari jauh, kita berdua tidak keburu menyambut lebih pagi harap dimaafkan.'' tingkah lakunya sangat hormat dan kenal sopan santun, nada perkataannya juga lemah lembut.

Entah tersembunyi muslihat apalagi dibelakang mulutnya yang manis merdu itu.

Thian-ih masih dapat menahan perasaan, lain halnya dengan Kiau Sim yang kasar, karena geram air mukanya merah padam, napasnya tersengal-sengal menahan gusar.

So Tiong heran melihat sikap tamunya yang ganjil ini, namun lahirnya ia berlaku tenang, katanya: "Tuan-tuan tentu capek melakukan perjalanan jauh, silakan beristirahat di-dalam sambil bercakap-cakap !" lalu ia pimpin Thian-ih berdua memasuki markas besar So-keh-pang.

Diam-diam Thian-ih waspada dan bersiaga.

Kiau Sim juga tidak kalah tegang, senjatanya dicekal kencang.

Beramai-ramai mereka memasuki sebuah ruangan besar, dimana biasanya partai keluarga So sering mengadakan sidang atau rapat ditempat ini.

Begitu melangkah kedalam ruangan besar ini Kiau Sim semakin bersitegang leher, matanya mendelik jalang, sikapnya kasar dan garang.

Sekilas So Tiong melirik kearah So Hoan sambil mengerutkan alis, berbagai pertanyaan mengaduk dalam benaknya.

Segera ia perintahkan bawahannya untuk menyediakan meja perjamuan, dengan sikap manis dan sabar So Tiong terus layani tamu-tamu aneh yang tak diundang ini.

Kiau Sim sudah berulang kali hendak mengumbar wataknya, tapi Thian-ih berlagak pikun dan menggeleng kepala tanda tak setuju.

Selesai mereka mandi dan ganti pakaian, sementara itu meja perjamuan juga sudah siap sedia.

Dengan hormat So Tiong dan adiknya menyilakan para tamunya duduk.

Lantas So Tiong angkat sebuah cawan arak seraya berkata: "Atas kunjungan Ji-chengcu dan Kiau-toako ini bila kami menyambut kurang sempurna harap kalian suka memberi maaf.

Dengan secawan arak ini kami berdua sampaikan salam hangat dan kami ucapkan selamat datang !" "So Tiong!" tiba-tiba Kiau Sim membentak keras sambil menggebrak meja.

"Ditengah jalan kau sudah meracuni engkohku sampai mati, apa sekarang kau hendak mencelakai jiwaku pula." So Tiong berjingkrak kaget, serunya: "Kiau Toako, apa-apaan omonganmu ini, mana aku ada maksud mencelakai kalian?" Kiau Sim semakin beringas, teriaknya: "Arak beracun dalam cawan ini apa kau berani minum?" "Sungguh lucu dan menggelikan," seru So Tiong agak dongkol karena dituduh semena-mena, "Mengapa aku harus takut?" dengan langkah lebar ia memutar menghampiri tempat Kiau Sim lalu sekali tenggak ia kosongkan cawan arak orang.

Setelah sekian lama dinati-nantikan tiada tampak reaksi apa-apa keruan Kiau Sim tercengang dan malu.

Sebaliknya So Tiong tertawa gelak, ujarnya: "Aku So Tiong selama hidup menghadapi sobat secara jujur.

Kiau-toako agaknya terlalu banyak curiga, biarlah semua hidangan disini kita coba dulu, apakah ada tercampur racun atau tidak." Seorang pelayan segera maju menuang arak dalam dua cawan besar.

Tanpa sungkan-sungkan So Tiong dan So Hoan mendahului meneguk arak dalam cawan itu, lalu So Tiong angsurkan cawannya kepada Kiau Sim.

Sedang So Hoan dengan wajar tanpa rikuh-rikuh membawa cawannya kehadapan Thian-ih, dengan laku sangat manis ia haturkan secawan arak itu sambil berkata: "Ji-chengcu silakan kau juga minum." Keruan kejadian ini membuat Thian-ih berdua merasa canggung dan tak enak hati, akhirnya terpaksa Thian-ih buka suara coba memancing: "Pertama-tama sukalah kalian memaafkan kedatangan kita yang lancang dan merepotkan ini.

Soalnya engkohku Thio Thian-ki kedapatan meninggal dalam wilayah ini, berkat bantuan kalian baru jenazahnya dapat dihantar pulang.

Maka dengan kesempatan ini aku Thio Thian-ih menghaturkan beribu-ribu terima kasih!" "Kalau dikata memang sangat disesalkan," demikian sahut So Tiong, "Engkohmu memang teraniaya dan meninggal secara mengenaskan didalam gedung bobrok bekas markas kita dulu, tapi hakikatnya kita tidak tahu menahu tentang kejadian itu sebelumnya, ini harus dibuat malu, jejak musuh pula belum kita ketemukan, ini merupakan noda hitam bagi kaum kita." waktu berkata wajahnya mengunjuk rasa cemas dan menyesal tak terhingga.

Sebaliknya Thian-ih membatin: "Bangsat ini pintar pura-pura dan main sandiwara untuk mengingkari dosanya." Ia mendengus lalu desaknya lagi: "Kudengar bahwa Sutitku Hi Si-ing berada disini, harap sukalah dibawa keluar untuk menemui aku." So Tiong terkejut, tanyanya: "Siapa bilang Hi Si-ing berada disini.

Jangan toh melihat kenalpun tidak pada Hi Si-ing apa segala.

Memang dari Ciu-toako kita dengar bahwa Hi Si-ing itu jatuh pingsan disamping jenazah Suhunya waktu ditemukan oleh Ciu Hou.

Tapi waktu Ciu Hou membawa kita kembali kesana ternyata Hi Si-ing itu telah lenyap entah kemana perginya?" Sudah tentu Thian-ih tidak akan mau percaya pada keterangan ini, karena menurut hematnya kenyataan sudah membuktikan bahwa So Tiong inilah biang keladi pembunuhan itu, tapi masih berani mungkir, agaknya perlu ditelanjangi dengan bukti-bukti muslihatnya baru nanti membuat perhitungan, maka sambil menahan gusar segera ia hendak membuka mulut, tapi keburu didahului oleh Kiau Sim, terdengar ia bicara dengan suara sember: "So Tiong, dengan alasan apa kau meracuni Hek-san-siang-ing, ditengah jalan telah membokong engkoh pula sehingga tewas.

Kau......

kau masih berani mungkir?" habis berkata segera ia memburu maju sambil mengulur tangan mencengkeram dada So Tiong.

Sigap sekali So Tiong lompat menyingkir sambil serunya kejut: "Kiau-toako, tahan!

Ada omongan baiklah dirundingkan mengapa main kekerasan!

Kau menuduh aku meracuni Hek-san-siang-ing dan engkohmu, apakah artinya ini?" "Apa artinya?" hardik Kiau Sim beringas, "Hatimu lebih tahu.

Hari ini kau harus menebus jiwa mereka bertiga." Kala ini ia menggerakkan senjata hendak menyerang pula.

Tapi dari samping So Hoan menyela: "Kiau Tayhiap, mengapa kau bolehnya menuduh engkohku.

Sebetulnya apa alasan kita untuk membunuh orang yang tidak bermusuhan dengan kita.

Apakah tuduhanmu ini tidak semena-mena, kau berani menuduh pasti mempunyai bukti-bukti, jangan sok mau menangnya sendiri!" Tanpa banyak bicara lagi Kiau Sim merogoh keluar bungkusan kulit kijangnya terus dibeber diatas meja.

Serta melihat isi dalam buntalan itu tanpa merasa So Tiong berdua tercengang dan saling pandang.

Post a Comment