Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 06

Memuat...

Serta melihat senjata yang digunakan untuk melerai pertempuran tadi tanpa merasa semua orang tersenyum dan tertawa geli.

Ternyata benda atau senjata yang digunakan untuk memisah tadi adalah seutas tali rumput yang semula menggubat dipinggangnya.

Disamping memuji merekapun merasa kagum tak terhingga, coba bayangkan hanya seutas tali rumput saja ternyata kuat untuk menahan ruyung dan kipas yang terbuat dari baja, ini masih belum yang lebih hebat adalah bahwa orang yang menggunakan senjata tali ini pasti Lwekangnya sudah mencapai puncak tertinggi sehingga secara tepat ia dapat memisah sama tengah.

Sambil tersenyum lebar terdengar Thian-ih bicara: "Kesalahan paham kalian adalah karena urusan Siaute, hal ini sungguh harus disesalkan.

Harap sukalah kalian memaafkan dan menyudahi pertempuran ini." Tindakan Thian-ih ini boleh dikata sangat tepat dan jujur, bukan saja sikapnya ini menempatkan dirinya sama tengah merendahkan diri pula.

Sudah tentu Ciu Hou dan Siu Kheng-in menjadi serba salah dan tak enak diri untuk meneruskan pertempuran tanpa juntrungan.

Segera Ciu Hou membalas hormat serta katanya: "Ji-chengcu aku masih ada urusan penting, maaf kalau aku harus segera berangkat.

Tentang kematian engkohmu, silakan kau berangkat ke Ci-hong-san untuk menyelidiki dan melihat dari dekat.

Hanya ada yang perlu saya tekankan bahwa peristiwa kali ini tiada sangkut-paut apa-apa dengan So-keh-pang!

Untuk hal ini kumohon kebijaksanaan Ji-chengcu dikemudian hari." Cepat-cepat Thian-ih membalas hormat serta nyatakan terima kasih akan bantuan orang yang tidak kecil artinya, lalu katanya menambahi: "Dendam kesumat ini bagaimana juga harus kubalas, seperti nasehat Ciu-heng tadi, pasti aku harus bertindak hati-hati dan waspada melihat kenyataan.

Berkat bantuan Ciu-heng sehingga jenazah Toako dapat diantar pulang, budi serta bantuan besar nasehat-nasehat berharga tadi pasti akan kuingat sepanjang masa." Tanpa banyak kata lagi Ciu Hou segera ambil berpisah dengan semua hadirin, banyak juga yang membalas salam perpisahan ini.

Sementara orang-orang yang berpihak pada Kiau-si Hengte dan Siu Kheng-in masih penasaran, mereka mengantar keberangkatan Ciu Hou dengan pandangan dongkol dan penasaran.

Setelah Ciu Hou berlalu hidangan diganti yang baru, uap masih panas, beramai-ramai para tamu mulai gegares hidangan-hidangan sederhana dengan lahapnya.

Hanya Siu Kheng-in seorang yang tepekur sedih ditempat duduknya, hatinya duka dan nestapa akan kematian adiknya itu.

Tengah makan minum itu, mendadak Kiau Keng angkat bicara lagi: "Ji-chengcu, kapan kau berangkat ke Shoa-tang?" "Setelah semua urusan disini beres.

Kira-kira besok lusa aku berangkat." "Kepergian Ji-chengcu ke Shoatang adalah untuk menuntut balas, sebagai seorang kawan yang setia dari engkoh-mu tidak bisa tidak kami harus turut membantu.

Biarlah secara sukarela Kiau-si Hengte mengorbankan segalanya untuk mengiringi keberangkatanmu.

Entah masih ada lain sahabat mana yang ingin ikut serta?" Sungguh diluar dugaan reaksi para hadirin ternyata dingin-dingin saja.

Ternyata hanya Siu Kheng-in seorang yang ingin ikut.

Segera Thio Thian-ih berseru lantang: "Aku yang rendah tidak berani membikin repot para sahabat, biarlah urusan keluarga ini Siaute hadapi sendiri seumpama pihak musuh terlalu tangguh barulah aku minta bantuan sekadarnya dari para sahabat saja." Segera Kun-suseng Liok Pek-ing Pangcu dari Ho-bwe-pang dari Kanglam membuka suara: "Arus gelombang sungai Tiangkang dari depan mendorong kedepan.

Orang muda menggantikan orang tua.

Ji-chengcu adalah angkatan muda yang gagah perkasa seumpama naga.

Berpendirian teguh dan cermat dalam segala bidang.

Seperti apa yang dikatakan tadi, kita ini memang golongan kasar yang selalu repot dengan segala urusan tetek-bengek.

Menurut hematku biarlah kita berpencar menurut arah masing-masing untuk ikut menyelidiki peristiwa ini.

Seumpama kelak Ji-chengcu dapat menemukan musuh besarnya dengan secarik kertas saja kiranya cukup untuk mengundang kita beramai untuk datang membantu.

Betapapun lihay ilmu silat musuh, dibawah tekanan persatuan kita beramai apa lagi yang harus Dalam makan minum ini, suasana menjadi ramai lagi dengan berbagai percakapan panjang lebar.

Memang semua hadirin boleh dikata adalah sahabat karib Thio Thian-ki semasa masih hidup.

Terhadap pribadi Thio Thian-ih mereka hanya kenal kulitnya saja.

Maka banyak yang ingin tahu akan asal-usul kepandaian silat Ji-chengcu yang lihay itu.

Thian-gwa-hong Co Lan-pui adalah seorang kelana yang banyak pengalaman dunia Kangouw maka tidaklah heran dia yang menjadi sasaran pertanyaan ini.

Tatkala itu Thian-ih sedang mengundurkan diri untuk mengurus jenazah Siu Tat-in.

Kesempatan inilah digunakan untuk menutur dan memperkenalkan segala sesuatu mengenai pribadi Thio Thian-ih.

Kiranya usia kakak beradik keluarga Thio ini terpaut sangat banyak.

Ternyata Thio Thian-ki lebih tua 20 tahun lebih dari adiknya.

Menurut ceritanya waktu melahirkan adik kecilnya ini, yaitu Thian-ih, usia orang tua mereka sudah agak lanjut dan tak lama kemudian beruntun meninggal dunia.

Maka tugas momong dan membimbing adiknya ini jatuh pada bahu engkohnya yang sudah dewasa.

Semasa masih muda Thio Thian-ki pernah mendirikan sebuah perusahaan pengangkutan.

Pedang Loh-kim-po-kiam adalah tinggalan leluhurnya yang telah ikut menjunjung tinggi nama perusahaannya yang semakin besar dan berkembang.

Bertahun-tahun dia malang melintang hingga lama kelamaan namanya tenar dan sangat disegani di kalangan Kangouw.

Waktu Thian-ih menanjak usia 10 tahun, Thian-ki pulang ke Title dalam keresidenan Sam-ho ini dan mendirikan perkampungan Thio-keh-cheng.

Maka sejak saat itu Thio Thian-ki lantas mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan dan memperdalam ilmu silatnya dalam pengasingan ini.

Setiap tahun hanya sekali dua saja dia pergi meninggalkan perkampungan mengurus keperluan, maka banyak waktu yang terluang untuk mengajar silat kepada adik kecilnya yaitu Thian-ih.

Waktu Thian-ih berusia 15, Thian-ki membawanya ke Kiam-hun-san It Ho Kisu untuk dijadikan murid orang berilmu ini.

Kiam-bun-it-ho demikian nama julukan guru Thian-ih itu adalah seorang angkatan tua yang berilmu sangat tinggi, tiada seorangpun yang mengenal riwayat hidupnya.

Konon kabarnya pernah pada 30 tahun yang lalu waktu It Ho Kisu melancong ke Kanglam.

Suatu ketika ia tiba di Hangciu menunggang seekor bangau terbang lewat diatas Se-Ouw (telaga barat) kejadian ini menimbulkan rasa tak puas pada Chit-lo atau tujuh orang tertua daerah selatan yang kenamaan dengan sebutan Leng-hun-chit-lo.

Dalam suatu pertengkaran akhirnya dijanjikan untuk mengadu kepandaian diatas puncak Leng-hun.

Ternyata dalam pertempuran yang tidak diketahui kalayak ramai sebelumnya ini, dengan gampang Chit-lo telah dikalahkan satu persatu.

Maka sejak saat itu nama Kiam-bun-it-ho yang masih muda remaja semakin menanjak tinggi dan menggemparkan Bulim.

Begitulah semakin besar dan tenar namanya semakin membuat banyak orang sirik terutama para lawan atau saingannya sehingga melibatkan banyak kesukaran.

Maka berbondong-bondong kaum persilatan yang mencari jejaknya untuk diajak adu kepandaian.

Tapi karena jejaknya tidak menentu dan susah dicari maka banyak yang kecele.

Memang sejak dapat mengalahkan Chit-lo, jago muda ini terus melenyapkan diri dan tak terdengar pula kabar ceritanya.

Beberapa tahun kemudian baru diketahui bahwa beliau ternyata telah mengasingkan diri di puncak Kiam-bun-san.

Pernah terjadi pula sebanyak lima belas tokoh-tokoh silat dari berbagai aliran di utara meluruk datang ke Kiam-bun-san ini untuk menantang berkelahi.

Bagaimana kesudahan adu kepandaian itu tiada seorangpun yang tahu.

Yang terang sejak adu kepandaian itu, kelima belas tokoh-tokoh silat itu lantas menutup pintu mengasingkan diri.

Sejak mana maka nama Kiam-bun-it-ho semakin menanjak tinggi dan menggetarkan dunia persilatan.

Banyak para angkatan muda yang mencari jejaknya pula namun mereka hanya ingin diambil sebagai murid atau hendak berguru kepada beliau.

Tapi mereka semua kembali dengan kecewa karena setelah menjelajah lembah curam dan hutan lebat mengalami berbagai rintangan dan bahaya, bukan saja jejak Kiam-bun-it-ho tidak diketemukan malah banyak yang jiwanya melayang secara sia-sia karena mengalami berbagai kecelakaan.

Demikian juga Thio Thian-ki bukan sedemikian gampang dapat menemukan jejak orang kosen itu.

Sebanyak lima kali ia memanjat Kiam-bun-san, baru yang terakhir dapat menemukan tempat pengasingan orang kosen ini.

Beruntung Thian-ih diterima menjadi muridnya.

Maka sejak berusia lima belas Thian-ih belajar ilmu silat kepada guru besar yang kenamaan ini, selama beberapa tahun ia digembleng luar dalam diatas gunung menjadi orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Selama bertahun-tahun diatas gunung hanya setiap tahun baru saja ia turun gunung kembali ke rumah untuk berkumpul dengan keluarganya.

Thio Thian-ki mengundurkan diri dimasa jaya-jayanya sudah tentu hal ini menimbulkan rasa heran dan banyak pertanyaan diantara para sahabatnya.

Hidupnya sangat bersahaja, sifatnya agung dan suka membela yang lemah dan terbuka tangan lagi untuk menolong yang sengsara.

Maka khalayak ramai memberi julukan Seng-po-sat atau si Budha hidup kepada si dermawan ini.

Kalau diluaran Sang Budha hidup terkenal sangat budiman, namun sebetulnya hidup kekeluargaan Thio Thian-ki ternyata mengalami banyak penderitaan batin.

Karena selama beberapa tahun dia menikah namun belum dikaruniai anak, maka Thian-ih dipandang sebagai anak didiknya yang paling disayang.

Setiap tahun adiknya pulang sekali kerumah untuk merayakan tahun baru beberapa hari terus kembali ketempat perguruannya, memang setiap Thian-ih berada di rumah baru kelihatan kegembiraan Thio Thian-ki, tapi sekembali adiknya keatas gunung wajahnya selalu muram dan bersungut tak gembira.

Mungkin karena tidak betah tinggal dirumahnya pada suatu hari ia berangkat pergi entah merantau kemana, setelah beberapa bulan berlalu mendadak didapat kabar jelek tentang terbunuhnya Thio Thian-ki secara misterius.

Sedemikian besar rasa kasih sayang Thio Thian-ki terhadap adiknya kecil ini.

Post a Comment