Halo!

Rahasia Si Baju Perak Chapter 02

Memuat...

Kelihatannya daya luncuran senjata rahasia ini sangat lamban, namun mengeluarkan suara mendenging yang keras.

Dari sini dapatlah dibayangkan betapa tinggi Lwe-kang pelepas senjata rahasia ini.

Perlahan-lahan tapi pasti senjata rahasia itu mengarah lambung Thio Thian-ki.

Semut saja masih ingin hidup apalagi manusia, demikian juga keadaan si baju perak, insaf bahwa dirinya menghadapi elmaut sekuat tenaga dia coba meronta.

Namun agaknya usahanya sia-sia, karena senjatanya tergencet sedemikian kencang dan tak mampu berkutik sedikitpun jua.

Sementara itu, begitu melihat Suhunya menghadapi bahaya, tanpa sangsi lagi segera pemuda yang sembunyi dibawah jendela itu menyambitkan senjata rahasianya sekuat tenaga.

Maka terdengarlah suara berdenting, tepat sekali senjata si pemuda membentur senjata rahasia berbentuk tombak pendek itu.

Tapi bukan saja senjata rahasia berbentuk tombak pendek itu tidak terbentur jatuh malah daya luncurnya semakin cepat, sedang senjata rahasia si pemuda terpental balik entah kemana.

Dalam pada itu, Thio Thian-ki masih berkutat sekuat tenaga berusaha membebaskan diri, serta melihat bentuk senjata rahasia yang meluncur tiba itu, seketika ia terkesima, wajahnya mengunjuk rasa takut dan menyesal.

"Bles", tanpa ampun lagi dengan telak senjata rahasia itu menancap amblas sampai seluruhnya ke dalam perut Thio Thian-ki.

Thio Thian-ki melolong panjang kesakitan, suaranya menggetarkan gedung dan alam pegunungan.

Pemuda yang mengintip dibawah jendela menggigil dan sempoyongan mundur, hampir saja dia jatuh kelengar melihat penderitaan Suhunya yang meregang jiwa sebelum ajal.

Lantas terdengar pula suara serak si orang tua berkata: "Angkat masuk !" Beramai-ramai kelima orang seragam hitam itu mengusung tubuh Thio Thian-ki kedalam sana.

Tersipu-sipu si pemuda melayang masuk kedalam ruang besar, dimana buntalan besar Thio Thian-ki tadi masih menggeletak diatas tanah.

Mulut kantongan besar itu masih terbuka lebar, dibawah penerangan sang putri malam terlihat jelas apa isi kantongan besar itu.

Hanya sekilas pandang saja kontan tergetar tubuh si pemuda seperti terkena aliran listrik.

Sekian lama dia termangu dan terkesima di pinggir buntalan besar itu, rona wajahnya bergantian memucat.

Sekonyong-konyong ia berteriak keras histeris seperti orang kehilangan ingatan terus menerjang masuk ke dalam kemana kelima orang tadi menghilang.

Tampak oleh sipemuda tubuh Thio Thian-ki terbujur di atas lantai, jubah pakaian dan kedok peraknya sudah ditanggalkan jadi tubuhnya telanjang bulat, seluruh tubuhnya berlumuran darah.

Begitu melihat kematian sang Suhu yang seram dan mengerikan ini, rasa seram, benci dan putus asa berkecamuk dan merangsang dalam benaknya, saking tak tahan kepala terasa berkunang-kunang tubuhnya menjadi lemas dan meloso jatuh pingsan di sisi mayat Suhunya.

Tak lama kemudian dari samping serambi sana berjalan keluar enam orang seragam hitam menghampiri ke arah dua sosok manusia yang terbaring di lantai itu, salah seorang diantara mereka meletakkan secarik kertas diatas jenazah Thio Thian-ki lalu bergegas meninggalkan gedung bobrok yang seram menakutkan ini.

Tak lupa mereka jinjing dan membawa pergi buntalan besar yang dibawa oleh Thio Thian-ki.

"Srek srek...............srek srek.................." suara keresekan daun kering terinjak tapak kaki terdengar pula, hanya kali ini lebih ramai dan semakin menjauh, sinar sang putri malam semakin doyong ke barat, angin malam sepoi-sepoi sejuk, alam pegunungan kembali menjadi sunyi senyap.

Satu minggu setelah peristiwa kematian Thio Thian-ki.

Terlihat suatu kesibukan di perkampungan Thio-keh-cheng yang terletak dua puluh li sebelah timur keresidenan Sam-ho dalam wilayah Ho-pak.

Tampak lalu lintas hilir mudik di luar perkampungan, ada kereta, ada pedati, ada kuda tunggangan, dan manusia berjalan kaki berlalu lalang dengan sibuknya.

Thio-keh-cheng yang biasanya sepi kini menjadi sedemikian ramai dengan kunjungan tamu-tamu yang menunggang kuda berdatangan tak putus-putus.

Si petugas penyambut tamu bekerja keras dan repot luar biasa, pakaian mereka sampai basah kuyup oleh keringat.

Semua warga Thio-keh-cheng mengenakan pakaian putih belaco tanda berkabung karena meninggalnya sang majikan.

Tiba-tiba terdengar kelintingan diiring derap kaki kuda yang ramai tengah mendatangi.

Dua ekor kuda membedal cepat mendatangi sampai diluar perkampungan, kedua orang penunggang kuda adalah dua laki-laki gagah bertubuh tegap dan garang, berusia 40-an, sikapnya bersemangat kedua mata mereka berkilat terang.

Begitu turun dari atas kuda tanpa hiraukan lagi tunggangannya terus terburu-buru melangkah lebar setengah berlari masuk kedalam perkampungan.

Siang-siang sudah ada seorang centeng lari masuk memberi laporan di dalam rumah : "Kiau-toaya dan Ji-toaya dari Ki Wan Piau-kiok telah tiba!" Kiranya dua orang gagah ini adalah kakak beradik sepupu.

Yang tua bernama Kiau Keng berjuluk Hek-hong-piau, sang adik bernama Kiau Sim, berjuluk Tok-bok-siu.

Mereka adalah benggolan silat yang kenamaan di daerah utara.

Di ibu kota mereka mendirikan perusahaan pengangkutan yang bernama Ki Wan Piaukiok.

Mengandal nama Kiau-si Hengte yang tenar dan jaya serta belum pernah terkalahkan sehingga perusahaan ini semakin maju pesat dan besar.

Thio Thian-ki, chengcu atau majikan dari perkampungan Thio-keh-cheng semasa masih hidup, sebetulnya adalah sahabat kental Kiau-si Hengte ini, sedemikian akrab hubungan mereka seumpama saudara sekandung sendiri.

Usia Thio Thian-ki atau majikan dari Thio-keh-ceng baru menanjak 50-an, semasa hidup beliau kenamaan dengan sebilah pedang emasnya.

Karena pergaulan yang luas serta perbuatan dan wataknya yang jujur dan welas asih, maka para kawan-kawannya memberikan julukan Seng-po-sat atau Budha hidup kepadanya.

Memang Seng-po-sat Thio Thian-ki atau si Budha hidup sangat tenar karena jiwanya yang luhur dan bajik, sifatnya polos dan paling menjunjung keadilan dan kebenaran.

Entah apa sebabnya pada usia 30-an tiba-tiba dia mengundurkan diri dari kalangan Kangouw dan mengasingkan diri di Thio-keh-cheng ini.

Meskipun sudah putus hubungan dengan dunia luar, namun dia masih berbuat dermawan menolong si miskin.

Karena itulah di sekitar daerah Sam-ho namanya paling disegani dan dipuja-puja.

Pada suatu hari dalam musim semi itu, diam-diam ia meninggalkan rumah kediamannya sampai beberapa bulan tidak pulang.

Entah bagaimana kejadiannya tahu-tahu keluarganya mendapat kabar duka akan kematiannya yang mengenaskan itu.

Secara kebetulan jenazahnya diketemukan oleh seorang sahabatnya dan terus dikirim pulang.

Karena kematian sahabat kentalnya inilah maka tanpa mengenal lelah bergegas Kiau-si Hengte telah memburu tiba dari kotaraja.

Baru saja Kiau-si Hengte melangkah masuk musik kedukaan segera bergema, terdengar isak tangis yang memilukan dari sebelah dalam sana.

Gambar lukisan Thio Thian-ki terpancang depan peti mati, wajahnya kelihatan welas-asih dengan jenggotnya yang memanjang terurai di depan dada.

Melihat gambar orang seketika Kiau-si Hengte merasa pilu dan terharu, segera mereka berlutut dan menyembah memberi penghormatan terakhir di depan layon Thio Thian-ki.

Setelah bangkit sambil mengembeng air mata bergegas Kiau-si Hengte mendekati layon sambil mengulur tangan kearah peti mati.

Keruan tindak tanduk mereka yang diluar sangka ini menimbulkan curiga Ji-chengcu (majikan kedua adik Thio Thian-ki) yang tengah membalas memberi hormat, tersipu-sipu dia maju coba merintangi.

"Thian-ih, kami ingin melihat wajah Toako untuk penghabisan kali, mengapa tak boleh?" demikian semprot Kiau Keng sengit.

Thian-ih atau lengkapnya Thio Thian-ih adalah seorang pemuda ganteng yang berusia 20-an, terdengar dia menjawab dengan suara serak-serak basah: "Keng-heng dan Sim-heng, betapapun hal itu tak mungkin terjadi.

Silakan kalian istirahat dulu diruang tamu sambil bercakap-cakap dengan sekalian handai taulan dan para sahabat!" terus dia ulapkan tangan memanggil dua orang centeng.

Kedua centeng ini juga berlaku cerdik, segera mereka maju menyapa dan mempersilahkan: "Keng-toaya dan Sim-toaya silahkan istirahat di ruang belakang." Tanpa menanti reaksi mereka terus memimpin jalan meninggalkan ruang layon itu.

Dengan hati penuh kecurigaan terpaksa Kiau-si Hengte ikut keruang belakang.

Waktu tiba diruang dalam dimana perjamuan sederhana ternyata sudah tersedia lengkap, tiga empat puluh meja perjamuan yang teratur rapi telah penuh diduduki para kawan-kawan dari kalangan Kangouw.

Melihat kedatangan Kiau-si Hengte ini beramai-ramai mereka bangkit menyambut sambil unjuk hormat dan sekedar basa-basi !

Ternyata para tamu yang hadir ini kebanyakan adalah tokoh-tokoh silat kenamaan, diantaranya ada Cin-tiong-sam-hiap, Hek-san-siang-si, Sip Yan-hun dan Sip Yan-hong dua saudara dari Ciong-lam-pay.

Tidak ketinggalan pula Kun-suseng Liok Pek-ing Pangcu Ho-bwe-pang di Kanglam.

Co Lan-pui dari puncak Thian-gwa di Pa-san, Tujuh Tongcu dari Kam-liang dan masih banyak lagi yang lain telah memenuhi ruangan ini.

Diam-diam Kiau-si Hengte menyesal, pikirnya: "Para kawan dari selatan yang lebih jauh malah mendahului kita, sungguh memalukan sekali." Setelah saling memberi hormat dan sapa sanjung sekadarnya lantas terdengar Kun-suseng Liok Pek-ing buka suara lantang: "Kiau-lotoa, Kiau-loji, apakah kalian sudah ketemu Thian-ih?" "Ya sudah ketemu.

Dia melarang kami melihat wajah engkohnya," sahut Kiau-sim "Kalian sudah berusia tua tapi masih bersifat berangasan seperti masih muda," demikian Liok Pek-ing angkat bicara lagi, "Ketahuilah Thio-loji mempunyai kesukarannya sendiri dan sudah tentu dia melarang kalian membuka peti mati untuk melihat wajah engkohnya." "Dia ada kesukaran apa?" tanya Kiau Keng tak mengerti.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment