"Srek srek ......
srek srek......" Dalam suasana yang hening lelap ditengah malam pada suatu alam pegunungan terdengarlah suara keresekan yang halus lembut itu.
Saat mana sang putri malam tengah memancarkan sinar lembut nan cemerlang diseluruh jagat raya.
Sayup-sayup suara keresekan yang halus lembut itu terdengar semakin nyata dan mendekat.
Samar-samar terlihatlah bayangan seorang manusia, jadi suara keresekan itu adalah suara derap kaki manusia yang menginjak diatas daun-daun kering, namun sungguh mengherankan suara langkah itu sedemikian ringan dan hampir tak terdengar.
Bagi orang yang tidak paham ilmu silat tentu disangkanya suara daun jatuh atau langkah binatang buas.
Bayangan itu muncul diujung jalanan sebelah sana, ia bertubuh tinggi kurus, tubuhnya mengenakan pakaian serba hitam yang sepan ketat, gerak geriknya lincah gesit dan waspada.
Gerak langkahnya enteng bagai tak menyentuh tanah sekali melesat tiga tombak jauhnya.
Tiba-tiba langkahnya menjadi lambat dan hati-hati ia mendekati sebuah bangunan gedung kuno yang tak terurus lagi.
Matanya memandang tajam dengan cermat dan waspada, sikapnya takut-takut.
Kelihatannya rumah gedung ini sangat angker, dalamnya kosong melompong tiada penghuninya, sedemikian besar dan luas bangunan ini, namun keadaannya sudah bobrok dan terlihat bekas-bekas terbakar hangus.
Tertimpah sinar sang putri malam kelihatannya menjadi seperti bayang-bayang jin raksasa yang seram menakutkan.
Akhirnya orang muda itu menghentikan langkahnya dibawah sebuah jendela, gerak-geriknya sangat gesit dan prihatin, sikapnya takut-takut dan sangsi.
Waktu orang ini membalikkan muka maka tampak ia berwajah putih berdagu panjang beralis tebal, usianya kurang lebih 20-an.
Tampak dia menggeremet mendekati daun jendela lalu dengan hati-hati mengintip kedalam.
Mendadak entah mengapa tubuhnya kelihatan menggigil seperti melihat sesuatu yang seram menakutkan.
Kiranya dari penerangan sang putri malam yang menyorot masuk dari jendela, samar-samar kelihatan didalam ruangan yang sedemikian luas itu ternyata hanya terdapat empat buah peti mati yang tersebar diempat penjuru.
Dari warnanya yang sudah luntur dan tutupnya yang sudah banyak berlobang dimakan rayap dapatlah diduga bahwa peti mati itu tentu sudah tua sehingga lapuk, mungkin pula didalam keempat peti mati itu berbaring mayat-mayat manusia yang tinggal tulang belulangnya saja.
Sekonyong-konyong terasa oleh sipemuda suatu keanehan, maka dengan penuh perhatian ia pasang kuping serta mementang mata lebar-lebar.
Tampak sesosok bayangan manusia melesat masuk keruangan besar itu dengan ringan dan gesit sekali.
Thio Thian-ki, demikianlah nama orang yang baru tiba ini, dia bukan lain adalah guru sipemuda yang tengah mengintip diluar itu.
Seluruh tubuh Thio Thian-ki ternjata terbungkus jubah panjang yang berwarna perak berkilau, begitu pula kepalanya juga mengenakan kedok yang Tingkah Thio Thian-ki lebih bebas dan wajar, ini menandakan bahwa nyalinya lebih besar dari muridnya yang bertindak takut-takut dan cermat.
Sekilas dia melirik keempat peti disekelilingnya, lalu pelan-pelan dan tenang menurunkan buntalan besar yang dipanggul diatas punggungnya, sedikit membuka ujung buntalan besar itu dengan terpesona dia pandang isi dalamnya.
"Brak", mendadak tutup peti mati disekelilingnya terpental terbang ketengah udara dan bersamaan itu meluncurlah berbagai senjata rahasia yang tak terhitung banyaknya, sekaligus meluruk kearah sibaju perak.
Sedemikian mendadak peristiwa ini terjadi pula jaraknyapun begitu dekat seketika Thio Thian-ki sudah terkepung oleh senjata-senjata rahasia yang berkilauan ditimpa sinar rembulan.
Tetapi kepandaian silat Thio Thian-ki agaknya tidak lemah, terdengar gelak tawanya melengking tinggi, gesit sekali ia sambar buntalannya terus menjejakkan kedua kakinya sehingga tubuhnya melejit tinggi ketengah udara.
Maka dilain saat terdengarlah suara "trang, tring" dari beradunya senjata-senjata rahasia itu, semuanya terjatuh diatas tanah tanpa dapat melukai sasarannya.
Sekali jumpalitan ditengah udara dengan gaya yang indah menakjubkan, Thio Thian-ki meluncur turun diluar gelanggang.
"Sreng" tiba-tiba ia lolos sebilah pedang panjang sambil menghardik keras: "Bangsat kurcaci, keluarlah terima kematian!" Begitu mendengar Thio Thian ki menantang musuh-musuhnya, sipemuda dibawah jendela itu berlaku cerdik, menginsafi apa yang bakal terjadi, tanpa ayal dia siapkan beberapa batang senjata rahasianya sambil menanti dengan bersitegang leher apa yang bakal terjadi.
Maka dilain saat melompatlah empat bayangan hitam dari ke empat peti mati yang telah terbuka itu.
Keempat bayangan ini berseragam hitam dan mengenakan kedok yang serupa pula, masing-masing membekal senjata tajam, dengan langkah tenang pelan tapi mengancam setindak demi setindak mereka mendesak maju kearah Thio Thian-ki.
Sungguh harus dipuji ketenangan Thio Thian-ki dalam menghadapi situasi yang gawat ini, sambil pentang kedua kakinya dan bercekak pinggang dia awasi keempat musuh-musuhnya.
Naga-naganya keempat orang seragam hitam ini juga tidak berani ceroboh dan sembarangan bergerak, mereka berdiri tegak dengan sikap angker mengepung Thian-ki.
Sorot mata mereka bercahaya terang berkilat mengandung kebencian dan keganasan.
Tiba-tiba salah seorang yang berdiri dihadapan Thio Thian-ki bersuara dengan nada berat: "Berlututlah kau terima kematian.
Malam ini jangan harap kau dapat lolos lagi." Terdengar Thio Thian-ki terloroh-loroh panjang, suaranya mengalun bergelombang bagai keluhan naga di angkasa.
Sigap sekali secara mendadak dia angkat pedangnya menjojoh ke depan lambung musuhnya.
Keruan musuh dihadapannya berjingkat kaget sambil melompat mundur, nyata gerak tubuhnya juga tidak kalah sebat dan tangkasnya.
Keempat musuh ini masing-masing bersenjatakan tombak pendek yang ujungnya bercabang, warnanya hitam gelap.
Pelan-pelan keempat orang itu berbareng angkat senjata masing-masing, mereka membentuk suatu kurungan yang aneh.
Dengan posisi dua di muka dan dua di belakang mereka mulai bergerak menyerang.
Dua yang dimuka bergerak lebih cepat menyerampang tiba dari kiri-kanan.
Lincah sekali Thio Thian-ki lintangkan pedangnya menangkis.
Tak duga begitu senjata mereka menyentuh ujung pedang Thio Thian-ki serentak mereka malah melompat mundur.
Dalam keheranannya hampir saja Thio Thian-ki menjadi korban serangan tombak musuh yang berada di belakangnya.
Belum sempat Thio Thian-ki memperbaiki posisinya untuk menghadapi serangan dari belakang ini, musuh yang berada di depannya sudah merangsak datang lagi, begitulah sekaligus mereka bekerja sama dengan rapi menggencet dari muka dan belakang.
Sekejap saja Thio Thian-ki alias sibaju perak sudah dihujani berbagai serangan yang ganas dari keempat musuhnya.
Sungguh hebat kepandaian sibaju perak, tenang dan tangkas sekali dia melayani setiap serangan musuh yang mematikan itu.
Setiap kali sinar pedangnya berkelebat laksana kilat pasti musuh-musuhnya terdesak mundur kerepotan.
Sedemikian lincah dia bergerak, membacok, memapas, menusuk atau menyampok dengan aneka ragam tipu-tipu dan jurus ilmu pedang yang banyak perobahannya.
Bahwa dengan kekuatan gabungan mereka dengan kurungannya yang aneh itu masih belum kuat menghadapi sibaju perak, keruan keempat seragam hitam itu menjadi gelisah sehingga kerjasama yang ketat tadi menjadi kacau balau, semakin kacau malah menguntungkan si baju perak yang menggerakkan pedangnya secara membadai sampai menimbulkan deru angin yang melengking memekakkan telinga.
Jelas menurut keadaan seperti itu, mereka semakin terdesak dibawah angin dan tinggal menunggu ajal saja.
Sekonyong-konyong dari dalam ruangan sebelah dalam sana meloncat keluar seorang berseragam hitam pula.
Begitu orang ini ikut memasuki gelanggang situasi pertempuran seketika banyak berubah.
Segera keempat orang seragam itu kembali menduduki posisi masing-masing yaitu berpencar diempat penjuru, sedang orang yang baru tiba ini secara langsung berhadapan dengan si baju perak.
Terdengar orang ditengah memberi aba-aba dan mereka mulai bergerak lagi menurut ilmu barisan yang aneh itu, dikatakan aneh karena keempat orang yang mengepung di luar itu hanya bergerak dan bergaya seperti orang berlatih lazimnya, lain halnya orang yang berhadapan langsung dengan sibaju perak, kalau empat kawannya itu hanya menggerakkan senjata menyerang dari jarak jauh, jadi hakikatnya senjata mereka tak mungkin dapat menyentuh tubuh musuhnya, tapi sebaliknya yang berada di tengah merangsak sedemikian hebat seperti banteng ketaton, sehingga si baju perak sementara dibuat kerepotan juga.
Sedemikian ketat perpaduan kerjasama kelima orang ini saban-saban mendengar komando orang yang berada ditengah itu, jadi gerak posisi dan formasi mereka ini seperti seekor kelelawar besar.
Empat orang yang mengurung di empat penjuru menjadi dua sayap di kanan kiri, mereka bergerak maju mundur kadang-kadang menyerang setiap ada kesempatan, perbuatan mereka ini tak lain hanya untuk mengaburkan perhatian atau konsentrasi dari pertahanan si baju perak terhadap kawan yang memberi komando itu, jadi yang terpenting memegang inisiatif adalah orang yang ditengah itu, serangan senjatanya merupakan inti atau sentral pertahanan barisan yang kokoh rapi dan serasi itu.
Bermula si baju perak masih berlaku tenang dan gesit luar biasa, namun sesudah berulangkali menemui kegagalan dalam usahanya mematahkan serangan musuh serta hendak membobol keluar kurungan tidak berhasil dan gagal, lama kelamaan pertahanannya berbalik menjadi kacau, gerak pedangnya tidak sehebat tadi akhirnya menjadi patah semangat.
Pada saat itulah mendadak terdengar satu suara serak seorang tua berseru memberi perintah dari ruangan sebelah dalam sana: "Ringkus dia !" Serentak kelima senjata musuh berkelebat dan tahu-tahu Pedang si baju perak telah tergencet dan terpantek di tengah udara dari lima jurusan, karena pedang terangkat naik inilah maka bawah tubuh Thio Thian-ki alias si baju perak terbuka lebar.
"Serrr," tiba-tiba sebuah senjata rahasia berbentuk runcing panjang seperti tombak meluncur pesat dari ruangan dalam sana.