Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 93

Memuat...

"Engkau adalah tamu maka engkaulah yang harus memulai lebih dulu, Nona."

Kata Tang Hun.

"Baik, bersiaplah dan sambut seranganku ini!"

Siu Lan mulai memukul akan tetapi dapat dielakkan Tang Hun dengan baik. Dua orang itu segera terlibat dalam perkelahian yang seru. Akan tetapi Bi-kiam Nio-cu dan Hek-houw Tang Kwi keduanya dapat mengikuti gerakan mereka dengan baik dan mereka mendapat kenyataan bahwa dua orang itu tidak berkelahi dengan sungguh-sungguh, Hek-houw Tang Kwi tahu benar bahwa puteranya tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya dan Bi-kiam Nio-cu juga melihat dengan jelas betapa Siu Lan juga tidak menyerang dengan sepenuh hatinya. Pada saat itu berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang kakek yang kaki kirinya timpang dan membawa tongkat.

"Apa yang terjadi di sini!"

Tanyanya. Ketika melihat puterinya berkelahi melawan Tang Hun, dia menghampiri Hek-houw Tang Kwi dan bertanya,

"Eh, Hekhouw, kenapa engkau membiarkan anak kita saling serang seperti itu?"

"Ssstt, lihatlah baik-baik, Kiam-sian. Bukankah kedua anak kita itu serasi dan cocok sekali? Mereka saling serang? Hemmm, kurasa tidak. Mereka hanya latihan saja dan saling mengalah!"

Dan kenyataannya memang demikianlah. Kedua orang muda itu sama sekali tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, dan tidak ingin melukai lawan. Siu Lan melihat datangnya ayahnya, maka ia meloncat jauh ke belakang dan mendekati ayahnya.

"Ayah, mereka hendak menawanku!"

Katanya dengan manja.

"Apa? Siapa yang hendak menawan anakku?"

Bentak Toat-beng Kiam-sian dan sekarang barulah dia melihat adanya Bi-kiam Nio-cu di situ.

"Eh, engkau juga berada di sini, Bi-kiam Nio-cu? Apakah engkau yang hendak menawan anakku?"

Berkata demikian Lo Cit melangkah maju menghampiri Bi-kiam Nio-cu yang hanya memandang kepadanya dengan senyum mengejek.

"Suhu, tidak sama sekali, Suhu!"

Gan Bu Tong meloncat mendekati suhunya.

"Nona ini sama sekali tidak mengganggu kami berdua, ia malah datang untuk menolong sumoi yang tadinya ditawan oleh orang-orang Hek-houw-pang!"

"Hemmm, apa yang terjadi di sini? Kenapa anakku ditawan orang-orang Hek-houw-pang?"

Hek-houw Tang Kwi dengan sikap tenang berkata kepada Lo Cit.

"Kiam-sian, engkau dengarlah baik-baik keterangan dari anakku. Tang Hun, ceritakan semua kepada pamanmu Lo ini apa yang telah terjadi sebenarnya."

Tang Hun maju memberi hormat kepada Lo Cit lalu berkata,

"Sebetulnya begini, Paman. Kami mendapatkan puteri dan murid Paman telah melanggar wilayah kami dan membunuh dua ekor kijang. Karena mereka memasuki wilayah kami tanpa ijin, terpaksa saya menahan nona Lo untuk kami hadapkan kepada Ayah. Ia kami tahan sebagai seorang tamu, bukan sebagai tawanan. Akan tetapi tiba-tiba murid Paman ini datang bersama Bi-kiam Nio-cu dan menyerang kami. Untung ada Ayah, kalau tidak mungkin kita semua akan dibunuhnya!"

"Siu Lan, benarkah apa yang dikatakan Tang Hun itu?"

Dengan kedua pipi berubah kemerahan, Siu Lan menjawab,

"Benar, Ayah. Akan tetapi kami hanya melanggar perbatasan sungai itu untuk mengejar kijang."

"Kalau begitu, engkau dan Bu Tong berada di pihak yang salah. Hayo kalian berdua minta maaf kepada pamanmu Tang Kwi!"

Bentak Lo Cit. Siu Lan dan Bu Tong terpaksa memberi hormat kepada Hek-houw Tang Kwi sambil berkata,

"Harap paman Tang sudi memaafkan kelancangan kami!"

"Ha-ha-ha, semua ini hanya merupakan salah paham saja. Di antara orang sendiri mengapa harus minta maaf? Akan tetapi, Kiam-sian, bukankah engkau sudah melihat sendiri betapa serasi dan cocok adanya putera-puteri kita? Kesempatan ini akan kupergunakan untuk mengulang pinanganku tempo hari. Bagaimana kalau kita menjodohkan mereka?"

Toat-beng Kiam-sian Lo Cit tersenyum dan bertanya kepada puterinya,

"Siu Lan, engkau telah mendengar sendiri usul pamanmu Tang. Nah, bagaimana jawabanmu?"

Dengan muka kemerahan Siu Lan bersembunyi di belakang tubuh ayahnya dan berkata,

"Ah, urusan itu bagaimana baiknya terserah kepada Ayah saja!"

Jawaban ini saja sudah jelas bagi semua orang. Kalau seorang anak tidak setuju, tentu ia akan marah-marah atau menangis. Kalau ia setuju, tentu ia akan menyerahkan keputusannya kepada orang tuanya dan tersipu malu. Melihat keadaan puterinya, Lo Cit menjadi girang sekali. Ketika pertama kali Tang Kwi meminang puterinya, sebetulnya dia sudah setuju sekali. Dia merasa suka kepada Tang Hun yang gagah dan tampan. Akan tetapi puterinya itu yang menolak. Kini dia tahu mengapa dulu puterinya menolak. Karena belum pernah melihat Tang Hun. Setelah kini berhadapan, bahkan saling serang dalam pertandingan tadi, ia setuju akan pinangan itu.

"Ha-ha-ha, bagus sekali. Mari singgah di rumah kami di mana kami dapat menjamu kalian sebagai tamu agung dan kita dapat bercakap-cakap mengenal persoalan ini. Kami juga mengundang Niocu untuk ikut datang sebagai tamu kehormatan."

Bi-kiam Niocu mengerling kepada Gan Bu Tong. Ia melihat betapa pemuda itu juga memandang kepadanya penuh kagum, maka iapun mengangguk.

"Baiklah, aku tanpa sengaja telah terlibat dalam urusan kalian, tidak apa menjadi saksi dari hubungan antara kalian yang menjadi baik."

Mereka semua lalu menuju ke perkampungan Hek-houw-pang. Dan dalam perjalanan ini dengan sengaja Niocu mendekati Gan Bu Tong dan mengajaknya bercakap-cakap. Dia bertanya-tanya tentang keadaan pemuda itu dan hatinya girang mendengar bahwa pemuda itu sudah yatim piatu dan belum bertunangan apalagi menikah. Dan pemuda itu pun jelas kelihatan amat kagum kepadanya. Juga usia Gan Bu Tong sudah dua puluh lima tahun, berarti dua tahun lebih tua daripada usianya. Sebaliknya sikap yang amat ramah dan bersahabat dari Niocu membuat dia akrab sekali dengan gadis itu. Tadinya Bu Tong memang agak sungkan terhadap Niocu yang dianggapnya memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada dia, juga namanya sudah terkenal sekali di dunia kangouw sebagai tokoh yang ditakuti.

Akan tetapi setelah bercakap-cakap dengan dia, dia mendapat kenyataan bahwa Niocu amat manis budi dan bijaksana sehingga dia merasa cocok dan tidak menjadi rendah diri. Demikian pula dengan Lo Siu Lan. Ia berterima kasih sekali kepada Niocu yang telah membantu untuk membebaskannya. Maka setelah mereka semua dijamu sebagai tamu kehormatan oleh Hek-houw Tang Kwi yang membicarakan dengan Lo Cit tentang perjodohan antara anak mereka, Lo Siu Lan minta dengan sangat agar Niocu suka singgah di rumahnya. Permintaan ini diterima dengan senang hati oleh Niocu. Setelah tinggal beberapa hari di rumah keluarga Lo, yaitu di perkampungan Kwi-kiam-pang, hubungan antara Niocu dan Bu Tong menjadi semakin akrab. Pada suatu sore Niocu dan Bu Tong berjalan-jalan di luar perkampungan di Kwi-kiam-pang. Niocu yang mengajaknya dan Bu Tong dengan girang menyambut ajakan itu.

"Tong-ko, aku heran sekali melihatmu."

Kata Niocu sambil melangkah perlahan.

"Kenapa heran, Niocu?"

"Engkau murid seorang ketua perkumpulan yang terkenal. Engkau memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi dan hidupmu sudah sebatang kara karena tidak memiliki orang tua atau keluarga lain. Akan tetapi kenapa sampai usia dua puluh lima engkau belum juga menikah?"

Gan Bu Tong tersenyum malu-malu mendengar ini.

"Ah, Niocu. Orang seperti aku ini siapa yang suka menjadi isteriku? Pula, aku mengganggap suhu sebagai orang tuaku dan Lan-sumoi sebagai adik sendiri."

"Tidak keliru engkau memilih keluarga gurumu sebagai keluarga sendiri. Akan tetapi apakah engkau tidak ingin membentuk keluarga sendiri, berumah tangga dan mempunyai anak-anak?"

Bu Tong teringat kepada Siu Lan.

Dia pernah jatuh cinta kepada sumoinya itu dan ingin memperisterinya, akan tetapi ternyata Siu Lan tidak mencintanya, melainkan suka sebagai seorang kakak. Bahkan Siu Lan agaknya kini tertarik kepada Tang Hun dan perjodohan mereka telah dibicarakan oleh orang tua masing-masing. Habislah sudah harapannya untuk memperisteri Siu Lan. Sejak pertama kali bertemu dengan Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok, dia memang sudah tertarik dan kagum sekali. Apalagi setelah pergaulan mereka akrab, dia semakin tertarik. Akan tetapi sedikit pun dia tidak mempunyai pikiran untuk jatuh cinta kepada tokoh yang terkenal ini. Dia tidak berani. Siu Lan saja menolaknya, apalagi seorang tokoh besar seperti Bi-kiam Nio-cu!

Setelah menghela napas panjang beberapa kali, dia pun menjawab.

"Tentu saja kadang timbul keinginanku untuk berumah tangga, Niocu. Akan tetapi seperti kukatakan tadi, siapa orangnya mau mendampingi aku sebagai isteriku? Aku seorang pemuda yang yatim piatu, tidak mempunyai apa-apa."

Kemudian dia teringat bahwa gadis ini bertanya terlalu mendalam, maka timbul keberaniannya untuk bertanya.

"Akan tetapi engkau sendiri, Niocu. Kulihat usiamu pasti lebih tua dari sumoi, kenapa engkau juga belIum berumah tangga?"

Bi-kiam Nio-cu tersenyum dan Bu Tong memandang dengan terpesona. Bukan main manisnya wanita ini kalau tersenyum!

"Tentu saja aku jauh lebih tua dari Siu Lan. Usiaku sudah dua puluh tiga tahun. Terus terang saja, entah berapa banyak pria yang meminangku, akan tetapi semuanya itu kutolak. Aku belum menemukan seorang yang cocok untuk menjadi pilihanku. Karena itulah sampai kini aku belum juga menikah."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment