Halo!

Pusaka Pulau Es Chapter 92

Memuat...

Jawab Gan Bu Tong dengan bangga karena nama besar. gurunya itu pasti dikenal semua tokoh kang-ouw. Benar saja dugaannya. Niocu tersenyum mendengar nama ini.

"Ah, kiranya engkau murid kakek pincang itu? Gurumu pernah bersikap baik terhadap muridku, biarlah sekarang aku membantu muridnya. Cepat bawa aku ke tempat sumoimu ditawan. Aku yang akan membebaskannya!"

Girang sekali hati Gan Bu Tong. Agaknya gadis itu tidak hanya membual. Gerakannya ketika meloncat di atas kepalanya menghindarkan tabrakan itu saja sudah membuktikan betapa hebat ginkangnya. Apalagi gadis ini sudah mengenal nama suhunya.

"Baik, Nona. Mari kita pergi ke sana!"

Kata Bu Tong dan dia pun lari kembali ke tempat tadi secepatnya. Akan tetapi, gadis itu seakan berjalan melangkah seenaknya walaupun kenyataannya dia tidak pernah dapat meninggalkannya. Sungguh merupakan ilmu berlari cepat yang hebat. Akan tetapi ketika mereka tiba di seberang sungai itu, tidak nampak bayangan Siu Lan.

"Tentu sumoi sudah mereka bawa ke sarang mereka!"

"Kita kejar!"

Kata Niocu dan tanpa menanti jawaban ia sudah melompat ke depan berlari cepat. Bu Tong berusaha mengejarnya akan tetapi sebentar saja dia sudah tertinggal jauh. Niocu yang berlari lebih cepat segera dapat mengejar orang-orang Hek-houw-pang yang menawan Siu Lan. Gadis ini berjalan dengan sikap tenang di tengahtengah mereka. Ia tidak takut. Suhengnya tentu akan melapor dan ayahnya tentu akan datang untuk membebaskannya. Kini Siu Lan teringat mengapa pemuda itu seperti menaruh dendam kepada ayahnya. Setahun lebih yang lalu, ketua Hek-houw-pang pernah berkunjung ke rumah ayahnya dan dari ibunya ia mendengar bahwa ia dipinang oleh ketua Hek-houw-pang untuk dijodohkan dengan puteranya. Akan tetapi ia berkeras menolak karena belum pernah ia melihat putera ketua Hek-houw-pang itu.

Ayahnya lalu menolak pinangan itu dengan halus. Agaknya itulah yang membuat pemuda itu hendak membalas dendam dengan menawannya agar ayahnya datang minta maaf kepada ketua Hek-houw-pang! Kini setelah melihat orangnya, ia harus mengakui bahwa pemuda itu cukup tampan dan gagah, akan tetapi matanya yang terlalu lebar itu tidak sedap dipandang, di samping ia belum mengetahui bagaimana watak pemuda itu. Kalau wataknya baik, belum tentu ia menolak pinangannya setelah melihat orangnya. Selagi Siu Lan melangkah sambil melamun, tiba-tiba nampak sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu di depan rombongan itu telah berdiri seorang wanita cantik. Wanita itu mernandang dengan matanya yang bersinar tajam dan mulutnya tersenyum mengejek.

"Belasan orang laki-laki menawan seorang gadis muda, sungguh merupakan perbuatan yang tidak tahu malu!"

Kata wanita itu yang bukan lain adalah Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok. Tang Hun yang tadinya berjalan dekat Siu Lan, segera melangkah maju menghadapi Niocu. Dia mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan lalu berkata,

"Kami tidak mengenal Nona, sebaliknya Nona tidak mengenal kami. Setiap perbuatannya tentu ada sebabnya yang kuat, maka harap Nona jangan mencela dulu dan tidak mencampuri urusan pribadi kami!"

Suaranya itu sopan namun nadanya keras.

"Tidak mungkin aku tidak mencampuri. Melihat seorang wanita ditawan belasan orang, bagaimana menyuruh aku tidak campur tangan? Cepat bebaskan ia atau aku akan memberi hajaran keras kepada kalian!"

"Wanita sombong. Apa kau kira aku takut kepadamu?"

"Heh-heh-heh, bukankah engkau ini putera Hek-houw Tang Kwi? Daripada engkau babak-belur, lebih baik engkau suruh ayahmu datang ke sini melawanku."

"Nona, sebetulnya siapakah engkau dan mengapa engkau mencampuri urusan ini? Ini adalah urusan antara Kwi-kiam-pang dan Hek-houw-pang. Nona tidak berhak mencam-puri!"

"Hemmm, bocah seperti engkau hendak melawanku. Ketahuilah bahwa aku yang disebut orang Bi-kiam Nio-cu!"

Mendengar nama ini, Tang Hun terkejut. Tentu saja dia pernah mendengar akan nama Bi-kiam Nio-cu yang kabarnya amat kejam terhadap pria itu. Akan tetapi dia tidak merasa takut. Malu rasanya kalau takut melawan seorang wanita.

"Bagus! Nama Bi-kiam Nio-cu memang sudah terkenal di dunia kang-ouw akan tetapi aku Tang Hun tidak gentar menghadapimu. Engkau yang mencari perkara, bukan kami!"

Pemuda itu berkata demikian sambil mencabut pedangnya. Pada saat itu, Bu Tong sudah tiba di situ. Melihat ini. Bi-kiam Nio-cu berseru kepadanya.

"Gan Bu Tong, engkau bantulah sumoimu menghajar orang-orang itu, sedangkan bocah she Tang ini serahkan saja kepadaku!"

"Baik, Nona."

Bu Tong berseru girang dan berkata kepada sumoinya,

"Sumoi, mari kita lawan mereka!"

Kalau tadi kakak beradik seperguruan itu tidak berani memberontak adalah karena di situ ada Tang Hun dan belasan orang anak buahnya. Kini, setelah Tang Hun ada yang menghadapi, mereka menjadi berani dan Siu Lan juga mencabut pedangnya.

Dua orang kakak beradik ini lalu mengamuk dan dikepung serta dikeroyok belasan orang anak buah Hek-houw-pang. Sementara itu Tang Hun mencabut pedangnya. Dia sudah mendengar akan kelihaian Bi-kiam Nio-cu, maka dia mencabut pedang lebih dulu lalu menyerang lawannya yang masih bertangan kosong. Akan tetapi dengan gerakan yang cepat Nio-cu sudah menghindar dari serangan itu dan ia membiarkan pemuda itu menyerangnya sampai sepuluh jurus yang selalu dapat dielakkan oleh Niocu. Setelah membiarkan lawan menyerang sampai sepuluh jurus, barulah Niocu mencabut pedangnya. Pedang ini baru karena pedangnya yang lama patah ujungnya ketika ia pinjamkan kepada Keng Han untuk melawan Thian It Tosu palsu yang mempergunakan pedang Pek-coa-kiam, pedang Bu-tong-pai. Ia membeli pedang baru yang juga baik sekali, terbuat dari baja pilihan.

Begitulah Niocu menggunakan pedang untuk melawan, Tang Hun segera terdesak hebat. Akan tetapi Niocu sekarang bukan seperti Niocu dahulu ketika ia masih liar membenci kaum pria. Ia tidak berniat membunuh Tang Hun, hanya membebaskan Siu Lan saja. Apalagi memang ilmu kepandaian Tang Hun sudah cukup tangguh sehingga biarpun terdesak dia masih dapat melakukan perlawanan! Setelah pertandingan berjalan kurang lebih tiga puluh jurus, Tang Hun main mundur terus. Pertandingan antara lima belas anak buahnya yang mengepung Lo Siu Lan dan Gan Bu Tong juga berlangsung seru. Biarpun dikeroyok belasan orang, kakak beradik seperguruan ini dapat menggerakkan pedang mereka untuk melindungi diri, bahkan sempat merobohkan beberapa orang dengan tendangan kaki mereka. Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring.

"Tang Hun, mundurlah, biarkah aku yang menghadapi?"

Tang Hun girang sekali mendengar suara ini karena suara itu adalah suara ayahnya! Memang yang baru datang itu adalah Hek-houw Tang Kwi sendiri, seorang kakek bermuka hitam berusia kurang lebih lima puluh tahun. Begitu tiba di situ dia melihat puteranya didesak hebat oleh seorang wanita cantik. Dia tidak mengenal wanita itu, maka dia cepat menyuruh puteranya mundur dan dia menangkis pedang di tangan wanita itu yang menyambar cepat.

"Tranggggg....!"

Keduanya terkejut karena merasa betapa tangan mereka yang memegang pedang tergetar hebat. Hek-houw Tang Kwi menjadi penasaran dan segera berseru,

"Tahan senjata!"

Semua anak buahnya yang tadi mengeroyok Siu Lan dan Bu Tong juga menghentikan penyerangan mereka dan semua melompat ke belakang sehingga perkelahian itu terhenti.

"Apa artinya perkelahian ini? Heiii bukankah kalian itu puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian Lo Cit? Dan engkau sendiri siapakah Nona?"

"Aku adalah Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok!"

Niocu memperkenalkan diri.

"Ahhh....! Bukankah engkau murid Ang Hwa Nio-nio? Kenapa terjadi perkelahian dengan puteraku dan para anggaut kami? Tang Hun, apa yang telah terjadi di sini?"

Hek-houw Tang Kwi bertanya kepada puteranya.

"Begini, Ayah. Mula-mula kami melihat puteri dan murid Toat-beng Kiam-sian ini berburu binatang di dalam wilayah kita. Karena mereka memasuki wilayah kita tanpa ijin, kami lalu menahan nona Lo untuk dihadapkan kepada Ayah, dan membebaskan pemuda itu untuk melapor kepada ketuanya. Akan tetapi mendadak pemuda itu datang kembali bersama Bi-kiam Nio-cu dan hendak memaksa kami membebaskan nona Lo. Kami menolak dan terjadilah perkelahian ini."

Hek-houw Tang Kwi mengerutkan alisnya dan berkata kepada Bi-kiam Niocu,

"Bi-kiam Nio-cu, aku mendengar bahwa engkau seorang wanita gagah, akan tetapi mengapa engkau mencampuri urusan pribadi antara Hek-houw-pang dan Kwi-kiam-pang? Apa yang dilakukan puteraku sudah sepantasnya karena kedua orang murid Kwi-kiam-pang melanggar wilayah kekuasaan kami."

"Hemmm, kalau puteramu itu bertanding satu lawan satu dengan puteri ketua Kwi-kiam-pang, tentu aku tidak akan mencampurinya, akan tetapi melihat belasan orang anak buahmu menggunakan kekuatan banyak orang untuk menawannya, hal ini kuanggap tidak adil dan merupakan tindakan seorang pengecut. Karena itulah aku turun tangan membantu mereka!"

Jawab Nio-cu sambil tersenyum mengejek.

"Tang Hun, benarkah engkau menggunakan anak buah untuk menang-kap mereka?"

"Tidak, Ayah. Di antara kami dan mereka tadinya tidak ada perkelahian. Kita menangkap mereka dan mereka merasa bersalah, maka nona Lo tidak keberatan kami tawan dan suhengnya itu pun pergi untuk melapor kepada gurunya. Baru setelah Bi-kiam-Nio-cu campur tangan terjadi pertempuran."

"Beranikah engkau melawan nona Lo, satu lawan satu?"

Wajah pemuda itu berubah kemerahan ketika dia memandang kepada Siu Lan.

"Aku.... aku tidak ingin memusuhinya, Ayah."

Bi-kiam Nio-cu tertawa mengejek.

"Orang muda, katakan saja engkau tidak berani. Hei, adik Lo, beranikah engkau melawan putera Hek-houw Tang Kwi ini?"

Siu Lan menegakkan tubuhnya dan menjawab,

"Mengapa tidak berani? Asal jangan main keroyokan!"

"Nah, kau dengar itu, Tang Hun? Untuk menyelesaikan urusan ini, sambutlah tantangan nona Lo. Siapa di antara kalian yang kalah harus minta maaf dan urusan ini habis sampai di sini saja. Bagaimana pendapatmu, Bi-kiam Nio-cu? Atau, apakah engkau ingin kita bertanding terus mati-matian hanya untuk urusan sekecil ini?"

Niocu merasa tidak enak. Sebetulnya ia memang sebagai orang luar yang tidak tersangkut urusan itu sama sekali. Kalau ia membantu, sebetulnya yang ia bantu adalah Gan Bu Tong karena ia tertarik dan suka kepada pemuda itu.

"Bertanding satu lawan satu itu baru adil dan aku tidak akan mencampuri hanya akan menonton agar jangan ada yang main curang."

"Nah, Tang Hun, engkau sudah mendengar sendiri. Bersiaplah untuk bertanding dengan nona Lo Siu Lan!"

Kata Hek-houw Tang Kwi.

"Akan tetapi, Ayah. Aku tidak ingin melukainya...."

Kata pemuda itu ragu. Melihat sikap dan mendengar ucapan Tang Hun, Siu Lan merasa jantungnya berdebar. Tadi ketika ia ditangkap, pemuda itu bersikap sopan padanya, seolah ia bukan seorang tawanan melainkan seorang tamu. Dan kini, pemuda itu mengatakan tidak ingin memusuhinya dan juga tidak ingin melukainya! Hal ini hanya mempunyai satu arti, ialah bahwa pemuda itu suka padanya! Hek-houw Tang Kwi menjadi marah kepada puteranya.

"Engkau tidak berani? Kalau begitu engkau harus minta maaf kepadanya!"

"Minta maaf? Aku tidak bersalah, melainkan mereka yang bersalah. Kenapa aku harus minta maaf? Dan aku tidak ingin berkelahi melawan nona Lo, sama sekali bukan karena takut melainkan...."

"Sudahlah jangan banyak bicara lagi. Layani nona Lo yang menantangmu!"

Berkata demikian Hek-houw Tang Kwi mendorong punggung puteranya supaya maju menghadapi Siu Lan. Dengan terpaksa sekali dan sikap apa boleh buat Tang Hun maju menghadapi Siu Lan. Dia menyimpan pedangnya dan berkata dengan lembut.

"Nona Lo, terpaksa aku harus bermusuhan, maka kita bertanding dengan tangan kosong saja."

"Tidak bersenjata boleh, bersenjata juga boleh!"

Kata Siu Lan yang juga menyimpan pedangnya. Kalau lawan tidak bersenjata tentu ia malu kalau harus melawan dengan pedangnya. Mereka sudah memasang kuda-kuda akan tetapi Tang Hun belum juga mau menyerang.

"Hayo mulai!"

Kata Siu Lan.

"Aku sudah siap!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment