"Nona, bukankah Kakakmu itu keliru sekali? Dia diserang dan didesak orang, masa tidak mau dibantu?"
Lulu sejenak memandang Ouwyang Seng, kemudian berkata kepada kakaknya,
"Koko, kalau mereka memang benar-benar hendak membantu, mengapa kau menolak?"
"Lulu, jangan mencampuri. Mereka itu pun bukan orang-orang yang dapat dipercaya."
Akan tetapi Lulu memandang wajah Ouwyang Seng yang tampan dan tersenyum-senyum itu dan ia merasa heran akan ucapan kakaknya karena dalam pandangannya, pemuda tampan ini sama sekali tidak jahat.
"Han Han, betapapun juga, engkau bukanlah lawan Iblis Muka Kuda. Biarlah aku membantumu mengusir iblis itu, kemudian kita bicara sebagai kenalan-kenalan lama. Bagaimana?"
"Gak-locianpwe, apakah locianpwe juga seperti Ma-bin Lo-mo ini, hendak bertanya tentang Pulau Es kepadaku setelah Locianpwe membantuku mengenyahkan Ma-bin Lo-mo?"
Pertanyaan yang tiba-tiba dari Han Han ini tepat menusuk hati Gak Liat yang memang ingin sekali mendengar tentang Pulau Es itulah, sehingga ia lupa akan tugasnya dan penuh gairah berteriak, "Ah, jadi engkau sudah berhasil sampai ke sana? Anak baik, mari kubantu engkau membinasakan Iblis Muka Kuda, baru kita bicara tentang Pulau Es."
Kemarahan hati Han Han meluap.
"Kang-thouw-kwi, engkau setali tiga uang dengan Ma-bin Lo-mo. Aku tidak sudi akan bantuanmu."
Mendengar jawaban ini dan karena mereka yakin bahwa Han Han tak dapat dibujuk, Ouwyang Seng sudah cepat turun tangan untuk melakukan siasat yang ke dua. Yaitu, merampas Lulu terlebih dahulu untuk menyelamatkan gadis Mancu itu dan juga untuk dijadikan umpan memancing Han Han ke kota raja, bahkan kelak akan dapat dipergunakan untuk memaksa Han Han tunduk akan perintah Puteri Nirahai.
Ia maklum bahwa sekali ini ia tidak boleh menurutkan nafsu yang berkobar begitu ia melihat gadis Mancu yang cantik molek tidak kalah oleh Puteri Nirahai sendiri itu, karena Lulu adalah seorang gadis Mancu dan keadaan gadis ini sudah menjadi perhatian Puteri Nirahai dan sudah diumumkan kepada para pembantunya. Cepat ia menubruk untuk menangkap Lulu, akan tetapi alangkah kaget dan herannya kelika tubuh gadis itu seperti seekor kupu-kupu yang hendak ditangkap saja, telah melesat dan mengelak dari kedua tangannya"
Itulah gerak otomatis yang sudah ada pada diri Lulu sebagai hasil latihan-latihannya selama berada di Pulau Es bersama Han Han. Melihat Ouwyang-kongcu tidak berhasil dan gadis itu berkelebat dekat dengannya, Gak Liat lalu menggerakkan tangan kanannya mendorong perlahan. Lulu mengeluh dan roboh dalam pelukan Ouwyang Seng yang sudah cepat menyambar, menotoknya dan memondong tubuhnya.
"Koko....."
Han Han marah bukan main.
"Keparat! Lepaskan Adikku."
Ia mengejar maju akan tetapi dihadang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Melihat ini, dengan muka merah dan pandang mata beringas Han Han menerjang Gak Liat dan memukul dengan pukulan Hwi-yang Sin-ciang. Gak Liat terkejut bukan main melihat ini dan cepat menangkis.
"Bressss."
Tubuh Kang-thouw-kwi Gak Liat seperti yang dialami oleh Ma-bin Lo-mo tadi tergetar oleh pukulan Hwi-yang Sin-ciang, keahliannya sendiri. Ia tergetar dan terhuyung ke belakang sedangkan Han Han hanya tergetar saja.
"Ha-ha, Setan Botak. Bocah ini sekarang tak boleh dibuat main-main, dia telah mewarisi pusaka Pulau Es."
Ma-bin Lo-mo mentertawakan Gak Liat.
"Kita berdua harus menundukkannya."
Gak Liat yang amat cerdik berkata. Dari pada memperebutkan bocah itu dan kedua-duanya tidak berhasil, lebih baik menangkapnya bersama dan kelak membagi-bagi hasilnya. Melihat betapa dalam waktu lima enam tahun saja bocah ini sudah dapat menggunakan Hwi-yang Sin-ciang sedemikian hebatnya, dapat dibayangkan betapa luar biasa dan amat berharga pusaka Pulau Es. Ma-bin Lo-mo bukan seorang bodoh. Ia maklum akan isi hati Gak Liat, maka ia berkata,
"Baiklah. Dia harus dapat ditangkap hidup-hidup."
Gak Liat berteriak ke belakangnya,
"Kongcu, lekas bawa pergi Nona itu."