Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 94

Memuat...

"Karena kau bersamadhi tidak sadar-sadar, aku lalu pergi mencari air untuk mandi. Kemudian aku pergi ke sebuah kuil tua tak jauh dari sini, duduk di depan kuil dan mengeluarkan kantung surat-surat dari Pulau Es untuk kubersihkan. Akan tetapi tiba-tiba kantung itu terbang dari tanganku dan ketika aku meloncat dan membalik, ternyata kantung itu telah dipegang oleh seorang kakek yang menyeramkan. Aku minta kembali, bahkan memukulnya, akan tetapi ia tidak menjawab, dan ketika kupukul, ia tidak mengelak atau menangkis, bahkan bergoyang pun tidak ketika menerima pukulanku. Aku takut....."

Merah wajah Han Han mendengar bahwa kantung surat-surat itu dirampas orang. Kantung itu ia anggap sebagai barang yang amat berharga berisi surat-surat penghuni Pulau Es yang ia bawa dan akan ia sampaikan kepada siapa yang berhak menerimanya. Dan kini dirampas orang.

"Hemmm, kenapa aku selalu diganggu orang? Siapakah dia yang merampas kantung kita itu? Mari kita temui dia."

Lulu memegang tangan kakaknya dan menarik kakaknya itu, diajak lari menuju ke kuil tua yang hanya setengah li jauhnya dari situ, di pinggir sebuah sungai kecil.

"Tuh dia masih berdiri depan kuil, Koko. Untung dia belum lari."

Kata Lulu menuding ke arah tubuh seorang laki-laki tinggi kurus berambut panjang yang berdiri membelakangi mereka.

"Hemmm, kurang ajar, biar kuminta kembali kantung itu."

Han Han meloncat ke depan kakek itu, memandang dan alis matanya bergerak karena kaget.

"Ma-bin Lo-mo....."

Teriaknya ketika mengenal kakek penghuni In-kok-san itu. Kakek itu memang Ma-bin Lo-mo si Iblis Muka Kuda"

Dengan wajah bengis ia memandang Han Han dan tidak mengucapkan sepatah pun kata, hanya memandang dengan penuh perhatian, manik matanya bergerak-gerak meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki.

"Siangkoan-locianpwe, harap suka mengembalikan kantung itu kepadaku. Kantung itu hanya terisi surat-surat pribadi yang tidak ada gunanya bagi orang lain,"

Kata Han Han penuh ketenangan setelah ia berhasil menekan hatinya yang kaget.

"Hemmm, murid apakah engkau ini? Tidak menyebut suhu lagi kepadaku?"

Han Han tersenyum pahit.

"Lupakah locianpwe bahwa Locianpwe hendak membunuh saya di perahu itu dahulu? Sikap locianpwe bukan seperti guru yang menyayang murid, bagaimana saya bisa menjadi murid yang menghormat guru?"

Bekas guru dan murid ini saling memandang dan delam pertemuan sinar mata itu diam-diam Ma-bin Lo-mo menjadi kecut hatinya dan cepat ia mengalihkan pandang matanya. Ia menghendaki sesuatu dari pemuda itu, maka ia lalu berganti siasat, bersikap lunak dan manis.

"Han Han, kau kembalikan dulu kitab-kitabku."

Han Han teringat akan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo yang ia bawa ke Pulau Es. Tanpa ia sengaja, bahkan ia telah mempelajari ilmu dari kitab-kitab itu yang ia gabung dengan ilmu dari kitab-kitab peninggalkan Siang-mo-kiam. Ia tidak merasa mencuri kitab-kitab itu, maka ia memperingatkan.

"Saya tidak mencuri kitab-kitab locianpwe."

Kini Lulu teringat akan Ma-bin Lo-mo, maka ia berkata,

"Koko, bukankah dia ini orang jahat yang menangkap kita di perahu dan meninggalkan kita dalam keadaan terikat? Koko, dia jahat, jangan percaya dia."

Ma-bin Lo-mo tidak memperhatikan gadis Mancu yang dibencinya itu, dan berkata lagi kepada Han Han,

"Han Han, kitab-kitabku itu tertinggal di perahu, dan melihat betapa engkau berhasil menyelamatkan diri, tentu kitab-kitab itu berada padamu. Akan tetapi tidak apalah, bukankah engkau juga muridku yang berhak mempelajari ilmu dari kitab-kitabku? Sesungguhnya sudah terlalu banyak kesalahan yang kau lakukan terhadapku, Han Han. Pertama, engkau bersaudara dengan seorang gadis Mancu. Kedua, engkau mengambil kitab-kitabku. Akan tetapi aku mengampunimu akan semua kesalahan itu, bahkan kantung ini yang hanya berisi surat-surat cinta, kukembalikan kepadamu."

Sambil berkata demikian Ma-bin Lo-mo melemparkan kantung ke arah Han Han.

Pemuda itu menggerakkan tangan menyambut kantung itu dan menyimpannya dalam baju setelah melihat bahwa isinya tidak lenyap. Ia melakukan hal ini seenaknya dan sewajarnya saja, dan Ma-bin Lo-mo terkejut. Ketika melemparkan kantung tadi, ia sengaja mengerahkan tenaga untuk menguji. Kalau hanya memiliki ilmu kepandaian tinggi biasa saja, tentu pemuda itu akan roboh menerima lontaran kantung itu, atau setidaknya terhuyung. Akan tetapi pemuda itu menerima seenaknya seolah-olah pelemparan kantung itu tidak disertai pengerahan sin-kang yang amat kuat. Tadinya, kalau melihat pemuda itu roboh atau terhuyung saja tentu Ma-bin Lo-mo sudah menerjang maju untuk menangkapnya, akan tetapi melihat sikap Han Han menerima kantung seenaknya itu amat mengejutkan hatinya, maka kakek ini berlaku cerdik sekali dan tidak menyerang.

"Han Han, mengingat akan hubungan lama antara kita, aku tidak akan mengganggumu, hanya akan bertanya kepadamu tentang Pulau Es. Engkau tentu telah mendarat di Pulau Es, bukan?"

"Jangan katakan sesuatu kepadanya, Koko."

Lulu yang di dalam hatinya masih menaruh dendam kepada kakek yang pernah hendak membunuh mereka itu, cepat berkata mencegah. Akan tetapi, tanpa dicegah pun Han Han tidak akan bercerita kepada siapa juga tentang pulau rahasia itu.

"Saya tidak dapat bicara apa-apa tentang pulau itu, locianpwe."

"Jadi engkau telah menemukan pulau itu?"

Han Han tidak menjawab, hanya menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak mau bicara tentang itu.

"Han Han, ingatlah. Aku hanya ingin engkau menceritakan tentang Pulau Es. Kalau aku menggunakan kekerasan, engkau tentu takkan kuat melawanku. Ingat, dosamu sudah terlalu besar terhadap perguruan kami dan kalau aku menyerahkan engkau kepada Toat-beng Ciu-sian-li, nyawamu tentu tidak akan diampuni lagi. Akan tetapi kalau kau suka bicara denganku tentang Pulau Es, aku yang menanggung agar engkau diampuni."

Post a Comment