Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 93

Memuat...

Gadis cantik itu mengelilingkan pandang matanya dan girang bahwa tidak ada yang menentang pengangkatannya sebagai pimpinan. Siapakah yang berani menentang? Selain dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga amat pandai bersiasat, cerdik dan banyak akal, juga dia adalah puteri kaisar sendiri.

"Terima kasih atas kepercayaan cu-wi kepadaku yang muda. Tentu saja aku tidak dapat bekerja sendiri dan mengandalkan bantuan dari cu-wi sekalian, baru tugas kita akan dapat berhasil baik. Di dunia kang-ouw ini banyak terdapat tokoh-tokoh besar yang belum membantu kita. Di antara mereka itu adalah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee."

"Hemmm, Si Muka Kuda itu sejak dahulu menentang Kerajaan Ceng-tiauw."

Kata Gak Liat sambil mengeluarkan suara menghina.

"Itulah sebabnya mengapa kita harus berdaya upaya agar dia tertarik kepada kita dan suka membantu, Gak-locianpwe. Karena kalau dia sudah mau membantu, tentu para muridnya yang kudenger ada banyak sekali yang pandai, akan suka menjadi sekutu kita pula. Kita harus menyelidiki ke In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san yang dijadikan pusat perguruannya. Bahkan aku mendengar bahwa Si Nenek sakti Toat-beng Ciu-sian-li juga berada di sana."

"Iblis betina itu berbahaya sekali, akan tetapi agaknya akan lebih mudah dibujuk untuk bekerja sama. Dia tidak sesukar dan sekokoh Ma-bin Lo-mo pendiriannya. Biarlah persoalan mereka itu serahkan saja kepadaku, aku akan berusaha mendekati mereka."

Puteri Nirahai berseri wajahnya dan ia menjura ke arah Gak Liat.

"Terima kasih banyak. Bantuan Gak-locianpwe dalam hal ini benar-benar amat kami harapkan."

Gadis itu lalu mengerutkan keningnya dan berkata.

"Ada sebuah hal yang amat memusingkan, dan membutuhkan perhatian. Menurut hasil penyelidikan para mata-mataku yang kusebar di mana-mana, sekarang aku telah mendapatkan keterangan jelas tentang sebab-sebab kegagalan siasatku mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan keterangan itu amat mengejutkan dengan munculnya seorang tokoh muda yang luar biasa sekali."

"Hemmm, siapakah dia dan apa yang telah dia lakukan?"

Ouwyang Seng bertanya dengan hati tak senang mendengar betapa gadis yang dicinta dan dipujanya ini agaknya merasa kagum terhadap seorang "tokoh muda".

"Siasatku gagal karena pemuda aneh itu,"

Kata Nirahai.

"Ketika dua peti berisi jenazah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang dikawal Pek-eng-piauwkiok itu dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah kuberi kabar secara diam-diam dan bentrokan hebat antara murid-murid kedua partai sudah hampir terjadi, tiba-tiba muncul orang muda itu bersama adiknya perempuan, menggagalkan bentrokan itu dengan mengalihkan permusuhan kepada dirinya sendiri."

"Eh, apakah maksudmu, Adik Nirahai?"

Ouwyang-kongcu bertanya heran.

"Pemuda itu yang mengira bahwa murid Siauw-lim-pai hendak merampok, sekali turun tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai. Kemudian, ketika mengetahui kekeliruannya, ia turun tangan pula membunuh murid-murid Hoa-san-pai."

"Ihhh, hebat sekali."

Gak Liat berseru. Bagi datuk hitam ini, setiap perbuatan kejam amat mengagumkan hatinya, makin kejam makin tinggi dalam penilaiannya.

"Kemudian pemuda itu bahkan mendatangi Pek-eng-piauwkiok, dan di sana dia mengamuk, mengalahkan tokoh-tokoh Hoa-san-pai."

"Luar biasa....."

Bhong Poa Sik, si Tikus Kuburan Kecil, berseru kaget.

"Kemudian, tahukah cu-wi apa yang ia lakukan? Ia pun mendatangi Siauw-lim-si dah di sana mengamuk, membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai pula, merobohkan banyak yang lain dan dapat keluar lagi dari Siauw-lim-si dengan selamat."

"Sukar dipercaya."

Kini Gak Liat berseru. Kakek ini maklum akan keadaan kuil Siauw-lim-si, maklum pula akan lihainya tokoh-tokoh di situ. Sedangkan dia sendiri tentu akan berpikir sepuluh kali sebelum berani menyerbu seorang diri ke Siauw-lim-si.

"Memang sukar dipercaya, akan tetapi para penyelidikku adalah orang-orang yang berpengalaman puluhan tahun dan keterangan mereka selalu boleh dipercaya. Keadaan pemuda itu amat mengherankan. Selain ilmunya yang tinggi luar biasa dan keadaannya yang seperti tidak normal, juga dia mempunyai adik seorang gadis Mancu."

"Ah, kalau begitu dia Sie Han....."

Gak Liat berseru.

"Kalau dia sudah berkepandaian begitu aneh dan tinggi sehingga berani mengacau Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, tentu dia telah berhasil menemukan Pulau Es."

Mendengar ucapan ini, semua tokoh yang berada di situ menjadi terkejut dan tertarik sekali. Disebutnya Pulau Es tentu saja menarik perhatian semua orang karena semenjak bala tentara Mancu menguasai daratan Tiongkok, pemerintah baru ini pun selalu berusaha untuk menemukan pulau itu dan mendapatkan pusaka yang berada di sana. Bahkan usaha pencarian ini dipimpin Gak Liat sendiri.

"Aiiih, kalau benar-benar dia menjadi pewaris pusaka di Pulau Es, tentu dia memiliki ilmu yang hebat dan orang seperti itu patut kita tarik untuk membantu kita,"

Kata Puteri Nirahai.

"Atau kalau tidak mungkin dia membantu kita, dia akan merupakan lawan yang berbahaya dan perlu dibinasakan. Terutama sekali gadis Mancu itu harus diselamatkan dan diselidiki puteri siapakah dia dan mengapa sampai bisa menjadi adik pemuda yang bernama Sie Han itu."

"Jangan khawatir, hamba akan dapat membujuknya. Setidaknya dia pernah ikut dengan hamba dan dengan bantuan Ouwyang-kongcu, hamba tentu akan dapat menyelamatkan pula puteri Mancu itu,"

Kata Gak Liat. Dia menawarkan diri ini sebetulnya adalah dengan mengandung niat yang lain. Begitu mendengar bahwa Han Han telah muncul, ia ingin sekali menemui pemuda itu dan kalau perlu hendak memaksa pemuda itu menyerahkan pusaka-pusaka Pulau Es, atau kalau mungkin mengantarkannya ke Pulau Es. Puteri Nirahai mengangguk-angguk.

"Mendengar pelaporan yang kuterima, memang pemuda itu mencurigakan dan lihai sekali, kiranya hanya Gak-locianpwe saja yang cukup kuat untuk menghadapinya. Baiklah, urusan membujuk tokoh-tokoh di In-kok-san dan mencari pemuda itu kuserahkan kepada Gak-locianpwe dan Ouwyang-twako. Aku sendiri mempunyai rencana lain yang boleh cu-wi ketahui. Aku akan pergi ke utara, mendatangi tanah kuburan Kduarga Suling Emas...."

"Eh, Nirahai, bukankah itu berbahaya sekali?"

Pangeran Ouwyang Cin Kok berseru kaget. Tanah kuburan keluarga Suling Emas merupakan tempat keramat dari bangsa Khitan dan kabarnya tak seorang asingpun boleh memasukinya. Biarpun Puteri Nirahai termasuk keturunan Khitan, namun belum tentu dia diperbolehkan masuk oleh penjaganya yang kabarnya amat galak dan memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

"Memang berbahaya, akan tetapi kalau tidak saya sendiri yang mendatangi, siapakah orang lain akan mampu melakukannya? Saya ingin membujuk penjaga kuburan, untuk meminjam suling emas yeing disimpan di situ sebagai pusaka. Dengan suling emas peninggalan pendekar sakti Suling Emas, kiranya akan lebih mudah mempengaruhi para tokoh-tokoh kang-ouw untuk membantu Kerajaan Mancu. Senjata suling emas itu amat dihormati di seluruh dunia kang-ouw, dan dengan senjata itu tentu akan dapat dicapai hasil yang lebih besar dalam membujuk tokoh-tokoh kang-ouw."

Pangeran Ouwyang Cin Kok dan yang lain-lain mengangguk-angguk menyatakan setuju sungguhpun hati mereka merasa ngeri mendengar bahwa puteri jelita itu hendak mengunjungi tempat keramat yang sukar dikunjungi sembarangan orang itu. Setelah membagi-bagi tugas, pertemuan itu dibubarkan. Ouwyang Seng lalu pergi bersama gurunya untuk melakukan tugas mereka yang tidak ringan. Demikianpun yang lain-lain bubaran dan melakukan tugas masing-masing. Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri lalu bersiap untuk pergi menghadap kaisar menyampaikan pelaporan mengenai pelaksanaan tugas-tugasnya.

Han Han dan Lulu duduk mengaso di dalam hutan. Melihat kakaknya iiu duduk bersamdhi, Lulu juga tidak berani mengganggu, bahkan ia pun lalu duduk bersila dan siulian untuk memulihkan tenaga dan menekan kekecewaan hatinya karena kehilangan pedang yang terampas di Siauw-lim-pai. Han Han tidak dapat menyatukan panca inderanya. Dia sudah dapat menyalurkan hawa sakti di tubuhnya, dan mengobati akibat-akibat guncangan pukulan-pukulan yang ia terima di Siauw-lim-pai, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Hatinya terkesan oleh wejangan-wejangan yang didengarnya dari mulut Kian Ti Hosiang, supek dari ketua Siauw-lim-pai tadi. Mengenangkan semua wejangan itu, terjadi perang tanding yang hebat dalam pikirannya sendiri.

Perasaan menyesal menggumuli perasaannya, menyesal kalau ia kenangkan betapa sepak terjangnya selama ini hanya mendatangkan malapetaka dan keributan belaka. Ia sendiri tidak mengerti mengapa kalau datang perasaan marah akan sesuatu yang dianggapnya jahat dan tidak adil, lalu timbul kemarahan yang tak tertahankan dan seolah-olah ia baru akan merasa puas, terhindar dari himpitan nafsu amarah kalau sudah ia lampiaskan dengan pukulan-pukulan sakti dari kedua tangannya, kalau sudah ia hajar banyak orang dan membunuhi lawannya. Pemuda ini tidak tahu bahwa sesungguhnya terjadi konflik atau pertentangan hebat dalam dirinya. Mula-mula pertentangan ini terjadi karena ia mempelajari dua macam sin-kang yang berlawanan yaitu inti sari Hwi-yang Sin-ciang dan inti sari Swat-im Sin-ciang.

Pertentangan ini mempengaruhi jiwanya, ditambah lagi ketika ia membaca kitab-kitab peninggalan penghuni Pulau Es yang sifatnya bersih dan berbareng ia mempelajari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo dan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) yang bersifat kotor. Terjadilah pertentangan hebat sekali dari aliran bersih ditambah kesadaran watak aselinya yang baik berlawanan dengan pelajaran aliran kotor yang ditambah oleh nafsunya, membuat ia kadang-kabang merasa tersiksa sekali. Kini ia mendapat nasihat yang amat aneh dari kakek sakti di Siauw-lim-pai itu. Dia disuruh membuntungi kaki kirinya. Nasihat apakah ini? Betul-betulkah kaki kirinya yang mendatangkan perasaan tersiksa seperti itu? Makin dipikirkan makin bingunglah hatinya. Kebingungan ini makin memuncak kalau ia pikirkan bahwa semua malapetaka yang timbul akibat sepak terjangnya itu sama sekali terjadi bukan karena kesalahannya.

Dia memang telah membunuh murid-murid Siauw-lim-pai dan murid-murid Hoa-san-pai di hutan dahulu itu, akan tetapi bukankah hal itu terjadi karena salah paham? Bukankah hal itu terjadi bukan karena memang dia bermaksud jahat dan membunuhi mereka? Kemudian kekacauan yang timbul karena perlawanannya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok. Dia telah diserang, dituduh yang bukan-bukan, dituduh mata-mata Mancu. Terjadi pertempuran, akan tetapi salahkah dia dalam hal itu? Dan akhirnya peristiwa keributan di Siauw-lim-si. Dia datang dengan iktikad baik, dengan maksud memberi penjelasan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai untuk melenyapkan kesalahpahaman. Akan tetapi dia disambut dengan kekerasan, bahkan seolah-olah dipaksa untuk bertanding. Dia hanya membela diri, karena bukankah itu haknya?

Ataukah dia harus membiarkan saja dia ditawan, dipukul, atau dibunuh, juga Lulu ditangkap? Karena membela diri, kembali dia melakukan pukulan-pukulan dan pembunuhan-pembunuhan. Teringat akan ini semua, timbul kemarahannya. Tidak "Dia tidak bersalah"

Akan tetapi kalau ia ingat akan nasihat kakek di Siauw-lim-pai itu dia menyesal karena kenyataannya, apa pun alasannya, sepak terjangnya menimbulkan keributan dah malapetaka, bahkan pembunuhan. Salah kaki kirinyakah? Tiba-tiba Han Han meloncat bangun, tidak kuasa lagi menahan tubuhnya yang digetarkan dua hawa yang bertentangan, sebagai akibat perang dalam hatinya. Ia mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh seperti orang gagu, tubuhnya bergoyang-goyang, kaki tangannya bergerak-gerak seolah-olah ia bertanding melawan dirinya sendiri.

Kedua tangannya seperti hendak saling pukul, atau lebih tepat, kalau tangan kiri hendak memukul tubuhnya sendiri penuh penyesalan dan hendak menghukum, tangan kanannya bergerak menangkis dengan keyakinan membela karena dia tidak bersalah. Demikian pula kedua kakinya bergerak menurutkan suara hati yang berlawan. Entah berapa lamanya Han Han berlaku seperti itu, tubuhnya bergerak-gerak aneh dan kelihatan lucu sekali, padahal ia merasa amat tersiksa baik tubuh maupun batinnya. Tiba-tiba Lulu datang mendekatinya, dan melihat keadaan kakaknya ini Lulu segera menyentuh lengan Han Han. Akan tetapi gadis ini menjerit karena lengan yang disentuhnya itu mengeluarkan getaran yang membuat tangan yang menyentuhnya seperti lumpuh. Ia meloncat ke belakang dan menjerit.

"Han-koko.... sadarlah....! Celaka, ada orang merampas kantung surat-surat itu....."

Sebelum gadis itu menjerit, Han Han sudah sadar. Sentuhan tangan yang halus dari adiknya itu sudah menyadarkannya dan seolah-olah menariknya kembali ke dunia dari alam khayal yang menakutkan. Ada sesuatu dalam sentuhan dan dalam suara Lulu yang amat mempengaruhi jiwa Han Han sehingga kini dia sadar, menghentikan gerakan-gerakan tubuhnya dan memandang adiknya itu.

"Apa? Apa yang dirampas orang?"

Post a Comment