nafsu bertahta di bumi
memberi sedikit akhirnya
minta kembali seluruhnya"
Mendengar kata-kata dalam nyanyian itu, diam-diam Han Han terkejut. Kata-kata yang luar biasa, dan tidak merupakan pelajaran apa pun juga. Seorang tosukah orang itu? Ataukah seorang hwesio? Agaknya bukan. Kim Cu yang mendengar suara itu pun terheran dan memandang gurunya, jelas bahwa gadis ini pun tidak mengenal suara siapa yang bernyanyi itu. Toat-beng Ciu-sian-li menghentikan langkahnya, memandang ke depan dengan kening berkerut. Sepasang mata nenek ini berkilat dan ia menenggak arak dari gucinya sebelum berkata dengan suara melengking tinggi.
"Bukankah Im-yang Seng-cu di depan itu? Kalau benar, lekas keluar jika ada urusan dengan aku, jangan sembunyi-sembunyi seperti tikus."
Terdengar suara ketawa dan tiba-tiba muncullah seorang kakek yang wajahnya kelihatan berseri dan bersih karena tidak ada kumis jenggotnya, pakaiannya kuning sederhana namun bersih, kakinya telanjang dan tangan kirinya memegang sebatang tongkat yang gagangnya berbentuk kepala naga. Han Han terkejut dan girang ketika mendengar disebutnya nama kakek ini, karena ia teringat kepada sahabat-sahabat baik yang dijumpainya di rumah Pek-eng-piauwkiok di kota Kwan-teng, yaitu Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li. Maka tanpa disadarinya ia berseru.
"Ah, jadi locianpwe inikah Guru Sin Kiat dan Soan Li?"
Mendengar seruan ini, kakek itu memandang Han Han, kelihatan tercengang dan meneliti Han Han dari atas sampai ke bawah, pandang matanya berhenti pada kaki buntung itu. Akan tetapi mulutnya tidak berkata sesuatu kepada Han Han, bahkan dia lalu menghadapi Toat-beng Ciu-sian-li dan berkata.
"Sian-li, apakah selama belasan tahun ini Sian-li baik-baik saja?"
Nenek itu mendengus dan mengerutkan kening, kemudian memandang tajam dan bertanya,
"Im-yang Seng-cu, mau apa engkau berkeliaran di sini?"
Nadanya penuh teguran dan jelas bahwa pertemuan ini tidak menyenangkan hatinya. Im-yang Seng-cu tertawa dan merogoh bajunya, mengeluarkan sebungkus hioswa sambil berkata,
"Kebetulan saja aku bertemu dengan Sian-li di sini dalam perjalananku hendak menjenguk dan menyembahyangi kuburan sahabatku Jai-hwa-sian."
"Jai-hwa-sian...? Dia.... dia.... Kong-kongku....."
Han Han berseru, terheran-heran. Benarkah kongkongnya yang berjuluk Jai-hwa-sian telah mati dan kuburannya berada di tempat ini?
Ucapan Han Han ini sungguhpun tidak ada artinya bagi Kim Cu, namun ternyata mengejutkan Toat-beng Ciu-sian-li dan Im-yang Seng-cu. Kakek itu kini memandang Toat-beng Ciu-sian-li dan suaranya tidak ramah lagi ketika bertanya.
"Sian-li, apa artinya ini? Kulihat pemuda ini baru saja menderita buntung kakinya dan kalau dia cucu Jai-hwa-sian engkau hendak apakan dia?"
"Im-yang Seng-cu, berani engkau mencampuri urusanku?"
Toat-beng Ciu-sian-li membentak, suara dan pandang matanya mengancam, rantai panjang di kedua telinganya bergerak-gerak seperti hidup.
"Mana berani aku lancang mencampuri urusanmu, Sian-li? Akan tetapi urusan yang menyangkut diri cucu sahabatku Jai-hwa-sian, tidak bisa tidak harus kucampuri. Kalau aku diam saja, aku malu bertemu dengan kuburannya."
"Im-yang Seng-cu, dengar baik-baik. Aku sama sekali tidak tahu bahwa bocah ini adalah cucunya, dan dia ini adalah muridku yang murtad, melarikan diri dari perguruan maka telah menerima hukuman. Adapun gadis ini juga muridku yang membelanya, maka kini keduanya harus dihukum mati."
Im-yang Seng-cu memandang Kim Cu dan Han Han bergantian. Pantas saja begitu bertemu dengan Han Han tadi ia tercengang menyaksikan persamaan pemuda itu dengan sahabatnya yang telah tewas. Kiranya bocah ini adalah cucu Jai-hwa-sian. Dan mata kakek ini yang awas dapat pula melihat kenekatan di dalam sikap dua orang muda itu, melihat pula pandang mata penuh cinta kasih. Ia tersenyum dan menjawab.
"Toat-beng Ciu-sian-li, engkau tahu bahwa aku cukup menghormatimu sebagai golongan lebih tua, akan tetapi engkau pun cukup maklum bahwa tak mungkin aku membiarkanmu mengulangi perbuatanmu dahulu terhadap cucu sahabatku Jai-hwa-sian. Eh, bocah berkaki buntung. Siapakah namamu?"
Han Han tidak mengharapkan pertolongan siapapun juga, dia mengaku cucu Jai-hwa-sian tadi pun karena tanpa disadari dan saking kagetnya mendengar disebutnya nama itu. Kini mendengar pertanyaan itu, diam-diam ia tersenyum. Ia dapat mengenal orang dan biarpun kakek ini bertanya secara kasar, namun ia dapat menangkap maksudnya yang baik, maka dengan tenang ia menjawab,
"Namaku Sie Han, locianpwe."
Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh mengejek.
"Dia she Sie dan mengaku cucu Jai-hwa-sian, hi-hi-hik"
Im-yang Seng-cu, setua ini engkau mudah tertipu seorang bocah."
Akan tetapi kakek itu tidak mempedulikan ejekan Toat-beng Ciu-sian-li, dan sambil menatap tajam wajah Han Han, ia bertanya lagi,
"Siapakah nama Jai-hwa-sian yang kau sebut Kong-kongmu itu?"
"Namanya Sie Hoat."
"Hi-hi-hi, heh-heh. Kebohongan yang dipaksakan, sungguh menggelikan."
Kembali nenek itu mengejek, lalu menenggak arak dari gucinya.
"Dan siapa nama Ayahmu?"
Im-yang Seng-cu bertanya lagi. Han Han mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah seorang pesakitan yang diperiksa untuk kemudian dijatuhi hukuman, dan seolah-olah ia hendak menggunakan nama Jai-hwa-sian untuk menyelamatkan diri. Biarpun Jai-hwa-sian itu kakeknya seperti yang diceritakan Sie Leng kepadanya, namun ia tidak suka kepada kakeknya yang amat jahat itu. Dia tidak sudi mencoba untuk menolong nyawanya dengan menggunakan nama kakeknya.
"Dengarlah, locianpwe dan juga engkau, Toat-beng Ciu-sian-li. Jangan sekali-kali mengira bahwa aku hendak menggunakan nama Jai-hwa-sian untuk menyelamatkan diri dengan mengaku sebagai cucunya. Aku hanya menceritakan keadaan yang sebenarnya yang juga belum lama aku dengar dari Enciku. Ayahku bernama Sie Bun An yang dulu tinggal di kota Kam-chi dan menurut Enciku, Kakekku bernama Sie Hoat berjuluk Jai-hwa-sian. Dan biarpun dia itu Kakekku, aku tidak sudi menyelamatkan diri dengan berlindung di belakang namanya."
Im-yang Seng-cu memandang dengan wajah berseri dan mata bersinar, diam-diam ia kagum sekali melihat sikap dan mendengar ucapan Han Han. Teringatlah ia akan sahabatnya itu dan ia menarik napas panjang.
"Tak salah lagi.... tak salah lagi, ia mewarisi kenekatan dan keganasan Keluarga Suma.... akan tetapi mewarisi kekerasan hati dan kegagahan Keluarga Kam...., Sian-li, terpaksa aku menentang kalau engkau hendak membunuh mereka."
Toat-beng Ciu-sian-li mendengus.
"Hemmm, Im-yang Seng-cu, engkau tidak tahu diri"
Andaikata benar Han Han ini cucu Jai-hwa-sian dan ada alasanmu melindunginya, akan tetapi Kim Cu adalah muridku dan kalau aku hendak membunuhnya sebagai muridku sendiri, setan manakah yang berhak mencampuri?"
"Bukan setan, melainkan akulah yang akan menentangmu, Ciu-sian-li."
Tiba-tiba Han Han berkata.
"Engkau tidak boleh membunuh Kim Cu. Dia tidak berdosa. Kalau mau bunuh, kau bunuhlah aku dan bebaskan Kim Cu."
"Kalau subo hendak membunuh Han Han, terpaksa teecu akan menentang dan melawan subo untuk membelanya."
Tiba-tiba Kim Cu juga berseru sambil menggandeng pemuda itu. Toat-beng Ciu-sian-li kelihatan kaget, mukanya merah sekali dan matanya terbelalak. Sejenak keadaan sunyi dan tegang, kemudian terpecah oleh suara ketawa Im-yang Seng-cu,
"Ha-ha-ha-ha. Cinta, betapa besar kekuasaanmu....."
Tubuhnya bergerak dan ia sudah meloncat di dekat Han Han menghadapi nenek itu, lalu berkata,
"Sian-li, apakah engkau masih berkeras dan hendak mencoba-coba melawan kami bertiga?"
Kemarahan Toat-beng Ciu-sian-li memuncak, matanya berkilat menyambar-nyambar ke arah tiga orang itu berganti-ganti. Akan tetapi dia bukanlah seorang bodoh yang hanya menuruti nafsu amarahnya. Tidak, Toat-beng Ciu-sian-li amat cerdik dan otaknya yang sudah masak itu penuh dengan perhitungan. Ia mengenal siapa adanya Im-yang Seng-cu yang biarpun merupakan tokoh murtad dari Hoa-san-pai, namun memiliki ilmu kepandaian hebat karena tokoh ini memetik banyak sekali ilmu-ilmu silat tinggi dari luar yang ia gabung dengan ilmu silat Hoa-san-pai, sehingga mungkin tingkat kepandaiannya sekarang tidak berada di bawah tingkat supeknya sendiri yaitu Thian Cu Cinjin ketua Hoa-san-pai.
Andaikata ia masih dapat mengatasi Im-yang Seng-cu dan tingkatnya masih menang sedikit, akan tetapi di situ masih ada Kim Cu yang telah mewarisi sebagian besar kepandaiannya, belum dihitung lagi Han Han yang biarpun buntung namun sesungguhnya memiliki kepandaian yang aneh dan luar biasa. Masih bergidik nenek ini kalau mengingat betapa ketika ia bertanding melawan Han Han di kota raja, pemuda itu dapat "memecah diri"
Menjadi tiga orang, kepandaian yang hanya ia dengar dalam dongeng saja, seperti yang dimiliki Sun Go Kong, atau Kauw Cee Thian Si Raja Monyet tokoh dalam dongeng See-yu. Kalau mereka ini maju dan sampai kalah, hal ini benar-benar akan amat memalukan. Kemarahannya dapat ia tekan dengan pertimbangan yang cerdik, dan wajah yang keruh itu tiba-tiba berseri-seri, kemudian terdengar ia menarik napas panjang dan berkata.
"Im-yang Seng-cu, engkau yang penuh dengan muslihat dan akal bulus. Engkau tahu bahwa aku tidak akan pernah mau membunuhmu, mengingat betapa engkau dahulu adalah seorang bocah yang dikasihi mendiang suamiku. Biarlah mengingat akan suamiku, aku memaafkanmu. Tentang bocah yang dua orang ini, hi-hi-hik, apa aku khawatirkan? Han Han telah buntung, tiada gunanya dan kalau Kim Cu lebih senang hidup sengsara di sampingnya daripada mati sebagai murid yang berbakti, terserah. Kalau aku menghendaki, kelak mereka akan dapat lari ke manakah? Engkau pun tidak mungkin melindungi mereka selamanya. Hi-hi-hik."
Setelah berkata demikian, Toat-beng Ciu-sian-li melangkah pergi, rantai panjang di kedua telinganya mengeluarkan bunyi berkerincingan. Setelah nenek itu pergi, Han Han tidak dapat menahan lagi keinginan tahunya dan ia bertanya,
"Locianpwe, apakah artinya ucapan locianpwe tentang Keluarga Suma dan Keluarga Kam tadi? Dan apakah benar kuburan Kakekku berada di sini?"