"Trang-trang-trang-cring-cring....."
Suara bertemunya senjata nyaring memekakkan telinga dan tampak bunga api muncrat-muncrat disusul teriakan-teriakan orang dan robohnya beberapa orang pengeroyok. Kenbali kedua orang yang gerakannya amat cepat tadi berdiri diam karena para pengeroyok juga diam dan agak menjauh, namun pengurungan tetap ketat. Kembali mereka seperti patung, saling pandang dan menanti kesempatan. Keadaan lebih menegangkan daripada tadi.
"Lihiap, berapa ekor kau robohkan?"
Lulu hampir tertawa. Benar-benar luar biasa sekali pengemis ini. Dikepung seperti itu, terancam maut, masih sempat bertanya yang merupakan kelakar yang menyegarkan untuk mengusir ketegangan.
"Lima.... ekor."
Jawabnya, lupa bahwa yang disebut lima ekor itu adalah lima orang perajurit bangsanya.
"Aku hanya empat ekor, kalah satu ekor. Wah, engkau hebat, Lihiap."
Melihat sikap tenang dan mendengar percakapan mereka, seperti hampir meledak saking marahnya dada Liok Bu Tang. Ia marah sekali dan menganggap anak buahnya tidak becus. Mengeroyok dua orang saja sampai sekali gebrakan roboh sembilan orang"
"Serbu dan serang terus sampai hancur tubuh mereka."
Teriaknya sambil memutar golok. Kembali terdengar suara nyaring bertemunya senjata dan sekali ini pertandingan benar-benar amat hebat. Fihak pengeroyok terlalu banyak dan biarpun sewaktu-waktu si pengemis kurus masih sempat bertanya berapa ekor yang dijatuhkan Lulu, namun jumlah korban mereka makin berkurang dan mereka menjadi lelah sekali.
Berjam-jam mereka dikeroyok dan jumlah lawan tidak pernah berkurang karena begitu ada yang roboh, tentu ada pula yang menggantikannya. Mereka berdua tidak hanya mandi keringat, juga mandi darah, sebagian besar darah lawan, sebagian kecil darah mereka sendiri yang keluar dari luka-luka bekas bacokan senjata para pengeroyok. Paha kiri Bu-eng Sin-kai Kwat Lee telah terbacok golok Si Matu Satu, hampir mengenai tulangnya, juga dada kanannya somplak dagingnya terkena bacokan pedang. Darah membasahi seluruh dada dan kaki kiri. Akan tetapi pengemis ini tak pernah mengeluh, terus mengamuk dengan tongkat bambunya. Lulu juga terluka, pundaknya tertusuk mengeluarkan darah dan pangkal pahanya di belakang, di bawah pinggul, kena diserempet pedang sehingga kulitnya terkupas dan mengeluarkan darah pula. Seperti pengemis yang sikapnya amat gagah dan membangkitkan semangat itu, Lulu tidak mau mengeluh dan terus mengamuk.
"Jangan khawatir, Lihiap. Biarpun mati, kita sudah mempunyai banyak pengawal. Kita sudah untung besar."
Demikian pengemis itu berkata gembira. Lulu kagum bukan main.
"Sin-kai, aku akan bangga mati di samping seorang gagah perkasa seperti engkau."
Kata Lulu sambil menusukkan pedangnya sampai tembus di dada seorang perajurit. Akan tetapi ketika ia mencabut podangnya, terdengar suara "krekk"
Dan pedangnya patah. Ternyata pedangnya itu terselip di tulang iga lawan dan ketika ia cabut, tertekuk dan patah. Pada saat itu, golok Liok Bu Tang menyambar ganas. Lulu terkejut mendengar desing angin golok dari samping ini. Cepat ia menjatuhkan diri ke atas tanah dan bergulingan sampai jauh, ketika meloncat bangun tangan kanannya menghantam kepala seorang lawan sampai pecah dan tangan kirinya merampas pedang orang itu. Dia telah bersenjata lagi.
"Bukan main. Gerakammu luar biasa indah dan lihainya, Lihiap."
Bu-eng Sin-kai Kwat Lee memuji akan tetapi ia tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena kini ia sudah dihujani serangan dari para pengeroyok yang mengepungnya.
Biarpun napasnya sudah terengah-engah, terpaksa ia mengerahkan tenaga dan memutar tongkatnya untuk melindungi dirinya. Kini keadaan kedua orang gagah ini menjadi lemah karena gerakan Lulu yang menggelundung tadi memisahkan dia dengan Kwat Lee sehingga kini para pengeroyok membuat gerakan mengurung menjadi dua rombongan. Dikurung seperti itu tentu saja lebih berbahaya dan lebih sukar melindungi tubuh, juga membutuhkan pengerahan tenaga lebih banyak untuk memutar senjata ke belakang dan untuk berloncatan. Saking lelahnya ditambah kehilangan darah, Lulu dan Kwat Lee sudah hampir tidak kuat menggerakkan senjata mereka lagi.
Mereka hanya mengandalkan kelincahan mereka yang otomatis, berloncatan ke sana ke sini untuk menghindarkan diri dari senjata lawan yang datang bagaikan hujan. Melihat keadaan dua orang yang dikeroyok itu, Liok Bu Tang si Mata Satu yang merasa penasaran, ingin menawan dua orang itu. Ia lalu menerjang dengan golok besarnya, menghantam tongkat di tangan Kwat Lee. Terdengar suara keras dan tongkat pengemis itu mencelat entah ke mana. Tangannya yang sudah kehabisan tenaga tidak mampu lagi mempertahankan hantaman golok yang amat kuat itu. Liok Bu Tang kini menyerang Lulu dan seperti juga pengemis itu, dalam pertemuan tenaga, sungguhpun kekuatan sin-kang gadis ini sebetulnya lebih hebat, namun karena tenaganya habis, pedangnya patah dan terpaksa ia membuang pedang buntung dari tangannya.
"Jangan bunuh mereka. Tangkap hidup-hidup."
Liok Bu Tang berseru girang. Dia amat marah dan membenci kedua orang itu dan kalau membunuh mereka, ia anggap terlalu enak bagi mereka. Tidak, mereka harus disiksa dulu dan gadis remaja yang cantik itu... ah, dia sendiri yang akan "menanganinya".
Perintah Si Mata Satu itu menyelamatkan nyawa Lulu dan Kwat Lee. Andaikata tidak ada perintah itu, dalam keadaan bertangan kosong, dikeroyok begitu banyak tentara bersenjata, dalam keadaan sudah amat lelah, tentu mereka takkan dapat bertahan lama. Kini para pengeroyok itu menyimpan senjata mereka dan menyerbu dengan tangan kosong. Tentu saja Lulu dan Kwat Lee tidak mau menyerah begitu saja dan menyambut mereka dengan hantaman-hantaman. Kembali mereka merobohkan beberapa orang sebelum Kwat Lee terkulai roboh saking lelahnya, sedangkan Lulu sudah merasa pening kepalanya, pandang matanya berkunang akan tetapi ia masih bertahan terus. Pada saat itu terdengar suitan keras sekali dan para pengeroyok tiba-tiba menjadi kacau-balau oleh serbuan delapan orang berpakaian pengemis. Namun delapan orang itu ternyata lihai bukan main,
Apalagi seorang di antara mereka, seorang kakek gembel yang sudah tua sekali dan tubuhnya kurus kering tinggi, rambut dan jenggotnya yang sudah putih itu riap-riapan dan kakinya telanjang. Dengan senjata sebatang tongkat butut pengemis tua ini di samping tujuh orang temannya mengamuk dan setiap orang yang dekat dengannya tentu roboh. Ketika Twa-to-kwi Liok Bu Tang melihat kakek tua ini, dia terkejut dan cepat meloncat mendekati Lulu, menggerakkan goloknya membacok. Lulu yang sudah lelah sekali, mengelak ke kiri, akan tetapi sebuah pukulan dari belakang mengenai punggungnya dan ia roboh menelungkup. Ketika ia menggerakkan kepala menoleh, ia melihat Si Mata Satu mengangkat golok disabetkan ke arah lehernya. Lulu tidak berdaya lagi, dan ia membelalakkan mata menanti datangnya maut yang tak terhindarkan lagi itu.
"Tranggggg....."
Golok itu terpental dan Si Mata Satu cepat melompat tinggi dan terus kabur. Kakek tua renta yang menangkis golok dengan tongkat bututnya itu mengamuk dan menyambar tubuh Lulu yang sudah pingsan. Gadis ini begitu kaget dan juga bersyukur bahwa pada detik terakhir ia tertolong, maka tekanan batin karena kaget dan girang ini membuat tubuhnya yang sudah lelah dan lemah kehilangan banyak darah tak kuat bertahan dan ia pingsan. Lulu tidak tahu bahwa dia dan Kwat Lee tertolong, dan akhirnya dibawa lari delapan orang pengemis lihai itu ke dalam hutan-hutan di kaki Gunung Lu-liang-san. Dalam keadaan pingsan ia bermimpi bertanding dikeroyok banyak orang di samping kakaknya, dan hatinya girang bukan main karena amukan kakaknya membuat semua pengeroyok lari tunggang langgang.
Kita tinggalkan dulu Lulu yang ditolong oleh para pengemis dan dibawa pergi untuk dirawat luka-lukanya dan mari kita mengikuti pengalaman Han Han bersama Kim Cu. Telah diceritakan di bagian depan betapa kedua orang muda itu diajak pergi oleh Toat-beng Ciu-sian-li menuruni Puncak In-kok-san. Agaknya nenek yang memiliki watak sadis ini sengaja membawa Han Han dan Kim Cu melalui lereng-lereng gunung yang terjal dan sukar. Tentu saja Han Han yang baru saja buntung kakinya dan masih lemah, menderita kurang darah dan nyeri, sengsara sekali harus mengikuti nenek itu melalui jalan yang sukar. Ia terpincang-pincang dibantu tongkatnya dan untung di sampingnya ada Kim Cu yang selalu menggandeng dan membantunya apabila melalui jalan yang amat sukar. Cinta kasih gadis ini yang jelas tampak dalam sikap dan pembelaannya, benar-benar amat mengharukan hati Han Han. Ketika mereka tiba di sebelah hutan, tiba-tiba nenek itu berhenti, menenggak araknya dan menarik napas panjang.
"Aaahhhhh, tidak sangka engkau mati di sini....."
Han Han dan Kim Cu yang juga berhenti, memandang nenek itu dan mengira bahwa tentu nenek itu akan turun tangan membunuh mereka di tempat sunyi itu. Mereka hanya menanti nasib, karena maklum bahwa melawan pun tidak akan ada gunanya. Akan tetapi di dalam hati dua orang muda itu terkandung tekad yang sama. Han Han mengambil keputusan untuk menggunakan sisa hidupnya ini untuk membela Kim Cu dan kalau nenek itu turun tangan hendak membunuh Kim Cu, ia akan melawannya, biarpun kakinya tinggal satu. Demikian pula Kim Cu, dia akan membela Han Han kalau hendak dibunuh gurunya dan ia akan melawan gurunya. Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi. Suara itu halus dan terdengar seperti amat jauh, akan tetapi kata-katanya jelas terdengar oleh mereka bertiga.
"Cinta....
Betapa besar kekuasaanmu
menyelimuti seluruh alam mayapada
menunggang angin menyelam air
terkandung dalam api tanah dan kayu
engkaulah penggerak perputaran ngo-heng
engkaulah imbangan Im-yang"
Cinta bertahta di langit
langit hanya memberi tanpa meminta