Halo!

Pendekar Super Sakti Chapter 105

Memuat...

Memang, kalau tiga orang itu hanya mengandalkan tenaga sin-kang, kiranya mereka takkan dapat berbuat banyak terhadap Han Han yang jauh lebih kuat, juga dalam hal kecepatan gerakan, Han Han menang jauh. Akan tetapi karena mereka menggunakan pedang dan ilmu pedang mereka merupakan ilmu pedang tingkat tinggi yang amat hebat gerakannya, Han Han yang belum matang ilmu silatnya itu menjadi bingung. Biarpun ia dapat mengelak cepat, akan tetapi karena dikeroyok tiga dan tidak mengenal perubahan-perubahan gerakan tiga batang pedang yang menyambar-nyambar ganas, tidak dapat ia menghindarkan diri dari sambaran-sambaran pedang sehingga dalam belasan jurus berikutnya, pahanya tergores pedang dan pundaknya juga terluka oleh tusukan ujung pedang. Melihat pedang mereka berhasil, Lai Kwan dan Ciok Lin lebih bernafsu lagi, hanya Kim Cu yang berseru.

"Han Han, pergilah. Untuk apa melindungi anjing Mancu dan mengorbankan diri sendiri?"

Seruan ini berkesan di hati Han Han dan ia kembali mencatat sikap baik dari gadis itu terhadapnya. Akan tetapi mana mungkin ia membiarkan cici-nya, cihu-nya, dan keponakannya dibunuh? Dia menjadi bingung sendiri. Semenjak dahulu ia bersumpah dan mengambil keputusan di hatinya untuk membunuh perwira-perwira Mancu yang telah membasmi keluarganya, tujuh orang jumlahnya dan terutama sekali perwira muka kuning dan perwira brewok yang ternyata adalah Giam-ciangkun ini. Akan tetapi sekarang bagaimana? Ia malah melindungi nyawa perwira yang setiap saat dahulu tak pernah ia lupakan sebagai musuh nomor satu itu, melindunginya dari ancaman bekas suhengnya dan kedua sucinya. Bahkan ia terpaksa harus menentang dan bertanding melawan Kim Cu, gadis yang demikian berbudi terhadapnya"

Ia menjadi bingung, akan tetapi apa yang harus ia lakukan?

"Mampuslah."

Kembali pedang Lai Kwan berkelebat menusuk perutnya. Han Han kaget dan dengan hawa pukulan tangan menangkis sehingga pedang itu meleset, tidak jadi menusuk perut akan tetapi masih melukai pahanya dengan goresan pedang.

Mulailah ia marah sekali. Mereka ini tidak tahu betapa sejak tadi dia mengalah, hanya mengelak dan sama sekali tidak balas menyerang. Kebingungan hatinya, ditambah rasa nyeri dari luka-luka itu, menimbulkan kemarahannya dan tiba-tiba ia memekik keras, tubuhnya mundur tiga langkah kemudian ia mendorongkan kedua tangannya ke depan sambil mengerahkan tenaga Swat-im Sin-ciang. Tiga orang murid Toat-beng Ciu-sian-li yang sudah memiliki ilmu Swat-im Sin-ciang, mengenal gerakan ini dan cepat mereka pun melakukan gerakan serupa untuk meniaga diri. Akan tetapi, betapa kaget hati Ciok Lin dan Lai Kwan ketika mereka merasa hawa dingin yang luar biasa menyerang mereka, membuat mereka terhuyung ke belakang dengan muka pucat, kemudian roboh terguling dengan tubuh menggigil kedinginan.

"Swat-im Sin-ciang....."

Kim Cu berseru kaget dan heran, juga khawatir melihat keadaan kedua orang saudara seperguruannya. Dia sendiri tidak dipukul oleh Han Han, maka dia tidak terluka. Kini dengan cepat ia menerjang maju, pedangnya menusuk dada. Han Han menangkis dengan hawa pukulan Swat-im Sin-ciang, dan hawa dingin yang menyambar dari samping, membuat Kim Cu menggigil dan terhuyung. Han Han melangkah maju dan menyambar pedang dari tangan Kim Cu. Gadis itu berdiri terbelalak memandang dengan mulut melongo ketika melihat Han Han yang sudah marah sekali itu melampiaskan kemarahannya pada pedang itu yang dipatah-patahkannya dengan jari tangan seperti orang mematahkan sebatang lidi saja.

"Kim Cu, engkau tahu bahwa aku tidak ingin memusuhi kalian. Harap engkau mengerti dan suka membawa pergi kedua orang saudaramu."

Sejenak Kim Cu memandang wajah Han Han penuh kekecewaan, mengingatkan Han Han akan pandang mata Kim Cu beberapa tahun yang lalu ketika Kim Cu melepasnya pergi bersama Lulu. Kemudian dengan gerakan lunglai Kim Cu membalikkan tubuh, memeriksa Ciok Lin dan Lai Kwan yang sudah bersila dan menghimpun tenaga menyembuhkan luka mereka. Kim Cu membangunkan mereka, menggandeng mereka, sekali lagi memandang kepada Han Han, kemudian membawa kedua orang saudaranya pergi. Terdengar oleh Han Han isak tertahan keluar dari dada gadis itu. Ia menghela napas dan setelah bayangan Kim Cu dan kedua saudaranya lenyap di antara pohon-pohon, ia membalikkan tubuh menghadapi Giam-ciangkun dan isterinya.

"Sungguh berbahaya....."

Giam-ciangkun berkata lirih.

"Dan ilmu kepandaianmu hebat bukan main.... Sie-taihiap."

Panglima yang baru saja terbebas dari maut untuk kedua kalinya, pertama di tangan Han Han dan yang kedua kalinya di tangan murid-murid Toat-beng Ciu-sian-li itu, amat cerdik dan masih belum berani menyebut Han Han sebagai adik iparnya, berkata penuh kagum.

"Ah, untung ada engkau, Adikku."

Kata Sie Leng sambil memeluk adiknya dan mengucurkan air mata.

"Kalau tidak, tentu kami sekeluarga telah terbunuh oleh mereka. Han Han, kepandaianmu luar biasa. Mari kau ikut bersama kami ke kota raja, dengan kepandaianmu seperti itu tentu engkau akan mudah men dapatkan kedudukan tinggi."

"Betul sekali."

Giam-ciangkun berkata.

"Aku yang menanggung bahwa engkau tentu akan diangkat menjadi panglima pengawal istana."

Han Han termenung lalu berkata,

"Memang aku hendak pergi ke kota raja, untuk mencari seorang penjahat keji."

"Siapakah dia, Han-te? Aku akan dapat membantu mencarinya,"

Kata Giam-ciangkun penuh gairah.

"Tentu Cihu tahu siapa dia. Dia bernama Ouwyang Seng...."

"Ah....."

Giam-ciangkun teringat akan semua rencana yang diatur oleh Puteri Nirahai di dalam rapat di rumah Pangeran Ouwyang Cin Kok. Akan tetapi ia pura-pura bertanya,

"Tentu saja aku mengenalnya. Dia putera Pangeran Ouwyang Cin Kok. Apakah yang telah ia lakukan terhadapmu, Adikku?"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment