Terdengar seruan nyaring sekali sehingga Han Han diam-diam terkejut. Yang datang adalah seorang wanita yang berkepandaian tinggi. Buktinya, dari jauh sudah dapat menyambit piauw yang ketika ia sampok tadi membayangkan tenaga besar, dan sebelum tampak orangnya sudah terdengar suaranya yang nyaring. Tak lama kemudian muncullah tiga orang muda yang gerakannya tangkas dan gesit, berloncatan dengan gerakan ringan sekali membayangkan gin-kang yang tinggi tingkatnya.
Mereka itu adalah dua orang gadis dan seorang pemuda. Dua orang gadis yang amat cantik dan seorang pemuda yang tampan. Usia mereka sebaya dengan Han Han, dan pakaian mereka, dapat diduga bahwa mereka adalah orang muda dunia kang-ouw. Han Han memandang mereka dengan sinar mata penuh selidik. Jantungnya berdebar dan ia mengingat-ingat karena merasa yakin bahwa dia mengenal tiga orang muda yang perkasa ini. Tiga orang itu melihat seorang pemuda berpakaian putih robek-robek dan berambut panjang riap-riapan berdiri tegak melindungi pembesar Mancu dan anak isterinya segera meloncat ke depan Han Han, memandang dengan penuh kemarahan dan penuh selidik pula.
"Sute....."
Tiba-tiba seorang di antara dua gadis itu, yang cantik dan berpakaian kuning yang memiliki mata bening dan sikap jujur, berseru dan melangkah maju.
"Benar, engkau Han Han. Engkau Han-sute....."
Han Han tersenyum. Tentu saja. Mengapa ia hampir melupakan mereka ini, terutama sekali gadis berpakaian kuning ini? Mereka ini adalah sahabat-sahabatnya dahulu, bukan hanya sahabat, malah suci-sucinya dan suhengnya, karena dia bersama mereka inilah yang dipilih oleh Toat-beng Ciu-sian-li sebagai murid. Gadis manis berpakaian kuning ini siapa lagi kalau bukan Kim Cu. Dan gadis ke dua yang pendiam dan bermata tajam berwajah serius itu adalah Phoa Ciok Lin, sedangkan pemuda tampan itu adalah Gu Lai Kwan.
"Wah, kiranya kedua suci dan suheng dari In-kok-san."
Ia menatap wajah Kim Cu dan sampai agak lama mereka saling bertemu pandang. Betapa cantiknya Kim Cu sekarang, pikir Han Han dengan pandang mata mesra. Di antara semua murid Ma-bin Lo-mo tentu saja Kim Cu merupakan murid yang paling dekat dengannya. Bahkan, takkan pernah ia dapat melupakan kebaikan Kim Cu pada pertemuan terakhir mereka, Kim Cu yang semestinya menangkapnya, bahkan membebaskannya, dan menbiarkannya pergi bersama Lulu, bahkan memberi pakaian dan sepatu kepada Lulu.
"Kim Cu suci, bagaimanakah keadaanmu selama ini? Kuharap engkau baik-baik saja, dan sampai kini aku belum pernah melupakan budi kebaikanmu."
Tiba-tiba kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali dan terpaksa ia menundukkan mukanya. Untuk melenyapkan rasa jengah bahwa kenyataannya Han Han hanya memperhatikan dia seorang, Kim Cu segera bertanya.
"Sute, kenapa kau berada di sini? Dan siapakah yang membunuhi banyak pengawal anjing-anjing Mancu itu?"
Kim Cu menudingkan telunjuknya yang kecil runcing ke arah mayat yang berserakan.
"Akulah yang membunuh mereka,"
Kata Han Han perlahan penuh keraguan akan benar tidaknya semua yang telah ia lakukan. Ia teringat akan wejangan kakek di Siauw-lim-si itu dan kini ia kembali telah menyebabkan kematian banyak sekali manusia, sampai puluhan banyaknya. Puluhan orang manusia yang sama sekali tidak dikenalnya dan yang ia sungguh tidak tahu untuk apa ia bunuh.
"
"Engkau....?"
Seruan ini terdengar dari mulut tiga orang muda perkasa itu dan mata Kim Cu yang bening terbelalak memandang wajah Han Han. Seruan yang disertai perasaan tidak percaya. Mereka sudah sering kali bentrok dengan para pengawal dan andaikata mereka bertiga. dikeroyok oleh empat puluh lebih orang pengawal itu, tentu saja mereka akan mampu membunuh mereka semua. Akan tetapi Han Han? Seorang diri pula? Betapa mungkin dapat dipercaya.
"Han-sute, kalau engkau yang telah membunuh semua pengawalnya, mengapa tidak lekas membunuh pembesar Mancu ini?"
Tanya Phoa Ciok Lin, mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh selidik.
"Bahkan engkau tadi telah menangkis piauw-piauw yang kulepaskan."
Kata pula Gu Lai Kwan.
"Apa artinya semua ini?"
Sedangkan Kim Cu tidak bertanya sesuatu, hanya memandang penuh kekhawatiran kepada pemuda yang sejak dahulu amat disukanya dan amat dikaguminya itu. Ia sudah mengenal watak Han Han yang aneh. Dahulu saja sudah mengambil seorang gadis Mancu sebagai adik"
Siapa tahu setelah kini dewasa, apa saja yang akan dilakukannya. Han Han menarik napas panjang lalu mengangguk perlahan.
"Sesungguhnya, akulah yang membunuh para pengawal itu dan aku pula yang menangkis sambaran piauw yang kau lepaskan tadi."
"Han Han, engkau tentu melakukan tangkisan piauw karena salah paham, mengira kami menyerangmu. Dan tadi Gu-suheng juga salah sangka, dari jauh tidak mengenalmu maka mengirim serangan langsung."
Han Han menggelengkan kepala dan berkata,
"Tidak demikian, Kim Cu suci, aku memang menangkis piauw-piauw itu untuk melindungi keluarga ini."
"Apa....?"
Kembali seruan ini keluar dari tiga mulut dengan berbareng. Kalau mereka melihat Han Han menjadi pelindung pembesar Mancu, hal ini tidak akan mengherankan hati mereka. Akan tetapi setelah mendengar bahwa Han Han membunuh sekian banyaknya pengawal Mancu, mayat-mayat mereka pun masih belum dingin benar, bagaimana sekarang orang aneh ini malah melindungi pembesar Mancu yang dikawal oleh para pengawal yang dibunuhnya? Sungguh membingungkan.
"Han-sute, minggirlah dan biarkan aku membunuh anjing Mancu ini bersama anak isterinya."
Gu Lai Kwan membentak tidak sabar lagi. Akan tetapi Han Han tetap berdiri tegak menghadang.
"Tidak boleh, Gu-suheng. Kalian tidak boleh membunuh mereka."
"Han Han! Mengapa begini? Engkau sudah membunuhi pengawalnya, mengapa melindungi mereka ini?"
Kim Cu bertanya dengan suara kecewa dan penasaran.
"Karena dia adalah Ciciku dan anaknya adalah keponakanku."
Jawab Han Han tegas.
"Kalau begitu minggirlah dan biarkan kami membunuh Si Pembesar anjing...."
Phoa Ciok Lin berseru.
"Tidak boleh. Dia itu adalah Cihu-ku, terpaksa aku harus melindunginya demi kebahagiaan Cici dan keponakanku."
"Han Han."
Kim Cu berkata mendahului sumoi dan suhengnya.
"Kalau engkau masih keluarga pembesar ini, mengapa kau membunuhi para pengawalnya?"
Han Han menghela napas panjang, kemudian menjawab,
"Karena kulihat mereka membunuh para pengungsi."
"Nah, itu bagus sekali."
Kim Cu berkata girang.
"Engkau menyaksikan sendiri betapa jahatnya penjajah Mancu, Han Han. Mereka membunuhi rakyat jelata, mereka membasmi keluargamu, bukan? Juga keluargaku, keluarga sumoi dan suheng ini. Mereka itu jahat, patut dibasmi dari tanah air kita. Minggirlah dan biarkan aku membunuh pembesar ini. Biar dia Cihu-mu, akan tetapi dia ini anjing Mancu. Tentu saja kami tidak akan mengganggu Cici dan keponakanmu."
"Benar apa yang dikatakan Kim-sumoi, Han Han. Minggirlah. Engkau pun musuh bangsa Mancu. Mereka itu sudah terlampau banyak membunuh rakyat yang tidak berdosa, telah menginjak-injak tanah air dan rakyat kita. Jangan sampai seorang pemuda seperti engkau menjadi seorang pengkhianat dan penjilat anjing Mancu."
Mata Han Han berkilat ketika ia menentang pandang mata Gu Lai Kwan.
"Aku bukan sute kalian dan hanya mengingat akan perhubungan di antara kita dahulu, terutama sekali mengingat akan budi kebaikan Nona Kim Cu, maka aku melayani kalian bicara. Bolehkah aku bertanya, sudah banyak pulakah kalian membasmi orang-orang Mancu termasuk mereka yang mau bekerja sama dengan pemerintah Mancu?"
Tiga orang ini mengira bahwa setelah membunuhi puluhan orang pengawal itu, Han Han lalu menjadi sombong.
"Ha-ha, sungguh pertanyaan lucu."
Jawab Gu Lai Kwan.