"Kalian berdua pasti bahagia sekali!" "Kakak dan Paman sastrawan pasti hidup bahagia juga," sahut Tio Cie Hiong sambil memandang Siang Koan Goat Nio.
Kakak, gadis ini...." "Dia putri kami, namanya Siang Koan Goat Nio." Kou Hun Bijin memberitahukan.
"Oh?" Tio Cie Hiong terbelalak.
"Sungguh cantik sekali putri kalian!" "Hi hi hi!
Siapa dulu?" sahut Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan "Tentu ayahnya," ujar Kim Siauw Suseng.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak "Sastrawan sialan, engkau begitu jelek, tapi kenapa bisa mempunyam putri yang sedemikian cantik" Sungguh di luar dugaan!" "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa.
"Pengemis bau, aku sangat cantik, maka anakku juga pasti cantik." "Tidak salah, tidak salah." Sam Gan Sin Kay terus tertawa.
"Kim Siauw Suseng, Bijin!
Silakan duduk!" ucap Tio Tay Seng ramah, kemudian menyuruh pembantu menyuguhkan minuman.
Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin duduk, tak lama kemudian muncullah Tio Hong Hoa bersama Lie Ai Ling.
Tio Hong Hoa segera memberi hormat kepada mereka, sedangkan Lie Ai Ling bersujud.
"Ai Ling memberi hormat kepada Paman dan Bibi," ucap gadis itu.
"Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa.
"Bangunlah!" "Adik Cie Hiong!" tanya Kou Hun Bijin.
"Siapa gadis itu?" "Putri Kakak Hong Hoa." Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Oooh!" Kou Hun Bijin manggut-manggut, kemudian mengerutkan kening.
"Eh, di mana Lie Man Chiu" Kenapa dia tidak kelihatan?" "Dia...
dia...." Tio Cie Hiong memandang Tio Tay Seng, agar pamannya yang menjelaskan.
"Mantuku itu memang binatang," ujar Tio Tay Seng mencaci.
"Tak punya perasaan, tak punya nurani dan...." "Ayah!" Tio Hong Hoa menatapnya dengan wajah muram.
"Jangan mencacinya...." "Aaaakh...!" keluh Tio Tay Seng.
Itu membuat Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin saling memandang.
"Apa gerangan yang telah terjadi?" tanya Kou Hun Bijin.
"Dia telah meninggalkan kami," sahut Tio Hong Hoa memberitahukan sambil tersenyum getir.
"Apa"!" Kou Hun Bijin dan Kim Siauw Suseng terbelalak.
"Lie Man Chiu sudah mati?" "Dia memang telah mampus!" sahut Tio Tay Seng dengan wajah dingin.
"Ayah...." Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepala kemudian memberitahukan, "Dia tidak mati, melainkan meninggalkan pulau ini." "Oh?" Kim Siauw Suseng tertegun.
"Kenapa dia meninggalkan pulau ini?" "Dia...." Tio Hong Hoa menghela nafas panjang.
"Dia ingin mengangkat namanya di rimba persilatan." "Apa?" Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Kenapa dia jadi begitu?" "Itu sungguh di luar dugaan!" Kou Hun Bijin mengge1eng~ge1engkan kepala.
"Padahal dia murid Tayli Lo Ceng, namun bersifat begitu." "Tayli Lo Ceng memang ke mari sete!ah mantu sialan itu pergi." Tio Tay Seng memberitahukan.
"Kepala gundul itu bilang apa?" tanya Kou Hun Bijin.
"Padri tua itu bilang bahwa semuanya itu ad?lah takdir dan suatu karma" sahut Tio Tay seng sambil menggelenggelengkan kepala.
"Ayahku pernah meninggalkan ibu, maka putriku harus menerima karma perbuatan itu." "Kepala gundul berkata begitu?" tanya Kou Hun Bijin dengan kening berkerut-kerut.
"Ya." Tio Tay Seng mengangguk.
"Hm!" dengus Kou Hun Bijin.
"Kalau aku bertemu kepala gundul itu, pasti menggetok kepalanya!" "Bijin...." kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan omong sembarangan!" "Kepala gundul itu selalu mengatakan takdir dan karma!
Padahal Lie Man Chiu tak punya perasaan dan nurani, namun kepala gundul itu masih membela murid sialannya dengan alasan takdir dan karma!
Dasar kepala gundul...," sahut Kou Hun Bijin sengit.
"Oh ya!" tanya Kim Siauw Suseng.
"Sudah berapa lama dia meninggalkan kalian?" "Sudah lima tahun," jawab Tio Hong Hoa dengan wajah murung.
"Dia pernah pulang?" tanya Kim Siauw Suseng lagi.
"Tidak pernah." Tio Hong Hoa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dasar lelaki sialan!" caci Kou Hun Bijin.
"Kalau aku bertemu dia, pasti kuhajar dia sambil merangkak-rangkak!" "Bijin...." Kim Siauw Suseng mengerutkan kening.
"Jangan bicara sembarangan tidak baik" "Eh?" Kou Hun Bijin melotot.
"Bijin, kita adalah tamu.
Jangan lupa lho!" Kim Siauw Suseng mengingatkannya "Harus tahu diri dikit." "Huaha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Sungguh tak disangka, Kim Siauw Suseng berubah begitu sungkan!
Ha ha ha.!" "Pengemis bau!" Wajah Kim Siauw Suseng kemerahmerahan "Oh ya, di mana It Sim Sin Ni?" "ibuku telah meninggal," sahut Tio Tay Seng memberitahukan dengan wajah murung.
"Hah" Apa?" Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin tertegun.
"It Sim Sin Ni sudab meninggal?" "Ya." Tio Tay Seng mengangguk.
"Yaaah!" Kou Hun Bijin mengheja napas panjang.
"Tak disangka sama sekali." Hening seketika suasana, berselang beberapa saat kemudian, Kou Hun Bijin memandang Tio Cie Hiong seraya bertanya, "Cie Hiong, engkau tidak punya anak?" "Punya." Tio Cie Hiong memberitahukan "Anak laki-laki, namanya Tio Bun Yang." "Oh?" Wajah Kou Hun Bijin berseri.
"Dimana dia" Cepat panggil dia kemari, aku ingin melihatnya!" "Dia tidak berada disini," sahut Lim Ceng Im.
"Sudah sebulan dia berangkat ke Gunung Thian San bersama kauwheng." "Mau apa putra kalian ke Gunung Thian San?" tanya kim Siauw Suseng heran.
"Berlatih lweekang di sana," sahut Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Kauw-heng yang mengusulkan." "Oooh!" Kim Siauw Sus?ng manggut-manggut.
"Sayang sekali" Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala, "Oh ya, sudah berapa usianya?" "Lima betas tahun" Lim Ceng Im memberitahukan dan bertanya "Memangnya kenapa dan ada apa, Bibi?" "Bagus!" Kou Hun Bijin tertawa "Putriku berusi?
empat belas tahun" "Bagus!" sahut Sam Gan Sin Kay sambil tertawa, "Bijin, Bun Yang tampan sekali, bahkan lemah lembut dan sudah menguasai seluruh kepandaian Cie Hiong, dia pun sangat cerdas." "Pengemis bau!" Kim Siauw Suseng tertawa "Mulai mempromosi ya?" "Kira-kira begitulah," sahut Sam Gan Sin Kay lalu memandang Siang Koan Goat Nio "Sastrawan siatan!
Putrimu cantik sekali" "Betul" Kim Siauw Suseng mengangguk dan menambahkan, "Bahkan lemah lembut" "Dia pun telah menguasai seluruh kepandaian kami," sambung Kon Hun Bijin melanjutkan, "juga pandai meniup suling" "Bun Yang pun pandai sekali meniup suling, Cie Hiong menghadiahkan suling pualam kepadanya," ujar Sam Gan Sin Kay.
"Suara sulingnya sungguh m?nggetarkan kalbu," sela Tio Tay Seng.
"Siapa yang mendengarnya pasti terlena." "Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa gelak.
"Aku pun telah menghadiahkan suling emas kepada putriku" "Siapa yang mendengar suaranya, sukmanya pasti terbetot keluar," sambung Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring "Ibu..." Wajah Siang Koan Goat Nio tampak kemerahmerahan "Wuah!
Untung...," ujar Sam Gan Sin Kay dengan wajah serius.
"Apa maksudmu, pengemis bau?" tanya Kim Siauw Suseng sambil men?tapnya tajam.
"Untung apa?" "Putrimu itu...." Sam Gan Sin Kay tersenyum.
"Kenapa dia?"" tanya Kim Siauw Suseng.
"Untung tidak memiliki kebiasaan buruk ibunya," sahut Sam Gan Sin Kay memberitahukan.
"Ibunya sering tertawa nyaring dan cekikikan, bukankah itu merupakan kebiasaan buruk?" "Hi hi his" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan, "Pengemis bau!
Kalau engkau berani nyerocos yang bukan-bukan, pipimu pasti bengkak!" "Maaf!
Maaf!" Ucap Sam Gan Sin Kay, lalu diam tak bersuara lagi.
"Oh ya, Adik kecil!" Kou Hun Bijin memandang Tio Cie Hiong.
"Engkau harus mewariskan sedikit kepandiaanmu kepada putriku, jangan pelit lho!" "Kakak!" Tio Cie Hiong tersenyum.
"Aku memang berniat demikian." "Oh?" Kou Hun Bijin tertawa gembira.
"Goat Nio cepatlah mengucapkan terima kasih kepada Paman Cie Hiong!" "Terima kasih, Paman!" Ucap Siang Koan Goat Nio.
"Cie Hiong!" Kim Siauw Suseng tertawa.
"Engkau ingin mewariskan kepandaian kepada putriku?" "Tujuh jurus Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Pemusnah Kepandaian)." Tio Cie Hiong memberitahukan.
"Dan Cit Loan Kiam Hoat (ilmu Pedang Pusing Tujuh Keliling)." "Apa?" Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin terbelalak.
"Cit Loan Kiam Hoat?" "Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.
"Ilmu ciptaanku, yang kalau tidak dalam keadaan bahaya, tidak boleh dikeluarkan." "Kenapa?" tanya Kou Hun Bijin.
"Sebab ilmu tersebut sangat lihay dan ganas, yang setiap jurusnya pasti mematikan lawan," jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Cie Hiong, maukah engkau memperlihatkan ilmu itu" Kami ingin menyaksikannya," ujar Kim Siauw Suseng.
"Tentu mau." Tio Cie Hiong tersenyum sambil bangkit berdiri.
"Goat Nio, mana suling emasmu" Pinjamkan kepadaku!" "Ya, Paman." Siang Koan Goat Nio segera menyerahkan suling emasnya.
Hatinya girang bukan main sebab kedua orang tuanya selalu memuji kepandaian Tio Cie Hiong, dan kini ia mempunyai kesempatan untuk menyaksikannya.
Tio Cie Hiong melangkah ke tengah-tengah ruangan, mempertunjukkan Cit Loan Kiam Hoat, ilmu ciptaannya.
Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin menyaksikannya dengan mata terbelalak, kemudian merasa berkunang-kunang dan pusing.
Begitu pula Siang Koan Goat Nio.
Bahkan gadis itu memejamkan matanya, tidak berani terus menyaksikannya karena merasa pusing sekali.
Berselang beberapa saat, barulah Tio Cie Hiong menghentikan gerakannya.
Dikembalikannya suling emas itu kepada Siang Koan Goat Nio, lalu kembali ke tempat duduknya.
"Adik kecil..." Kou Hun Bijin menatapnya dengan mata terbeliak.
"Betulkah engkau yang menciptakan Cit Loan Kiam Hoat itu?" "Betul." Tio Cie Hiong mengangguk kemudian memberitahukan, "Itu berdasarkan ilmu pedang Im Sie Hong Mo dan Pek Ih Hong Li." "Bukan main hebatnya ilmu pedang itu!" Kou Hun Bijin menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya.
"Adik kecil, betulkah engkau akan mengajarkannya kepada Goat Nio?" "Tentu." Tio Cie Hiong tersenyum.
"Bagaimana mungkin aku bohong" Bahkan aku juga akan mengajarkan kepada Ai Ling, jadi mereka berdua bisa berlatih bersama-sama." "Terima kasih, Paman!" Ucap Lie Ai Ling cepat.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa mendadak sambil menatap Kim Siauw Suseng.
"Sastrawan sialan!
Kenapa engkau diam saja." "Pengemis bau!" Sahut Kim Siauw Suseng sambil menghela nafas panjang.
"Aku m?sih merasa pusing gara-gara menyaksikan Ilmu Pedang Cit Loan Kiam Hoat itu." "Oh?" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.
"Sastrawan sialan, kita adalah Bu Lim Ji Khie, namun sudah ketinggalan jauh." "Benar." Kim Siauw Suseng manggut-manggut.
"O!eh karena itu, lebih baik kita hidup tenang saja." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Aku memang hidup tenang di pulau ini, setiap hari cuma main catur dengan Tio Tocu." "Oh?" Kim Siauw Suseng merasa tertarik.