Lim Ceng Im tersenyum "Kauw-heng bisa menjaganya, bukan?" Monyet bulu putih manggut-manggut, dan Tio Bun Yang tersenyum.
"Ibu, aku pun bisa menjaga diri," katanya sungguhsungguh.
"Ngmm!" Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Bun Yang!" Tio Cie Hiong menatapnya dalam-dalam.
"Engkau dan kauw-heng boleh berangkat besok pagi, tapi begitu usai berlatih dsana engkau dan kauw-heng harus segera pulang.
Jangan berkelana dulu, engkau harus ingat" "Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, "Bun Yang pasti mematuhi pesan Ayah." "Bagus!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Oh ya!" Tio Bun Yang teringat sesuatu "Bun Yang harus memberitahu bibi dan adik Ai Ling" "Mereka berada di ruang belakang, pergilah menemui mereka!" ujar Tio Cie Hiong.
"Ya, Ayah." Tio Bun Yang berjalan ke ruang belakang.
Tampak Tio Hong Hoa sedang menyulam, dan Lie Ai Ling duduk di situ menemaninya.
"Kakak Bun Yang?" panggil Lie Ai Ling ketika melihatnya muncul.
"Adik Ai Ling, Bibi!" Tio Bun Yang mendekati mereka.
"Oh, Bun Yang!" Tio Hong Hoa tersenyum.
"Duduklah!" "Ya." Tio Bun Yang duduk lalu berkata, "Bibi, Adik Ai Ling!
Bun Yang ingin menyampaikan sesuatu." "Mau menyampaikan apa?" tanya Tio Hong Hoa.
"Besok pagi Bun Yang akan berangkat ke Gunung Thian San bersama kauw-heng." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Oh?" Tio Hong Hoa tertegun.
"Kakak Bun Yang...." Lie Ai Ling tersentak.
"Besok Kakak Bun Yang akan berangkat ke Gunung Thian San bersama kauw~heng?" "Ya" Tio Bun Yang mengangguk.
"Mau apa ke Gunung Thian San?" tanya Tio Hong Hoa dengan rasa heran.
"Kauw-heng..." Tio Bun Yang menjelaskan tentang maksud tujuan monyet bulu putih.
"Oooh!" Tio Hong Hoa manggut-manggut.
"Itu memang merupakan kesempatanmu, ada baiknya engkau ke sana." "Kakak Bun Yang...." Mata Lie Ai Ling mulai basah.
"Kapan engkau pulang?" "Entahlah." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Mungkin...
dua tiga tahun kemudian." "Kakak Bun Yang harus hati-hati, sebab Gunung Thian San sangat jauh dan sini." ujar Lie Ai Ling.
"Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Aku pasti hatihati, engkau tidak usah mencemaskanku." "Kakak Bun Yang...." Air mata Lie Ai Ling mulal meleleh.
"Jangan menangis, Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang membelainya.
"Aku pasti pulang.
Engkau harus menjaga ibumu baik-baik." "Ya, Kakak Bun Yang." Lie Ai Ling manggut-manggut.
Keesokan harinya, berangkatlah Tio Bun Yang bersama monyet bulu putih ke Tionggoan menuju Gunung Thian San.
-oo0dw0oo- Bagian ke Sembilan 13 Jurus Pukulan Cahaya Emas Di Gunung Thay San, tampak Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan sedang berlatih Thian Liong Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Naga Khayangan) dengan sungguh-sungguh Setelah itu, mereka juga berlatih Thian Liong Kiam Hoat (Ilmu Pedang Naga Kahyangan) menggunakan ranting.
Di saat mereka berhenti berlatih, terdengar suara pujian dan muncul Tayli Lo Ceng dengan wajah berseri-seri.
"Omitohud!
Kalian berdua telah berhasil menguasai Thian Liong Ciang Hoat dan Than Liong Kiam Hoat!
Bagus, bagus!" "Guru!" seru mereka sambil memberi hormat.
"Ha-ha-ha!" Tayli Lo Ceng tertawa gembira, kemudian bertanya, "Sudah berapa lama kalian berada di sini?" "Kalau tidak salah...," jawab Toan Beng Kiat.
"Sudah hampir lima tahun, bukan?" "Betul." Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Memang tak terasa, tahu-tahu sudah lima tahun." "Guru, bagaimana kepandaian kami?" tanya Lam Kiong Soat Lan mendadak sambil tersenyum.
"Maju pesat," sahut Tayli Lo Ceng.
"Guru tidak menyangka, kalian begitu cerdas." "Itu berkat bimbingan Guru," ujar Toan Beng Kiat.
"Padahal kami sangat bodoh." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Merendah diri merupakan sifat yang baik, angkuh dan sombong justru akan meruntuhkan diri sendiri." "Terima kasih atas wejangan Guru." Ucap mereka berdua serentak.
"Omitohud!" Tayli Lo Ceng menatap mereka sambil tersenyum.
"Kini usia kalian sudah belasan, sudah remaja lho!" "Guru," tanya Toan Beng Kiat.
"Kapan kami boleh pulang ke Tayli?" "Dua tahun lagi," sahut Tayli Lo Ceng dan menambahkan, "Hari ini guru akan menurunkan kepada kalian semacam ilmu, tapi kalian harus belajar dengan sungguh.sungguh!" "Ilmu apa itu?" tanya Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak dengan wajah berseri.
"Kim Kong Sin Kang (Tenaga Sakti CahayaEmas), Kim Kong Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Cahaya Emas) dan Kim Kong Kiam Hoat (limu Pedang Cahaya Emas)!" Tayli Lo Ceng memberitahukan.
"Terima kasih, Guru!" ucap mereka.
"Kalian berdua harus tahu,bahwa guru tidak mewariskan ilmu tersebut kepada Lie Man Chiu," ujar Tayli Lo Ceng.
"Kenapa?" tanya Toan Beng Kiat heran.
"Omitohud...." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Karena guru tahu bagaimana wataknya.
Lagi pula masih ada suatu takdir dan karma pada dirinya, maka guru tidak mewariskan ilmu tersebut kepadanya.!" "Guru, bagaimana wataknya?" tanya Lam Kiong Soat Lan.
"Takdir dan karma apa pula untuk dirinya?" "Watakny?
agak ingin menang sendiri dan sangat berambisi," jawab Tayli Lo Ceng memberitahukan "Mengenai takdir dan karmanya, lebih baik kalian tidak usah tahu.
Yang penting kalian harus banyak melakukan kebaikan, sebab siapa yang melakukan kebaikan, pasti akan menerima takdir dan karma yang baik pula.
Mengerti kalian?" "Mengerti Guru," sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng dan menambahkan, "Setiap manusia juga tidak akan terlepas dari suatu cobaan.
Di saat menghadapi cobaan, kita harus t?bah dan jangan sampai tergoyahkan." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk, dan Tayli Lo Ceng memandang mereka sambil tersenyum.
"Kalian pun harus ingat," ujar padri tua itu dan melanjutkan, "Nasib, peruntungan, perjodohan dan musibah setiap manusia berkaitan dengan takdir.
Oleh karena itu, janganlah kalian terlampau memaksa diri.
"Ya." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan mengangguk lagi.
Tayli Lo Ceng terus memberikan berbagai wejangan k?pada Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan, mereka berdua mendengar dengan penuh perhatian.
Setelah itu, barulah Tayli Lo Ceng mengajar mereka Kim Kong Sin Kang (Tenaga Sakti Cahaya Emas).
Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan telah memiliki lweekang Hud Bun Pan Yak Sin Kang dari Tayli Lo Ceng, maka tidak begitu sulit bagi mereka untuk belajar Kim Kong Sin Kang.
-oo0dw0oo- Sementara Itu, Siang Koan Goat Nio terus melatih Giok Li Sin Kang, maka tidak mengherankan kalau lweekangnya bertambah tinggi.
Hal Itu tentu sangat menggirangkan Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.
Bahkan Siang Koan Goat Nio pun semakin mahir meniup suling, dan ginkangnya juga sudah maju pesat.
Kini Siang Koan Goat Nio sudah berusia empat belas tahun.
Gadis itu bertambah cantik dan lemah lembut.
Hari ini ia berlatih Giok Li Kiam Hoat, Giok Li Ciang Hoat dan ginkang.
Setelah Itu, Ia duduk beristirahat di bawah sebuah pobon sambil meniup suling.
Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia berhenti dan tiba-tiba mendengar suara tawa.
"Ha ha ha!
Bagus!" Muncul Kim Siauw Suseng dan Kou HUn Bijin sambil tertawa gembira.
"Ayah, Ibu!" panggil Siang Koan Goat Nio.
"Goat Nio," ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa nyaring.
"Kepandaianmu makin maju.
Sungguh mengagumkan!" "Oh?" Siang Koan Goat Nio tersenyum.
"Benar" Kim Siauw Suseng manggut-manggut dan menambahkan, "Lweekangmu pun bertambah tinggi, itu sungguh di luar dugaan!" "Semua itu...." Siang Koan Goat Nio tersenyum lagi.
"Atas bimbingan Ayah dan Ibu." "Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng tertawa gelak.
"Sesungguhnya itU berkat latihanmu sendiri." "Oh ya!" Kou Hun Bijin menatapnya dalam-dalam, kernudian tertawa cekikikan seraya berkata, "Nak, engkau bertambah cantik lho!" "Ibu " Wajah Siang Koan Goat Nio kemerah-merahan.
"Goat Nio," ujar Kim Siauw Suseng sungguh-sungguh "Kini engkau sudah remaja, maka harus berhati-hati bergaul dengan kaum lelaki.
Jangan sampai engkau terjerumus." Harus pilih yang tepat pula," sambung Kou Hun Bijin "Oh ya, entah bagaimana keadaan Tio Cie Hiong dan lainnya, yang berada di Pulau Hong Hoang To!" "Bijin!" kim Siauw Suseng menatap isterinya dan berkata, "Mungkin kini sudah waktunya kita pergi ke sana." "Ke pulau itu?" "Benar." Kou Hun Bijin tertawa gembira.
"Kapan kita berangkat ke sana?" "Bagaimana kalau besok pagi?" "Itu...." Kou Hun Bijin berpikir sejenak, lalu mengangguk dengan wajah berseri.
"Baiklah." "Goat Nio!" Kim Siauw Suseng menatap putrinya sambil tersenyum.
"Bagaimana engkau, merasa gembira akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To?" "Sungguh gembira sekali, Ayah," jawab Siang Koan Goat Nio dengan wajah cerah ceria.
Di saat bersamaan, muncul Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui, yang kemudian memberi hormat kepada Kim Siauw Suseng dan Kou Hun Bijin.
"Bagus!" Kou Hun Bijin tertawa.
"Kebetulan kalian kemari, aku ingin bertanya kepada kalian." "Bijin ingin bertanya apa?" tanya Kwan Gwa Siang Koay.
"Kami bertiga akan berangkat ke Pulau Hong Hoang To, apakah kalian mau ikut?" tanya Kou Hun Bijin.
"Itu...." Kwan Gwa Siang Koay memandang Lak Kui.
"Bijin," ujar Tiau Am Kui.
"Lebih baik kami menjaga lembah ini, karena kami sudah merasa bosan bepergian jauh." "Baiklah." Kou Hun Bijin manggut-manggut.
"Kalian jaga baik-baik lembah ini!
Kami akan berangkat besok!" "Ya, Bijin." Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui mengangguk.
"Kami pasti menjaga baik-baik lembah ini." "Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Kalian memang setia sekali kepada kami, kuucapkan terima kasih kepada kalian!" "Sama-sama," sahut Kwan Gwa Siang Koay dan Lak Kui sambil tertawa.
Keesokan harinya, berangkatlah Kim Siauw Suseng, Kou Hun Bijin dan Siang Koan Goat Nio ke Pak Hai (Laut Utara).
-oo0dw0oo- Belasan hari kemudian, mereka bertiga telah tiba di Pulau Hong Hoang To.
Betapa girangnya Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay ketika melihat kedatangan mereka.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Sastrawan sialan, terima kasih atas kedatangan kalian!" "Ha ha ha!" Kim Siauw Suseng juga tertawa gelak.
"Pengemis bau, kukira engkau sudah mampus!
Tidak tahunya masih segar bugar!" "Kakak!" panggil Tio Cie Hiong dengan wajah berseri.
"Bibi!" panggil Lim Ceng Im sambil tertawa gembira.
"Hi hi hi!
Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring saking gembiranya.