kelihatannya Ia telah kehilangan kesadarannya, dan terus mengamuk memukul kesana kemari.
Lama sekali barulah ia berhenti, lalu terkulai dan pingsan.
Di saat bersamaan, muncullah Lie Ai Ling dan monyet bulu putih.
"Kakak Bun Yang!
Kakak Bun Yang!" panggil Lie Ai Ling, sambjl menggoyang~goyangkan bahunya.
Monyet bulu putih pun segera memeriksanya, dan setejah itu bercuit-cuit.
"Kauw heng," tanya Lie Ai Ling.
Kini gadis itu telah berusia empat belas tahun.
"Bagaimana keadaan Kakak Bun Yang, dia tidak apa-apa?" Monyet bulu putih mengangguk, dan karena itu Lie Ai Ling menarik nafas lega.
Berselang beberapa saat kemudian, badan Tio Bun Yang mulai bergerak, Lie Ai Ling segera memanggilnya.
"Kakak Bun Yang!
Kakak Bun Yang!" Tio Bun Yang membuka matanya, lalu menghela nafas panjang sambil duduk dan kelihatan lelah sekali.
"Kakak Bun Yang, kenapa engkau?" tanya Lie Ai Ling penuh perhatian.
"Kok engkau pingSan di Sini?" "Aku" Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Engkau sakit?" Lie Ai Ling menatapnya.
"Aku tidak sakit, hanya saja...." Tio Bun Yang mengerutkan kening, "Berat sekali rasanya kepalaku." "Kenapa begitu?" "Entahlah.
Aku pun tidak mengerti," sahut Tio Bun Yang dan bergumam.
"Aku sedang melatih lweekang...." "Lalu?" "Lalu...." Tio Bun Yang terus berpikir sambil bergumam.
"Aku menghimpun Pak Yok Han Thian Sin Kang, kemudian Kan Kun Taylo Sin Kang Setelah itu, ketika aku menghimpun Giok Li Sin Kang, aku merasa peredaran darahku mulai bergejolak.
Lebih-lebih ketika aku menghimpun Kiu Yang Sin Kang, dadaku terasa mau meledak, sehingga membuatku berteriak keras dan kehilangan kesadaran." "Oh?" Lie Ai Ling terbelalak, kemudian menengok ke sana ke mari.
"Engkau memukul hancur pohon-pohon itu?" "Entahlah." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Aku tidak mengetahuinya?" "Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling menatapnya.
"Aku melihat engkau tergeletak pingsan disini, maka segera memanggilmu sambil menggoyang-goyangkan bahumu." "Oh?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
Tampaknya ia sedang berpikir lagi.
Namun mendadak ia tersentak, kelihatannya telah menyadari satu hal.
"Apakah dikarenakan itu?" "Dikarenakan apa?" tanya Lie Ai Ling.
"Adik Ai Ling, Kauw-heng, mari kita pulang!" Tio Bun Yang bangkit berdiri.
"Aku harus memberitahukan kepada ayah." -oo0dw0oo- Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Tio Tay Seng dan Sam Gan Sin Kay di ruang depan dengan wajah serius.
Ternyata Tio Bun Yang membertahukan tentang kejadian itu, bahkan Lie Ai Ling pun menambahkan.
"Aku melihat kakak Bun Yang pingsan, dan pohon-pohon di sekitar tempat itu h?ncur berantakan." "Ngmm!" Tio Cie Hiong manggut-manggut.
"Tidak salah lagi, itu pasti sumber penyakit Bun Yang!" "Maksudmu Cie Hiong?" tanya Tio Tay Seng.
"Pan Yok Han Thian Sin Kang dan Kan Kun Taylo Sin Kang berhubungan erat sekali, boleh dikatakan merupakan saudara kandung," jawab Tio Cie Hiong menjelaskan "Giok Li Sin Kang bersifat lembut mengandung hawa im (dingin), sedangkan Kiu Yang Sin Kang bersifat keras mengandung hawa Yang (panas).
Oleb karena itu, terjadilah gejojak hawa murni yang bertentangan di dalam tubuh Bun Yang, sehingga menyebabkan tekanan darahnya tidak normal, sekaligus menyerang syaraf otaknya, maka menimbulkan penyakit aneh itu." "Kalau begitu harus bagaimanana tanya Lim Ceng im cemas.
"Tidak apa-apa." Tio Cie Hiong tersenyum.
"Kini aku sudab tahu s?mber penyakit itu, dan aku dapat menyembuhkannya." "Bagaimana caranya?" tanya Tio Tay Seng.
"Aku harus membantunya mengeluarkan hawa murni Giok Li Sin Kang dan Kiu Yang Sin Kang," jawab Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"Kalau tidak, tidak lama lagi dia pasti gila." "Haaah...?" Lim Ceng Im dan Tio Tay Seng terkejut bukan main, begitu pula Sam Gan Sin Kay.
"Untung cepat mengetahuinya, kalau tidak Bun Yang pasti cetaka." Tio Cie Hiong menghela nafas lega.
"Itu kesalahanku," ujar Lim Ceng Im menyesal.
"Karena aku mengajarkannya Giok Li Sin Kang." "Aku pun bersalah." Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Karena menginginkan Bun Yang menjadi pendekar tanpa tanding, maka aku pun mengajarnya Kiu Yang Sin Kang.
Akhirnya malah jadi begini." "Adik Im dan Paman tidak bersalah." Tio Cie Hiong tersenyum.
"Itu pertanda sangat sayang pada Bun Yang.
Pada waktu itu aku pun tidak tahu akan menjadi begini.
Namun masih tidak terlambat, aku mampu mengeluarkan hawa-hawa murni itu dan tubuh Bun Yang." "Syukurlah!" ucap Tio Tay Seng sambil menarik nafas lega.
"Bun Yang, duduklah bersila di lantai!" ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan, "Ayah suruh apa, engkau harus menurut." "Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, lalu duduk bersila di lantai.
Tio Cie Hiong duduk bersila di belakangnya, kemudian sepasang telapak tangannya ditempelkan pada punggung Tio Bun Yang.
"Bun Yang, himpunlah hawa murni Giok Li Sin Kang!" ujar Tio Cie Hiong.
Tio Bun Yang mengangguk, kemudian menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang.
Tak lama wajahnya mulai memucat, Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuh Tio Bun Yang, dan berselang sesaat ia berkata.
"Buka mulutmu!" Tio Bun Yang membuka mulutnya.
Sesaat kemudian tampak uap putih mulai keluar dari mulutnya.
"Terus himpun Giok Li Sin Kang, jangan berhenti!" pesan Tio Cie Hiong dengan suara rendah.
Tio Bun Yang mengangguk perlahan dan terus menghimpun Giok Li Sin Kang.
Berselang beberapa saat, tidak tampak lagi uap putih ke luar dan mulut Tio Bun Yang.
"Himpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!" ujar Tio Cie Hiong sambil berhenti mengerahkan Pak Yok Han Thian Sin Kang.
Tio Bun Yang mulai menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, dan tak lama kemudian wajahnya mulai memerah.
Tio Cie Hiong segera mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya.
"Buka mulutmu!" ujarnya kemudian.
Tio Bun Yang membuka mulutnya, tampak pula uap putih ke luar dan mulutnya, yang mengandung hawa panas.
"Jangan berhenti menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang!" pesan Tio Cie Hiong, keningnya mulai berkeringat.
Tio Bun Yang terus menghimpun hawa murni Kiu Yang Sin Kang, sedangkan Tio Cie Hiong pun terus mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang ke dalam tubuhnya untuk mendesak ke luar hawa murni Kiu Yang Sin Kang itu.
Berselang beberapa saat kemudian, mulut Tio Bun Yang tidak mengeluarkan uap lagi, dan wajahnya pun telah normal kembali.
Sebaliknya Wajah Tio Cie Hiong menjadi pucat pias.
Ia segera berhenti mengerahkan Pan Yok Han Thian Sin Kang, sekaligus menarik kembali tangannya dari punggung Tio Bun Yang.
Tio Bun Yang bangkit berdiri, sedangkan Tio Cie Hiong masih duduk bersemedi.
Berselang sesaat, barulah ia bangkit berdiri sambil menghela nafas panjang dan berkata, "Untung aku memiliki lweekang tinggi dan dua kali makan buah Kiu Yap Ling Che!
Kalau tidak, aku pasti sudah t?rluka dalam!" "Ayah...." Tio Bun Yang segera bersujud dihadapan ayahnya.
"Maafkan Bun Yang telah menyusahkan Ayah!" "Nak!" Tio Cie Hiong tersenyum lembut sambil membangunkannya "Kini ayah, ibu dan lainnya telah berlega hati, karena engkau telah sembuh." "Terima kasih Ayah!" ucap Tio Bun Yang.
"Nak, duduklah!" Tio Cie Hiong tersenyum lagi sambil duduk.
"Ya, Ayah." Tio Bun Yang duduk di sisi Lim Ceng Im.
"Ibu, mulai sekarang Ibu tidak perlu cemas lagi." "Nak...." Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.
"Tio Tocu, urusan in sudah beres.
Maka kita pergi main catur!" "Baik." Tio Tay Seng mengangguk Mereka berdua lalu pergi main catur.
"Adik Im," ujar Tio Cie Hiong sungguh-sungguh.
"ini merupakan pengalaman bagiku.
Seseorang memang tidak boleb belajar bermacam-macam ilmu lweekang, sebab akan mencelakai diri sendiri." "Benar." Lim Ceng Im mengangguk "Untung Bun Yang cepat menyadani hal itu, kalau tidak...." "Dia pasti gila." Tio Cie Hiong menghela nafas Panjang.
"Oh ya!" Lim Ceng Im teringat sesuatu.
"Kini dia telah memiliki Ilmu Penakiuk Iblis, itu tidak akan mempengaruhinya?" "Tentu tidak." Tio Cie Hiong tersenyum.
"Karena Ilmu Penakluk Iblis merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, jadi dapat memperkuat batinnya.~" "Oooh!" Lim Ceng Im manggut-manggut.
"Kakak Hiong, sungguh kasihan Kakak Hong Hoa!
Selama lima tahun ini, dia hidup dengan hati tersiksa." "Itu karena ulah Lie Man Chiu." Tio Cie Hiong menggelenggelengkan kepala.
"Selama lima tahun ini, dia sama sekali tidak pulang.
Entah dia menjadi apa di rimba persilatan?" "Kakak Hiong...." Lim Ceng Im menatapnya sambil tersenyum.
"Untung engkau tidak seperti Lie Man Chiu!" "Adik Im...." Tio Cie Hiong menatapnya mesra dengan penuh cinta kasih.
"Bagaimana mungkin aku akan seperti Lie Man Chiu?" "Paman, Bibi," sela Lie Ai Ling mendadak.
"Ayahku memang jahat, tega meninggalkan kami.
Aku pun tidak mau mengakunya sebagai ayah lagi, sebab dia...
dia membuat ibu menderita!" "Ai Ling...." Tio Cie Hiong terkejut.
Ia lupa akan keberadaan Lie Ai Ling di situ.
"Paman adalah lelaki yang paling baik didunia, juga sebagai ayah yang paling baik.
Sebaliknya ayahku merupakan lelaki yang paling jahat di dunia.
Demi mengangkat namanya dirimba persilatan, dia begitu tega meninggalkan kami." "Ai Ling...," ujar Lim Ceng Im dengan suara rendah.
"Engkau tidak boleh berkata demikian dihadapan ibumu, sebab akan membuat ibumu sedih lho!" "Ya, Bibi!" Lie Ai Ling mengangguk.
"Adik Ai Ling!" Mendadak Tio Bun Yang menarik tangannya.
"Mari kita pergi berlatih!" "Ya, Kakak Bun Yang." Lie Ai Ling mengangguk.
Mereka berdua lalu meninggalkan ruangan itu.
Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im menghela nafas panjang, sementara monyet bulu putih itu duduk diam saja di kursi.
"Adik Im!" Tio Cie Hbong tersenyum.
"Kini legalah hati kita, karena Bun Yang telah sembuh." "Ya." Lim Ceng Im mengangguk dengan wajah berseri, kemudian berkata, "Kakak Hiong, bagaimana menurutmu mengenai Bun Yang dengan Ai Ling?" "Maksudmu?" Tio Cie Hiong agak terbelalak.
"Mereka berdua begitu akrab dan cocok, mungkinkah mereka berjodoh menjadi suami isteri?" sahut Lini Ceng Im.
"Adik Im!" Tio Cie Hiong tertawa.
"Mereka berdua memang akrab dan sangat cocok sekali.
Bahkan juga saling mengasihi dan saling mencinta pula." "Kalau begitu...." Wajah Lim Ceng Im berseri.