Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 18

Memuat...

Karena aku harus berusaha mencari Paman Cie Hiong." "Kakak Hay Thian...." Wajah Lie Beng Cu berubah muram.

"Setelah engkau pergi, engkau akan ke mari lagi?" "Tentu." Kam Hay Thian mengangguk.

"Aku pasti ke mari lagi mengunjungimu dan ayahmu." "Engkau tidak boleh melupakan aku lho!" pesan Lie Beng Cu.

"Sebab aku selalu ingat kepadamu." "Adik Beng Cu!" Kam Hay Thap tersenyum.

n"Aku tidak akan melupakanmu, karena engkau baik sekali kepadaku, begitu pula ayahmu." "Terima kasih Kakak Hay Thian." ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum "Ayoh, mari kita berlatih lagi!" "Baik." Kam Hay Thian mengangguk.

Mereka berdua mulai berlatih.

Apabila Kam Hay Thian melakukan gerakan salah, Lie Beng Cu pasti memberi petunjuk kepadanya, maka Kam Hay Thian sangat girang dan sangat berterima kasih kepadanya.

-oo0dw0oo- Beberapa bulan kemudian, Kam Hay Thian telah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat.

Maka guru silat Lie menyuruh putrinya memanggil Kam Hay Than "Paman memanggiku?" tanya anak itu setelah berada dihadapan guru silat Lie "Hay Thian!" Guru silat Lie tersenyum lembut "Kini engkau telah menguasai Liong San Kun Hoat, maka sudah waktunya engkau pergi mencari Paman Cie Hiongmu." "Oh?" Kam Hay Thian terbelalak.

"Paman tahu dia berada di mana?" "Aku tidak tahu, tapi engkau boleh ke markas Kay Pang," sahut guru silat Lie memberi petunjuk.

"Mungkin ketua Kay Pang tahu dia berada di mana?" "Jadi aku harus bertanya kepada ketua Kay Pang?" "Ya." GUrU silat Lie mengangguk.

"Kalau tidak salah, Pek th Sin Hiap Tio Cie Hiong mempunyai hubungan erat dengan Kay Pang.

Tentunya ketua Kay Pang tahu dia berada di mana." "Dimana markas pusat Kay Pang?" "Dan sini engkau terus berjalan ke arah timur.

Setelah melewati sebuah lembah, engkau akan sampai di sebuah desa.

Tanyalah kepada penduduk desa itu, mereka akan membenitahukan kepadamu." "Terima kasih, Paman!" ucap Kam Hay Thian dan bertanya.

"Kapan aku berangkat?" "Engkau boleh berangkat sekarang," sahut guru silat Lie.

"Ayah...." Lie Beng Cu tersentak.

"Kakak Hay Thian berangkat besok saja!" "Baiklah." Guru silat Lie mengangguk sambil tersenyum.

"Hay Thian, kalau begitu, berangkatlah engkau besok pagi." "Ya, Paman." Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya!" ujar guru silat Lie.

"Engkau pernah menitip dua ratus tael perak kepadaku, besok pagi uang itu akan kukembalikan kepadamu." "Paman, bukankah..." "Ha ha ha!" Guru silat Lie tertawa "Aku tidak akan menerima pembayaranmu, sebab aku mengajarmu ilmu silat dengan setulus hati Lagi pula engkau membutuhkan uang dalam perjalananmu" "Terima kasih, Paman?" ucap Kam Hay Thian dengan rasa haru.

"Ha ha ha!" Guru silat Lie tertawa gelak, kemudian memandang putrinya seraya berkata, "Beng Cu, temanilah Hay Thian!" "Ya, Ayah." Lie Beng Cu mengangguk, kemudian mengajak Kam Hay Thian ke halaman belakang.

"Adik Beng Cu," ujar Kam Hay Thian begitu berada di halaman belakang.

"Bagaimana kalau kita berlatih?" Lie Beng Cu menggelengkan kepala, lalu memandangnya dengan wajah agak muram seraya berkata, "Kakak Hay Thian, besok pagi kita akan berpisah." "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Aku harus pergi mencari Paman Cie Hiong" "Engkau harus hati-hati dalam perjalananmu, sebab banyak orang jahat di rimba persilatan," pesan Lie Beng Cu, "Aku aku mengkhawatirkanmu," "Adik Beng Cu!" Kam Hay Thian tersenyum, "Engkau jangan mengkhawatirkanku, aku bisa menjaga diri" "Kakak Hay Thian...." Lie Beng Cu menundukkan kepala.

"Engkau tidak akan melupakan aku, bukan?" "Adik Beng Cu," sahut Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Aku tidak akan melupakanmu, percayalah!" "Terima kasih, Kakak Hay Thian!" ucap Lie Beng Cu sambil tersenyum, kemudian mengeluarkan sebuah benda, yang ternyata sebuah cincin giok.

Diberikannya cincin itu kepada Kam Hay Thian seraya berkata, "Cincin giok ini hadiah dari almarhumah, kini kuberikan kepadamu" "Adik Beng Cu...." Kam Hay Thian tidak berani menenimanya.

"K?kak Hay Thian," desak Lie Beng Cu.

"Biar bagaimana pun engkau hanus menerima.

Kalau tidak, aku...

aku akan marah." "Adik Beng Cu...." Akhirnya Kam Hay Thian menerima cincin itu, lalu dipakal dijari tengahnya.

"Kelak akan kupindahkan ke jari manis.

Terima kasih, Adik Beng Cu!" "Kakak Hay Thian!" Lie Beng Cu tersenyum."Legalah hatiku engkau mau memakai cincin giok itu, pertanda engkau tidak akan melupakanku!" "Adik Beng Cu," ujar Kam Hay Thian sungguh-sungguh.

"Selama-lamanya aku tidak akan melupakanmu" "Terimakasih, Kakak Hay Thianl" ucap Lie Beng Cu dan menambahkan, "Aku selalu menanti kedatanganmu." "Aku pasti ke mari kelak," ujar Kam Hay Thian berjanji.

"Pasti ke mari." -oo0dw0oo- Lie Beng Cu mengantar kepergian Kam Hay Thian dengan air mata bercucunan bahkan setelah Kam Hay Thian lenyap dan pandangannya tangisnya pun meledak seketika.

Guru silat Lie segera membelainya.

"Jangan menangis Nak!

Dia pasti ke mari kelak." ujar guru silat Lie sambil tersenyum.

"Ayah tahu, engkau sangat menyukainya." "Ayah...." "Kalau engkau tidak menyukainya bagaimana mungkin cincin giok pemberian almarhumah berada di jari tangannya?" "Ayah tidak marah?" "Kenapa ayah harus marah?" Guru silat Lie tersenyum lembut.

"Kam Hay Thian memang anak baik, maka ayah pun sangat menyukainya.

Kalau tidak, bagaimana mungkin ayah membiarkanmu menghadiahkan cincin giok itu kepadanya?" "Ayah...." Lie Beng Cu menundukkan kepala.

"Engkau tidak usah berduka, dia pasti ke mari kelak," ujar guru silat Lie dan menambahkan.

"Ayah tahu, dia pun menyukaimu." "Ayah," Wajah Lie Beng Cu langsung berubah kemerahmerahan, lalu berlari ke dalam.

Sementara Kam Hay Thian terus melakukan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang sesuai dengan petunjuk guru silat Lie.

Beberapa hari kemudian ta telah tiba di sebuah lembah.

Karena merasa lelah sekali, ia langsung duduk di atas sebuah batu.

Begitu duduk wajahnya tampak berubah seketika, dan cepat-cepat ia meloncat bangun.

Ternyata batu itu merosot ke bawah, kemudian terdengar pula suara "Kreeek" dan dinding tebing di tempat terbuka.

Betapa terkejutnya Kam Hay Thian, dan ia lalu berdiri termangu-mangu di tempat.

Berselang beberapa saat, barulah ia memberanikan diri mendekati goa itu sambil memandang ke dalam, yang keadaannya gelap gulita, tak tampak apa pun.

"Goa apa itu?" gumamnya sambil mengerutkan kening Akhirnya ia melangkah ke dalam, dan setelah ia berada di dalam, pintu goa itu tertutup kembali.

"Haaah...!" Kam Hay Thian terkejut bukan main, namun tidak merasa takut lalu berkeluh.

"Celaka, aku akan terkurung di dalam goa ini!" Kam Hay Thian berdiri di tempat sambil memandang ke dalam, tapi tidak tampak apa pun karena gelap sekali.

Beberapa saat kemudian, ?a memberanikan diri melangkah ke dalam sambi!

meraba-raba, Ternyata goa itu merupakan sebuah terowongan, yang sangat panjang.

Entah berapa lama kemudian tangannya meraba dinding yang sangat dingin, yang ternyata pintu baja.

"Kok ada pintu di sini?" gumam Kam Hay Thian sambil meraba ke sana ke mari, dan t?npa sengaja menekan sesuatu.

"Kreeeek!

Pintu baja itu terbuka dan cahaya yang cukup terang menyorot ke luar.

Kam Hay Thian girang bukan main dan segera masuk.

Setelah ia sampai di dalam, pintu baja itu pun tertutup kembali.

"Tempat apa mi?" gumam Kam Hay Thian sambil menengok ke sana ke mari.

Ternyata ia berada di sebuah ruangan, yang sangat indah dan agak terang, bahkan terdapat kursi, meja dan perabotan lainnya.

Di dinding ruangan itu juga terdapat beberapa buah pintu Karena tertarik ia pun memasuki salah satu pintu tersebut.

Betapa girang hatinya, sebab di ruangan kecil itu tersimpan makanan kering dan lain sebagainya.

Setelah memeriksa ruang kecil itu, ia pun memasuki pintupintu lainnya.

Ternyata semuanya merupakan ruangan, dan salah satunya menyimpan berbagai macam alat musik.

Sesudah memasuki semua ruangan tersebut, Kam Hay Thian kembali ke ruang depan, yang sangat besar itu.

Saking girangnya, ia terus meraba-raba Seluruh dinding ruang depan tersebut.

Kemudian bersamaan dengan terdengarnya suara "krek", muncullah sebuah lubang di bagian dinding itu.

Kam Hay Thian terbelalak, karena melihat sebuah kotak yang sangat indah tersimpan di dalamnya.

Ia menjulurkan tangannya mengambil kotak tersebut, kemudian ditaruhkannya di atas meja.

"Kotak apa ini?" ujarnya sambil memperhatikan kotak tersebut.

Kemudian dengan hati-hati sekali dibukanya kotak itu.

Ternyata di dalamnya berisi dua buah kitab, yang tentunya membuat Kam Hay Thian tercengang.

Berselang beberapa saat kemudian, barulah ia mengambil kedua kitab itu, sekaligus dibacanya.

Ternyata kitab itu adalah kitab peninggalan Pak Kek Sian Ong dan kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi (Kitab Pelajaran Menghimpun Dan Menyatukan Tenaga Murni).

Setelah membacanya, dapat dibayangkan betapa girangnya hati Kam Hay Thian, karena tahu bahwa kedua kitab itu merupakan kitab pelajaran ilmu silat tingkat tinggi.

Tidak salah, kedua kitab itu memang milik Bu Lim Sam Mo.

Kam Hay Thian tidak tahu, tanpa sengaja ?a memasuki tempat tersebut, yang merupakan bekas markas Bu Tek Pay.

Karena ayahnya pernah mengajarnya dasar-dasar ilmu lweekang, maka terlebih dahulu ?a mempelajari kitab Hian Bun Kui Goan Kang Khi.

-oo0dw0oo- Bagian Ke Delapan Sumber penyakit aneh Kini Tio Bun Yang telah berusia lima belas tahun.

Ia bertambah tampan dan gagah.

Kepandaiannya pun bertambah tinggi, bahkan telah menguasai Ilmu Penakiuk Iblis dan ilmu pengobatan pula.

Tentunya sangat menggirangkan Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

Namun kedua orang tuanya masih tercekam rasa cemas, karena Tio Bun Yang mengidap semacam penyakit aneh.

Yakni tidak boleh marah, apabila marah maka Tio Bun Yang akan kehilangan kesadarannya, sehingga membuatnya membunuh apa pun yang ada di hadapannya.

Hingga saat ini, Tio Cie Hiong masih tidak tahu sumber penyakit aneh tersebut.

Padahal ia terus menerus mengobati putranya itu dengan berbagai macam obat, namun tetap tidak dapat menyembuhkannya.

Pagi ini, Tio Bun Yang duduk bersemedi dibawah sebuah pohon melatih lweekangnya.

Ia menghimpun Pan Yok Hian Thian Sin Kang, lalu Kan Kun Taylo Sin Kang setelah itu Giok Li Sin Kang.

Di saat menghimpun hawa murni Giok Li Sin Kang, wajah Tio Bun Yang berubah menjadi pucat.

Berselang sesaat, mulailah Ia menghimpun Kiu Yang Sin Kang.

Wajahnya yang pucat pias itu mulai berubah merah padam, dan keringatnya mulai merembes ke luar dan keningnya.

Makin lama wajahnya makin bertambah merah, kemudian mendadak ia berteriak keras sambil meloncat bangun, sekaligus membuka sepasang matanya.

Sungguh mengejutkan, karena sepasang mat?nya tampak membara.

Ia memukul kesana kemari seperti orang gila, dan banyak pohon yang hancur terkena pukulannya.

Post a Comment