Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 17

Memuat...

Seorang lelaki berusia lima puluhan duduk di kursi sambil menghirup teh.

"Guru!" Penjaga itu memberi hormat dan memberitahukan, "Anak in mau belajar ilmu silat." "Oh?" Guru silat Lie menatap Kam Hay Thian, lalu manggut-manggut seraya bertanya, "Namamu siapa dan di mana tempat tinggalmu?" "Namaku Kam Hay Thian, aku berasal dari kota lain," jawab anak itu jujur.

"Engkau ingin belajar ilmu silat di sini?" tanya guru silat Lie sambil tersenyum.

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Engkau boleh belajar di sini, namun...." Guru silat Lie memberitahukan.

"Setiap bulan engkau harus bayar dua puluh tael perak" " "Ya!" Kam Hay Thian mengangguk lagi, kemudian membuka buntalannya.

Dikeluark?nnya dua ratus tael perak, lalu diserahkannya kepada guru silat Lie.

"Inilah uangku untuk belajar ilmu silat." "Dua ratus tael perak?" guru silat Lie terbelalak.

"Dan mana engkau memperoleh uang sebanyak itu?" "Dari ibuku." "Engkau tidak merasa sayang memberikan semua uang itu kepadaku?" "Tentu tidak, sebab aku ingin belajar ilmu silat di sini.

"Kalau begitu...." Guru silat Lie mengangguk.

"Baiklah!

Engkau boleh belajar ilmu silat di sini, bahkan boleh tinggal di sini." "Terima kasih, Guru!" ucap Kam Hay Thian dan sekaligus berlutut di hadapan guru silat Lie.

"Hay Thian!" Guru silat Lie menatapnya.

"Berdirilah!" "Ya, Guru!" Kam Hay Thian bangkit berdiri.

"Hay Thian," ujar guru silat Lie sungguh-sungguh.

"Engkau tidak usah memanggil aku guru, cukup memanggil paman saja." "Kenapa?" tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

"Karena...." Guru silat Lie menghela nafas panjang.

"Aku cuma merupakan guru silat biasa, jadi tidak dapat mengajarmu ilmu silat tingkat tinggi Sedangkan engkau berbakat untuk belajar ilmu silat tingkat tinggi Karena itu, aku merasa malu kau panggil guru." "Kalau begitu, aku memanggil paman saja?" "Ya." Di saat bersamaan, muncul seorang gadis kedil berusia sekitar sepuluh tahun sambil berseru-seru.

"Ayah!

Ayah..." gadis kecil itu terbelalak ketika melihat Kam Hay Thian.

"Ayah, siapa dia?" "Dia bernama Kam Hay Thian, ingin belajar ilmu silat pada ayah," sahut guru silat Lie sambil tersenyum.

"Hay Thian, dia putriku bernama Lie Beng Cu." Kam Hay Thian memandang gadis kecil itu sambil mengangguk, dan Lie Beng Cu pun mengangguk sambil tersenyum.

"Berapa usiamu7" tanya gadis kecil itu kepada Kam Hay Thian.

"Sebelas," jawab Kam Hay Thian.

"Usiaku sepuluh, jadi aku barus memanggilmu kakak, dan engkau barus memanggilku adik," ujar Lie Beng Cu sambil tertawa.

"Ya!" Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Hay Thian," ujar guru silat Lie.

"Hari ini engkau boleh beristirabat dulu, besok aku akan mulai mengajarmu ilmu silat." "Terima kasih, Paman!" ucap Kam Hay Thian girang.

"Beng Cu, antar dia kekamar kosong itu!" ujar guru silat Lie memberitahukan.

"Dia berasal dan kota lain, maka harus tinggai disini." "Ya, Ayah." Wajah Lie Beng Cu berseni.

"Kakak Hay Thian, mari ikut aku ke dalam!" "Tenima kasih, Adik Beng Cu!" ucap Kam Hay Thian lalu mengikuti gadis kecil itu ke dalam.

Lie Beng Cu mengajaknya ke sebuah kamar kosong, dan begitu sampai di dalam, gadis kecil itu langsung duduk di kursi.

"Bagaimana" Engkau suka kamar ini?" "Suka." Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus duduk di pinggir tempat tidur.

"Kakak Hay Thian!" Lie Beng Cu menatapnya.

"Kenapa engkau ingin belajar ilmu silat?" "Karena ingin balas dendam." "Balas dendam?" Lie Beng Cu terbelalak.

"Balas dendam siapa?" "Ayahku dibunuh penjahat, maka aku harus belajar ilmu silat untuk membalas dendam itu." Kam Hay Thian memberitahukan.

"Oh?"" Lie Beng Cu menatapnya dalam-dalam.

"Kenapa penjahat itu membunuh ayahmu" "Karena sebuah kitab...." Kam Hay Thian memberitahukan secara jujur.

"Maka ayahku terbunuh.

"Kalau begitu, kepandaian penjahat itu tinggi sekali." "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin penjahat itu dapat membunuh ayahku" Sebab ayahku pun berkepandaian tinggi.

"Ayahmu pernah mengajarmU ilmu silat?" tanya Lie Beng Cu mendadak.

"Hanya mengajarku dasar-dasar ilmu lweekang saja," sahut Kam Hay Thian dan melanjutkan, "Kata ayahku, lweekang merupakan pokok bagi orang yang ingin belajar ilmu silat tingkat tinggi.

"Benar." Lie Beng Cu manggut~manggut.

"Ayahku pun berkata begitu, maka aku terus berlatih lweekang." "Oh ya, ayahmu bilang kepandaiannya tidak begitu tinggi.

Benarkah itu?" tanya Kam Hay Thian mendadak.

"Entahtah." Lie ~eng Cu menggelengkan kepala.

"Aku tidak begitu jelas te?tang itu." "Adik Beng Cu!" Kam Hay Thian menatapnya.

"Pernahkah engkau mendengar tentang Tio Cie Hiong?" "Tidak pernah," jawab Lie Beng Cu.

"Mungkin ayahku tahu.

Lebih baik engkau bertanya kepada ayahku saja." "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Kakak Hay Thian," tanya Lie Beng Cu.

"Siapa Tio Cie Hiong itu?" "Dia saudara angkat ibuku.

Kata ibuku kepandaiannya sangat tinggi sekali.

Maka aku harus mencari dia, namun tidak tahu dia berada dimana." "Begini saja," usul Lie Beng Cu.

"Untuk sementara engkau tinggal di sini sekalian belajar ilmu silat kepada ayahku, setelah itu barulah engkau pergi mencari orang tersebut." "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Kakak Hay Thian!" Lie Beng Cu memandangnya sambil tersenyum.

"Aku mau pergi sebentar, nanti malam kita makan bersama." "Terima kasih!" ucap Kam Hay Thian.

Lie Beng Cu meninggalkan kamar itu, lalu pergi menemui ayahnya yang masih duduk diruang itu.

"Ayah!" panggilnya.

"Beng Cu di mana Hay Thian?" tanya guru silat Lie.

"Di dalam kamar." Lie Beng Cu duduk disisinya.

"Oh ya, Ayah!

Kakak Hay Thian ingin belajar ilmu silat karena ingin balas dendam." "Oh?" Guru silat Lie mengerutkan kening.

"Dia yang memberitahukan kepadamu?" "Ya." Lie Beng Cu mengangguk.

"Cukup lama kami mengobrol, dan dia memberitahukan secara jujur" "Ngmm!" Guru silat Lie manggut-manggut dan bertanya, "Apakah kedua orang tuanya dibunuh orang?" "Ayahnya dibunuh penjahat." "Dia memberitahukan sebab musababnya?" "Ayahnya dibunuh karena sebuah kitab.

Padahal ayahnya berkepandaian tinggi, namun masih tidak sanggup melawan penjahat itu." "Kalau begitu...." Kening guru silat Lie berkerut.

"Kepandaian penjahat itu pasti tinggi sekali" "Benar, Ayah." Lie Beng Cu mengangguk.

"Dia mengatakan begitu" "Ayahnya tidak pernah mengajarnya ilmu silat?" tanya guru silat Lie mendadak.

"Hanya mengajarnya ilmu lweekang, tidak pernah mengajarnya ilm?

silat," jawab Lie Beng Cu.

"Kalau begitu...," ujar guru silat Lie setelah berpikir sejenak.

"Ayah akan mengajarnya Liong San Kun Hoat (Ilmu Silat Aliran Liong San), agar dia bisa menjaga diri dan memperkuat daya tahan tubuhnya." "Ayah...." Lie Beng Cu menatapnya seraya bertanya, "Pernahkah Ayah mendengar tentang Tio Cie Hiong?" "Tio Cie Hiong"!" Guru silat Lie tertegun.

"Pernah.

Memangnya kenapa?" "Dia ingin mencari orang itu, yang katanya adalah saudara angkat ibunya." Lie Beng Cu memberitahukan "Beng Cu," ujar guru silat Lie.

"Kaum rimba persilatan pasti tahu mengenai Pek Ih Sin Hiap Tio Cie Hiong.

Ayah pun pernah mendengar tentang pendekar, yang gagah dan berhati bajik itu." "Oh?" Giranglah hati Lie Beng Cu.

"Ayah tahu orang itu berada di mana?" "Ayah tidak tahu." Guru silat Lie menggelengkan kepala dan menambahkan, "Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, dia pun menghilang entah ke mana." "Kalau begitu, tentunya Kakak Hay Thian tidak akan berhasil mencarinya," ujar Lie Beng Cu dengan wajah muram.

"Beng Cu!" Guru silat Lie tersenyum "Itu tergantung dari peruntungannya" "Ayah!" Lie Beng Cu tersenyUm.

"Benarkah Ayah ingin mengajar Kakak Hay Thian Liong San Kun Hoat?" "Benar." Guru silat Lie tertawa.

"Besok ayah akan mulai mengajarnya.

"Oh ya, kenapa engkau begitu menaruh perhatian kepadanya?" "Ayah...." Wajah Lie Beng Cu tampak kemerah-mer?han.

"Dia anak baik." "Ayah tahu itu.

Ayah tahu itu." Guru silat Lie tertawa lagi.

"Maka ayah bersedia mengajarnya Liong San Kun Hoat." -oo0dw0oo- Guru silat Lie mulai mengajar Kam Hay Thian Liong San Kun Hoat, tujuannya agar anak itu bisa menjaga diri, sekaligus memperkuat daya tahan tubuhnya, karena guru silat Lie tahu, bahwa anak itu masih akan melanjutkan perjalanan.

Kam Hay Thian belajar dengan tekun sekali, dan terus melatih ilmu lweekang yang diajarkan almarhUm ayahnya.

Pagi ini, Kam Hay Thian berlatih bersama Lie Beng Cu.

Seusai ber1atih, mereka duduk untuk beristirahat "Kakak Hay Thian," ujar Lie Beng Cu dengan wajah berseri.

"Engkau memang cerdas, begitu gampang menerjma pelajaran ilmu silat itu." "Engkau lebih cerdas," sahut Kam Hay Thian sambil tersenyum.

"Usiamu masih kecil tapi sudah menguasai seluruh ilmu silat ayahmu." "Tentu." Lie Beng Cu tertawa kecil "Sebab sejak aku berusia lima tahun, ayah sudab mulai mengajarku ilmu silat." "Oooh!" Kam Hay Thian manggut-manggut.

"Kakak Hay Thian!" Lie Beng Cu memberitahukan.

"Ayahku tahu tentang paman Tio Cie Hiongmu itu." "Oh?" Kam hay Thian girang sekali.

"Paman Cie Hiongmu adalah Pek Ih Sin Hiap, yang sangat terkenal.

Kepandaiannya memang tinggi sekali, bahkan Bu Lim Sam Mo mati ditangannya." "Kalau begitu, ayahmu pasti tahu Paman Cie Hiong berada di mana." "Ayahku tidak tahu." Lie Beng Cu menggelengkan kepala dan melanjutkan, "Setejah Bu Lim Sam Mo mati di tangannya, Paman Cie Hiongmu menghilang entah ke mana." "Yaah!" Kam Hay Thian tampak kecewa.

"Kakak Hay Thian?" Lie Beng Cu tersenyum engkau tidak usah putus harapan.

Paman Cie Hiongmu sangat terkenal, mungkin ada yang tahu dia tinggal di mana." "Kalau begitu, aku harus bertanya kepada kaum rimba persilatan!" ujar Kam Hay Thian.

"Jangan sembarangan bertanya kepada kaum rimba persi1atan." pesan Lie Beng Cu serius.

"Lho" Kenapa?" tanya Kam Hay Thian dengan rasa heran.

"Seandainya yang engkau tanya itu adalah musuh Paman Cie Hiongmu, tentu engkau akan celaka." Lie Beng Cu menjelaskan.

"Benar.

Lalu aku harus bagaimana?" Kam Hay Thian menghela nafas.

"Tenang saja!" Lie Beng Cu tersenyum.

"Bukankah engkau bisa bertanya pada ayahku?" "Betul, betul." Kam Hay Thian rnanggut-manggut.

"Kenapa aku melupakan itu?" "Kakak Hay Thian!" Lie Beng Cu menatapnya.

"Setelah berhasil menguasai Liong San Kun Hoat,apakah engkau akan pergi?" "Ya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment