Yo Suan Hiang berpikir lama sekali, kemudian dalam hati ia mengakui akan kebenaran ucapan Tan Ju Liang, karena itu ia segera berjalan ke tengah-tengah ruangan."Paman-paman," ujarnya tanpa memperlihatkan keangkuhan.
"Aku bersedia diuji." "Ha ha ha!
Bagus!" Lim Cin An menghampiri Yo Suan Hiang.
"Maaf, Nona Yo, aku terpaksa harus menguji kepandaianmu!" "Silakan Paman Lim!" sahut Yo Suan Hiang.
"Baik." Lim Cin An menghunus pedangnya."Nona Yo, engkau menggunakan senjata apa?" "Pedang," ujar Yo Suan Hiang sambil menghunus pedangnya.
Apabila ia melayani Lim Cin An dengan tangan kosong, tentu akan menyinggung perasaan orang tua itu.
"Paman Lim, silakan menyerang!" "Hati-hati!" Lim Cin An mengingatkannya,lalu mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang biasa.Yo Suan Hiang berkelit tanpa balas menyerang, sedangkan Tan Ju Liang tersenyum-senyum.
"Saudara Lim!
Serang dia dengan ilmu pedang andalanmu, jangan ragu!" seru Tan Ju Liang.
Lim Cin An mengerutkan kening, kemudian mulai menyerang Yo Suan Hiang dengan ilmu pedang andalannya, yakni Hui Yun Kiam Hoat (Ilmu Pedang Lawan Terbang) dengan mengeluarkan jurus Pek Yun Phiau-Phiau (Awan Putih Berterbangan).Pedang Lim Cin An terus berputar bagaikan gulungan awan mengarah ke pinggang Yo Suan Hiang jurus itu memang dabsyat dan lihay.
Akan tetapi, mendadak badan Yo Suan Hiang berkelebat laksana kilat, tahu-tahu sudah berada dibelakang mantan pengawal istana berusia lima puluhan itu.
Betapa terkejutnya Lim Cin An!
Tanpa melihat ia Iangsung menyerang ke belakang dengan jurus lui Yun Kai Goat (Awan Terbang Menutupi Bulan), menyusul lagi jurus Pek Yun Te (Awan Putih Menutupi Bumi).
Perlu diketahui, kedua jurus itu merupakan jurus-jurus simpanannya, yang jarang sekali dikeluarkan, kecuali menghadapi lawan tangguh.
Tentu saja sangat mengejutkan Tan Ju Liang, Cu Tiang Him dan penonton lainnya.
Namun mendadak Yo Suan Hiang bersiul panjang, kemudian pedangnya bergerak cepat sekali dan aneh pula.
Itu membuat mata Lim Cin An berkunang-kunang dan merasa pusing.
Ternyata Yo Suan Hiang mengeluarkan Cit Loan Kiam Hoat dengan jurus Ouw Thian Am Te (Langit Hitam Bumi Gelap).
Serrt!
Serrt!
Serrrrrt...!
Terdengar suara sobekan.
"Haaah...!" Seru Lim Cin An kaget dan termundur-mundur.
Wajahnya pucat pias dan menatap Yo Suan Hiang dengan mata terbelalak.
Suasana diruang itu pun menjadi hening sekali.
Memang mengejutkan, sebab pakaian Lim Cin An terdapat belasan lubang.
Dapat dibayangkan, betapa dahsyat dan lihaynya ilmu pedang yang digunakan Yo Suan Hiang.
"Maaf, Paman Lim!" ucap Yo Suan Hiang.
"Ha ha ha!" Lim Cin An tertawa gelak setelah hilang rasa kagetnya.
"Nona Yo, kepandaianmu memang tinggi sekali, aku tunduk kepadamu." "Paman Lim terlampau mengalah" ujar Yo Suan Hiang sambil tersenyum.Bukan main kagumnya Cu Tiang Him terhadap Yo Suan Hiang, Ia sama sekali tidak menduga bahwa wanita muda itu berkepandaian begitu tinggi, sehingga membuatnya menatap Yo Suan Hiang dengan mata berbinarbinar.
"Ha ha ha!" Tan Ju Liang tertawa.
"Mari kita duduk semua, karena Nona Yo ingin berunding dengan kita" "Semuanya duduk sekaligus memandang Yo Suan Hiang dengan penuh kekaguman, dan mereka tampak tunduk kepadanya.
"Nona Yo, kira-kira apa yang akan dirundingkan?" tanya Lim Cin An.
"Maaf, aku ingin bertanya!
Kegiatan apa yang kalian lakukan selama ini?" Yo Suan Hiang balik bertanya.
"Terus terang, kami melakukan pemberontakan" Lim Cin An memberitahukan dengan jujur, "Tapi . . . .
pihak Hiat Ih Hwe selalu berusaha membunuh kami." "Oooh!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.
"Kalian semua berjumlah berapa orang?" "Cuma dua puluh lima orang." "Paman Lim, aku mempunyai suatu ide." "Ide apa?" tanya Lim Cin An dan Tan Ju Liang serentak.
"Bagaimana kalau kita mendirikan sebuah partai?" Yo Suan Hiang menatap mereka.
"Kalian setuju?" "Tentu setuju." Lim Cin An mengangguk.
"Tapi.
kita cuma berjumlah dua puluh lima orang.
"Tidak jadi masalah." Yo Suan Hiang tersenyum.
"Sebab kelak pasti ada pesilat golongan putih bergabung dengan kita." "Benar." Tan Ju Liang manggut.manggut.
"Nona Yo ingin mendirikan partai apa?" "Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan)," jawab Yo Suan Hiang sungguh-sungguh dan menambahkan, "Khususnya menumpas Hiat Ih Hwe, sebab kalau perkumpulan ini tidak ditumpas, nyawa para pejuang pun terancam?" "Tidak salah." Lim Cin An mengangguk.
"Kita tidak berniat menumbangkan Dinasti Beng, hanya membasmi para Thay Kam jahat dan para menteri, yang bersekongkol dengan bangsa Boan (Manchuria)." "Benar." Tan Ju Liang manggut-manggut.
"Biar bagaimana pun, kita harus mempertahankan Dinasti Beng, jangan sampai Tionggoan dijajah oleb bangsa Boan." "Oleh karena itu...," ujar Yo Suan Hiang melanjutkan, "Kita harus memilih seorang ketua dan wakil, aku memilih Paman Lim dan Paman Tan...." "Tidak bisa," sahut Lim Cin An dan Tan Ju Liang.
"Kenapa?" tanya Yo Suan Hiang heran.
"Kepandaian kami jauh di bawah kepandaianmu, maka alangkah baiknya..." Lim Cin An menatap Yo Suan Hiang.
"Nona Yo yang harus menjadi ketua." "Benar," sambung Tan Ju Liang.
"Itu tidak boleh." Yo Suan Hiang menggelengkan kepala.
"Justru boleb," sahut Lim Cin An sambil tertawa.
"Karena Nona Yo putri mantan menteri, yang amat setia, maka pantas menjadi ketua?" "Tapi "Yo Suan Hiang tampak ragu.
"Kawan-kawan" seru Tan Ju Liang bertanya.
"Bagaimana menurut kalian, setuju atau tidak kalau Nona Yo menjadi ketua Tiong Ngie Pay?" "Setuju," sahut mereka semua, dan suara Cu Tiang Him yang paling kencang "Kami semua mendukung." "Nah!" Tan Ju Liang tertawa.
"Nona Yo, jangan menolak lagi!" "Baiklah" Yo Suan Hiang mengangguk "Malam ini k?resmikan berdirinya Tiong Ngie Pay!" "Hidup Tiong Ngie Pay!
Hidup Tiong Ngie Pay!" seru semua orang dengan penuh semangat.
Setel?h suara seruan itu sirna, barulah Yo Suan Hiang membuka mul?t dengan wajah serius.
"Kalian semua harus bersumpah setia kepada Tiong Ngie Pay, dan senang susah harus kita pikul bersama!" "Ya." Mereka mengangguk lalu mengangkat sumpah "Kami semua bersumpah setia kepada Tiong Ngie Pay, hidup dan mati demi Tiong Ngie Pay!
Apabila kami berkhianat, pasti mati secara mengenaskan!" "Bagus!" Yo Suan Hiang manggut.manggut gembira.
"Kalian semua harus ingat!
Para anggota Tiong Ngie Pay dilarang melakukan kejahatan.
Siapa yang melakukan kejahatan harus dihukum." "Ya," sahut mereka semua "Apabila kami melakukan kejahatan, kami bersedia dihukum mati!" "Terima kasih" ucap Yo Suan Hiang lalu bertanya kepada Tan Ju Liang.
"Paman Tan, apakah tempat ini aman dan rahasia?" "Sangat aman dan rahasia," jawab Tan Ju Liang dan me?ambahkan, "Bahkan di luar pun telah dipasang berbagai macam jebakan." "Bagus!" Yo Suan Hiang manggut-manggut.
"Oh ya, ada berapa ruangan dalam bangunan ini?" "Lebih dari sepuluh ruangan." Tan Ju Liang memberitahukan, "Dan setiap ruangan telah dipasang pintu rahasia dan jebakan." "Luar biasa!" Yo Suan Hiang kagum sekali.
"Paman Tan, siapa yang~ membikin itu semua?" "Saudara Kim,"sahut Tan Ju Liang.
"Paman Kim!" seru Yo Suan Hiang.
Seketika juga seorang tua berusia enam puluhan, tampil dan memberi hormat kepada Yo Suan Hiang.
"Ada perintah apa, Ketua?" tanyanya hormat.
Mulai saat ini engkau kuangkat sebagai pelindung markas!" sahut Yo S?an Hiang.
"Sebab bangunan ini akan dijadikan markas Tiong Ngie Pay." "Terima kasih, Ketua!" ucap Kim Han Siong.
"Paman Kim,si1akan duduk kembali!" ujar Yo Suan Hiang.
"Terima kasih, Ketua!" Kim Han Siong duduk kembali.
"Mulai sekarang...," ujar Yo Suan Hiang lantang.
Paman Tan kuangkat sebagai wakil ketua, sedangkan Paman Lim sebagai pelaksana hukum." "Terima kasih, Ketua!" ucap kedua orang itu serentak.
"Paman Kim," pesan Yo Suan Hiang.
"Mulai besok harus memperhatikan tempat-tempat di sekitar bangunan ini." "Ya, Ket?a." Kim Han Siong mengangguk.
"Aku pasti memasang berbagai macam jebakan disekitar bangunan ini, agar tidak gampang diserbu musuh." "Bagus!" Yo Suan Hiang manggut~manggut, kemudian berkata dengan serius.
"Terus terang, kepandaian kalian masih rendah.
Oleh karena itu, mulai besok kalian harus giat berlatih.
Untuk sementara ini jangan berurusan dengan pihak "Hiat Ih Hwe, sebab kalian harus memperdalam ilmu silat masing-masing!" "Terima kasih, Ketua!" sahut para anggot?
itu serentak.
"Paman Tan, Paman Lim dan Saudara Cu," ujar Yo Suan Hiang.
"Mulai besok aku akan mengajar kalian ilmu silat tingkat tinggi" "Terima kasih, Ketua!" ucap mereka bertiga, dan yang paling gembira adalah Cu Tiang Him.
"Cu Tiang Him!" panggil Yo Suan Hiang mendadak.
"Ya," sahut Cu Tiang Him sambil memberi hormat.
"Ada perintah apa, Ketua?" "Engkau kuangkat sebagai kepala regu, maka engkau harus mengajar mereka ilmu silat yang kuajarkan kepadamu,"sahut Yo Suan Hiang.
"Ya, Ketua." Cu Tiang Him memberi hormat.
"Paman Tan," ujar "Yo Suan Hiang.
"Harus diatur beberapa ruangan untuk mereka, sebab sementara ini mereka harus tinggal di sini untuk memperdalam ilmu silat masing-masing." "Baik, Ketua." Tan Ju Liang mengangguk.
"Akan kuatur itu, dan harus ada kamar khusus untuk Ketua." "Terima kasih, Paman Tan!" ucap Yo Suan Hiang sambil tersenyum.
"Tiang Him," pesan Tan Ju Liang.
"Aturlah mereka ke ruang tengah!" "Ya, Guru." Cu Tiang Him rnengangguk.
"Ketua," ujar Tan Ju Liang hormat.
"Mari ikut aku ke dalam!" "Terima kasih, Paman Tan!" ucap Yo Suan Hiang dan kemudian mengikuti Tan Ju Liang kedalam.
Sejak malam itu, lahirlah Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dalam rimba persilatan.
-oo0w0oo- Jilid 2 Bagian Ke Enam Mengabdi pada Lu Thay Kam.
Lie Man Chiu, yang meninggalkan anak isteri itu terus melakukan perjalanan.
Ia telah melupakan anak isterinya yang di Pulau Hong Hoang To, juga melupakan wejangan-wejangan Tayli Lo Ceng, gurunya.
Sejak Bu Lim Sam Mo mati di tangan Tio Cie Hiong, hati Lie Man Chiu terganjel sesuatu.
Ternyata ia merasa dengki terhadap Tio Cie Hiong, yang disanjung-sanjung kaum rimba persilatan.
Namun karena pada waktu itu ?a sangat mencintai Tio Hong Hoa, maka ikut ke Pulau Hong Hoang To, sekaligus melangsungkan pernikahan di pulau tersebut.
Akan tetapi, rasa dengkinya terhadap Tio Cie Hiong semakin menjadi, karena semua orang sangat menghormati Ti?
Cie Hiong.
Padahal ?a sudah mempunyai seorang putri, namun dengkinya justru membangkitkan ambisinya, yakni harus menyamai Tio Cie Hiong.