Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 06

Memuat...

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im memandang mereka sambil menghela nafas panjang.

"Bun Yang," ujar Tio Cie Hiong berpesan.

"engkau harus sering-sering menghibur Ai Ling, tidak boleh membuatnya kesal" "Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk.

kemudian menatap Tio Cie Hiong seraya bertanya, "Ayah, kenapa Paman Man chiu begitu tega meninggalkan Bibi dan Ai Ling?" "Karena Paman Man Chiu masih punya suatu ambisi." Tio Cie Hiong menjelaskan.

"Dia tidak memikirkan anak isteri, sebaliknya malah ingin mengorbitkan namanya di rimba persilatan." "Ayah, kalau begitu Paman Man chiu berhati kejam, karena sudah tidak sayang Bibi dan Ling," ujar Tio Bun Yang dan menambahkan, "Bahkan Paman Man chiu pun tidak mempunyai perasaan, begitu tega meninggalkan Ai Ling yang masih kecil.

padahal Ai Ling sangat membutuhkan kasih sayangnya." "Nak" Lim Ceng Im membelainya.

"Engkau telah melihat itu, maka kelak engkau tidak boleh seperti Paman Man chiu.

Ingat baik-baik itu" "Ibu.." Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah tidak seperti itu, dan Bun Yang pun tidak akan seperti itu pula.

Ayah merupakan contoh yang baik bagi Bun Yang, lagipula Bun Yang tidak berhati kejam." "Bagus, Nak." Lim CengIm membelainya lagi.

"ibu merasa puas dan bangga padamu, engkau memang anak baik" "Bun Yang harus menjadi anak baik, tidak mau mengecewakan Ayah dan ibu," ujar anak itu sungguh-sungguh .

"Nak.

ayah gembira sekali." Tio Cie Hiong membelainya.

"Nah, sekarang engkau harus mengajak Ai Ling main, agar dia tidak terus menangis memikirkan ayahnya" "Ya, Ayah".

Tio Bun Yang berjalan ke dalam.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im manggut-manggut sambil tersenyum.

Sam Gan sin Kay dan Tio Tay seng duduk di bawah sebuah pohon.

Mereka tidak main catur, melainkan terus memperbincangkan tentang kepergian Lie Man chiu, wajah Tio Tay seng tampak muram sekali.

"Yaaah" sam Gan sin Kay menarik nafas.

"Memang tidak disangka sama sekali mengenai kejadian ini.

Man chiu begitu tega meninggalkan anak isteri hanya demi mengejar nama di rimba persilatan." "Padahal dia adalah murid kesayangan Tayli Lo Ceng, tapi kenapa...." Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku yakin Tayli Lo Ceng tahu, namun dia diam saja?" "Kalau Lo Ceng tua itu tahu, tidak mungkin tidak memperdulikannya.

Kukira..." Tio Tay seng mengerutkan kening dan melanjutkan," Lo Ceng itu tidak mengetahui watak asli muridnya itu." "Menurutku, itu tidak mungkin.

Lo Ceng itu pasti tahu, hanya saja...

mungkin ada sebab lain," ujar sam Gan sin Kay dan menambahkan, "Kita tidak tahu berada di mana Lo Ceng itu.." "Yah, sudahlah" Tio Tay seng menggeleng-gelengkan kepala.

"Mungkin sudah nasib putriku".

Pada waktu bersamaan, muncullah Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menghampiri mereka, lalu duduk dengan kening berkerut-kerut.

"Kakek pengemis, Paman" panggil Tio Cie Hiong.

Cie Hiong, "bagaimana Hong Hoa?" tanya Tio Tay seng.

Dia masih terus menangis?" "Biarlah dia menangis, karena bisa membuat hatinya lega," jawab Tio Cie Hiong.

"Bun Yang berusaha menghibur Ai Ling." "Aaakh...." Keluh Tio Tay seng.

"Paman tidak menyangka akan terjadi itu, padahal Hong Hoa dan Man chiu saling mencinta" "Ambisi "ujar Tio Cie hong menggeleng-gelengkan kepala.

"Ambisi telah menutup rasa sayang dan cintanya terhadap Kakak Hoa serta anaknya." Cie Hiong Tio Tay seng menatapnya seraya bertanya.

"Bagaimana menurut pendapatmu, apakah Man chiu akan pulang" "Dia pasti pulang, tapi...

tidak begitu cepat," sahut Tio Cie Hiong.

"sebab dia ingin membuat dirinya terkenal." "Aku justru mengkhawatirkan itu," sela sam Gan sin Kay sambil menghela nafas panjang.

"Dia begitu tega meninggalkan anak isteri, pertanda hatinya sangat kejam dan tak berperasaan.

Kemungkinan besar...

dia pun akan berubah jahat.

Kakek." ujar Lim Ceng im.

"Mungkin tidak serius tentang itu." "Dia ingin mengorbitkan namanya, sudah barang tentu harus melakukan sesuatu yang menggemparkan rimba persilatan.

Menggemparkan dengan perbuatan baik memang tidak masalah, sebaliknya apabila dia...." sam Gan sin Kay menghela nafas.

Kakek pengemis Tio Cie Hiong tersenyum.

"Tidak mungkin dia akan melakukan kejahatan, sebab dia pasti masih ingat kepada gurunya." "Hm" dengus Tio Tay seng dingin.

"Kalau dia masih ingat kepada gurunya, tentunya dia tidak berani meninggalkan anak isterinya dengan cara begitu seharusnYa dia berunding dengan kita." Tio Tocu sam Gan sin Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau dia berunding dengan kita, tentunya kita tidak mengijinkannya pergi.

Karena itu, dia pergi secara diamdiam." "Yaah, tidak disangka nasib putriku menjadi begini" Wajah Tio Tay seng bertambah murung, kemudian melanjutkan, "Kalau dia memang ingin mencari nama dalam rimba persilatan, bukankah dia boleh mengajak putriku?" Tio Tocu sam Gan sin Kay tersenyum getir.

"Engkau pasti tidak memperbolehkan mereka pergi berkelana, maka dia tidak mau mengajak Hong Hoa." "Takdir" gumam Tio Tay seng.

"Mungkin ini merupakan suatu takdir bagi putriku Aaaakh..." --ooo0dw0ooo-- Lie Ai Ling duduk melamun di bawah sebuah pohon.

Tanpa sadar tangannya terus mencabut rumput-rumput di sekitarnya.

"Adik Ai Ling "Tio Bun Yang menghampirinya sambil tersenyum lembut.

"Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata engkau duduk melamun di sini Kakak Bun Yang...." Mata Lie Ai Ling mulai basah.

"Adik Ai Ling" Tio Bun Yang memegang bahunya lalu duduk."Jangan terus berduka, beberapa hari ini engkau tampak agak kurus, lho" "Kakak Bun Yang...." Lie Ai Ling mulai menangis terisakisak.

"Ai Ling tidak menyangka, ayah begitu kejam." "Adik Ai Ling" Tio Bun Yang menghapus air matanya.

"sesungguhnya ayahmu tidak kejam, hanya saja dia tidak bisa menekan ambisinya, sehingga meninggalkan engkau dan bibi." "Kakak Bun Yang, bolehkah seorang ayah meninggalkan anak isterinya hanya demi suatu ambisi" tanya Lie Ai Ling mendadak." "Seharusnya tidak boleh," jawab Tio Bun Yang.

"Ayah yang baik harus bertanggung jawab, dan ada apa-apa harus berunding dengan yang bersangkutan.

Tapi.

kesadaran ayahmu telah tertutup oleh ambisinya, sehingga membuatnya tidak berpikir panjang lagi." Bukan main Padahal Tio Bun Yang baru berusia sepuluh tahun, sedangkan Lie Ai Ling baru sembilan tahun, namun mereka berdua justru bisa saling tukar pikiran dan memperbincangkan suatu masalah.

Bukankah itu luar biasa sekali" "Kakak Bun Yang sungguh beruntung, mempunyai ayah yang begitu baik.

sebaliknya Ai Ling.." Air mata Lie Ai Ling mulai meleleh.

"Adik Ai Ling" Tio Bun Yang menatapnya lembut.

"Ayahku dan ibumu adalah kakak beradik, maka ayahku boleh dikatakan ayahmu juga.

sedangkan Bun Yang adalah kakakmu.

Ya, kan?" "Ng.." Lie Ai Ling menganggu.

"Terima kasih Kakak Bun Yang selalu menghibur Ai Ling" "Bun Yang memang harus menghiburmu, sebab engkau adikku." Tio Bun Yang tersenyum.

"Kakak Bun Yang...." Lie Ai Ling menatapnya seraya bertanya.

"Kenapa ayah Ai Ling tidak seperti ayahmu?" "Adik Ai Ling," jawab Tio Bun Yang menjelaskan." itu tergantung pada sifat dan watak.

karena semua orang tidak memiliki sifat dan watak yang sama.

Karena itu, terdapatlah orang baik dan orang jahat." "Oooh" Lie Ai Ling manggut-manggut." Kalau begitu, ayah Ai Ling termasuk orang jahat, kan?" "Tidak juga." Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah mu terlampau berambisi, sehingga membuatnya jadi begitu" "Kakak Bun Yang" Mendadak Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam.

"Apakah kelak Kakak Bun Yang akan seperti ayah Ai Ling?" "Tentu tidak." ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Bun Yang harus seperti ayah, tidak mau membunuh dan tidak mau menyakiti orang lain.

Bun Yang harus menjadi orang baik, bijaksana dan adil," "Bagus" Lie Ai Ling tertawa.

Ai Ling gembira dan bangga memcunyai kakak yang begini.

Di saat mereka berdua bercakap-cakap, tampak sepasang mata mengintip ke arah mereka.

Ternyata Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im.

Betapa kagum dan gembiranya hati mereka ketika mendengar percakapan itu, dan mereka pun saling memandang sambil manggut-manggut.

"Ayah, ibu" seru Tio Bun Yang mendadak."Jangan terus bersembunyi di balik pohon, tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang" Seketika juga Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im melesat ke hadapan mereka, tentunya Lie Ai Ling terkejut sekali.

"Paman, Bibi" panggilnya.

"Ai Ling" Lim Ceng Im membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Nak" Tio Cie Hiong menatap putranya.

"Bagaimana engkau tahu bahwa kami bersembunyi dibalik pohon?" "Karena kaki ibu menimbulkan suara, maka Bun Yang tahu kehadiran ibu dan Ayah," jawab Tio Bun Yang sambil tersenyum.

"Kalau kaki ibu tidak menimbulkan suara, Bun Yang pasti tidak akan mengetahuinya" "Nak" Tio Cie Hiong menatapnya kagum.

"sungguh tajam pendengaranmu, ayah kagum kepadamu" "Nak" Lim Ceng im tersenyum-senyum.

"Padahal kaki ibu hanya bergerak sedikit, tapi engkau dapat mendengarnya.

Lagipula...

engkau sedang bercakap-cakap dengan Ai Ling, kenapa...." "ibu" Tio Bun Yang tersenyum.

"Ayah pernah pesan, di mana pun kita berada, harus waspada terhadap tempat sekelilingnya".

"oooh" Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Tapi ini adalah pulau Hong Hoang To, tidak mungking akan muncul musuh." "ibu, Bun Yang harus membiasakan begini.Kalau sudah terbiasa, tentu tidak akann melalaikannya " .

"Bagus, bagus "Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Itu merupakan kebiasaan yang baik, di manapun kita berada, haruslah waspada.

ini sangat penting dan berlaku dalam rimba persilatan" "Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak" Lim Ceng im menatapnya sambil tersenyum.

"sudah lama ibu tidak mendengar suara sulingmu, sekarang ibu ingin mendengarnya." "Ya, ibu." Tio Bun Yang mengangguk lagi, lalu mulai meniup suling pualam pemberian ayahnya.

Terdengarlah suara suling yang sangat menyentuh hati dan menggetarkan kalbu.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im saling memandang sambil tersenyum-senyum, sedangkan Lie Ai Ling terus menatap Tio Bun Yang dengan mata berbinar-binar.

--ooo0dw0ooo-- Bagian ketiga Kehadiran padri tua Dua bulan telah berlalu, namun Lie Man chiu tidak pernah kembali ke pulau Hong Hoang To, tentunya membuat Tio Hong Hoa jadi putus asa dan stress, sehingga badannya bertambah kurus.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment