Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 02

Memuat...

ingat, engkau tidak boleh marah agar tidak sembarangan membunuh orang." "Ya, Ayah." Tio Bun Yang mengangguk, "Bun Yang pasti selalu ingat akan semua nasihat Ayah." "Bagus!" Tio Cie hong membelainya, "Bun Yang adalah anak baik, penuh kesabaran, pengertian dan berhati bajik, luhur serta mulia." "Ayah!" Tio Bun Yang tersenyum, "Bun Yang tidak akan mengecewakan Ayah dan ibu." "Bagus, bagus!" Lim Ceng Im tertawa gembira dan sekaligus memeluknya erat-erat dengan penuh kasih sayang.

"Kakak Bun Yang!

Kakak Bun Yang!" Terdengar suara seruan merdu, kemudian muncul seorang anak gadis berusia sekitar sembilan tahun, cantik, manis dan lincah.

Siapa anak gadis itu" Tidak lain Lie Ai Ling, putri Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa.

"Adik Ai Ling!" sahut Tio Bun Yang tersenyum, "Paman, Bibi!" panggit Lie Ai Ling.

"Ai Ling, di mana ayah dan ibumu?" tanya Tio Cie Hiong.

"Mereka sedang sarapan," jawab Lie Ai Ling dan memberitahukan, "Kakek dan kakek pengemis telah mulai main catur." "Ooohl" Tio Cie hong manggut-manggut.

"Kauw heng!" Lie Ai Ling membelai monyet bulu putih, "Ai Ling mencari ke sana ke mari, ternyata kauw heng berada di sini!" Monyet bulu putih bercuit-cuit kemudian sepasang tangannya bergerak-gerak seakan memberitahukan sesuatu.

"Oh, kauw heng berlatih di sini bersama Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling tersenyum, "Kakak Bun Yang, mari kita berlatih!" "Baik, Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang mengangguk.

Mereka berdua lalu mulai benlatih.

Tio Cie Hiong dan Lim Ceng im menyaksikannya dengan penuh perhatian, kemudian manggut-manggut.

"Kakak Hiong," bisik Lim Ceng Im.

"Kelihatannya kecerdasan Bun Yang tidak di bawah kecerdasanmu.

" "Ya." Tio Cie Hiong mengangguk sambil tersenyum, "Menurutku, dia lebih cerdas dariku.

Itu sungguh di luar dugaan, lagi pula----" "Kenapa?" "Adik im!" Tio Cie Hiong serius.

"Tahukah engkau suatu hal mengenai diri Bun Yang?" "Hal apa?" "Dia pun kebal terhadap berbagai macam racun sepertiku" "Oh?" Terbetalak Lim Ceng Im.

"Kok bisa begitu?" "Dua kali aku makan buah Kiu Yap Ling Che, sedangkan dia darah dagingku, maka dia pun kebal terhadap racun apa pun." Tio Cie Hiong memberitahukan, "Syukurlah!" ucap Lim Ceng Im dengan wajah berseri, "Bun Yang memang anak, yang luar biasa.

Walau baru berusia sepuluh tahun, tapi telah menguasai semua ilmuku, termasuk ginkang (Ilmu Meringankan Badan)." "Memang." Lim Ceng Im manggut-manggut.

"Hanya saja lweekangnya masih dangkali "Kalau dia terus berlatih, pasti Iweekangnya akan bertambah tinggi" "Kakak Hiong!" Lim ceng Im menatapnya, "Engkau akan memperbolehkannya pergi berkelana kelak?" "Itu memang sudah harus, tidak mungkin dia terus diam di pulau ini.

Dia barus pergi mencari Pengalaman" "Tapi----" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Otomatis dia akan berkecimpung dalam rimba persilatan, dan itu akan membahayakan dirinya." "Adik Im!" Tio Cie hong tersenyum lembut.

Satu bahaya justru akan menambah pengalamannya, sekaligus menggembleng ketabahan hatinya.

Kita pun tidak usah mengkhawatirkannya, sebab dia telah berbekal kepandaian tinggi yang kita turunkan kepadanya." "Ya." Lim Ceng im manggut-manggut.

"Yang kusayangkan...." Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, "Nenek telah wafat dua tahun yang lalu----" "Nenek memang sudah tua, sebelumnya nenek pun telah menurunkan kepandaiannya kepada Kakak Suan Hiang." "Sudah sepuluh tahun lebih Adik Suan Hiang belajar ilmu silat di pulau ini, mungkin tidak lama lagi dia akan ke Tionggoan untuk menuntut balas kematian ayahnya." "Kasihan dia----" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Kini usianya sudah tiga puluh lebih, namun belum menikah!" "Mudah-mudahan dia akan bertemu lelaki yang baik, jadi dia pun akan hidup bahagia!" "Kelihatannya dia sudah tiada niat untuk menikah, hanya ingin menuntut balas kematian ayahnya saja".

"Ngmm!" Tio Cie hong manggut-manggut.

"Oh ya, belum lama ini Man Chiu kelihatan agak aneh" "Oh?" Lim Ceng Im menatapnya.

"Bagaimana anehnya?" "Dia seling melamun, bahkan hatinya seakan terganjel sesuatu" Tio Cie Hiong mengerutkan kening, "Aku khawatir suatu yang buruk akan terjadi...." Lim Ceng Im juga mengerutkan kening, "Menurutmu apa yang akan terjadi atas dirinya?" "Entah?" Tio Cie Hbong menggelengkan kepala, "Pokoknya suatu yang buruk, sebab dia kelihatan sedang mempertimbangkan suatu kePutusan.

Terus terang, aku cemas akan itu." "Kalau begitu, engkau harus memberitahukan kepada Kakak Hong Hoa." ujar Lim Ceng Im mengusulkan.

"Tidak bisa." Tio Cie Hiong menghela nafas, "Karena aku tidak tahu jelas, melainkan cuma berfirasat dan juga itu kan urusan Man Chiu dengan Kakak Hong Hoa, aku tidak boleh turut campur." "Ya" Lim Ceng Im mengangguk, "Oh ya, Kakak Hiong!

Setelah Bu Lim Sam Mo mati, apakah rimba persilatan sudah aman, tenang dan damai?" "Adik Im!" Tio cie Hbong menghela nafas panjang, "Rimba persilatan bagaikan laut yang selalu bergelombang, hanya bisa tenang sejenak lalu bergelombang lagi." "Maksudmu rimba persilatan tidak bisa tenang selamaiamanya?" tanya Lim Ceng Im sambil menatapnya.

"Adakah laut yang tenang selama-lamanya?" Cie Hiong balik bertanya, "Tidak ada." Lim Ceng Im menggelengkan "Nah begitu Pula rimba persilatan," ujar Tio Cie Hiong sambil tersenyum getir, "Sebab kaum rimba persilatan tidak terlepas dan keserakahan, kelicikan dan lain sebagainya.

Karena itu, bagaimana mungkin rimba persilatan bisa tenang seiama-iamanya?" "Kalau begitu----" Lim Ceng im mengerutkan kening, "Bun Yang berkelana kelak...." "Adik Im!" Tio Cie Hiong tersenyum sambil membelainya, "Engkau Pun pernah berkecimpung dalam rimba persilatan, jadi jangan terlampau mengkhawatirkan Bun Yang!" "Kakak Hiong...," tanya Lim Ceng im dengan suara rendah, "Perlukah kita menemaninya berkelana?" "Adik Im!" Tio Cie Hiong tertawa, "Dia pergi berkelana berarti dia telah dewasa, kenapa kita masih harus menemaninya" Bukankah engkau pernah mengembara seorang diri kemudian bertemu aku yang sedang mandi telanjang di sungai"!" "Kakak Hiong...." Wajah Lim Ceng im langsung kemerahmerahan, "Kenapa kau ungkit lagi kejadian itu, bahkan sering pula memberitahukan kepada Bun Yang, sehingga membuatnya tertawa geii?" "Adik Im!" Tio Cie Hiong membelainya dengan penuh cinta kasih, "Itu merupakan kenangan yang sangat indah dan manis lho!" "Dasar...." Lim Ceng Im cemberut "Kakak Hiong, kita...

selamanya tidak akan ke Tionggoan iagi?" "Tentu harus ke sana, sebab kita harus mengunjungi ayahmu," jawab Tio Cie Hiong.

"Sudah dua tahun ayahmu tidak ke mari." "Kakak Hiong, kapan kita akan ke markas pusat Kay Pang mengunjungi ayahku?" tanya Lim Ceng Im mendadak.

"Setelah Bun Yang besar" "Yaahi" Lim Ceng Im menarik nafas dalam-dalam, "Itu masih lama!

Bagaimana kalau tahun depan kita ke markas pusat Kau Pang?" "Lihat saja nanti!" Tio Cie thong tersenyum.

"Oh ya, entah bagaimana keadaan Toan Wie Kie, Lam Kiong Bie Liong dan isteri mereka" Sudah sepuluh tahun lebih kita berpisah dengan mereka, apakah mereka sudah mempunyai anak?" "Aku yakin mereka sudah mempunyai anak," sahut Lim Ceng Im sambil tersenyum" Kakak Hiong, yang kupikirkan adalah Kim Siau Suseng dan Kou Hun Bijin- Sudah sepuluh tahun lebih mereka menjadi suami isteri, mungkinkah mereka bisa mempunyai anak?" "Mereka pasti bisa mempunyai anak?" "Apakah mereka akan tetap awet muda?" "Tidak bisa" Tio Cie Hiong menjelaskan "Setelah menikah, mereka pun akan tua.

Karena melakukan hubungan intim, sehingga mempengaruhi tubuh mereka.

" "Kakak Hiong!" Lim Ceng Im tersenyum.

Entah bagaimana anak mereka?" "Kalau anak mereka laki-laki, tentunya tampan luar biasa.

Kalau perempuan, otomatis cantik bukan main," sahut Tio cie Hiong sambil tertawa, "Eh" Kakak Hiong!" Wajah Lim Ceng im serius, "Kalau mereka mempunyai anak perempuan yang cantik bukan main, kelak entah berapa banyak kaum pemuda akan bertekuk lutut dihadapannya.

Ibunya adalah Kou Hun Bijin (Wanita Cantik Pembetot Sukma), maka anak perempuannya" "Tidak akan seperti ibunya," sambung Cie Hiong.

"Kalau mereka mempunyai anak perempuan, aku yakin anak perempuan itu pasti lemah lembut dan kalem" Lim Ceng Im tersenyum, "Kakak Hiong, entah gadis mana yang akan menjadi jodoh Bun Yang!" "Adik im!" Tio Cie Hiong tertawa, " un Yang belum dewasa, kenapa engkau telah memikirkan jodohnya?" "Kita adalah orang tuanya, tentunya harus memikirkannya, bukan?" "Benar," Tio Cie Hiong mengangguk, " Pokoknya iyu terserah dia, yang penting adalah gadis yang baik." "Betul!" Lim Ceng Im manggut-manggut dan berbisik, "Harus seperti kita berdua." "Ha ha ha!" Tio Cie Hiong tertawa gembira.

"Saling mencinta dengan penuh kasih sayang Selamalamanya!" --ooo0dw0ooo-- Seusai berlatih ilmu pedang Hong Hoang Kiam Hoat (Ilmu Pedang Burung Phoenix) dan Lui Tian Kiam Hoat (Ilmu Pedang Petir Kilat), Yo Suan Hiang lalu duduk di bawah sebuah pohon, Berselang sesaat, wajah gadis itu tampak berubah murung.

Ternyata ia teringat akan kematian ayahnya.

Mendadak sepasang matanya memancarkan sinar berapi~api, kemudian bergumam sambil mengepalkan tinju, "Aku harus menuntut balas!

Aku harus menuntut balas....

" "Suan Hiang!" Muncul Tio Tay Seng, majikan pulau Hong Hoang To menatapnya lembut, "Guru!" Yo Suan Hiang segera bangkit berdiri, sekaligus memberi hormat, "Guru tahu bagaimana perasaanmu." Tio Tay Seng mengheia nafas panjang seraya berkata, "Sudah sepuluh tahun lebih engkau belajar ilmu silat di sini, dan kini ilmu silatmu boleh dikatakan sudah tinggi.

Kalau ingin menuntut balas kematian ayahmu, engkau boleh berangkat ke Tionggoan." "Guru . . . " Yo suan Hiang menundukkan kepala.

Tio Tay Seng tersenyum, "Memang sudah waktunya engkau ke Tionggoan, karena kepandaianmu sudah tinggi.

Tapi biar bagaimanapun engkau harus berhati~hati" "Guru, kapan aku boleh ke Tionggoan?" "Besok pun boleh.

" "Guru.." Yo Suan Hiang mulai terisak-isak "Guru tahu . . . ." Tio Tay Seng menatapnya dalam-dalam, "Engkau merasa berat meninggalkan guru dan pulau ini.

Tapi biar bagaimanapun engkau harus ke Tionggoan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment