Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam 01

Memuat...

Setelah Bu Lim Sam Mo mati di tangan Pek Ih Sin Hiap.

Tio Cie Hiong, maka para ketua tujuh partai besar dan kaum rimba persilatan lainnya, yakin bahwa dunia persilatan pasti aman, tentram dan damai.

Sedangkan Tio Cie Hiong, Lim Ceng im, Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa melangsungkan pernikahan di pulau Hong Hoang To.

Para ketua tujuh partai besar dan para jago silat lainnya hadir semua dalam pesta pernikahan itu, sehingga pesta pernikahan tersebut menjadi meriah dan semarak.Sejak itu, Tio Cie Hiong sama sekali tidak mencampuri urusan rimba persilatan lagi.

ia hidup tenang, damai dan bahagia sepanjang masa bersama Lim Ceng Im di pulau itu.

Bagaimana keadaan rimba persilatan setelah Tio Cie Hiong menetap di pulau Hong Hoang To" Betulkah kematian Bu Lim Sam Mo membawa kedamaian dalam rimba persilatan" Justru sungguh di luar dugaan.

Karena di saat Tao Cie Hiong hidup tenang, damai dan bahagia di pulau itu, di rimba persilatan telah muncui Hiat Ih Hwe (Perkumpulan Baju Berdarah).

Siapa ketua perkumpulan itu tiada seorangpun yang mengetahuinya, sebab perkumpulan tersebut sangat misterius, lagi pula para anggotanya rata-rata berkepandaian tinggi Dimana Hiat ih Huie muncul, di situ pasti banjir darah, Semula Hiat Ih Huie cuma membantai para pembesar yang jujur dan setia, juga membasmi para pemberontak- Akan tetapi, lambat laun perkumpulan tersebut mulai mengarah pada kaum rimba persilatan golongan putihTak lama setetah itu, muncul pula Tiong Ngie Pay (Partai Keadilan) dan Seng Huiee Kauw (Agama Api Suci), sebingga timbul pula berbagai pertikaian dan bencana dalam rimba persilatan.

---ooo0dw0ooo--Bagian Kesatu Penyakit Aneh yang mencemaskan Pulau Hong Hoang To (Pulau Burung Phoenix) terletak di Pak Hai (Laut Utara).

Panorama di pulau tersebut sangat indah menakjubkan, tampak pula belasan ekor burung phoenix berterbangan, bunga-bunga liar pun memekar segar menambah keindahan pulau tersebut, Pagi ini, terlihat seorang bocah laki-laki sedang berlatih ilmu pukulan dan ilmu pedang di tempat terbuka.

Bocah lakilaki itu berusia sepuluh tahun, bukan main tampannya, siapa yang melihatnya pasti akan timbul rasa suka kepadanya.

Siapa bocah laki-laki itu" Ternyata putra Tio Cie Hiong dan Lim Ceng Im bernama Tio Bun Yang.

Sejak anak itu berusia tiga tahun, Tio Cie Hiong mulai mengajarnya pan Yok Hian Thian Sin Kang (Tenaga Sakti Pelindung Badan) dan Kan Kun Taylo Sin Kang (Tenaga Sakti Alam Semesta).

Setelah Tio Bun Yang berusia tujuh tahun, mulailah Tio Cie Hiong mengajarnya Tujuh Jurus Giok Siauui Bit Ciat Kang Khi (Ilmu Suling Kumala Pemusnah Kepandaian), Tujuh Jurus Bit Ciat Sin Ci (Ilmu Jan Sakti pemusnah Kepandaian) dan Kan Kun Taylo Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Alam Semesta).

Kini Tio Bun Yang telah menguasai semua ilmu itu, hanya saja luieekangnya masih belum begitu tinggi.

Sedangkan monyet bulu putih pun tidak mau ketinggalan.

Monyet sakti itu juga mengajarnya berbagai ilmu pukulan, Di saat Tio Bun Yang berlatih, monyet bulu putih terus memperhatikannya bagaikan seorang guru.

Berselang beberapa saat, muncullah Tio Cie Hiong bersama Lim Ceng Im.

Mereka berdua lalu duduk di bawah sebuah Pohon sambil memperhatikan latihan Putra mereka.

"Adik Im," Ujar Tio Cie hong sambil tersenyum, "Aku tidak menyangka, Bun Yang baru berusia sepuluh tahun tapi telah dapat menguasai semua ilmu yang kita turunkan kepadanya.

" "Benar, memang sungguh di luar dugaan," sahut Lim Ceng Im dengan tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah murung.

"Adik Im____" Tio Cie Hiong menatapnya seraya berkata, "Engkau tidak perlu cemas." "Kakak Hioong...." Lim Ceng Im menghela nafas panjang, "Dia mengidap penyakit.

" "Tidak Perlu cemas," ujar Tio Cie Hiong.

"Itu memang Penyakit aneh, tapi engkau tidak Perlu cemas.

" "Bagaimana mungkin aku tidak cemas?" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala "Penyakit itu mungkin akan mempengaruhi dirinya." "Tidak mungkin," sahut Tio Cie Hiong "Aku mahir ilmu Pengobatan, tentunya tahu jelas akan penyakit itu." "Kakak Hiong, kenapa dia bisa mengidap penyakit itu?" "Yaaah" Tio Cie Hiong menghela nafas panjang, "Mungkin sudah nasibnya." "Hingga saat ini engkau tidak mampu mengobatinya?" "Aku telah berusaha mengobatinya, namun belum menemukan obat mujarab untuk menyembuhkan penyakitnya" "Apakah selamanya dia akan begitu?" "Menurutku, kalau sudah waktunya penyakit itu akan lenyap dengan sendirinya.

" "Bagaimana mungkin?" "Percayalah!" Tio Cie Hiong menggenggam tangan isterinya dengan penuh cinta kasih.

"Adik Im, sejak dia berusia tiga tahun, aku telah mengajarnya pula dengan pendidikan moral, akal budi wejangan dan lain sebagainya.

Karena itu, aku yakin, dia pasti seperti diriku.

Tidak mau membunuh dan berbuat dosa maupun melakukan hal-hal yang cenderung jahat.

Lagi pula Pada dasarnya dia berhati bajik dan berwatak luhur, jadi aku tidak begitu cemas.

" "Tapi____" Lim Ceng Im menggeleng-gelengkan kepala, "Aku...

aku khawatir dia akan sembarangan membunuh orang.

" "Tidak mungkin." Tio Cie Hiong tersenyum dan menjelaskan, "penyakitnya timbul hanya di saat ia marah besar, sehingga peredaran darahnya berjalan lebih cepat menerjang ke arah syaraf otak, maka kesadarannya akan tertutup.

Apabila ia masih dapat menekan hawa amarahnya, tidak akan terjadi apa-apa.

Seandainya tidak bisa, Ia pasti mengamuk atau akan membunuh orang yang membuatnya marah besar itu." "Itulah yang kukhawatirkan." Lim Ceng Im menghela nafas panjang, "Kakak Hiong, sebetulnya penyakit apa itu" " "Semacam tekanan darah tinggi." Tio Cie Hiong memberitahukan, "Akan tetapi, kasih sayang dan kelembutan dapat menjernihkan pikirannya disaat kesadarannya tertutup oleh hawa kemarahan.

Oleh karena itu, penyakitnya tersebut dapat disembuhkan dengan kasih sayang dan kelembutan." "Ngmmml" Lim Ceng Im manggut-manggut dan melanjutkan, "Aku masih ingat, setahun lalu ketika ia dipagut ular, seketika itu juga ia membunuh ular itu saking marahnya, bahkan mencincang-cincangnya pula.

" "Itu dikarenakan ia merasa dirinya disakiti, padahal Ia tidak mengganggu ular.

Karena itu.

Maka, timbullah kemarahannya hingga ular itu dibunuhnya sekaligus dicincangnya." "Bagaimana kelak kalau ada orang menyakiti bukankah ia akan langsung membunuh orang itu?" "Maka, aku memberikannya pelajaran moral, akal budi dan lain sebagainya agar pikirannya selalu terbuka, tidak terpengaruh oleh hawa kemarahannya," ujar Tio Cie Hiong dan menambahkan, " Aku pun akan mulai mengajarnya ilmu pengobatan dan Ilmu Penakiuk Iblis.

Sebab Ilmu Penakiuk Iblis dapat memperkuat imannya, bahkan tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitam dan ilmu sihir lainnya." "Kakak Hiong!" Lim Ceng Im menatapnya, "Anak kita itu...

tidak akan berubah jadi penjahat, kan" " "Aku yakin tidak," sahut Tio Cie Hiong sambil tersenyum, "Karena watakku yang baik pasti menurun padanya, " "Ooohl" Lim Ceng im manggut-manggut.

Sementara Tio Bun Yang yang telah usai berlatih, ketika melihat kedua orang tuanya, ia langsung mengkampiri sambil tersenyum.

"Ayah, Ibu!" panggilnya sambil duduk, "Nak!" Lim Ceng Im tersenyum lembut, "Masih pagi kok sudah berlatih?" "Ibu, Ayah bilang berlatih ilmu silat pagi-pagi, akan menyegarkan tubuh kita," jawab Tio Bun Yang.

"Benar, Nak." Tio Cie hong membelainya.

"Oh ya, tahukah engkau apa tujuan seseorang belajar ilmu silat?" "Untuk memperkuat tubuh, membela diri dan untuk menolong sesama manusia.

itu tujuan utama belajar ilmu silat," jawab Tio Bun Yang "Nak," tanya Lim ceng Im " Setelah engkau berkepandaian tinggi, bolehkah engkau membunuh orang di saat engkau disakiti orang"a" "Ibu!" Tio Bun Yang menatapnya dengan mata bening, "Kita tidak menyakiti orang, kenapa orang lain akan menyakiti kita?" "Karena orang lain itu berhati jahat, maka suka menyakiti orang," jawab Lim Ceng Im menjelaskan, "Di saat engkau disakiti orang, haruslah tetap bersabar, tidak boleh marah sama sekali.

" "Ibu, bagaimana kalau ada orang ingin membunuh Bun Yang?" tanya anak itu mendadak.

"Engkau harus mengampuninya, tidak boleh membunuhnya," sahut Lim Ceng im dengan tersenyum lembut " Cukup memusnahkan kepandaiannya saja?" "Ibu...." Tio Bun Yang tampak berpikir keras, kemudian bertanya, "Kalau orang itu jahat sekali, apakah Bun Yang boleh membunuhnya?" "Tidak boleh." Lim Ceng Im menggelengkan kepala, "Biar bagaimanapun engkau harus mengampuninya.

Namun engkau boleh memusnahkan kepandaiannya agar dia tidak bisa melakukan kejahatan lagi?" Tio Bun Yang mengerutkan kening "Ibu, kenapa orang jahat tidak boleh dibunuh?" "Nak," sahut Tio Cie Hiong sambil menatapnya lembut, "Membunuh orang adalah perbuatan yang sangat berdosa.

Sebagai orang yang berhati bajik, luhur dan mulia, tidak boleh membunuh orang.

Siapa yang pernah membunuh orang, kelak dia sendiri atau anak cucunya pasti dibunuh orang pula.

Sebab merupakan hukum karma yang tak dapat dielakkan, jadi engkau harus ingat baik-baik!" "Ya, Ayah" Tio Bun Yang mengangguk.

"Nak!" Tio Cie hong tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan "Engkau masih mempunyai paman Toan dan paman Lam Kiong di Tayii.

Kalau mereka punya anak, tentunya telah sebesar engkau." "Oh?" Tio Bun Yang tertawa kecil "Kenapa ayah dan ibu tidak pernah mengajak Bun Yang ke Tayli menemui mereka?" "Tayli sangat jauh, lagi Pula ayah dan ibu telah bersumpah tidak akan meninggalkan pulau ini," sahut Tio Cie Hiong dan menambahkan, "Tapi kelak engkau boleh pergi seorang diri ke Tayli." Tio Bun Yang tampak girang sekali, "Kapan Bun Yang boleh berangkat ke Tayli?" "Tentunya harus menunggu engkau dewasa dulu," ujar Lim Ceng Im dan melanjutkan, "Jadi sekarang engkau harus giat berlatih, agar memiliki kepandaian tinggi kelak." "Ibu, kalau Bun Yang sudah besar, bolehkah Bun Yang pergi mengembara?" tanya anak itu.

"Tentu boleh.

Tapi----" Lim Ceng im melirik Tio Cie Hiong "Kalau engkau pergi mengembara, sudah barang tentu akan berkecimpung dalam rimba persilatan," ujar Tio Cie Hiong cepat " Engkau harus tahu, bahwa banyak orang jahat dalam rimba persilatan.

Orang jahat pasti berhati licik, busuk dan tak segan membunuh orang.

Karena itu, engkau harus berhati-hati dan harus bersabar menghadapi urusan apa Pun.

Post a Comment