Halo!

Pendekar Bunga Chapter 22

Memuat...

Untung saja dia terguling diatas tumpukan rumput-rumput yang tebal itu, sehingga tidak begitu sakit.

Cepat-cepat Eng Song melompat berdiri dengan muka agak pucat.

Dan Eng Song yakin tidak mungkin dia rubuh begitu disebabkan sampokan angin! "Si....

siapa yang telah mempermainkan aku?" tegur Eng Song dengan suara yang nyaring.

Dia tidak marah, malah mengharapkan ada orang yang menggodanya, karena berarti dia bisa bertemu dengan manusia.

Tetapi jawaban yang didengarnya membuat bulu kuduknya jadi berdiri : "Aku, setan penasaran!!" "A.........

apa?" suara Eng Song jadi tergetar keras sekali, tubuhnya agak menggigil, karena hatinya seketika itu juga berdebar keras, dan kepalanya seperti diguyur segayung air yang dingin sekali.

"Hemmm....

aku setan penasaran!" terdengar suara orang menyahuti dengan suara yang dingin, tidak berperasaan sama sekali.

JILID 5 80 Kolektor E-Book MATA Eng Song jadi jelalatan memandang sekitar tempat itu, dia ketakutan setengah mati dan mencari-cari kalau-kalau orang yang mempermainkan dirinya berada disekitar dirinya.

Tetapi Eng Song tidak melihat seorang manusiapun juga menambah perasaan ngeri dihatinya lagi saja.

Dia jadi ragu-ragu, dan berpikir, apakah didunia ini memang terdapat setan penasaran? "Bocah! Mau apa kau datang di tempatku ini, heh?" terdengar orang membentak lagi.

Eng Song saat itu tengah kebingungan dicampur perasaan ngeri, mendengar dirinya ditanyai dengan suara membentak begitu.

Eng Song jadi gugup dan menyahut sekenanya : "Aku......

aku juga tidak mau lama-lama berdiam disini! Malah kalau memang kau bisa menunjukkan jalan untuk keluar dari tempat ini, aku malah sangat berterima kasih sekali......" "Cissss! Enak saja kau bicara!" terdengar suara orang berkata dengan tawar.

"Kau bisa datang, tentunya kau bisa pergi, buat apa kau mau merepotkan diriku untuk mengasih unjuk padamu jalan keluar?" "Tetapi aku datang kemari bukan atas kemauanku sendiri........" kata Eng Song.

"Siapa yang membawamu?" "Air!" "Apa?" terdengar suara itu mengandung kemarahan bercampur mendongkol.

"Air yang telah membawaku kemari," menambahkan Eng Song.

"Aku telah terjatuh dari air terjun itu!" "Ihhh....!" terdengar seruan nyaring, seperti juga orang itu terkejut sekali.

Eng Song hanya diam saja dengan hati berdebar, dia jadi ketakutan, karena ngeri kalau membayangkan yang tengah diajaknya bercakap-cakap ini adalah setan penasaran.

"Mengapa kau tidak terbanting mampus dikaki air tumpah itu?" terdengar suara itu bertanya dengan ucapan yang dingin sekali.

"Aku mana tahu? Aku dalam keadaan pingsan.........

Yauwkwie (setan).........! menyahuti Eng Song dengan nada takut-takut.

"Apa? Kau panggil aku ini apa?" tegur si setan penasaran yang tidak terlihat ujutnya itu, didengar dari suara menegurnya itu memperlihatkan bahwa dia gusar bukan main.

"Hemmmmm.........

bukankah tadi kau yang mengatakan sendiri bahwa kau setan penasaran? Apakah panggilanku itu salah?" tanya Eng Song tambah gugup.

"Bocah tidak tahu adat! Apakah dengan memanggilku dengan sebutan Yauwkwie itu merupakan panggilan yang sopan?" tegur si setan penasaran.

"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Eng Song tambah bingung.

"Yauwkwie Loya (Tuan besar setan).........!!" menyahuti suara itu.

"Ohhhh!" Eng Song jadi berseru kaget dan heran, bercampur perasaan geli didalam hatinya, karena dia baru tahu bahwa setan juga mengerti tata-krama kesopanan.

"Maafkanlah kalau tadi aku salah memanggilmu Yauwkwie Loya.........!" "Apakah kau ingin bertemu denganku?" terdengar si Yauwkwie Loya telah bertanya lagi, suaranya sabar dan tidak sekeras seperti tadi.

Tetapi pertanyaan seperti ini malah telah membuat semangat Eng Song seperti terbang meninggalkan raganya.

81 Kolektor E-Book "A.........

apa?! Bertemu dengan kau?" menggigil suara Eng Song.

"Kenapa kau kaget? Apa kau jijik untuk bertemu denganku? Apa kau anggap aku ini setan yang tidak ada harganya dan sangat hina bertemu dengan kau?" Mendengar nada suara si Yauwkwie Loya yang mengandung perasaan mendongkol bukan main begitu, membuat Eng Song tambah gugup.

"Bu.........

bukan begitu...

bukan begitu!" kata Eng Song cepat.

Sedangkan didalam hatinya sendiri membathin : "Bertemu dengan setan? Hu? Itulah pekerjaan gila!" "Hahahahahahaha!" terdengar suara tertawa orang itu dengan suara yang nyaring.

"Kulihat wajahmu pucat sekali, apakah kau ketakutan, bocah" "Ti.....

tidak! Mengapa aku harus ketakutan?" tanya Eng Song cepat.

Dan suaranya dibuat agar terdengarnya gagah.

Tetapi suara yang aneh dan tidak terlihat ujudnya itu telah berkata lagi dengan suara yang nyaring : Hmmmmmm, baiklah! Kalau begitu kau setuju untuk bertemu denganku?" "Tunggg......

tunggu dulu!!" kata Eng Song jadi gugup dan tergesa-gesa.

"Aku......

aku mau bertanya dulu padamu, tuan Setan.......!" "Apa yang ingin kau tanyakan?" "Apakah kau tidak akan marah, tuan Setan?" tanya Eng Song lagi.

"Mengapa harus marah? Apakah pertanyaan yang akan kau ajukan itu merupakan pertanyaan gila-gilaan?" tanya suara si tuan Setan itu.

"Tidak! Aku hanya ingin tahu saja." kata Eng Song.

"Tolong kau beritahukan kepadaku, tuan Setan, apakah keadaanmu, wajahmu, sangat mengerikan atau tidak?!" Tidak terdengar suara sahutan untuk sementara waktu, sampai jantung Eng Song jadi tergoncang keras sekali, karena dia menduga pertanyaannya itu telah menyinggung perasaan dan hati si tuan Setan.

Akhirnya telah terdengar si tuan Setan telah menghela napas, dan berkata lambat-lambat : "Sesungguhnya memang nasibku terlalu buruk, sebab aku memang telah menjadi setan penasaran, dengan sendirinya keadaanku sangat buruk sekali.

Karena engkau ingin mengetahui perihal wajah dan tubuhku, maka engkau dengarkanlah baik-baik.

Mataku tidak ada, tetapi aku bisa melihat walaupun kedua mataku itu bulat berlobang saja.

Hidungku juga tidak sebagus hidungmu, karena aku hanya berlubang belaka, mulutku juga hanya terdapat gigi-gigi yang bertonjolan tidak rata, karena aku tidak memiliki bibir! Tubuhku juga hanya tinggal tulang, bukannya terbalut oleh kulit.

Itulah keadaanku, apakah kau mau bertemu denganku?" Eng Song jadi berdiri bengong dengan hati yang berdenyut duk-duk-duk tidak hentinya.

Semakin didengar, dia jadi semakin merasa ngeri.

Bayangkan saja, situan setan itu tidak lain hanya bentuk dari tengkorak, karena seperti katanya, kedua matanya hanya bentuk lubang belaka, hidungnya juga hanya lubang pula, dan bibirnya tidak ada, hanya giginya yang bertonjolan tidak rata dengan tulang-tulangnya belaka...............! Itulah ciri-ciri dari tengkorak hidup! Siapa yang tidak akan merasa ngeri dan jeri untuk berhadapan dengan setan? Apa lagi si tuan Setan itu telah menamakan dirinya sebagai setan penasaran.

82 Kolektor E-Book Dan yang menambah rasa takut dan ngeri dari Eng Song, dia memperoleh kenyataan dirinya berada dilembah yang sunyi seperti ini, tidak ada seorang manusiapun juga, ditambah lagi memang keadaan malam itu hanya diterangi oleh sinar rembulan yang redup.

"Bagaimana? Kau belum menjawab pertanyaanku?!" bentak si tuan Setan dengan suara mendongkol, karena Eng Song hanya berdiri seperti orang kesima, bagaikan patung saja.

"A...............

apa?" Eng Song seperti baru tersadar dari mimpi buruknya, keringat dingin telah mengucur keluar deras sekali.

"Kau mau bertemu denganku atau tidak?" bentak si tuan Setan.

"Ti.............

tidak kalau memang bisa." menyahuti Eng Song gugup.

"Kurang ajar kau.............!" bentak si tuan Setan yang rupanya gusar.

"Mengapa kau mengatakan tidak ingin bertemu kalau memang bisa!? Memangnya aku memaksamu? Aku hanya bertanya kau ingin bertemu denganku atau tidak?! Jawab saja tidak kalau memang tidak mau bertemu denganku, sudah cukup.

Dan jawab ?mau? kalau memang kau ingin bertemu denganku!" "Ihhhh.............

manusia mana sih yang mau bertemu dengan setan?" berpikir Eng Song didalam hatinya mendongkol dan gugup sekali.

Tetapi si bocah berusaha untuk tersenyum sambil katanya : "Tuan Setan jangan marah................

kalau memang kau tidak keberatan aku memang tidak ingin bertemu dulu dengan kau!" "Takut?" "Tidak!" "Eh, tidak takut kau?" "Ya.........

hanya belum berselera." "Kunyuk kau! Mengapa bertemu denganku saja harus menunngu berselera atau belum?!" memaki si tuan Setan.

"Memangnya aku ini makanan? Tetapi kalau memang kau mau, memang dapat kau memakan tulang-tulangku ini, lumayan bisa menangsel perutmu, agar tubuhmu jangan kurus kerempeng seperti itu!" Serasa berdiri seluruh bulu-bulu ditubuh Eng Song.

Memakan tulang-tulang belulang dari tengkorak hidup?! Ihhh, betapa menjijikkan dan mengerikan.

Hampir Eng Song muntah-muntah disebabkan rasa mualnya yang datang begitu tiba-tiba sekali.

"Baiklah!" terdengar suara si setan penasaran itu.

"Kau tidak mau bertemu denganku.

itupun tidak apa-apa.

Cuma saja hal ini memperhatikan bahwa kau tidak bersahabat denganku!" Dan membarengi dengan habisnya suara si Tuan Setan itu, tahu-tahu : ?ketepok?, pipi Eng Song telah kena ditempeleng keras sekali.

Tubuh Eng Song sampai berputar-putar, dia kesakitan dan ketakutan.

Karena tempilingan yang begitu keras tanpa Eng Song mengetahui siapa sesungguhnya yang telah menempilingnya itu.

Hal ini tentu saja membuatnya jadi tambah ketakutan.

Dan belum lagi Eng Song merangkak untuk berdiri, tahu-tahu pantatnya telah kena didupak oleh dupakan yang keras bukan main.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment