Halo!

Pendekar Bunga Chapter 21

Memuat...

suara air yang tumpah terdengar semakin jelas.

Gemuruhnya air yang tumpah itu, menunjukkan air terjun ini mempunyai ketinggian yang bukan main.

Tubuh Eng Song terseret semakin dekat, semakin dekat.....

Dan dia mengeluarkan suara jeritan yang melengking tinggi sekali, karena tubuh dengan cepat dan tidak tertahankan lagi telah terseret kedalam arus air itu turut terjun kebawah berikut dengan tumpahn air.....

Eng Song merasakan tubuhnya melayang-layang....

pandangan matanya juga jadi gelap seketika....

Arus air sungai yang membawa Eng Song merupakan air terjun yang memiliki ketinggian hampir lima puluh tombak dan juga memang air terjun itu memiliki arus yang kuat.

Namun dibawah air terjun itu terdapat sebuah kolam yang luas dan lebar menyerupai danau, yang menampung tumpahnya air, dan memiliki saluran disebelah utara, untuk terus menurun kekaki gunung.

Eng Song telah pingsan tidak sadarkan diri waktu dirinya jatuh di air kolam dibawah kaki air terjun itu, dan tubuhnya terus saja tenggelam kedalam danau itu.

Disebabkan air yang tumpah begitu keras, air danau tersebut memiliki pusaran air yang cukup luas, dan pusaran air itu yang telah menyeret Eng Song kedalam kolam itu, kedasarnya.

Sedangkan Eng Soug tetap dalam keadaan pingsan waktu tubuhnya berputar-putar dipermainkan oleh pusaran air tersebut.....

sampai akhirnya tubuh Eng Song telah terseret sampai di sebuah tepian air yang indah bukan main, penuh oleh pasir putih yang lembut, dan dia telah terlemparkan sampai ditepian kolam itu, dalam keadaan tidak sadar, rebah dipasir putih yang lembut itu bagaikan sesosok mayat belaka.

* * * MATAHARI fajar mulai memperlihatkan sinarnya yang kuning keemas-emasan.

Dan juga cahayanya yang hangat itu telah menghangati tubuh Eng Song yang masih rebah dipasir putih itu dalam keadaan pingsan.

Keadaan disekitar tepi kolam itu ternyata indah sekali.

Terlebih lagi memang matahati fajar itu telah memberikan kehidupan yang begitu nyaman dan tenteram bagi tempat ini.

77 Kolektor E-Book Ketika Eng Song menggerakan pelupuk matanya dan tersadar dari pingsannya.

Dia jadi mengeluarkan suara jeritan.

Rupanya bayang-bayang yang mengerikan ketika tubuhnya akan terseret ketepi jurang dari air tumpah itu, telah terlekat dibenaknya dan dia menduga bahwa dirinya masih juga terbawa oleh arus air.

Tetapi waktu Eng Song memandang sekelilingnya, dia jadi silau oleh sinar matahari pagi yang telah menyinari sekitar tempat itu.

Samar-samar Eng Song juga mendengar suara kicau burung.

Waktu Eng Song memperhatikan keadaan disekitar tempat itu, dia melihatnya betapa indahnya tempat dimana dia rebah.

Dengan tubuh yang letih bukan main, Eng Song telah merangkak untuk bangun, dan dia berusaha mengerak-gerakkan kedua tangan dan kakinya.

Dan Eng Song jadi seperti terpaku ditempatnya waktu dia melihatnya pemandangan disekitar tempat tersebut sangat indah luar biasa.

Dengan sendirinya mau tidak mau hal ini telah nnembuat Eng Song terpesona, sambil meluruskan jalan darahnya yang di rasakan tidak lancar.

Dan Eng Song juga memperoleh kenyataan bahwa tubuhnya sakit, bajunya sudah tidak keruan, telah koyak disana-sininya, dan juga tubuhnya luka-luka..........

Keadaan bocah ini sudah tidak keruan sama sekali.

Tentu saja Eng Song bersyukur kerena dia memperoleh kenyataan dirinya selamat dari bantingan didasar air tumpah itu, tidak sampai menemui kematian.

Perlahan-lahan Eng Song telah melangkah untuk memeriksa keadaan disekitar kolam itu, suara gemuruh air tumpah masih terdengar begitu gemuruh.

Tetapi jarak antara tempat Eng Song terdampar dengan air terjun itu sudah terpisah cukup jauh.

Eng Song melangkah perlahan-lahan, karena merasakan seluruh tubuhnya sakit.

Tidak dilihatnya seorang manusiapun disekitar tempat itu.

Sinar matahari yang menyilaukan mata itu membuat pandangan Eng Song berkunang kunang dau juga kepalanya pening sekali.

Tetapi Eng Song berusaha untuk bertahan, dia tidak mau kalau dirinya sampai rubuh.

Kenyataan seperti ini telah membuat Eng Song harus berhenti sejenak, dan dia duduk dipasir putih yang lembut itu untuk beristirahat sambil mengatur jalan pernapasannya.

Setelah mengerahkan tenaga murni yang menimbulkan pergolakan dalam peredaran darahnya itu, Eng Song kemudian memusatkan pikirannya menurut apa yang diajari oleh Thio Sun Kie, untuk bersemedhi memulihkan tenaga.

Memang hasilnya luar biasa, karena perasaan letih dan peningnya itu perlahan-lahan berkurang.

Dia telah membuka matanya, tetapi tidak lantas bangkit, karena dia duduk sambil mengawasi pemandangan sekitar tempat itu.

Betapa indahnya pemandangan disekitar tempat ini, Eng Song telah memandang dengan terpesona.

Begitulah, dari tempatnya itu, Eng Song kemudian memutari kolam tersebut dan memeriksa keadaan disekitar tempat dimana ia terdampar.

Tidak seorang manusiapun juga yang dijumpainya, karena memang ditempat ini tidak terlihat sebuah rumah pendudukpun.

Eng Song menghela napas.

Dia telah terdampar disebuah daerah yang memang masih asing baginya, dan juga tampaknva daerah ini seperti dari bagian gunung yang tertutup dan jarang didatangi orang.

Diam-diam Eng Song jadi berpikir keras, dia duduk terpekur disebuah batu gunung dan mengawasi air yang tengah tumpah tak hentinya.

78 Kolektor E-Book Suasana yang tenang tenteram disekitar tempat itu membuat hati Eng Song jadi nyaman.

Tetapi Eng Song juga sadar, bahwa banyak tugas yang berada dipundaknya.

Lagi pula, yang menjadi pemikiran Eng Song, entah bagaimana nasib Pedang Bunga yang merupakan benda pusaka itu, karena Bin An Sienie dan Thio Sun Kie telah terbunuh.....

Dan akhirnya Eng Song mengambil keputusan, dia harus meninggalkan tempat ini, untuk pergi mencari Ku Kuay Kiehiap, karena memang Thio Sun Kie pernah menyinggung-nyinggung perihal diri jago aneh itu, karena menurut Thio Sun Kie si bocah she Ma memang ingin dikirimnya ke Kun Lun, untuk mencari Ku Kuay Kiehiap itu....

Dan Eng Song mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ke Kun Lun, untuk menceritakan seluruh peristiwa yang telah terjadi pada Ku Kuay Kiehiap....

Dan setelah berpikir begitu, Eng Song segera mencari jalan keluar dari tempat yang tertutup itu, berusaha mencari jalan yang bisa membawanya keluar dari tempat yang menyerupai sebuah lembah tertutup itu.......

? ? ooo O ooo ? ? ????????? 6 ????????? LEMBAH tertutup itu merupakan sebuah lembah yang banyak sekali ditumbuhi oleh pohon-pohon yang beraneka macam, juga pohon-pohon bunga banyak sekali terdapat didaerah ini.

Ma Eng Song telah menyusuri hampir seluruh bagian dari lembah ini, tetapi tetap saja dia tidak menemui jalan keluar untuk kedunia ramai.

Empat hari lamanya Ma Eng Song telah berputar-putar didalam lembah itu, dan selama itu hanya daun-daunan yang telah menangsel perutnya, atau buah-buahan yang memang banyak tumbuh liar dilembah tersebut.

Tetapi biar bagaimana, dengan hanya memakan buah-buahan belaka dan daun-daun saja, tanpa memperoleh daging secuilpun juga, membuat Eng Song merasakan seluruh tubuhnya lemas hampir tidak bertenaga.

Tetapi Eng Song tidak putus asa, dia terus juga berusaha untuk menemui jalan keluar.

Biar bagaimana Eng Song yakin lembah ini memiliki jalan untuk keluar.

Namun setelah putar-putar selama hampir satu bulan dilembah itu, Eng Song tetap saja tidak berhasil menemukan jalan keluar.

Hal ini lama kelamaan telah membuat Eng Song jadi panik juga.

Dia mulai putus asa.

Apa lagi pakaiannya juga sudah tidak keruan rupa dan hampir tidak bentuk seperti baju lagi, telah koyak disana-sini dan kotor sekali.

Walaupun Eng Song telah berulang kali mencucinya ditepi kolam itu, tetap saja baju itu tidak bisa bersih dari noda darah.

Malahan bertambah banyak saja yang pecah dan robek, sampai akhirnya Eng Song tidak mau mencucinya lagi.

Dalam putus asa yang begitu mendalam dihati si bocah...

Eng Song perlahan-lahan juga mulai menyukai keadaan alam sekitar lembah itu.

Setelah beberapa hari lagi dia mencari-cari jalan keluar tanpa berhasil menemukannya, akhirnya Eng Song telah benar-benar putus asa dan mulai saat itu tidak mau mencari-carinya lagi jalan keluar itu.

"Sudahlah! Mungkin memang sudah nasibku harus hidup terkurung dilembah ini! Cuma saja....

hai, hai, dendam yang begitu berat terlantar begitu saja! Betapa membuat hati menjadi penasaran sekali!" dan berulang kali Eng Song telah menghela napas.

Teringat pada mendiang 79 Kolektor E-Book ayah dan ibunya, tanpa disadarinya menitiklah air mata dipipi Eng Song.

Dia telah menangis seperti anak kecil kehilangan barang mainannya.

Hari demi hari telah dilewati Eng Song penuh kekosongan, dan dia hanya setiap harinya mengelilingi lembah itu.

Dan walaupun pemandangan dilembah itu demikian dan menawan hati, tetapi jiwa si bocah tak dapat tenang.

Malam itu Eng Song tengah rebah direrumputan yang tebal, sehingga dapat dipergunakan sebagai penggantinya pembaringan.

Dia memandangi rembulan yang terpancar terang keemas emasan.

Di antara kesunyian malam, suara gemuruhnya air tumpah terdengar bagaikan pengganti musik, diiringi oleh suara binatang malam yang berdendang, ditambah dengan siliran angin menimbulkan suara kresekan pada daun-daun.

Pikiran si bocah tengah melayang-layang teringat akan masa lalunya.

Dia jadi tidak habis mengerti mengapa dirinya dan keluarganya tidak habis dan tidak hentinya mengalami kemalangan yang tidak kunjung habis?! Dan juga perihal dendam dan sakit hati pada musuh musuhnya...! Kalau memang dia terkurung terus menerus dilembah ini, berarti urusan sakit hati itu hanya merupakan urusan diotak Eng Song belaka, tanpa ada kenyataan untuk penyelesaiannya.

Tetapi dikala Eng Song tengah rebah dengan pikiran melayang-layang seperti itu, tiba-tiba menyambar sebutir batu kerikil kecil, menghantam keningnya, sampai mengeluarkan suara ?Bretak!? keras sekali.

Tentu saja Eng Song jadi kaget dan kesakitan setengah mati, dan sampai mengeluarkan seruan kaget waktu dia melompat berdiri.

Diawasinya sekelilingnya, tidak terlihat seorang manusiapun juga, dan ketika Eng Song merabah keningnya, dijidatnya itu telah benjol akibat benturan batu itu.

"Apakah batu diatas tebing ini yang telah terlepas dan kebetulan telah menimpah jidatku ?" diam-diam Eng Song berpikir didalam hatinya.

Tetapi sedang dia berpikir begitu tiba-tiba Eng Song merasakan pinggulnya sakit seperti didupak orang, dan tubuhnya kontan terjungkel rubuh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment