Halo!

Pendekar Bunga Chapter 10

Memuat...

Maka dengan berbagai jalan mereka telah berusaha mencuri beuda pusaka tersebut.

Entah mengapa, akhirnya Pedang Bunga itu lenyap dari tempat penyimpanan barang barang pusaka di kuil Siauw Lim Sie.

Padahal kuil Siauw Lim Sie merupakan tempat yang sukar sekali untuk dimasuki orang asing.

Sebab didalam kuil ini memang terdapat banyak sekali hweshio-hweshio yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi bukan main.

Namun, entah bagaimana caranya, ada seorang pencuri yang berhasil mengambil Pedang Bunga itu.

Dan akhirnya, didalam rimba persilatan tersebar kabar Pedang Bunga itu telah berada ditangan Siu Sang Thay.

seorang jago dari Thay-kek-kun, dan dia telah menjagoi rimba persilatan, malang melintang tanpa tanding, karena mengandalkan kehebatan pedang pusaka Pedang Bunga itu.

Tetapi, suatu hari, Siu Sang Thay telah diketemukan orang dalam keadaan mati dengan tubuh yang harcur akibat tusukan dan bacokan senjata tajam.

Juga yang mengejutkan sekali, Pedang Bunga itu telah lenyap dari tangannya.

Maka didunia rimba persilatan, kembali bergolak hebat pula.

37 Kolektor E-Book Dengan cepat berita Pedang Bunga itu telah tersebar luas bukan main.

Dan jago-jago rimba persilatan, dari yang muda sampai yang tua dan juga dari yang pendeta sampai yang telah mengasingkan diri, semuanya berlomba untuk dapat merebut dan memiliki Pedang Bunga itu.

Kenyataan seperti ini telah menimbulkan pergolakan berdarah didalam rimba persilatan.

Dan akhirnya, pedang itu lenyap tidak ada kabar beritanya lagi.

Dengan sendirinya pergolakan yang terjadi didalam rimba persilatan jadi merendah.

Dan orang mulai melupakan perlahan-lahan perihal Pedang Bunga itu.

Sampai saat ini, entah mengapa, mendadak Ong Peng Hin telah menimbulkan persoalan Pedang Bunga itu lagi.

Thio Sun Kie sendiri percaya setengah tidak karena dia mau menduga apakah Ong Peng Hin menyebut-nyebut pedang itu hanyalah untuk daya tarik dan perangsang buat jago-jago yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi itu untuk menyerbu Gobie Pay.

Cuma saja, setidak-tidaknya Thio Sun Kie jadi terkejut dan berkuatir sekali.

Untung saja dia mendengar pembicaraan diantara orang-orang itu.

Dengan sendirinya, nanti dia bisa memberitahukan kepada Bin An Sienie, agar niekouw itu nanti bersiap-siap untuk mengadakan perlawanan atas penyerbuan dari orang-orang pandai yang sedang berkumpul itu.

Sedangkan Eng Song sendiri tidak mengetahui apa kegunaan dari Pedang Bunga itu, sehingga membuat orang yang berkumpul ditanah lapangan rumput itu jadi terkejut semuanya, seperti mendengar suatu berita yang sangat hebat sekali.

Tetapi biarpun hatinya sangat heran, Eng Song tidak berani bertanya dulu pada paman Thionya itu.

Karena diapun melihat betapa muka Thio Sun Kie memperlihatkan ketegangan yang sangat.

Dan juga Eng Song memang teringat pada pesan dari paman Thionya itu, agar dia tidak bersuara dulu.

Maka dari itu, biarpun dia merasa sangat heran sekali, dia berdiam diri saja.

Dan hanya mengawasi kearah orang-orang yang tengah berkumpul dilapangan rumput itu dengan hati yang bertanya-tanya.

* * * THIO SUN KIE dengan cepat mengambil keputusan untuk memberitahukan kepada Bin An Sienie agar bersiap-siap.

Karena orang-orang yang masing-masing memiliki kepandaian tinggi dan tidak lemah itu, telah berkumpul untuk melakukan penyerbuan.

Bin An Sienie bisa mengetahui bahwa bencana yang akan menimpah Gobie-pay itu rupanya memang disebabkan Ong Peng Hin telah mengirimkan surat ancaman buatnya.

Kalau Thio Sun Kie melihat persoalan ini, segera dia mengerti.

Persoalan yang akan muncul bukanlah suatu persoalan yang enteng buat Gobie Pay.

38 Kolektor E-Book Karena persoalan ini akan berbuntut panjang, apa lagi memang Ong Peng Hin telah sengaja menyebar racun dengan mengatakan Pedang Bunga berada ditangan dari Ciangbunjin Gobie Pay itu.

Dengan sendirinya, tanpa Ong Peng Hin juga memang banyak sekali jago-jago yang akan meluruk ke Gobie-pay untuk berusaha merebut dan memiliki Pedang Bunga itu.

Inilah yang sangat berbahaya sekali, sebab daya tarik buat orang-orang rimba persilatan, maka Hoa-kiam (Pedang Bunga) itu mempunyai rangsangan yang bukan main hebatnya.

Mau tidak mau memang Thio Sun Kie harus juga dapat bertindak cepat.

Apa lagi memang Thio Sun Kie juga telah mengetahuinya, bahwa urusan selanjutnya hanyalah merupakan basa-basi dari orang-orang itu bersama Ong Peng Hin.

Dia telah memberi isyarat kepada Eng Song.

Kemudian dengan cepat dia telah mengempit pinggang si bocah.

Eng Song mengerti maksud dari paman Thionya itu, maka dia meringankan tubuhnya, agar paman Thionya itu tidak ada kesulitan mengempitnya.

Dengan ringan, tanpa bersuara sedikitpun juga, Thio Sun Kie telah menjejakan kakinya.

Tubuhnya telah berkelebat dengan gerakan yang sangat cepat sekali.

Lalu dia berlari-lari untuk mendaki kepuncak Gobie San, guna mendatangi kuil Gobie Pay.

Letak kuil itu sebelah barat dari pegunungan itu, dan didalam waktu yang sangat singkat sekali dia telah melihat kuil tersebut.

Maka Thio Sun Kie telah mempercepat larinya.

Dia telah menghampiri pintu kuil yang tertutup.

Tetapi baru saja dia mau mengetuk pintu kuil itu, tiba-tiba dari tempat gelap telah melesat keluar sesosok bayangan disusul oleh berkelebatnya secercah sinar yang sangat terang menyilaukan mata.

Terlebih lagi di malam gelap seperti itu sinar tersebut memantulkan cahayanya yang kemilau.

Thio Sun Kie jadi terkejut.

Dia tengah mengempit Eng Song, sehingga tidak mudah baginya untuk bergerak sekehendak hatinya.

Bisa-bisa Eng Song yang kena dicelakai oleh sosok tubuh yang telah melancarkan serangan dengan tikaman sebatang pedang yang berkilauan itu.

Cepat-cepat Thio Sun Kie melompat kesamping kirinya.

Dan kemudian dengan cepat dia juga telah menyentil pedang yang tetap menyambar datang padanya itu.

"Tringgggggg......!" pedang itu mencong kearah lain.

Terdengar suara jeritan kaget dari pemilik pedang itu, kemudian dia berhenti menyerang.

Thio Sun Kie juga dapat melihatnya bahwa yang telah menyerang dirinya adalah seorang niekouw yang berusia diantara tiga puluh tahun.

39 Kolektor E-Book Wajah niekouw itu tampak pucat sekali, karena dia merasakan betapa ketika pedangnya disentil, serangkum tenaga yang kuat telah menerobos kepedangnya, menggetarkan telapak tangannya.

Hampir saja pedangnya itu terlepas dari cekalannya, untung dia masih bisa mencekalnya dengan keras.

Dengan muka yang sabar, Thio Sua Kie telah tersenyum, katanya : "Apakah Bin An Sienie berada ditempat?" Mendengar ditanya perihal Bin An Sienie, gurunya, tentu saja niekouw itu tampaknya tambah terkejut.

Dengan mengeluarkan suara yang menggandung kegeraman, dia tahu-tahu telah menubruk lagi.

Pedangnya telah ditikamkan untuk melancarkan serangan kepada Thio Sun Kie.

Tentu saja Thio Sun Kie menyadarinya bahwa si niekouw ini telah salah paham.

Dia telah mengelakkannya.

Sedikitpun juga Thio Sun Kie tidak menangkis.

"Siannie...

kau telah salah paham! Dengar dulu keterangan Lohu!!" kata Thio Sun Kie dengan suara yang nyaring sekali.

Tetapi niekouw itu seperti kalap.

Dia telah melancarkan serangan dengan tusukan yang bertubi-tubi.

Dengan sendirinya pedangnya itu telah berkelebat-kelebat cepat sekali.

Mau tak mau Thio Sun Kie harus mengelakkannya berulang kali.

Sebab serangan niekouw itu bukanlah serangan yang sembarangan.

"Biarpun kau mengeluarkan alasan apapun juga, jangan harap kau bisa menginjakkan kakimu di kuil Gobie Pay sebelum seluruh penghuninya mati!" teriak si niekouw dengan suara mengandung kekalapan.

Thio Sun Kie jadi yakin, bahwa niekouw ini telah salah mata dan menduga Thio Sun Kie adalah musuh Gobie Pay atau tegasnya orang-orangnya Ong Peng Hin.

Jago tua ini jadi mendongkol bercampur geli dihatinya, dia telah berkata : "Sienie...

coba kau lihat dulu! Apakah kau tidak mengenali aku lagi? Akulah Thio Sun Kie, sahabat Bin An Lonie...!" Mendengar disebutnya nama Thio Sun Kie, mendadak sekali pedang si niekouw jadi berhenti.

"Kau...

kau..." suaranya tidak lampias, dia juga telah mengawasi Thio Sun Kie tegas.

Tiba-tiba sekali, pedang ditangannya itu telah dilepaskan jatuh ditanah dan niekouw itu telah menjatuhkan diri berlutut dihadapan Thio Sun Kie.

"Maafkan....

Siauwnie sungguh tidak tahu mati, telah berani kurang ajar pada Thio Locianpwe! Suhu memang tengah menanti-nantikan dengan sangat kedetangan Thio Locianpwe!" Dan setelah memberi hormat begitu, dia bangkit dan mempersilahkan Thio Sun Kie dan Eng Song, yang saat itu telah di turunkan oleh Thio Sun Kie dari kempitannya, untuk memasuki kuil.

40 Kolektor E-Book Dulu, belasan tahun yang lalu, memang Thio Sun Kie sering kali datang di kuil Gobie Pay.

Dengan sendirinya niekouw ini masih mengenalinya.

Tadi disebabkan keadaan cukup gelap dan juga memang selalu telah diliputi oleh perasaan tegang menantikan serangan lawan, dengan sendirinya dia main serang saja, sebab menduga bahwa Thio Sun Kie adalah kawannya Ong Peng Hin.

Thio Sun Kie dan Eng Song telah di ajak kesebuah ruangan.

Setelah melewati tiga pintu dan sebuah taman, akhirnya mereka telah sampai diruangan perpustakaan.

Si niekouw telah meminta agar Thio Sun Kie dan Eng Song menanti sebentar.

Dia sendiri telah cepat-cepat memberikan kabar kepada gurunya.

Dan tidak menanti lama, tampak mendatangi seorang niekouw yang sudah lanjut usianya.

Dibelakangnya berjalan beberapa orang niekouw yang berusia masih muda.

Salah seorang diantaranya yang tadi telah melancarkan serangan pada Thio Sun Kie di pintu kuil itu.

Bin An Sienie segera dapat mengenali tamunya itu.

"Hai! Hai! Selamat bertemu, Thio Kiehiap!" katanya sambil merangkapkan sepasang tangannya memberi hormat kepada Thio Sun Kie.

Tentu saja Thio Sun Kie jadi sibuk untuk membalas pemberian hormat dari si niekouw tua itu.

Setelah itu, Thio Sun Kie juga memerintahkan kepada Eng Song untuk memberi hormat kepada niekouw tua itu dan murid-murid si niekouw.

Bin Ang Lonie telah mengawasi Eng Song sambil tersenyum.

Dia menyukai bocah ini.

"Siapa engko kecil ini, Thio Kiehiap!" tanya si niekouw tua dengan suara yang ramah.

"Dia adalah sahabat cilikku!" menyahuti Thio Sun Kie sambil senyum.

Tentu saja jawaban Thio Sun Kie mengejutkan Bin An Sienie.

"Sahabat? Kalian bersahabat?" tanyanya dengan suara mengandung keheranan yang sangat.

Thio Sun Kie telah mengangguk dengan tegas.

Post a Comment