Halo!

Pendekar Bunga Chapter 05

Memuat...

karena dikeroyok, akhirnya aku bisa dirubuhkan dan terluka parah.

Namun ayahmu itu dengan mati-matian telah turun tangan muncul menolongi aku dari orang-orang itu.

Dengan segala daya dia telah menolongi aku dari kematian dan menghindarkan diri dari musuh-musuhku itu! Kalau memang kau tidak mencela, aku mau mengajakmu untuk berkelana bersama-sama denganku! Hemmmm, biar bagaimana budi ayahmu itu akan selalu kukenang dan kau akan kuperlakukan sebaik mungkin, agar kelak kau bisa memiliki kepandaian yang tinggi!" Eng Song yang tadi mendengar kisah mengenai mendiang ayahnya jadi tertarik sekali.

"Lalu paman.......

apakah ayah berhasil merubuhkan musuh-musuhmu itu?" tanya Eng Song tertarik benar.

Kakek tua itu tersenyum ramah.

"Aku bukannya bicara sombong, aku saja telah dapat dilukai mereka, bagaimana aayhmu bisa merubuhkan mereka? Kepandaianku jauh berada diatas kepandaian mendiang ayahmu! Tetapi dengan penuh keberanian ayahmu itu telah membawa aku meloloskan diri dengan berbagai aksi.

Dan setelah bisa mengasoh berapa hari merawat luka-lukaku, aku sembuh dan aku kemudian telah menyatroni musuh-musuhku itu, membasmi mereka.....!!" "Oh....!" Eng Song kaget sekali, karena segera dia dapat menduga bahwa orang tua dihadapannya ini ternyata seorang yang memiliki kepandain sangat tinggi sekali.

"Kau mau bukan untuk ikut bersamaku?" tanya kakek tua itu dengan suara yang ramah.

"Dan aku juga akan mengajarimu ilmu silat kelas tinggi....!" Eng Song girang bukan main, cepat-cepat dia telah berlutut memberi hormat sambil menganggukkan kepalanya.

17 Kolektor E-Book "Terima kasih atas perhatian paman.....

entah bagaimana aku bisa membalas budi kebaikan kau orang tua!!" kata si bocah terharu.

Kakek tua itu telah tersenyum sabar.

"Bangunlah anak......

menyesal sekali aku tidak bisa mengambil kau sebagai muridku, karena aku pernah bersumpah tidak akan menerima seorang muridpun! Tetapi biarpun begitu, walaupun kita tidak terikat oleh hubungan murid dan guru, aku berjanji akan menurunkan seluruh ilmuku!!" Eng Song mengucapkan terima kasihnya sekali lagi pada si kakek.

Kemudian mereka sama-sama meninggalkan tempat itu.

Sesungguhnya, kakek tua itu merupakan seorang tokoh rimba persilatan yang sangat tinggi kepandaiannya.

Dia merupakan seorang jago yang sukar diukur kepunsuannya.

Hanya beberapa orang saja, dan dapat dihitung oleh jari, yang bisa menandingi kepandaiannya.

Begitulah, Eng Song telah ikut kemana saja kakek tua yang sesungguhnya bernama Thio Sun Kie dan bergelar Bu Eng Hiap (pendekar tanpa bayangan).

Orang menggelari kakek tua itu dengan gelaran Bu Eng Hiap, karena kakek ini memiliki Gin-kang, ilmu meringankan tubuh, yang bukan main tinggi dan sempurnanya.

Sehingga kalau dia berlari, jangankan orang bisa melihat dirinya, sedangkan untuk melihat warna bajunya saja tidak dapat.

Hal itu disebabkan larinya yang melebihi kecepatan angin.

Dengan sendirinya, didalam rimba persilatan jarang sekali dia mempunyai tandingan.

Dari kampung kekampung dari kota yang satu kekota lainnya, kakek tua itu telah mengajak Eng Song untuk berkelana.

Dan setiap ada waktu yang senggang, jika mereka sampai ditempat yang sunyi, tentu mereka akan beristirahat.

Sambil menghilangkan letihnya itu, Thio Sun Kie telah menurunkan kepandaiannya.

Dia telah mengajari Eng Song jurus demi jurus dengan hati-hati dan sabar sekali.

Dan yang membuat Thio Sun Kie girang bukan main, dia melihat Eng Song memiliki kecerdasan yang bukan main.

Setiap jurus yang dipelajari padanya, tidak perlu memakan waktu terlalu lama.

Dengan mudah Eng Song dapat menangkap pelajaran itu dan dapat menguasainya.

Thio Sun Kie jadi tambah bersemangat untuk mendidik Eng Song.

Karena dia melihat bahwa bocah ini memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pendekar yang memilili kepandaian tinggi kelaknya.

Dan juga Thio Sun Kie telah mulai menurunkan ilmu mempergunakan senjata pada Eng Song.

Seluruh pelajaran yang diturunkan oleh Thio Sun Kie, telah dilahap dengan cepat oleh Eng Song.

Di dalam tempo tiga bulan saja, kepandaian Eng Song sudah lumayan.

Baru untuk menghadapi anak sebaya dia atau juga orang yang memiliki kepandaian tanggung-tanggung, tentu tidak akan sanggup menghadapi dan melayani Eng Song.

18 Kolektor E-Book Pagi itu, mereka, Thio Sun Kie dan Eng Song, tiba dimulut kota Sung-kwan-kwan.

Kota ini merupakan kota yang tidak begitu besar, namun sangat ramai dan penduduk kota ini sangat padat.

Thio Siun Kie mengajak Eng Song untuk singgah diwarung arak yang terdapat dimulut kota ini.

Si kakek tua she Thio itu telah memesan beberapa kati air teh, dia juga memesan sarapan pagi.

Pelayan mengantarkan barang pesanan mereka dengan cepat.

Eng Song melihat para tamu yang berdatangan diwarung arak ini sangat ramai sekali.

Dari pakaian para pengunjung warung arak itu, Eng Song juga bisa melihatnya, bahwa mereka terdiri dari berbagai golongan.

Ada yang berpakaian sebagai pelajar, sebagai busu (guru silat), piauwsu (pengiring barang piauw, sama seperti sekarang ini exspedisi).

Mereka semuanya tengah asyik menikmati makanan mereka.

Sedangkan Thio Sun Kie juga telah menikmati makanannya bersama dengan Eng Song.

Tetapi, ketika mereka tengah menikmati santapan mereka itu, tahu-tahu Thio Sun Kie telah menyentuh kaki Eng Song dengan ujung kakinya.

"Ada sesuatu yang akan terjadi di ruangan ini!" bisiknya dengan suara yang perlahan sekali.

Eng Song jadi heran.

Dia melirik kesekelilingnya.

Si bocah tidak melihat sesuatu apapun juga, karena semua tamu tengah menikmati makanannya.

Namun baru saja Eng Song mau bertanya pada kakek she Thio itu, tiba-tiba terdengar suara orang berteriak : "Bangsat! Siapa yang telah mengambil buntalanku?!" Suara teriakan itu sangat keras sekali, rupanya orang yang berteriak itu tengah murka bukan main.

Malah Eng Song mendengar suara meja telah digebrak keras sekali.

Eng Song meliriknya.

Dia melihat tamu yang menduduki meja terpisah enam meja darinya, seorang lelaki berewok dengan muka yang kasar dan tubuh yang tinggi besar, telah menggeprak meja dengan penuh kegusaran.

Wajahnya juga merah padam, memperlihatkan bahwa lelaki itu tengah diamuk oleh perasaan penasaran sekali.

Bola matanya telah mencilak-cilak memandang sekelilingnya.

"Jangan memandangi dia!" Thio Sun Kie memperingati.

Eng Song tersadar dengan cepat.

Dia telah menundukkan kepalanya lagi dan meneruskan makannya.

Saat itu, orang yang mukanya berewok dan bengis itu, telah berdiri dari duduknya.

19 Kolektor E-Book Matanya mengawasi mendelik pada seorang pemuda yang berpakaian serba putih sebagai seorang siucai (pelajar), yang tengah menikmati makannya dua meja dari meja orang bermuka kasar itu.

"Hei!" bentak orang berewok itu sambil menggebrak meja pemuda pelajar itu.

"Branggggg.....!" mangkok sayur dari pemuda pelajar itu jadi terbalik.

Dan pemuda pelajar yang tampan, paling tidak berusia diantara tiga puluh tahun, telah mengangkat kepalanya.

Dia menatap dingin.

"Mengapa kau tidak hujan tidak angin mengamuk-ngamuk begitu rupa?" tegurnya tidak senang.

Sepasang alisnya juga telah mengkerut dalam-dalam.

Tetapi orang yang berewok dan memiliki wajah yang bengis itu telah tertawa dingin.

"Hemmmmm.....

kau masih mau pura-pura?" bentaknya dengan suara sengit.

"Kau mau kembalikan atau tidak buntalanku?!" Muka pemuda yang tampan itu jadi berobah seketika, karena tampaknya dia gusar sekali.

"Hei kerbau hitam liar, kau jangan sembarangan menuduh orang tanpa bukti! Hati-hati dengan mulutmu itu, bisa-bisa nanti ku tampar sampai copot gigimu!" kata sipemuda pelajar itu dengan suara yang nadanya keras, karena diapun tampaknya jadi gusar sekali.

Mata orang yang berewok itu, telah merah memancarkan sorot kemurkaan yang sangat.

Mendengar dirinya disebut sebagai kerbau hitam liar, tentu saja dia jadi murka.

Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, tahu-tahu tangan kanannya telah bergerak akan menempiling muka pelajar muda itu.

Tetapi si pelajar muda itu tetap duduk tenang-tenang ditempatnya.

Dia tidak berkisar sedikitpun dari kursinya itu, malah dia tak memperlihatkan sikap jeri sedikitpun juga.

Diawasinya tangan si berewok yang tengah menyambar kearah mukanya.

Waktu tangan lelaki berewok itu akan tiba, maka dengan cepat dia mengangkat tangan kanannya.

Tahu-tahu tangan dari lelaki berewok itu telah kena dicekalnya.

Tetapi lelaki pelajar yang tampan itu bukan hanya khusus mencekal saja.

Sebab dengan cepat dia telah menarik tangan lelaki berewok itu.

Dengan sendirinya tubuh lelaki berewok yang mukanya mengerikan itu, telah doyong kedepan tertarik oleh kekuatan tenaga pelajar itu.

Dan mempergunakan kesempatan disaat tubuh lelaki berewok itu doyong kedepan, dengan cepat Siucai itu menekuk tangannya itu.

Telak sekali sikutnya telah menghajar mulut dari lelaki berewok tersebut.

"Tukkkkk!!" "Aduhhhh!!" Suara jeritan dari lelaki berewok itu keras sekali, karena dia merasa kesakitan yang bukan main pada mulutnya yang kena dihajar telak sikut pelajar itu.

Malah darah segera mengucur keluar, karena dua giginya seketika itu telah rontok.

20 Kolektor E-Book Dan setelah menyikut begitu.

malah pemuda pelajar tersebut tidak menghabiskan sampai disitu saja, dia malah telah mendorong tangan lelaki berewok tersebut.

Tanpa bisa ditahan lagi, tubuh lelaki berewok itu telah terdorong kebelakang, dia kejengkang dan rubuh terguling diatas lantai.

Keributan yang terjadi ini tentu saja mengejutkan tamu-tamu lainnya.

Mereka segera berhamburan keluar dari ruangan warung arak.

Hanya beberapa orang saja diantara tamu-tamu itu yang memiliki keberanian cukup besar yang masih tetap berdiam didalam ruangan warung arak itu, untuk ikut menyaksikan keramaian yang tentunya akan terjadi.

Dengan penuh kemurkaan, dan muka yang merah padam, sampai muka lelaki berewok itu yang memangnya telah hitam, bertambah hitam saja.

Matanya juga memancarkan sinar yang menakutkan bukan main.

"Bangsat...!" teriaknya dengan penuh kekalapan melihat darah dari mulutnya itu, dimana giginya rontok dua.

"Kau mau main-main dengan tuan besarmu, heh?" Dan sambil membentak begitu, dia telah melompat dengan kalap.

Lompatan itu merupakan terjangan yang mengandung kekuatan yang bukan main.

Dia menerjang dengan sepasang tangan yang telah diulurkan untuk mencengkeram leher pemuda pelajar itu.

Mungkin juga maksudnya ingin mencekiknya.

Tetapi Siucai itu telah mengeluarkan suara tertawa mengejek.

"Hemmm...!" ejeknya.

"Kau benar-benar manusia tidak tahu diri!" Dan sambil berkata begitu, dia telah mengambil sumpit diatas mejanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment