Plak! Plak! Dua kali tangannya bertemu dengan ketua Ang-hong-pai itu dan keduanya meloncat mundur karena merasa betapa kuatnya tenaga yang keluar dari telapak tangan itu.
Bagus, agaknya engkau memiliki juga sedikit kepandaian! bentak Theng Toanio dan wanita ini tidak main-main lagi, maklum bahwa lawannya memang lihai, maka iapun lalu mengeluarkan ilmunya yang ia pelajari dari Thian-tok. Begitu ia menggerakkan kaki tangannya, kakinya bergerak-gerak dengan langkah mengandung perubahan ngo-heng (ilmu unsur), dan kedua tangannya menyerang dengan dahsyat, Song Kim cepat mengelak dan menangkis sambil berseru kaget.
Heiii! Kiranya toanio ada hubungan dengan Thain-tok! kata Song Kim. Wajah Theng Toanio berobah merah. hatinya tidak senang dan ada perasaan malu ketika ia diingatkan akan hubungannya dengan Thian-tok, juga ia terkejut bagaimana laki- laki ini mengetahui akan hal itu, padahal merupakan rahasia dan tidak diketahui orang lain kecuali para anggauta Ang-hong-pai yang tak mungkin berani membuka rahasia itu.
Hemmm, bagaimana engkau menduga demikian, Lee Kongcu?
Mudah saja! Bukankah engkau tadi menyerangku dengan Ngo-heng Lian-hoan Kun- hoat? Biarpun gerakanmu dahsyat dan ganas sekali, namun aku masih mengenal silat andalan Thian-tok itu. Lega rasa hati Theng Toanio. Orang she Lee ini tidak mengetahui rahasianya, hanya mengenal ilmu silat yang dipelajarinya dari Thian- tok, maka dengan cepat ia berkata,
Mendiang Thian-tok adalah guruku.
Ah, kiranya toanio ini murid locianpwee itu? Pantas demikian lihai! Kalau begitu, toanio masih saudara seperguruan dengan Ong Siu Coan?
Raja dari kerajaan Sorga di Nan-king itu? Ah, mana aku ada harga untuk menjadi saudara seperguruan orang besar seperti beliau itu? Aku hanya menerima pelajaran selama satu tahun saja dari mendiang suhu, menjelang kematiannya.
Akan tetapi ilmu kepandaanmu hebat, toanio. Mari kita lanjutkan permainan kita. Theng Toanio yang ingin sekali mengalahkan laki-laki ini agar suka menjadi pelayan pribadinya, maju lagi menyerang. Ia mengeluarkan lagi Ilmu Ngo- heng Lian-hoan Kun-hoat untuk menyerang secara bertubi-tubi dan dahsyat.
Namun, tingkat kepandaian Song Kim jauh lebih tinggi sehingga dia mampu mengelak dan menangkis semua serangan itu, sambil mempelajari setiap jurus, mengamati untuk menemukan jurus yang ampuh dan pantas dikuasainya. Wanita itu terkejut setelah lewat lima puluh jurus, ia belum juga mampu mengalahkan lawannya.
Jangankan mengalahkan, menyentuh tubuhnya saj apun tak pernah karena semua pukulan dan tendangannya dapat dielakkan atau ditangkis. Sedangkan Lee Song Kim juga sudah merasa puas. Ada beberapa jurus yang penting dan sudah dicatat dalam benaknya. Ketika Theng Toanio menendang dari samping dengan gerakan memutar tubuh, dia sengaja diam saja menanti sampai kaki yang menendang itu menyambar dekat dan tiba-tiba saja dia telah menyambar kaki itu dan sepatu kaki itu telah copot dan berada di tangannya.
Ihhh......! Theng Toanio berseru kaget dan mukanya berobah merah sekali. Song Kim mengamati sepatu bersulam merah itu.
Sungguh indah sekali sepatumu, toanio, katanya sambil menyerahkan kembali benda itu. Dengan muka merah karena dirampasnya sepatu itu tentu saja menjadi bukti kekalahannya, Theng Toanio menerima sepatunya dan memakai kembali, kemudian ia berkata,
Lee Kongcu, dalam ilmu silat tangan kosong, engkau lihai sekali dan aku mengaku kalah. Akan tetapi belum tentu aku kalah kalau kita mempergunakan senj ata. Lee Song Kim tersenyum.
Tentu saja harus dicoba dulu, toanio. Nah, kaukeluarkan senjatamu, akan kuhadapi dengan tangan kosong saja. Theng Toanio membelalakkan matanya. Orang ini terlalu sombong kalau akan menghadapi senjata-senjatanya dengan tangan kosong, pikirnya. Betapapun lihainya orang ini, bagaimana mungkin dapat melawan senjata-senjatanya? Karena merasa dipandang rendah, Theng Toanio menjadi marah.
Bagus! Hendak kulihat bagaimana engkau menghadapi senjata-senjataku! berkata demikian tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya telah berada di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya membuka kantung yang tergantung di pinggang.
Lee Song Kim memang sengaja hendak mencari kesan mendalam di perkumpulan ini, ingin memperlihatkan ilmunya agar mereka semua tunduk dan taat kepadanya. Dia bukan sekedar membual atau menyombongkan diri kalau hendak menghadapi Theng Toanio yang bersenjata dengan tangan kosong. Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan. ketika tadi mereka bertanding tangan kosong. Dia sudah tahu betul sampai di mana tingkat kepandaian lawan. Ketika tadi mereka bertanding tangan kosong, dia sudah dapat mengukur dan dia merasa yakin bahwa biarpun lawan berpedang, dia sanggup dan akan dapat mengalahkannya. Kinipun dia tahu bahwa selain pedangnya, wanita itu mempersiapkan senjata rahasia dan melihat kantung di pinggang itu tempat penyimpanan senjata rahasia jarum merah beracun yang pernah didengarnya sebagai senjata rahasia andalan ketua Ang-hong- pai
Aku sudah siap, toanio, mulailah! katanya sambil memasang kuda-kuda yang indah. Kaki kiri ditekuk sedikit, kaki kanan dilonjorkan ke depan dengan jari- jari kaki menghadap ke atas dan tumitnya terletak di atas tanah, tangan kiri tergantung agak ke depan dengan jari tangan terbuka dan ibu jari ditekuk ke dalam, tangan kanan di pinggang dengan siku ditekuk ke belakang sedikit, juga jari tangan terbuka. Dengan kuda-kuda seperti ini dia menghadapi lawan sambil tersenyum. Melihat lawannya sudah siap, Theng Toanio yang mulai merasa penasaran itu segera menerjang sambil mengeluarkan teriakan dahsyat yang mengejutkan para anggauta Ang-hong-pai kerena teriakan itu membuat jantung mereka tergetar dan terguncang. Itulah teriakan yang disertai tenaga khikang yang disebut Sin-houw Ho-kang.
Theng Toanio hanya berlatih selama beberapa bulan saja, maka ilmunya ini masih belum matang, belum kuat benar, jauh berbeda dengan yang sudah dikuasai Thian- tok karena kakek itu ketika masih hidup, dapat saja membunuh orang dengan teriakan ini tanpa menyentuhnya! Akan tetapi, karena teriakan ini dilakukan pada saat pedangnya menyambar, maka cukup berbahaya dan Song Kim cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang. Wanita itu cepat pula mengejar dan mengirim serangan berantai yang amat dahsyat. Perlu diketahui bahwa sebagai ketua Ang-hong-pai, perkumpulan yang ahli tentang racun lebah, pedang yang dipegang Theng Toanio inipun mengandung olesan racun tawon yang amat berbahaya. Sedikit saja tergores dan terluka, maka racun itu akan bekerja dan membuat luka itu melepuh seperti kena api.
Song Kim dapat menduga akan hal ini, maka dia selalu mengelak dan kalau menangkis, dia menggunakan kebutan lengan bajunya. Biarpun ujung lengan baju, namun kalau menangkis pedang membuat Theng Toanio terkejut sekali karena pedangnya selalu terpukul menyeleweng, bahkan ujung lengan baju itu menimbulkan angin yang keras, disusul pula oleh totokan jari tangan pria itu yang mengarah jalan darah di pergelangan tangan atau sikunya. Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Hai-tok, guru Song Kim, dan Thian-tok, guruTheng Toanio, adalah seimbang. Akan tetapi Song Kim telah berguru kepada Hai-tok sejak kecil, bahkan akhir-akhir ini sebelum gurunya meninggal dunia, dia telah mewarisi seluruh ilmu kepandaian Hai-tok. Sebaliknya, Theng Toanio hanya setahun menjadi murid Thian-tok.