Rambutnya tersisir licin dan mengkilap karena minyak, mulutnya tersenyum-senyum.
Seorang pria muda yang tampan menarik dan berpakaian mewah, pesolek dan senyumnya tentu mudah meruntuhkan benteng pertahanan hati wanita! Orang ini bukan lain adalah Lee Song Kim! Tidak mengherankan kalau orang seperti dia sudah tahu bahwa bukit itu adalah sarang Ang-hong-pai, karena dia adalah seorang yang amat lihai dan memang dia naik ke puncak bukit dengan maksud mengunjungi Ang- hong-pai. Lee Song Kim mendengar berita tentang Ang-hong-pai, tentang ketuanya yang masih nampak cantik biarpun usianya sudah setengah abad lebih, tentang para anggautanya yang berjumlah hampir seratus orang, semua wanita muda yang menarik. Timbul keinginan hatinya untuk berkunjung dengan dua macam niat di hatinya.
Pertama, untuk menguji ilmu ketua Ang-hong-pai, kalau perlu menguasai ilmu silatnya,
Dan kedua, kalau memang benar bahwa anggauta Ang-hong-pai terdiri dari wanita- wanita muda yang cantik, dia bermaksud menaklukkan perkumpulan itu. Pertama, agar Ang-hong-pai dapat memperkuat kedudukannya, dan kedua, wanita-wanita itu dapat menghibur hatinya dan memuaskan nafsunya. terutama sekali dia harus menyusun kekuatan, karena untuk mempunyai jagoan nomor satu, harus mempunyai kekuatan yang mendukung di belakangnya, untuk menghadapi lawan yang banyak jumlahnya. Ang-hong-pai bukanlah perkumpulan yang besar kalau kedatangan orang asing di bukit itu tidak mereka ketahui semenjak orang itu menginjakkan kaki di tanjakan pertama. Mereka selalu memasang penjaga di semua sudut, secara bergilir. Ketika para penjaga melihat munculnya seorang laki- laki yang demikian tampannya,
Jantung mereka sudah berdebar tidak karuan, merasa gembira dan tegang sekali, seperti sekumpulan serigala kelaparan melihat munculnya seekor domba yang gemuk dari dalam semak-semak. Tiga orang penjaga ini ingin sekali segera menubruk pria itu, diperebutkan. Akan tetapi mereka bukan orang-orang yang bodoh dan lancang. Mereka dapat melihat, dari sikap dan langkah pria itu, bahwa yang mendaki bukit ini bukanlah orang sembarangan. Mereka tidak berani sembrono. Sekali bertindak dan gagal, tentu mereka akan mendapat kemarahan ketua mereka. Padahal, kalau sudah marah, Theng Toanio kejam luar biasa. Mudah saja membuntungi lengan atau kaki, atau bahkan leher orang! Maka, sambil menahan getaran hati yang penuh dengan nafsu melihat pria yang demikian gantengnya, tiga orang ini lalu membagi tugas.
Seorang melapor kepada ketua di atas, yang lain tetap mengintai. mereka tidak khawatir pria itu akan dapat pergi dari bukit itu karena bukit itu, di antara pohon-pohon besar di dalam hutan, terdapat jebakan-jebakan dan perangkap- perangkap yang penuh rahasia. Sebelum tiba ditanjakan lereng pertengahan, tentu pria itu sudah akan masuk perangkap dan mudah saja mereka tawan! Demikian pikir mereka, sama sekali tidak mengetahui bahwa calon korban yang mereka sangka seekor domba gemuk yang lunak dagingnya itu ternyata adalah seekor harimau yang tidak akan mudah dikalahkan oleh pengeroyokan segerombolan serigala betina yang kelaparan! Bahkan mungkin segerombolan serigala betina itulah yang akan menjadi korban terkaman sang harimau. Lee Song Kim memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali.
Penglihatan dan pendengarannya, juga panca-indera yang lain, amatlah peka dan terlatih. Maka, diam-diam dia sudah mendengar dan melihat berkelebatnya tiga bayangan wanita di antara semak-semak belukar itu. Akan tetapi dia hanya tersenyum saja, tidak membuat gerakan mencurigakan, pura-pura tidak tahu saja. Namun dia sudah dapat menduga bahwa tentu bayangan-bayangan itu adalah penjaga- penjaga yang sudah melihat di mendaki bukit dan tentu kini Ang-hong-pai telah membuat persiapan untuk menyambutnya. Mengingat akan hal ini, Song Kim tersenyum, penuh kepercayaan kepada diri sendiri. Dia terus melangkah maju dengan gagah, memasuki hutan lebat itu, mendaki tanjakan pertama yang penuh liku. Beberapa kali dia mendapatkan jalan buntu, terhalang jurang yang menganga lebar dan mengerikan.
Bagi orang biasa demikian, akan tetapi dengan mudah Song Kim melompati jurang- jurang itu! Beberapa buah perangkap yang tertutup daun-daun dapat diketahuinya karena sebelum melangkah, dia melemparkan batu-batu kecil dengan tenaga kuat ke atas tanah yang akan diinj aknya. Perangkap itu bekerja dan tebukalah lubang jebakan ketika terkena sambitan keras itu sehingga tidak sampai menjebak tubuhnya. Dari kauh, para anggauta Ang-hong-pai mengamati gerak-geriknya dan mereka semua terkejut melihat betapa laki-laki itu mampu melewati semua rintangan. Makin yakin hati mereka bahwa pria itu bukan orang bisa, melinkan orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Melihat ini, Theng Toanio cepat mempersiapkan anak buahnya untuk melakukan penghadangan secara bertahap.
Pasukan penghadang pertama muncul ketika Song Kim tiba di lereng pertama. Dia melihat munculnya lima orang gadis yang memegang tali hitam mengepungnya dari belakang batang-batang pohon. Dia melihat betapa lima orang itu mengikatkan ujung tali hitam panjang pada pinggang mereka, sedangkan tali itu mereka gulung dan dipegang di tangan mereka. Ujung lainnya berbentuk lasso dan mengertilah dia bahwa mereka itu adalah ahli-ahli melempar tali untuk menjerat binatang buas, dan kini agaknya pasukan lasso ini hendak menangkapnya dengan tali hitam itu.
Dian-diam dia tersenyum dan pura-pura tidak melihat mereka. Benar saja dugaannya. Tiba-tiba lima orang gadis itu menggerakkan tangan, dari lima jurusan yang mengepung Song Kim, dan nampaklah lima sinar hitam ketika tali-tali itu meluncur dengan mulut lasso terbuka lebar menyambar kepalanya.
Tentu saja dengan mudah Song Kim akan dapat melepaskan diri dari ancaman bahaya. Akan tetapi dia sengaja membiarkan tubuhnya, lasso-lasso itu dengan cepat memasuki kepalanya dan menjerat seluruh tubuh dari leher sampai ke kaki! Karena lima orang gadis itu tadi melempar tali melalui di atas cabang pohon di depan masing-masing, hal yang sudah diatur lebih dahulu, kini mereka menarik tali itu dengan harapan agar tubuh Song Kim tertarik dan tergantung di udara, di antara lima batang pohon. Akan tetapi, betapapun kuat mereka membetot dan menarik, tetap saja tubuh Song Kim tidak bergeming, tidak terangkat sedikitpun. Laki-laki itu malah tersenyum lebar dan menoleh ke sana-sini untuk melihat lima orang gadis yang bersitegang menarik tali masing-masing.
Dengan kedua tangannya, Song Kim mengumpulkan lima helai tali yang mengikat tubuhnya itu, mengerahkan tenaga dan tiba-tiba dia mengeluarkan bentakan nyaring sambil terus menarik lima helai tali itu dan akibatnya, dengan sentakan yang mengejutkan, tubuh lima orang gadis iti kini tertarik ke atas dan tergantung kepada cabang pohon di depan masing-masing! Mereka meronta-ronta, akan tetapi tidak mampu melepaskan diri karena ikatan ujung tali pada ikat pinggang mereka, yang sengaja dibuat demikian agar lawan tidak dapat merampas tali, amatlah kuatnya. Song Kim kini melepaskan lasso-lasso itu dari tubuhnya. Dengan satu tangan saja dia menahan tubuh lima orang gadis itu dengan cara memegang ujung tali erat-erat, kemudian mengikat kelima ujung tali menjadi satu, mengikatnya pada sebatang pohon.
Sekarang tubuh lima orang gadis itu tergantung setinggi satu meter dari tanah, mereka masih meronta-ronta, akan tetapi makin meronta, makin kuat saja tali mengikat pinggang mereka. Sambil tersenyum lebar Song Kim menghampiri mereka, mengamati mereka satu demi satu. Rata-rata mereka berusia dua puluh lima tahun, bertubuh padat kuat dan berwajah manis. Bagaikan orang memeriksa dan menilai ternak yang akan dibelinya, tangan Song Kim membelai tubuh gadis-gadis itu, mengelus dagu, pipi dan leher, menowel, mencolek dan mencubit sana-sini sambil tersenyum. Kemudian tangannya meraih dan terdengar bunyi kain robek ketika dia merenggutkan pakaian mereka itu terlepas dari tubuh mereka, satu demi satu sehingga kini lima orang gadis itu tergantung dalam keadaan telanjang bulat!
Ha-ha-ha, inilah hukuman kalian yang telah berani mencoba untuk menghalangi perjalananku. Sekali lagi kalian berani menggangguku, bukan pakaianmu yang kurobek, melainkan kulitmu! Setelah berkata demikian, Song Kim melanjutkan perjalanannya mendaki bukit. Melihat sepak terjang pria itu dari tempat persembunyiannya, Theng Toanio terkejut bukan main.
Apa yang diperlihatkan Song Kim tadi merupakan bukti bahwa orang ini memiliki kepandaian tinggi sekali. Maka iapun tidak mau mengambil resiko dan cepat mengerahkan semua anak buahnya, langsung dipimpinnya sendiri melakukan penghadangan. Biasanya, untuk menghadapi lawan yang berani naik ke Ang-hong-pai, ada beberapa lapis pasukan yang makin ke atas semakin kuat penjagaannya. Akan tetapi sekali ini Theng Toanio tidak mau menyia-nyiakan waktu dan membiarkan anak buahnya terancam. Ia sendiri memimpin anak buahnya. Lebih dari lima puluh orang gadis dengan pedang di tangan berbaris di belakangnya, sedangkan selebihnya menyusun diri sebagai pengepung dan penjaga tempat-tempat lain karena khawatir kalau-kalau pria yang pandai itu mempunyai teman-teman yang menyerbu dari lain jurusan.
Ada pula beberapa orang yang menolong dan melepaskan lima orang rekan yang tergantung dalam keadaan telanjang tadi. Ketika Song Kim berjalan melalui lorong yang kecil, di kanan kirinya semak-semak belukar, dia bersikap waspada.
Penciumannya menangkap bau yang asing, bau binatang buas! Tiba-tiba terdengan suara gerengan yang menggetarkan gunung itu dan Song Kim berhenti melangkah. Dari dalam semak-semak muncullah dua ekor harimau yang besar, sebesar anak sapi! Dia tidak tahu bahwa dua ekor harimau itu memang dikerahkan oleh Theng Toanio untuk menyerangnya. Inilah serangan pertama yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpin sendiri oleh Theng Toanio. Melihat Song Kim, dua ekor harimau itu menggereng-gereng dan menghampiri Song Kim dari samping, mata mereka melirik dan penuh kemarahan.
Song Kim berdiri tegak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap karena dia tahu betapa kuat dan cepatnya binatang ini. Dia sama sekali tidak merasa gentar karena yakin akan kekuatan sendiri. Tiba-tiba binatang yang berada di sebelah kirinya mengaum dan menubruk dengan terkaman yang tinggi. Song Kim mengelak dengan menyuruk ke samping sehingga tubrukan itu luput. Harimau yang berada di kanan mengikuti gerakan temannya, kini menerjang ke depan dengan cakar kanan kiri menyambar buas. Kembali Song Kim mengelak dengan loncatan ke belakang. Harimau pertama menubruk lagi. Song Kim memiringkan tubuh ke belakang, lalu ketika tubuh harimau itu melayang di sisinya, diapun menggerakkan tangan kanannya, memukul dengan jari terbuka ke arah dada binatang itu.