Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 12

Memuat...

Benar! Tentu dia inilah pencurinya! teriak Tiong Sin Tojin, agaknya juga baru sadar dan teringat akan peristiwa menggemparkan tentang hilangnya beberapa buah kitab pusaka Kun-lun-pai. Pantas dia bukan murid Kun-lun-pai namun pandai ilmu silat Kun-lun-pai.

Dua orang tosu itu kini langsung menerjang Song Kim dengan serangan maut karena mereka baru sadar bahwa tentu inilah orang yang telah mencuri kitab dari gudang pusaka Kun-lun-pai. Song Kim merasa gembira sekali dan menyambut mereka dengan cepat, memancing mereka untuk mengeluarkan ilmu-ilmu mereka yang paling hebat. Dua orang tosu ini terpancing dan mereka memang menyerang dengan jurus-jurus pilihan, tidak tahu bahwa sama saja halnya mereka mengajarkan ilmu pukulan aliran mereka yang paling ampuh kepada laki-laki yang amat lihai ini. Dengan serangan dua orang itu, banyak jurus yang tadinya dipahami Song Kim secara teoritis saja, kini dia memperoleh petunjuk bagaimana harus memainkan jurus itu dengan tepat. Dia mempermainkan dua orang tosu itu sampai lima puluh jurus lebih tanpa merobohkan mereka, hanya menyerang untuk memncing mereka mengeluarkan jurus pilihan aliran Kun-lun-pai.

Tahan dulu! bentak Tiong Gi Tojin yang melompat mundur diikuti sutenya. Dia merasa penasaran sekali.

Sebetulnya siapakah engkau, murid mana dan mengapa memusuhi kami orang Kun-lun- pai? Karena melihat betapa lihainya lawan, Tiong Gi Tojin merasa perlu untuk tahu lebih banyak tentang lawan ini, sedangkan Tiong Sin Tojin kini mencabut pedangnya karena maklum bahwa ilmu silat tangan kosong mereka berdua agaknya tidak akan mampu mengalahkan lawan yang lihai itu. Sementara itu, Song Kim sudah merasa cukup menimba pengetahuan ilmu silat Kun-lun-pai dari meraka, dan melihat betapa mereka kini telah mempersiapkan senjata, dia maklum bahwa kalau dia main- main terus, salah-salah dirinya sendiri yang menjadi korban karena bagaimanapun juga harus diakuinya bahwa dua orang tosu itu amat tangguh. Maka, sambil tersenyum diapun menjawab,

Mau tahu aku murid mana? Nah, ji-wi totiang (dua bapak pendeta), kiranya ji-wi (kalian berdua) belum buta dan dapat mengenal ilmu silatku! Berkata demikian, Song Kim memasang kuda-kuda lalu menerjang ke depan, ke arah Tiong Gi Tojin dengan jurus dahsyat dari ilmu silat Houw-kun (Silat Harimau). Tiong Gi Tojin terkejut dan cepat mengelak sambil mencabut sebatang kebutan dari pinggangnya dan mengebut ke samping. Akan tetapi Song Kim sudah menubruk ke samping dan menyerang Tiong Sin Tojin dengan cakaran kedua tangannya, persis gerakan seekor harimau yang mencakar ke samping dengan amat kuatnya. Tiong Sin Tojin juga cepat meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari terkaman itu dan kedua orang tosu itu hampir berbareng berseru,

Murid Siauw-lim-pai......?? Mereka berdua mengenal ilmu silat Siauw-lim-pai itu, yaitu Houw-kun (Silat harimau). satu di antara ilmu-ilmu silat Siauw-lim- pai yang meniru gerakan binatang-binatang buas. Akan tetapi sambil tertawa Song Kim menyerang terus dan biarpun kedua orang lawan itu memegang pedang dan kebutan, tetap saja dia dapat mendesak mereka dengan jurus-jurus maut dari Siauw-lim-pai.

Hal ini tidaklah aneh, sama sekali bukan karena dia terlalu mahir dengan ilmu silat Siauw-lim-pai, yang seperti juga dengan ilmu-ilmu silat berbagai aliran hasil curian mendiang gurunya, hanya dikuasai beberapa bagian saja yang tergolong tinggi tingkatnya, melainkan karena memang sebelum menguasai berbagai ilmu silat itu, dia sendiri sudah amat lihai sebagai murid Hai-tok. ilmu silat Siauw-lim-pai itu dia pergunakan sebagai kulit luarnya saja, akan tetapi sebenarnya sinkang yang dipergunakan dibalik pukulan dan cengkeraman itu adalah sinkang yang diwarisinya dari Hai-tok. Dan memang tingkatnya jauh lebih tinggi kalau dibandingkan dengan tingkat dua orang tosu Kun-lun-pai tingkat tiga itu.

Krrakkk......! Tiba-tiba cengkeraman tangan kirinya tepat mengenai kepala tosu itupun terpelanting, pedngnya terlempar dan diapun tidak mampu bergerak lagi.

Tempurung kepalanya bagian pelipis kanan Tiong Sin Tojin retak dan tertekan masuk kedalam dan nampak kepala itu berlubang empat, bekas empat buah jari tangan Song Kim yang mencengkeram. Tiong Sin Tojin tewas seketika. Tiong Gi Tojin marah bukan main, menggerakkan kebutannya sehingga terdengar bercuitan dan gulungan putih menyambar-nyambar. Namun, dengan lincahnya Song Kim dapat menghindarkan diri, kemudian kembali tangannya yang ampuh bergerak, kini memukuldengan tangan terbuka ke depan.

Desss......! Dada kiri Tiong Gi Tojin terkena hantaman telapak tangn itu.Uhhhh! Tiong Gi Tojin terhuyung, darah segar keluar dari mulutnya dan kebutannya terlempar lepas dari tangannya yang kini keduanya dipakai untuk menekan dadanya yang kena pukul tadi.

Ha-ha-ha, kiranya tidak berapa hebat kepandaian tosu tingkat tiga dari Kun-lun- pai. Sayang bukan tingkat pertama atau ketuanya sendiri yang dapat kuajak bertanding, kata Song Kim. Tiong Gi Tojin berdiri memandang kepada lawan itu dengan mata tajam dan penuh kemarahan, kemudian tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dia mengambil tubuh sutenya yang sudah menjadi mayat, memanggulnya dan tanpa pamit diapun pergi diiringi senyum mengejek dari Lee Song Kim.

Begitu tosu gendut itu memanggul tubuh sutenya, Song Kim cepat memanggil dua orang pembantu atau juga muridnya untuk membayangi perjalanan Tiong Gi Tojin dan melihat perkembangan siasat yang telah dilaksanakan tadi, yaitu mengadu domba antara Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai. Dia tahu bahwa di antara aliran-aliran persilatan, dua partai persilatan itulah yang merupakan sumber ilmu silat tinggi. Siauw-lim-pai adalah gudang ilmu silat dari para hwesio sakti seperti mendiang Tat Mo Couwsu dan lain-lain, sedangkan Kun-lun-pai juga merupakan gudang ilmu silat dari para pertapa dan tosu di Kun-lun-san, bahkan dari Himalaya. Kalau dia dapat menguasai ilmu-ilmu paling tinggi dari dua partai persilatan itu,

Dia tidak akan gentar lagi menghadapi jagoan-jagoan mereka dan dia akan lebih mudah mencapai cita-cita yaitu mengangkat diri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap (Jago Silat Nomor Satu di Kolong Langit)! Dengan menahan rasa nyeri pada luka di dadanya, Tiong Gi Tojin berlari sambil memanggul jenazah sutenya. Tentu saja dia tidak mungkin dapat kembali ke Kun-lun-pai yang jauh, dan hanya pergi ke sebuah kuil yang menjadi cabang dari Kun-lun-pai. Pada malam harinya, tibalah dia di kuil yang dipimpin oleh seorang sutenya, yaitu Tiong Le Tojin. Setibanya di pintu kuil, Tiong Gi Tojin tidak kuat lagi dan diapun roboh terguling bersama jenazah Tiong Sin Tojin. Tentu saja Tiong Le Tojin, ketua kuil Kun-lun-pai itu, terkejut sekali melihat kedua orang suhengnya itu. Seorang telah menjadi mayat dan seorang lagi dalam keadaan terluka berat.

Tiong Gi suheng, apakah yang telah terjadi? tanyanya sambil memangku kepala suhengnya itu yang napasnya sudah empas-empis dan mukanya sudah menjadi pucat kebiruan.

Orang she Lee...... murid Siauw-lim-pai...... hanya demikian dia mampu mengeluarkan suara karena diapun terkulai dan tewas menyusul sutenya. Tentu saja pesan terakhir ini membingungkan hati Tiong le Tojin. Murid Siauw-lim-pai she Lee. Agaknya orang she Lee itulah yang membunuh kedua orang suhengnya.

Karena pentingnya urusan Tiong Le Tojin setelah mengurus kedua jenazah suhengnya itu sebagaimana mestinya, lalu berangkat menuju ke pusat Kun-lun-pai untuk melaporkan tentang kematian dua orang tosu Kun-lun-pai. Disebutnya Siauw-lim-pai merupakan hal gawat dan Tiong Le Tojin tidak berani lancang mengurusnya sendiri ke Siauw-lim-pai. Para pimpinan Kun-lun-pai terkejut mendengar bahwa dua orang tokoh mereka tewas di tangan seorang she Lee murid Siauw-lim-pai. Ada beberapa orang tokoh pimpinan yang berwatak keras dan segera menyatakan untuk menuntut balas kepada orang-orang Siauw-lim-pai, akan tetapi Tiong Tek Seng-jin, ketua Kun-lun-pai pusat yang usianya sudah tujuh puluh tahun dan terkenal bijaksana, sabar dan juga sakti itu, mengangkat kedua tangannya ke atas.

Siancai-siancai-siancai......! Perbuatan menurutkan nafsu amarah merupakan penyelewengan yang hanya akan mendatangkan malapetaka belaka. Sejak dahulu kita sudah mengenal Siauw-lim-pai dan tahu bahwa pusat Siauw-lim-pai pusat orang- orang gagah yang berjiwa patriot dan pendekar. Karena itu, kalau ada seorang murid Siauw-lim-pai melakukan penyelewengan misalnya, janganlah hendaknya kesalahan itu kita timpakan kepada seluruh anggauta Siauw-lim-pai! Yang tidak benar adalah oknumnya, bukan perkumpulannya. Mengingat akan persahabatan antara kita dan Siauw-lim-pai, biarlah kita sampaikan saja peristiwa ini kepada Siauw- lim-pai untuk menindak murid mereka yang melakukan pembunuhan terhadap dua orang murid kita. Mendengar ucapan yang halus dan mengandung penuh wibawa ini, semua pimpinan Kun- lun-pai menyadari dan mereka pun mentaati pesan itu. segera dikirim utusan ke pusat Siauw-lim-pai untuk melaporkan peristiwa pembunuhan atas diri dua orang Kun-lun-pai. Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah Thian Tek Hwesio, menggantikan suhengnya, Thian He Hwesio yang sudah meninggal dunia karena usia tua. Thian Tek Hwesio yang bertubuh pendek kecil itu berusia tujuh puluh tahun lebih dan dia dibantu oleh Thian Khi hwesio yang bertubuh sedang dan berusia tujuh puluh enam tahun. Tentu saja dua orang hwesio tua ini dibanru pula oleh beberapa orang murid-murid kepala. Ketika Thian Tek Hwesio dan Thian Khi hwesio menerima utusan Kun-lun-pai dan mendengar pelaporan mereka, keduanya terkejut dan saling pandang.

Omitohud...... pinceng merasa berduka sekali mendengar berita yang buruk ini. Ingin pinceng mengetahui, siapakah nama murid Siauw-lim-pai she Lee yang melakukan pembunuhan itu,di mana tempat tinggalnya dan apa pula sebabnya? Utusan Kun-lun-pai memberi hormat dan dengan jelas dia lalu menceritakan bahwa dua orang itu tahu-tahu roboh di depan kuil Kun-lun-pai di tai-gu, dan bahwa mendiang Tiong Gi Tojin yang ketika itu masih hidup hanya meninggalkan pesan beberapa patah saja, yaitu : orang she Lee..... murid Siauw-lim-pai.

Omitohud, jadi pihak Kun-lun-pai tidak tahu siapa sebenarnya orang she Lee murid Siauw-lim-pai itu dan apa yang menjadi sebab maka dia sampai membunuh dua orang tosu Kun-lun-pai?

Post a Comment