"Berhati-hatilah dengan racun Thian-lam lo-sat." Su-to Yan memberikan peringatan.
"Huh!" Cin Bwee menyebirkan bibir, "Berani dia mengganggu ?" Sie An mengemukakan pendapat: "Racun orang lain tidak kutakuti, tapi racun yang manis dari Thian-lam Lo-sat itu sangat menyeramkan." Dikala mengalami keadaan itu, Su-to Yan menduga Jie Ceng Peng menyebarkan racun Thian-lam Lo-Sat.
Dan ia berpikir, keadaan ini seperti tidak mungkin, Jie Ceng Peng berkesan baik kepadanya, tentunya tidak mengganggu lagi, dengan alasan apa gadis itu menyerahkan pedang In-liong" Tentu bukan bermaksud jahat, Mereka telah bernapas sekian lama, tidak ada tanda tanda dari bisa racun, tentunya keadaan lembah itu yang memang sepi.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati kebat~kebit.
Sie An mengemukakan pendapat: "Mungkinkah orang-orang dari Thian-lam Lo-Sat?" "Kukira bukan." Berkata Su to Yan.
"Huh!" Cin Bwee mengatakan bukan?" bersungut-sungut.
"Dengan alasan apa "Bila hendak melakukan sesuatu yang merugikanku, tentunya tidak menyerahkan pedang In-liong." Berkata Su-to Yan.
"Betul." Berteriak Sie An.
Mereka telah mendaki puncak yang keempat.
Tiba-tiba . . . .
Jauh di atas mereka, terlihat satu bayangan, berdiri di tengah jalan, diam tidak bergerak, seolah-olah patung batu, tapi bukan patung batu, bajunya berkibar-kibar, itulah seorang manusia.
Siapakah orang itu.
Su-to Yan, Cin Bwee dan Sie An saling pandang.
Orang didepan mereka masih tidak bergerak, dia mengenakan pakaian berwarna hitam, memandang ke arah bawah lembah.
Su-to Yan dan dua kawan bukanlah manusia-manusia pengecut, mereka melangkahkan terus, naik keatas, menghampiri orang itu.
Semakin jelas, orang yang mengenakan pakaian hitam itu mengenakan tutup kerudung muka, juga berwarna hitam, serba hitam, sangat menyeramkan.
Su-to Yan bertiga telah berhadap-hadapan.
Orang yang berpakaian dan berkerudung hitam melintang ditengah jalan, jalan itu tidak besar, untuk meneruskan perjalanan Su-to Yan harus melewatinya.
Sangat bahaya!
Mengingat mereka telah berada di puncak itu.
Di kanan kiri dan dibelakang mereka adalah lembah.
Si Pendekar Pedang Bayangan Sie An segera membentak: "Heii siapa yang menyuruh kau datang di tempat ini?" Orang berkerudung itu membuka suara: "Lucu!
Adakah suatu larangan untuk datang di tempat ini?" "Apa maksud kehadiranmu?" Bertanya Sie An lagi.
"Apa pula maksud kalian datang di tempat ini?" Balik bertanya orang berkerudung hitam itu.
"Kami akan..." Sie An tidak dapat meneruskan kata-katanya, dia sudah jatuh ngeloso.
Su-to Yan terkejut.
Disaat yang sama, Cin Bwee juga turut jatuh.
Orang berkerudung itu, tertawa berkakakan "Roboh...
Roboh...
Kau juga roboh." Dia menunjuk ke arah Su-to Yan.
Dengan tenaga dalam yang luar biasa.
Su-to Yan berhasil mempertahankan diri.
Orang berkerudung itu terkejut, ia tidak percaya kepada kenyataan itu, mengapa lawan yang satu ini tidak dapat dibius, mungkinkah kebal kepada racun " Su-to Yan melesat, tangannya dijulurkan, maksudnya hendak meringkus orang ini, hal itu penting, mengingat keadaan Cin Bwee dan Sie An yang belum sadakan diri, dia wajib meminta obat antinya.
Orang berbaju hitam tidak tinggal diam, membalikkan badan, melarikan diri!
Disaat yang sama, dari semak-semak pohon muncul belasan orang-orang berbaju hitam, semua mengenakan kerudung, mereka mengurung Su-to Yan.
"Ssreeet..." Su-to Yan mengeluarkan pedang, Dia siap untuk menghadapi keroyokan orang-orang itu.
Tiba-tiba kepalanya menjadi berat, pandangan matanya menjadi suram, dunia dirasakan berputar, dan tanpa berdaya Su-to Yan jatuh, Racun yang disedot tidak sedikit, akhirnya pemuda kitapun jatuh juga.
Orang-orang berbaju hitam itu membawa ketiga tawanannya, mereka menuju kesalah satu gua, Dimana terdapat sedang duduk se orang pemuda berbaju hitam, dia tentu adalah pemimpin dari orang-orang tadi.
Beberapa saat, Su-to Yan tidak sadakan diri, Dikala ia membuka kedua matanya, keadaannya telah berada dalam ringkusan orang, dia adalah tawanan orang-orang berbaju hitam tadi.
Jalan darah Cian-hui, Ca-bun dan Bo-Sok Su-to Yan ditotok orang, tidak dapat berkutik.
Seorang pemuda berbaju hitam menantikannya dengan sabar, pemuda inilah yang menjadi pemimpin rombongan.
Siapakah orang-orang berbaju hitam ini " Su-to Yan sedang berpikir-pikir.
Mungkinkah golongan Thian-lam Lo Sat " Menengok kekanan dan kekiri, tidak terlihat kedua kawannya, Entah dimana Sie An dan Cin Bwee " Su-to Yan tidak tahu.
Pemuda berbaju hitam membuka mulut.
"Hei, murid Ciok Pek Jiak, siapa namamu?" "Su-to Yan." Berkata pemuda kita dengan gagah.
"Kau tahu, mengapa kami menangkap dirimu?" bertanya lagi pemuda itu.
Su-to Yan menggeleng-geleng kepalanya, "tidak tahu." ia menjawab terus terang.
Dengan tenaga dalam Su-to Yan, melepaskan totokan jalan darah yang terkekang agak mudah.
Yang penting, orang didepannya tidak boleh tahu.
Menyaksikan ketenangan lawannya, pemuda itu berkata: "Hei, begitu tenang sekali kau " Ketahuilah, jiwamu telah berada ditanganku, mengapa kau tidak memikir kedepan?" Su-to Yan tertawa.
"Apa guna memimikirkan keadaan, bila jiwaku telah berada ditanganmu?" Dia tidak menjadi gentar.
Pemuda itu menganggukkan kepalanya.
"Kau memang jantan sejati," dia memuji, "tidak tahukah, bahwa aku hendak membunuh mu !" "Alasanmu ?" "Ha, ha . . . .
tidak perlu alasan, Kau sudah jatuh kedalam tanganku, Dan aku hendak membunuh, seharusnya kau meminta pengampunan." "Bila tidak ?" "Ha, ha.,., membunuhmu," Kau nanti lihat bagaimana caranya aku Su-to Yan mementang sepasang matanya lebar-lebar, dia belum tahu, cara bagaimana pemuda itu hendak membunuh dirinya.
Orang itu sudah berteriak "Bawa tempat perapian." Dua orang berbaju dan berkerudung hitam menggotong sebuah anglo yang merah membara, api panas memerahkan seluruh anglo itu, tiga batang besi didalam anglo panas juga telah membara.
Orang itu membulak balikan besi panas.
Kemudian mengulapkan tangan, Dua orang berkerudung hitam yang membawa anglo meninggalkannya.
Disana hanya dua orang, Su-to Yan dan orang itu.
"Akan kurusak kedua matamu" Berkata pemuda berbaju hitam, "Kemudian melumerkan kedua kupingnya, setelah itu, sepasang tangan dan sepasang kakimu, Demikian sehingga kau meminta ampun." Mata Su-to Yan membara, seolah-olah hendak mengeluarkan api.
Apa dendam orang ini kepada dirinya, mengapa berbuat sekejam itu" "Hei." Dia memanggil "Apakah permusuhan diantara kita berdua" Dengan alasan apa kau hendak menyiksa orang?" "Ha, ha...
Siapa yang menyuruh kau menjadi murid Ciok Pek Jiak?" berkata orang itu.
Lagi lagi berhadapan dengan musuh-musuhnya.
"Kau bermusuhan dengan guruku?" bertanya Su-to Yan.
"Ng..." "Kukira kau anak buah golongan Thian-lam Lo-sat, ternyata bukan." berkata Su-to Yan.
"Thian-lam Lo-sat" Aku tidak kenal." "Anak buah Thian-lam Lo-sat adalah golongan yang pandai menggunakan racun, dan kalian mahir didalam bidang ini, bagaimana tidak mempunyai hubungan dengan mereka?" "Ha, ha, ha . . . .
Apakah hanya Thian-lam Lo-sat yang pandai menggunakan racun" Ha.
ha, ha . . . " "Mengapa kau tertawa" bertanya Su-to Yan.
"Belum dengar nama lembah Cui-goat-kok dari gunung Insan?" "Aaaaa...," Su-to Yan berteriak.
Ternyata lawan dari lembah Cutgoat-kok.
Lembah Cui goat-hoat-kok mempunyai hubungan baik dengan lebah Maha Bisa.
Setelah lembah Maha Bisa hilang kekuasaan, lembah Cui goat-kok telah mewarisi semua ilmu racun-racunnya, kekuatannya tidak berada dibawah Thian-lam Lo-sat.
Perbedaan lembah Cui-goat-kok adalah tidak mencampurkan dirinya kedalam rimba persilatan, maka jarang orang yang mengenal tindak tanduk mereka.
Pernah juga Thian lam Lo-sat bentrok dengan kekuatan itu, tetapi dengan hasil kekuatan seimbang.
Dan hari ini, Su-to Yan berhadapan dengan orang-orang dari lembah Cui-goat-kok.
Su-to Yan menarik napas dalam-dalam, dia berkata: "Setahu ingatanku, belum pernah aku bentrok dengan anak buah Cui-goat-kok." "Ha, ha . . . .
pernah dengar nama Cu-kat Sian, tentunya kau tidak lupa kepada nama ayahku itu, bukan" Beliau adalah ayahku!" Berkata sipemuda berbaju hitam.
Su-to Yan terkejut Nama Cu-kat Sian adalah nama dari salah seorang musuh gurunya yang terhebat.
Setelah mengalami kekalahan dibawah tangan Ciok Pek Jiak, orang yang bernama Cukat Sian itu telah mengasingkan diri.
Diduga telah meninggal dunia.
Ternyata Cu-kat Sian lari kedalam lembah Cui-goat-kok, dan yang berada dihadapan Su-to Yan sekarang adalah putera Cukat Sian itu.
Dia hendak menuntut balas, Pemuda berbaju hitam itu berkata lagi.
"Namaku Cu-kat Hong," Dia memperkenalkan diri.
"Ada sesuatu yang belum kau ketahui," berkata pemuda berbaju hitam Cu-kat Hong, "Ayahku telah kalah dibawah tangan gurumu, karena itu, dia menaruh rasa sakit hati, dendamnya tidak dapat terbalas, semakin lama, sakitnya sakitnya semakin keras, akhirnya beliau meninggal dunia." Su-to Yan tertawa.
"didalam rimba persilatan setelah mengalami beberapa pertempuran, soal menang dan kalah itu sudah menjadi biasa." Dia berkata, "Seandainya semua orang mempunyai perangai dan ambekan setelah kalah masih menaruh dendam, dan bahkan sampai merongrong jiwanya, wah dunia ini bisa tak habis-habisnya dengan dendam.
Setiap orang pasti pernah dikalahkan lawan yang berkepandaian tinggi, diandaikan semua orang mati jengkel, satu persatu membawa dendam kedalam dunia akherat, Apakah ada pendekar-pendekar silat lainnya?" Cu-kat Hong membentak: "Kau telah jatuh ke dalam tanganku, jangan banyak ribut, tidak ada kasihan bagimu, tahu?" Di mulut Su-to Yan mendebat.
Diam-diam, dia berusaha melepaskan diri dari kekangan-kekangan totokan lawannya.
Kini dia berhasil membebaskan disatu tempat, masih dua tempat lagi.
Dia berkata: "Memang..