Halo!

Pedang Wucisian Chapter 21

Memuat...

Betul-betul berhadapan dengan musuh lihay!

jurus itu juruS-jurus tipu Ciok Pek Jiak!

Lebih hebat dari Ciok Pek Jiak, itulah perubahan dari tipu silat dijaman purbakala Kabut Hijau It-bok-cin khie, digunakan dengan ilmu campuran iblis Sakti Bersilat Sin-mocap-pat-sek.

Gerakan Tong-hong Cie Bun terlalu cepat dipisahkan, disaat yang sama, dengan jurus "Jie-it-kay-hap" atau sepasang tipu perangkap, tanpa desiran angin, pedangnya menyelusup kearah pinggang Su-to Yan.

Sipemuda sadar akan bahaya, setelah pedang Tong-hong Cie Bun berada beberapa senti lagi dari tubuhnya, Su-to Yan kaget, cepat-cepat mempertebal kekuatan Kabut Hijau li-bok-cin khie, tubuhnyapun menyingkir pergi.

Dia berhasil meloloskan diri dari tusukan pedang Tong-hong Cie Bun!

Hanya bajunya yang terobek sebagian.

Tong-hong Cie Bun menarik pedangnya, dengan dingin dia membentak: "Lekas katakan, kau murid siapa ?" Serangan-serangan yang digunakan tadi pernah digunakan menghadapi Ciok Pek Jiak, bila pemuda yang berada dihadapannya ini betul murid dari si Pendekar Raja Sesat, tentunya dengan mudah dapat menghindari serangan, tapi kenyataannya tidaklah demikian, Su-to Yan belum mahir betul, maka hampir dia ditusuk tembus.

Karena kecurigaan itulah, Tong-hong Cie Bun membentaknya.

"Siapa gurumu ?" Si Pendekar pertanyaannya.

Pedang kidal mengulang "Guru boanpwee bernama Ciok Pek Jiak," Berkata Su-to Yan dengan sikap patuh, Dia masih tertawa.

"Aku tidak percaya." Tong-hong Cie Bun membentak.

Dia membacok tiga kali, kedepan, kekanan dan kekiri, setelah itu, tubuhnya melesat, menggunakan tangan kanan memukul si pemuda, Su-to Yan sudah mundur, tangannya bergerak, dengan Kim-kapso-mo atau Batok Emas Menolak ibis, salah satu perubahan dari tipu iblis Sakti Bersilat, menahan serangan sijago tua.

Tong-hong Cie Bun mengeluarkan suara dengusan: "Hm . . . .

Kukira kau bukan murid Ciok Pek Jiak, tetapi setelah menyaksikan kepandaianmu ini, aku harus percaya kepada keteranganmu." "Aku tidak memaksa orang mau percaya atau tidak." Berkata Suto Yan.

"Bagus!

Gurumu telah mematahkan pedangku, hari ini, aku hendak menuntut balas, seharusnya memutuskan sebelah lenganmu." Berkata Tong-hong Cie Bun.

Su-to Yan semakin berhati-hati.

Dia siap menerima lanjutan penyerangan musuh.

Sie An dan Cin Bwee terkejut, masing-masing mengeluarkan pedang, berdiri dikanan dan kiri Su-to Yan.

Maksud mereka, dengan kekuatan mereka bertiga, mereka akan melawan si jago tua.

Tong-hong Cie Bun tertawa berkakakan: "Ha, ha, ha...

Telah kukatakan hendak menguntungi sebelah tangannya, perkataanku itu pasti benar, ditambah sepuluh orang yang sebangsa kalian lagipula tiada guna." Sie An berteriak: "Baik.

Kami hanya bertiga." Berbareng suara tawanya, Tong-hong Cie Bun telah mengirim lima tusukan pedang, dua untuk Su-to Yan, dan tiga lainnya menolak kekanan dan kiri, dimana ada Sie An dan Cin Bwee.

Tiga anak muda itu telah mengeluarkan pedang masing-masing menangkis serangan pedang Tong-hong Cie Bun.

Hasil dari perpaduan senjata dari ketiga jago muda itu ternyata terdesak mundur.

Tubuh Tong-hong Cie Bun melesat diudara, dia mencari posisi bagus, untuk meneruskan usahanya, menyerang tiga jago muda itu.

Pendekar Pedang Bayangan Sie An turut mumbul tinggi, ditengah udara, dia memapaki musuh.

Menyaksikan keberanian Sie An, Tong-hong Cie Bun mengeluarkan tawa dingin, pedangnya menunjuk-nunjuk, bergerak kearah lima jalan darah si pendek.

MakSud Sie An dengan mencelat keudara adalah hendak mendahului musuhnya, menggunakan kedudukan yang lebih menguntungkan dia hendak menggencet ahli pedang tangan kiri itu.

Tapi diluar dugaannya, gerakan Tong-hong Cie Bun melebihi kecepatannya, dan disaat yang sama, Tong-hong Cie Bun telah mengirim lima tikaman.

Sie An menjadi sangat gugup.

Beruntung ada bantuan dari bawah, Cin Bwee dan Su-to Yan memapas sepasang kaki Tonghong Cie Bun.

Tong-hong Cite Bun meninggikan tubuhnya.

Sie An menangkis dengan pedang.

Berhasil mengelakkan diri dari elmaut.

Tiga lawan satu !

Pertempuran masih berlangsung terus.

Tong-hong Cie Bun menyerang tiga anak muda itu dengan bergantian, tetapi lebih dititik beratkan kepada Su-to Yan.

Kekalahannya ditangan Ciok Pek Jiak sangat didendamnya, sakit hati itu harus mendapat tempat pelampiasan dan inilah Su-to Yan, dia akan mengutungi sebelah tangan jago muda itu.

Mendapat bantuan kedua kawannya, Su-to Yan dapat bersilat lebih bebas, lebih leluasa.

Bertahan belasan jurus, Su-to Yan dapat melihat akan adanya kekosongan-kekosongan musuh, perlahan tapi pasti, dia memperkuat kedudukan posisinya, tahap demi tahap, dia dapat mengimbangi serangan si pendekar pedang kidal, membuat sesuatu fondamen prima, mereka menjepitnya.

Lebih dari satu kali, Su-to Yan mengalami benturan senjata, kepercayaannya kepada diri-sendiri semakin tebal, dia terdesak karena tidak berani memforsir tenaganya, kini tenaga Tong-hong Cie Bun dapat diselami, kemungkinan besar mereka dapat mengalihkannya, sipemuda tidak segan-segan mengirim tusukan, membentur dan menangkis pedang lawan.

Cin Bwee dan Sie An membantu memperkokoh kedudukan kawannya.

Inti kekuatan dipegang oleh Su-to Yan, dia mulai membikin penyerangan-penyerangan.

Tong-hong Cie Bun menghembuskan napas dingin, tidak disangka, tiga anak muda yang tidak dipandang mata dapat mengimbangi kekuatannya, bahkan lebih daripada itu, giliran dia yang mendapat tekanan.

Su-to Yan mengeluarkan suara pekikan, kedua tangannya direntangkan tangan kanan yang memegang padang yang menusuk kedepan, dan dengan tangan kiri, dia melakukan sikap seperti orang yang hendak mengempo anak.

itulah yang bernama Sin mo ju-sian atau iblis Sakti Menampilkan diri.

Jurus tipu yang tidak asing bagi Tong-hong Cie Bun, dari pertempuran-pertempurannya dengan Ciok Pek Jiak sering kali harus berurusan dengan tipu ini.

Tangan kirinya yang memegang pedang agak gemetar.

Secepat itu juga, serangan Su-to Yan ter kunjung datang.

Tong-hong Cie Bun tidak diberi kesempatan untuk banyak berpikir, pedang ditangan kiri menyolok ke bawah, dengan maksud memapas putus sepasang kaki Su-to Yan.

Dan tangan kanannya menahan datangnya Si-mo ju sian.

Suara pekikan Su-to Yan masih berkumandang, belum lenyap dari permukaan udara, tipu gerakannya telah berganti, tangan kanan di keataskan, itulah tipu Kiu-thian-hoat-jit atau Sorga ketujuh menggantikan langit Cepat sekali!

Sebelum Tong-hong Cie Bun sadar dari kesalahannya, tangan Su-to Yan sudah berhasil meremas hancur pedang itu !

Sungguh luar biasa !

Dengan gagang pedang ditangan, si pendekar pedang kidal Tong-hong Cie Bun mengundurkan diri.

Wajahnya sangat pucat sekali.

Maksud tujuan Su-to Yan ingin merebut pedang lawan, ternyata tidak berhasil.

Genggaman Tong-hong Cie Bun terlalu kuat, hasil dari perebutan senjata secara kilat itu adalah kerugian bagi sang pedang, yang patah menjadi dua !

Timbul perasaan menyesal yang merangsang Su-to Yan.

Wajah Tong-hong Cie Bun yang sudah menjadi pucat seperti mayat memandang sangat menyeramkan, dia memandang pedangnya yang putus, tentu saja tidak percaya, bahwa kejadian itu betul-betul telah terjadi.

Dia sudah kalah ditangan Ciok Pek Jiak, kini kalah lagi ditangan muridnya, Lebih mengenaskan, lebih memalukan.

Tubuhnya melesat, meninggalkan tempat itu.

Dari jauh, dia memberikan ancamannya: "Ingat kejadian dihari ini, aku akan menuntut balas." Dikala kata-kata yang terakhir selesai diucapkan, bayangan Tong hong Cie Bun sudah tiada tampak lagi.

Cin Bwee dan Sie An memandang sang kawan dengan sinar mata takjub.

Su to Yan sedang memikirkan kejadian yang belum lama dialami, bila dikenang kembali, bulu tengkuknya bangun berdiri.

Sungguh berbahaya !

Lengah sedikit, jari-jarinya akan terpapas putus oleh tajam pedang Tonghong Cie Bun.

Dan dia berhasil inilah kejadian yang belum pernah dibayangkan.

Sie An menghampiri kawan itu, dia berkata: "Saudara Su-to, belum pernah aku tunduk kepada orang, Menyaksikan ilmu kepandaianmu, betul-betul aku harus bertekuk lutut.

Sungguh ajaib.

Dunia adalah kepunyaanmu, siapakah yang menandingi ilmu silat seperti itu?" Cin Bwee segera berteriak: "Kau telah berhasil meyakinkan ilmu Hin ciok-kang !" Ilmu Bambu-bung Han-ciok-kang adalah semacam ilmu yang dapat menerima latihan tenaga orang lain, inipun termasuk salah satu dari sepuluh ilmu silat peninggalannya jaman purba-kala.

Su-to Yan menganggukkan kepalanya: Ternyata, sebelum si pendekar Silat Raja Sesat Ciok Pek Jiak menghembuskan napasnya yang terakhir, dia telah menyerahkan semua tenaga dalamnya, dengan menggunakan ilmu Han-ciok-kang, Su-to Yan berhasil mengambil oper semua tenaga sang guru, maka dia dapat mematahkan pedang Tong Cie Bun.

Tanpa bantuan Cin Bwee dan Sie An, bila Sute Yan mempunyai keberanian untuk menandingi Tong-hong Cie Bun, bukanlah mustahil, bila si Pendekar pedang kidal dapat dikalahkan olehnya, karena dia telah mewarisi tenaga gurunya, berarti mempunyai gabungan tenaga dua orang.

"Su-to toako," Berkata Cin Bwee.

"Bersediakah kau memberi pelajaran ilmu itu " ingin sekali aku dapat meyakinkannya." "Bila mempunyai kesempatan, kepadamu." Su-to Yan memberi janji.

tentu akan kuturunkan Sie An berteriak.

"Kau ingin menurunkan ilmu itu kepadanya" Celaka !

Siapakah yang dapat menandinginya" Akulah yang paling celaka, tidak berani menggoda kalian lagi." Cin Bwee mendelikkan mata.

"Tentu." ia berkata puas, "Berani kau menggoda aku, akan kuhajar sampai terkuing-kuing ditanah." "Memangnya anjing ?" Sie An mendebat.

"Manusia pendek memang banyak akalnya!" berkata Cin Bwee.

Sambil bergurau, mereka meneruskan perjalanan mereka yang telah terganggu.

Untuk tiba ditempat lembah Hui-in, mereka harus menjelajahi sepuluh puncak-puncak didaerah pegunungan Bu-san.

itulah bukan perjalanan mudah.

Mereka telah mengarungi dua puncak lagi, Dikala hendak meninggalkan puncak gunung yang ketiga, dikala melewati suatu lembah mereka menemukan sesuatu yang aneh.

Keadaan ditempat itu sangat sepi dan sunyi, tidak terdengar suara kicau burung, tidak terdengar suara blnatang-binatang hutan, seolah-olah melangkahkan kaki kedalam suatu dunia yang kosong.

Kabut putih agak lebat.

Semacam bau harum bercampuran diantaranya.

Su-to Yan, Cin Bwee dan Sie An menghentikan langkah mereka, memandang sekelilingnya, tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Sie An tertawa.

"Kukira kabut racun, tahu-tahunya bukan." Dia belum jatuh pingsan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment