Halo!

Pedang Wucisian Chapter 16

Memuat...

Su-to Yan memenangkan pertandingan itu, ia tidak mengadakan pengejaran Sie An menghampiri kawannya, dengan bangga ia berkata: "Saudara Su-to, menyaksikan pertempuran tadi, betul-betul aku harus tunduk kepadamu.

ilmu kepandaian kita orang hanya dapat menduduki urutan-urutan nama, setelah dibawahmu." Su-to Yan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia berkata: "Saudara Sie jangan cepat-cepat memberi pujian, bila bukan karena kesombongan Auwyang Ie yang terlalu memandang rendah, bagaimana aku dapat mengalahkan dirinya?" Cin Bwee juga turut maju, gadis ini berkata: "Kulihat, jurus terakhir yang kau gunakan agak mirip dengan ilmu iblis sakti bermain Silat, Mungkinkah salah satu perubahan dari tipu silat ilmu itu?" "tidak salah, itulah yang dinamakan tipu Mengendalikan manusia dari ilmu silat iblis sakti bersilat." "Hai...

Bila cepat-cepat kau menggunakan ilmu itu, mana mungkin Auw-yang Ie sanggup bertahan sampai ratusan jurus?" Su-to Yan berpikir sebentar, dan ia menganggukkan kepala, apa yang gadis itu kemukakan memang masuk diakal, sayang ia belum berhasil meyakinkan semua ilmu iblis Sakti bermain silat, bila bukan berada didalam keadaan terpaksa, ia tidak mau sembarang menggunakannya.

"ilmu itu tidak mudah dipelajari." ia memberikan keterangan, "Ada beberapa jurus diantaranya belum dapat ku mainkan baik2, mana berani aku sembarang menggunakannya." Sie An celingukan, tiba tiba ia berteriak "Eh, kemanakah larinya Go Kit tadi?" Cin Bwee dan Su-to Yan teringat akan si pedang Dwi guna Go Kit, menggunakan lengahnya semua orang, ia telah melarikan diri.

"Biarlah." Berkata Su-to Yan.

"Belum diketahui bagaimana maksud tujuan dirinya, mungkinkah ia bernaung dibawah panji "Huh, tidak perduli demi kepentingan siapa ia bekerja, bila lain kali bersua lagi, biar aku yang menghadapinya." Berkata Sie An.

"Betul, seharusnya kau yang menimpali nya." Berkata Cin Bwee, "Kalian adalah sepasang, sama pendek dan sama gemuknya, Aku heran, mengapa menyerahkan kedudukan bengcu kepada Kong sun Giok, seharusnya dia mengajak kau bekerja sama.

Lagi-lagi dia mencemoohkan Sie An yang gemuk pendek.

Sie An mendelikan matanya, ia berkata: "Entah kapan, kau melahirkan seorang anak yang bopengan, itu waktu, kau tidak akan mentertawakan orang lagi?" "Cis . . . ." Cin Bwee meludah, "tidak tahu malu." Gadis itu membuang muka, Sie An tertawa: "Ha, ha, ha . . . .

Marah lagi" . . . , Ha, ha . . . .

jangan khawatir, saudaraku ini tidak akan membiarkan kau melahirkan seorang anak yang bopengan, pasti cakap tampan seperti bapaknya." Sie An menepuk-nepuk pundak Su-to Yan, selembar wajah Cin Bwee semakin merah, Su-to Yan bukan seorang ahli debat, bila meneruskan percakapan itu, pasti dia yang menderita kerugian, lompat naik keatas kuda tunggangannya, ia berkata: "Mari kita melanjutkan perjalanan." Mereka kembali ke arah kota.

Berjalan beberapa waktu, di depan mereka terlihat sebuah kereta yang ditarik oleh empat kuda berbulu putih, kusir kereta menutup wajah mereka dengan kerudung kain, sangat menegangkan bulu roma.

Di belakang kereta mewah itu juga terdapat dua pengiring, kuda merekapun berbulu putih, mereka juga mengenakan tutup kerudung muka, tidak mau memperlihatkan wajah aslinya.

Itu waktu, Sie An sedang bercakap-cakap dengan Su-to Yan: "Tentang ilmu pedang Maya Nada, karena munculnya ilmu pedang itu, tidak sedikit jago-jago rimba persilatan yang menjadi korban.

Hasil dari perebutan ilmu pedang, ia jatuh ke dalam tangan Yang Mulia Ie Siauw Hu, itulah kakek tua Ie Han Eng.

Yang Mulia Ie Siau Hu banyak menanam budi kepada tokoh-tokoh rimba persilatan, tangannya licin, ilmu kepandaiannya tinggi, budinya luhur, maka semua orang tunduk kepadanya.

Setelah mendapatkan ilmu pedang Maya Nada, ia berkata kepada semua orang, bahwa dia tidak akan mempelajari ilmu itu, juga tidak menerima murid, tidak menurunkan ilmu pedang mukjijat, termasuk anak keturunannya dan cucu keturunannya, ia melarang mereka mengutip ilmu itu.

Rimba persilatan tenang untuk puluhan tahun.

Kini kau muncul di antara persengketaan itu, kukira dunia akan bergolak lagi." Hati Su-to Yan seperti jatuh tenggelam ke suatu tempat yang dalam, mungkinkah hal itu dapat terjadi" Mengapa dunia bergolak" Begitu pentingkah ilmu pedang Maya Nada sehingga dapat memerahkan mata semua orang " Cin Bwee lebih memperhatikan keadaan ia melihat kedatangannya dua penunggang kuda berkerudung arah tujuannya semakin mendekati nya.

"Awas!" ia memberi peringatan "Ada orang yang menuju kemari." Su-to Yan bersikap sangat tenang, beberapa banyakpun orang yang datang, hal itu tidak akan mengganggu dirinya.

Sie An tertawa, dia gemar kepada keramaian, datangnya orangorang yang dapat dijadikan lawan latihan mengadu kekuatan memang sedang diharapkan, dengan tertawa riang, si gemuk pendek berkata: "Masing-masing seorang, bagaimana ?" Tiga lawan tiga !

ia meminta pendapat Su-to Yan.

Maksud nya mendemontrasikan ilmu kepandaian mereka, masing-masing mereka harus menangkap seorang siapa yang lebih cepat, orang itu akan keluar sebagai juara pemenang, Sie An mengadakan tantangan.

Su-to Yan tertawa.

"Tunggu sebentar lagi, Betulkah mereka bermaksud tujuan kepada kita bertiga?" ia memberi usul.

"la tidak mau diganggu, juga tidak mau usil mengganggu orang, Bila dugaan itu betul, itu waktu kita bergerak." "Baik," Sie An setuju.

Dua penunggang kuda bulu putih itu sudah mendekati mereka, wajahnya tertutup oleh selaput kain, tidak terlihat jelas, bagaimana wajah dibalik tutup kerudung itu, hanya terlihat mata-mata mereka yang bersinar terang, kain kerudung dibagian mata dilubangi, memudahkan untuk melihat orang.

tidak dapat disangsikan lagi, mereka bertujuan kepada Su-to Yan.

Beberapa tapak dari jarak yang mereka tentukan Sie An berteriak.

"Hayo, mari kita serbu, seorang satu." Membarengi kata-katanya, Sie An telah mengenjot tubuhnya, menerkam kearah seorang aneh yang berada disebelah kiri.

Su-to Yan tidak tinggal diam ia menyerbu kearah orang yang berada disebelah kanan.

Cin Bwee mendapat sisa mereka.

Gerakan Su-to Yan hanya terlambat satu detik dari kawannya, tapi ia tiba lebih dahulu, tangannya terjulur, mengkait leher baju si penunggang kuda berkerudung.

Dikala jarinya hampir mengenai sasaran, hidung Su-to Yan yang lihay dapat mengendus sesuatu yang aneh, kepalanya agak pusing.

"Celaka!" ia mengeluh.

Cepat-cepat membatalkan serangan, menarik diri jauh-jauh.

Su-to Yan melirik kearah Sie An, terlihat kawan itu sudah jatuh menggeletak, lawan mereka menggunakan racun.

Dia berteriak: "Awas!

Musuh menggunakan gas racun!" Cin Bwee yang hendak menggusur kusir kereta menarik diri, dia lebih tahu bahaya, maka sangat berhati-hati.

Tubuh Sie An sudah jatuh menggeletak Su-to Yan juga mengendus semacam bau harum, cepat cepat ia menutup jalan pernapasannya.

Dua penunggang berkerudung berpisah, mereka mengancam Suto Yan, maksudnya hendak menangkap pemuda itu.

Su-to Yan telah menutup jalan pernapasan, obat bius tidak mengganggu ketenangan pikirannya, dengan menggunakan ilmu cengkraman Maut Thian-mo-nie-hu-cauw, dengan satu tangan satu, ia menyengkelit kedua orang itu.

Cin Bwee turut memburu datang, orang-orang berkerudung tidak berhasil membius Su-to Yan, untuk melawan si jago pedang Baru, tentu tidak mungkin.

Mereka bersuit, melarikan diri !

Karena iapun menggelinding cepat, Su-to Yan dan Cin Bwee memeriksa keadaan Sie An, sipendek merapatkan kedua matanya, telah diusahakan untuk menyadarkan kawan itu, mereka tidak berhasil.

Su-to Yan menengok kearah kereta.

Sudah jauh, memasuki kota.

Terdengarlah teriakan Cin Bwee: "Celaka, Sie toako keracunan, Lekas kau kejar mereka, meminta obat pemunahnya." Su-to Yan ragu-ragu, memandang Cin Bwee sebentar, dan berkata kepada gadis itu: "Baik-baik kau menjaga Sie toako, aku hendak mengejar mereka." Su-to Yan mengejar orang-orang berkerudung, dia tidak takut kehilangan jejak mereka, waktu itu sudah agak gelap, orang-orang yang berjalan sangat sedikit, masih terlihat bayangannya kereta aneh itu, dia meluncur diantara jalan-jalan kecil.

Menikung disuatu persimpangan jalan, Su-to Yan kehilangan jejak kereta yang dikejar!

Hatinya sangat gelisah, bila tidak cepatcepat mendapatkan obat penawar racun, keadaan Sie An sangat membahayakan jiwa jago itu.

Dia membikin pemeriksaan yang lebih teliti, kini sudah berdiri didepan sebuah pintu besar yang dicat merah, itulah pekarangan suatu bangunan yang agak besar.

Keadaan bangunan itu sangat sepi dan sunyi, diduga keras bahwa kereta misterius yang dikejar telah berada didalam bangunan megah ini.

Su-to Yan berpikir: "Mungkinkah kereta itu masuk kedalam rumah ?" Mengingat waktu yang sangat mendesak, memikir keadaan luka Sie An yang harus cepat-cepat mendapat pengobatan, tanpa memberi tahu atau mengetuk pintu lagi, Su-to Yan lompat ke atas tembok dari bangunan rumah itu.

"Hut . . . .Hut . . . ." Dua bayangan saling susul menyusul datangnya pemuda itu.

Kecepatannya tidak dapat dilukiskan dengan pena.

Su-to Yan telah siap, dengan tipu Cui-pie-chiu, dia menolak dua serangan tadi.

Terdengar gedebruknya benda keras, dua tubuh orang yang menyerang dirinya telah dibanting jatuh.

Matanya memandang keadaan pekarangan depan dari bangunan itu, kereta yang sedang dikejar telah berhenti dipojok, tidak, salah masuk, Hatinya menjadi lega.

Empat orang berbaju hitam telah mengurung Su-to Yan.

Si pemuda meletakan.

kakinya ditanah, memberi hormat kepada mereka dan berkata.

"Majikan kalian ada dirumah ?" Empat orang berbaju hitam menyerang semakin gencar, dua kawan mereka telah dilukai inilah sakit hati, mereka hendak menuntut ganti rugi, dan langkah pertama harus menjatuhkan lawannya.

Su-to Yan menangkis beberapa kali, dia harus lebih berhati-hati.

Karena yang hendak ditemukan berada dalam pekarangan rumah itu, hal ini bukan berarti ia harus bermusuhan dengan tuan rumah, besar kemungkinan salah seorang tamu dan penghuni rumah itu.

Agar tidak menanam banyak permusuhan, ia berteriak lagi: "Dimanakah tuan rumah ?" Orang berbaju hitam tidak memberi jawaban, muncul lagi enam orang, jumlah mereka tepat angka sepuluh dan semua mengurung sipemuda.

Su-to Yan tidak gentar, bila ia mau, dengan beberapa jurus, ia dapat membunuh atau melukai orang-orang itu.

Tapi ia cukup sabar.

Bukanlah suatu langkah bijaksana untuk mengembangkan pembunuhan-pembunuhan atau menjalankan ilmu silat sendiri.

"Hei, siapakah yang menjadi tuan rumah?" ia mengulang pertanyaannya.

Jumlah orang-orang berbaju hitam semakin besar, satu persatu bermunculan di pekarangan yang memang cukup luas untuk di gunakan sebagai medan pertempuran, satu persatu mencampurkan diri mereka kedalam gelanggang!

Su-to Yan melayani keroyokan orang berbaju hitam.

Merangsek mereka, setapak demi setapak, ia melangkahkan kaki ke tanah bagian dalam.

tidak seorang pun yang dapat menghadang perjalanannya.

Tangannya di rentangkan, dengan tipu silat dari jaman purbakala yang sudah hampir di lupakan orang, dengan Tiga Belas jari Mengkuasai Alat Pie-pa, Pie-pa-cap sa-san-chiu, dia mengirim beberapa kaitan, di dalam sekejap mata sembilan orang berbaju hitam telah di terbangkan.

"Hut....Hut...!" Dua kali pukul lagi, dia bisa mengusir semua orang.

Kakinya di ayun, hendak masak ke dalam ruang tengah rumah itu.

Terdengar satu suara yang tertawa gelak-gelak, di susul oleh munculnya satu bayangan tinggi besar, meluncur dan memapaki kehadiran nya Su-to Yan.

Post a Comment